Rekah Hati

Rekah Hati
Teror Hetty


__ADS_3

Kendranata meraba ponselnya yang berdering berulangkali di pagi hari di meja lampu dengan wajah malas. Ia mengerjapkan mata melihat siapa yang mengganggunya memeluk Sanya dengan erat.


“Astaga, pengganggu kelas teri ini memang tiada duanya.” Kendranata mematikan teleponnya lalu mengembalikan ponselnya ke meja.


“Siapa mas?” tanya Sanya yang terganggu dengan gerakan suaminya. Nyaman ia berada di pelukan Kendranata hingga ia menyimpulkan dalam diam, Hetty pun merasakan hal yang sama di pelukan Pranata.


”Biasa.” Kendranata kembali mendaratkan tangannya di pinggang Sanya. Bibirnya mengecup bagai bunga yang merindukan matahari di ubun-ubun istrinya.


Sanya mendengus kecil, kelakuan Kendranata sudah membawanya ke angkasa dan ingin menetap di sana, sesekali, sebab ia tahu bergetar dalam ritme yang kondusif membuat tungkainya lemas.


”Coba di angkat aja, sapa tahu penting mas. Kasian lho dia.” kata Sanya sambil membalikkan badannya, ia menatap Kendranata yang pura-pura memejamkan mata.


“Aku santai, atau perlu aku aja yang bicara mas?” tawarnya yang langsung membuat Kendranata setuju.


“Aku sebenarnya malas ngurus dia, Sya. Ada kamu yang masih sangat-sangat harus aku perhatikan dan aku urus darimu ujung kaki hingga ujung kepala.” Kendranata tersenyum nakal.


Sanya menggigit bibir bawahnya seraya memutar tubuhnya, menungguinya yang mulai meraba kulitnya ke sana kemari.


“Aku mau telepon ya, mas jangan macam-macam dulu.” ancam Sanya sambil meraih ponsel Kendranata.

__ADS_1


Menunggu hampir lima menit, Hetty yang sedang membuat kopi di dapur melesat cepat ke dalam kamarnya.


“Tumben dia telepon balik, ngapain juga tadi harus di reject.” Hetty tersenyum sembari merapikan rambutnya dan duduk manis.


“Ken...” panggilnya setelah menekan tanda terima.


“Ada apa Mbak, masalah gas lagi.” jawab Sanya setelah mendengus. Semringah banget di telepon mas.


“Ya ampun Sanya, huuu .... happy wedding ya, gimana enak?” Iseng Hetty bertanya. Bayang-bayang malam pertama dengan Pranata mampir sejenak dan membuatnya tersenyum geli. Geli karena Sanya yang polos itu pasti membuat Kendranata kepayahan.


“Rahasia dong, ada apa telpon mas pagi-pagi? Urusan kerjaan apa Bama? Bama semalam tidur sama eyang putri dan sus Rani.”


“Terus pak Lambang?” tanya Hetty dengan nada malas.


“Itu Suga, minta nomernya dong.”


Sanya menyemburkan tawa sampai terpingkal-pingkal hingga membuat Kendranata ikut tertular menyemburkan tawa.


“Sugandi jadi Suga, temenmu mas. Sakit perutku.” Sanya menyisakan tawanya sebelum terdiam dan menyeka sudut air matanya.

__ADS_1


“Namanya Sugandi, Mbak. Ajudannya mas Kendranata itu, belum beristri cuma orangnya kaku, cuek, sama kayak mas Kendra. Buat apa nomernya?”


“Buat teman di sinilah, aku bingung harus ngobrol sama siapa, jalan-jalan sama siapa. Kenapa juga Sugandi... Suga hahaha, harus di sembunyikan dariku.”


“Itu karena kamu genit, Sugandi pria baik-baik!” sahut Kendranata. “Tidak akan saya berikan nomernya jika hanya kamu ganggu.”


“Kasih aja mas, daripada Hetty ganggu kamu terus. Belum lagi masalah gas dalam dua tahun masa kontrak kerjanya, ribet.” bisik Sanya yang malah membuat Kendranata geli dan tertawa kecil.


Hetty cemberut sewaktu kedua pengantin itu tertawa senang di atas kegundahan hatinya di tempat rantau.


“Udah deh ya, aku tahu kalian pengantin baru. Butuh banyak waktu untuk itu-itu, jadi sekarang kasih aja nomer Sugandi. Aku jamin, aku nggak ganggu dia. Aku cuma butuh teman.” jelas Hetty penuh pertimbangan. Sugandi bisa menjadi tempatnya membagi keluh kesah dan melalang buana di tempat rantau, begitu pun laki-laki itu bisa di percaya karena menjadi kaki tangan Kendranata.


Kendranata mematikan sambungan telepon mereka, setelahnya ia mengirim pesan yang berdiri nomor Sugandi.


“Mas harus kasih Sugandi peringatan biar waspada.”


Kendranata mencubit gemas hidung Sanya. “Buaya betina memang berbahaya ya, tapi jika Sugandi mau apa aku harus melarangnya?”


“Harus izin dulu sama ibu, syukur-syukur orang tuanya mau kasih restu.”

__ADS_1


Kendranata menonaktifkan teleponnya, jaga-jaga jika Sugandi ganti menerornya untuk protes.


...***...


__ADS_2