Rekah Hati

Rekah Hati
Memberitahu


__ADS_3

Kendranata menatap ponselnya yang berdering berulang kali di meja lampu pukul tujuh pagi. Nama Sugandi terlihat di layar dan membuatnya tersenyum geli.


“Mulai menyerah dia, mulai protes.” Memeluk Sanya dari belakang Kendranata tak kuasa menahan tawanya.


“Aku yakin mukanya sekarang asem, kaku dan tegang Sugandi, Sya. Sekarang, aku jamin dia tidak bisa hidup tenang.”


Sanya yang tertular tawa Kendranata sampai terpingkal-pingkal dibuatnya, ia memberontak berusaha terlepas dari jeratnya dengan menepuk-nepuk punggung tangan suaminya dengan kesal.


“Udah kali mas, udah. Senang banget kamu lihat Suga kewalahan.” ucap Sanya, ia terengah-engah sembari menyentuh perutnya.


“Seneng banget kamu ngasih Sugandi ke Hetty, hmm, berasa lepas tanggung jawab?”


Kendranata menghentikan tawanya dengan susah payah sementara ponselnya yang berdering tak kunjung selesai.


“Mas angkat aja tuh, Sugandi kayaknya benar-benar pusing menghadapi Hetty.” ucap Sanya.


Kendranata meraih ponselnya seraya duduk di tepi ranjang, mendekati Sanya yang baru memakai handbody, selang dua detik setelahnya mengendus aromanya, Kendranata mengangkat telepon Sugandi.

__ADS_1


“Ada apa mas Gandi?” tanya Kendranata dengan suara yang nyaris menyerupai Hetty dalam nada nge-bass.


Sugandi yang mendengarnya melotot dan ingin membanting ponselnya, sayang ribu sayang ponsel baru itu masih terbilang sangat sayang untuk di rusak apalagi itu hasil kerja kerasnya.


Sugandi menghela napas panjang. “Hetty mengganggu saya lebih dulu!”


Tertawa lagi Kendranata merasa mendapat lelucon di pagi hari. Tampak seolah ia mendapat gambaran paling jelas bagaimana mereka sekarang.


“Harus saya apakan dia?” tanya Sugandi, mencoba tak peduli dengan tawa Kendranata yang mengejeknya.


“Dia mulai minta berangkat kerja bersama setelah tahu saya ngontrak di depannya. Belum lagi dia mengakui saya sebagai tunangannya di depan Bos Gafri, saya bingung harus menyikapinya dengan cara apa!”


“Tugasmu itu menjaganya, menjaganya agar tetap menjadi wanita baik dan tidak hamil di luar nikah lagi. Kalau itu masih bisa kamu jaga sampai di kembali ke Solo, usahakan saja beri yang terbaik.”


“Lah terus kalau jatuh cinta gimana? Enteng banget kamu nyuruhnya mas.” sahut Sanya yang terdengar sampai ke telinga Sugandi.


“Saya harus bagaimana jika itu terjadi?” tanyanya langsung.

__ADS_1


Kendranata di buat memikirkannya sesaat seraya menjawabnya tak kalah enteng. “Menikah saja kalau sama-sama jatuh cinta, kalau cuma kamu saja tapi Hetty tidak jangan harap.”


Sugandi dan Sanya sama-sama mengernyit heran. ”Kenapa?” tanyanya bersamaan karena menaruh curiga.


“Karena bagaimana pun harapan hanya bisa meruntuhkan kenyataan yang ada, lagipula jatuh cinta sama Hetty, Ga... kamu sudah tahu beban apa yang di tinggal Pranata untuknya. Tugasmu banyak untuk membuatnya bisa benar-benar jatuh cinta padamu dan percaya kamu terbaik baginya. Jangan main-main untuk sekarang, temani saja dia sebaik mungkin.”


“Perhatian banget.” gumam Sanya.


Sementara Sugandi yang sudah di teras tidak yakin bisakah ia hanya sekedar menjaga Hetty selama dua tahun di Banjarmasin tanpa jatuh cinta dan berharap?


“Bos ke sini saja, bawa Bramasta. Janda badung itu ngaku-ngaku rindu, sudah enam bulan juga dari tanggal pernikahan kalian saya tidak libur! Saya pusing.” Sugandi naik ke motor.


“Janda badung.” ucap Kendranata dan Sanya bersama-sama. “Ngeri juga julukanmu, Ga. Paras sih, tapi aku yakin walaupun Hetty tahu dia biasa-biasa saja. Dia sudah tahu dia badung, yang belum dia tahu, dia akan jadi wanita shalihah. Coba bilang gitu.” imbuh Sanya.


“Akan saya coba, Bu Bos. Terima kasih.”


Panggilan terputus, Sanya dan Kendranata hanya bisa saling tatap sebelum ya sudah biarkan saja karena lagi-lagi masalah Hetty sudah mereka serahkan semuanya ke Sugandi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2