
Keluar dari ruangan bos dengan sikap berwibawa sambil menahan napas, Sugandi merapikan jasnya di depan Hetty sembari bernapas panjang.
“Tadi hanya sebatas bantuan, jangan mengira itu sungguhan!” katanya tanpa berminat menatap lawan bicara.
“Yakin hanya bantuan?” Hetty mengulum senyum, love you yang Sugandi sebutkan bagai hujan di tengah tanah gersang dan tandus. Melembabkan kekeringan yang sudah lama menahun dan menyuburkan benih rasa yang jauh dari kata sempurna.
“Aku tahu kok, tapi trims banget, kamu ada di sini sama aku. Aku merasa.” Hetty sangat dilanda kelegaan, hati kecilnya sangat-sangat merasa membaik.
“Sebentar.” Sepatunya beradu dengan lantai dengan cepat menuju kubikel. Memancing heran beberapa rekan. Merogoh tas ia mengambil coklat seraya kembali menghadap Sugandi.
“Buat kamu, nanti aku kasih lagi.”
“Apa? Coklat lagi? Tidak level, sampoerna atau Marlboro baru boleh.” Sugandi memasukan coklat batang yang berasal dari pabrik kota Garut ke kantong jasnya seraya meninggalkan Hetty yang terbengong-bengong sambil menganggukkan kepalanya.
Sampoerna atau Marlboro, ya... ya... ya...
Hetty menengok sekilas Sugandi yang kembali ke tempat kerjanya.
“Ga, Suga... Pulang bareng, ya.” ucap Hetty di belakang punggung pria yang masih meneliti banyak lembar data yang ia garap setelah jam kerja berakhir.
__ADS_1
“Buruan deh, Su. Eh... Gandi.” Hetty menutup mulutnya sembari nyengir kuda. ”Aku panggil kamu Gandi aja, ya. Keburu kantor sepi dan banyak penampakan.”
Sugandi menghela napas dengan kasar. “Bukan berarti saya bantu anda tadi anda terus semena-mena terhadap saya!” katanya serius dengan seluruh ototnya menegang.
“Saya nggak semena-mena, saya cuma cari peluang.” Hetty meniup ubun-ubun kepala pria itu, “Aku lihat nggak ada yang salah sama kerjaanmu, ayo udah. Teman-teman udah pada keluar.”
“Sabar...” Sugandi merespon ajakan Hetty seraya menghela napas.
“Kalau saja wanita itu tidak koar-koar saya ini tunangannya, saya pasti masih enjoy bekerja. Sekarang, gangguan datang tidak pakai cuti.” batin Sugandi, membereskan beberapa catatan kaki yang ia tempelkan di dinding kubikel, mengumpulkannya bersama coklat dari Hetty yang ia kunyah saban perutnya berbunyi.
“Kamu tetap pulang dengan Pak Rudy, Kendranata sudah memfasilitasi anda dengan layanan VIP!”
“Terus kamu pulangnya naik apa? Motor? Mobil? Ojek? Atau eh iya...” Hetty melihat sekeliling seraya menyeret Sugandi ke belakang pintu besar berbahan besi. ”Pak bos minta izin kamu bawa aku naik helikopter lihat tambang nggak?”
“Apa kamu percaya hanya naik helikopter saja?” Sugandi berjalan terlebih dahulu ke pintu keluar. “Saya sudah kirim data pribadinya ke Kendranata, apa anda tidak menyimaknya?”
Hetty menatap Sugandi yang tidak pernah tersenyum itu dengan lekat-lekat. ”Sudah kok, makanya aku untung ada kamu.”
“Tapi saya yang buntung!” Sugandi melengos pergi, takut nasibnya yang terpukau dengan bulu mata lentik Hetty berubah arah.
__ADS_1
Ini tidak bisa di biarkan.
Lari menuju parkiran, Sugandi meninggalkan Hetty yang menarik kedua sudut bibirnya.
“Nggak di apa-apain kabur, aneh.” Keluar dari gedung kantor, Hetty melambaikan tangan.
Rudy yang memang memiliki profesi satpam di kantor itu gegas keluar dari pos satpam yang beratap asbes gelombang.
“Sugandi ternyata kerja di sini, Pak. Buset dah, aku masih nggak mengira.” ucap Hetty memamerkan infomasi.
Ketahuan juga, si Gandi.
Tak lama, motor nmax dan helm yang persis di ingatan Hetty nyelonong keluar dari parkiran.
Sugandi menekan klakson sambil menggeber motornya keluar pagar. “Titip, Pak. Bawa ke kostnya.” serunya kuat-kuat.
Rudy meringis ketika Hetty melambai-lambaikan tangannya.
“Dasar bodyguard kurang ajar! Pak, antar aku ke rumahnya! Kerja kok nggak becus. Main tinggal yang harus di jagain, wuu... Nggak amanah.”
__ADS_1
...----------------...