
Terbangun di kamar Sanya yang temaram akan lampu tidur, Hetty mengerjapkan mata pukul lima pagi ketika merdu suara wanita yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an mengalahkan nyanyian ayam di pekarangan.
Hetty memutar badannya setelah merapikan selimut Bramasta. Ia terpukau pada Sanya yang masih menggunakan mukena putih dengan bordiran berbentuk bunga yang mengelilingi tepian atasan duduk mengarah kiblat.
Leluasa ia melihat dan mendengarkan suara wanita yang menentramkan serupa penerimaan yang dilakukan wanita itu kepadanya di rumah sederhana yang berbeda dari bayangannya.
Sanya wanita sederhana, serupa Rastanty. Ia tidak tahu soal itu dan tentang beratnya Sanya menjalin hubungan dengan Kendranata sebelum ia menjejak lantai rumah berwarna putih resik yang jarang akan perabotan itu dan melihat profesi sebenarnya gadis itu.
“Cantik banget kamu, Sya.” puji Hetty sembari berdecak kagum. “Pantas, Kendranata jaim banget sama cewek lain. Pawangnya jagain dia pakai doa.”
Sanya cuma tersenyum sembari melepas mukenanya. Ia mengulurkannya seraya mengangguk ketika Hetty menunjuk dadanya sambil berkata, “Aku salat?”
Mukanya kaget, benaknya menguntai sepenggal doa yang sudah sukar ia ingat.
“Coba Mbak ngadu sama Allah biar lebih tenang dan solusinya lebih oke dari yang sudah-sudah.” Sanya tersenyum, ”Doa adalah kekuatan dan sumber terwujudnya pengharapan.”
Seolah malu Hetty cuma duduk sembari meraih mukena dari tangan Sanya lalu menunduk dan mencengkeram lembut mukena itu tanpa menjawabnya.
”Aku agak lupa, udah lama banget nggak salat.” akunya kemudian setelah lima menit berlalu, Sanya menambahkan tasbih di atas mukenanya.
”Aku ajari mau?” tawar Sanya mencuri pandang Hetty yang terbuang ke arah jendela dengan ramah seakan ia paham kenapa Hetty tidak merespon permintaannya. ”Atau sama ibuku saja, santai itu di rumah, nganggur kalau nggak ada jahitan masuk.”
Sanya berkata santai tapi serius terlihat dari sorot matanya.
Hetty mengerti, tapi tidak bisa jika harus sekarang melakukannya. Apakah arti dari ajakan Sanya bila ia terlihat kikuk sendiri dan jatuh pada kebimbangan yang memalukan.
”Serius... aku sudah pernah lihat Mbak jauh lebih dari pertemuan kita di rumahmu kemarin. Aku diputusin mas Kendranata waktu Mbak datang ke rumah pak Lambang untuk pertama kalinya.”
Sanya menghela napas panjang. Masih jelas di telinganya bagaimana Bu Indri meminta mereka untuk pisah.
Suasana lengang sebentar setelah Sanya bercerita.
Hetty yang merasa tidak melakukan apa-apa menggeleng, berkata datar. ”Putus gara-gara aku, kok bisa? Aku nggak pernah ganggu kamu apalagi Kendranata! Itu omong kosong banget.”
“Memang bukan gara-gara Mbak secara langsung,” Sanya tersenyum sedih. “Tapi kecantikan Mbak, status ekonomi Mbak yang bikin Bu Indri membanding-bandingkan kami lalu menyuruh mas Kendranata minta mencari yang lebih dariku.”
Hetty melotot, langsung teringat kenapa Pranata memilihnya untuk dikenalkan dengan orang tua ketimbang Rastanty dan itu membuatnya kesal.
__ADS_1
“Cinta, bucin, terus goblok dan mudah dimanfaatkan. Itu aku.”
Hetty menghela napas panjang. “Bu Indri gitu banget, ya. Agak susah dia sekarang.” Merenggut ia menatap lawan bicaranya yang tidak memakai kerudung. Rambut Sanya tergerai sebahu.
“Udah tahu beliau kalian udah tunangan?” tanyanya menyudahi urusan masa lalu yang sudah ia pahami jalan ceritanya.
Sanya mengambil kerudung di gantungan jilbab dan memakainya.
“Tadinya tadi malam mau di bawa ke rumah lagi buat pendekatan kembali, tapi eh... Pak Lambang malah ngadi-ngadi ya. Bikin masalah tambah gede.” Ia sibuk mengintai deretan buku yang tersusun rapi di rak sebelum meraih salah satunya. Buku bersampul ungu muda panduan lengkap salat.
Hetty tak kuasa menahan senyumnya, lalu menerima buku dari Sanya.
”Aku kira pertemuan kami yang sudah lama mengubur luka lama dan keberadaan Bramasta sanggup meluluhkan hati mereka. Nyatanya... sumpah Sanya, aku lega, aku jadi nggak perlu berharap banyak lagi ke keluarga mereka tapi memang aku perlu Kendranata untuk Bramasta.” Hetty mendesah lelah, raut wajahnya terlihat menyerah pada keadaan, pun ia mempertimbangkan perasaan Sanya yang dia sakiti secara tidak langsung.
“Apa kamu bersedia memberi ruang bagi Kendranata untuk bertemu Bramasta?” tanya Hetty, ia sudah bersikukuh selain finansial, kehadiran laki-laki itu penting bagi putranya. Setidaknya ada satu pria keturunan Herlambang Pamungkas yang mengetahui keberadaan bocah itu.
Sanya menghela napas, sepenuhnya ia sulit mengiyakan, ”Kita tunggu mas Kendra datang. Aku sepemikiran kok sama dia.”
***
Kendranata duduk di kursi, terdiam, menimbang-nimbang sambil menatap lekat-lekat ayahnya yang menganggap tidak terjadi apa-apa, tidak tahu Hetty sudah membicarakan aibnya dengan gamblang.
Lambang tersekat, rasanya hampir mati. Dahinya berkerut, berkeringat. Retak nyalinya di hadapan satu-satunya laki-laki yang dia harapkan menjadi penerus dan pengurus keluarga.
“Aku paham kenapa bapak sampai menawarinya menjadi istri kedua. Tapi apa tidak ada yang lain sampai janda anak bapak sendiri bapak tawarin menjadi simpanan?” Kendranata berdehem. Sorot matanya meminta bapaknya kembali duduk.
“Serius, aku mengizinkan bapak menikah lagi dengan wanita yang wajib Kendranata kenal terlebih dahulu sebelum melangsungkan pernikahan.”
Lambang mengusap dahinya dengan sapu tangan sebelum meniup telapak tangannya.
Ulu hatinya merasakan kegelisahan juga rasa tidak percaya, semudah itu putranya memberi izin. Bahkan burung kenari yang bertengger manis di sangkarnya bersaksi dengan memberikan kicauan merdu menemani raut wajah serius di bawahnya.
Lambang menatap putranya, mustahil...
”Bapak hanya menawari untuk memudahkan persoalannya di rumah ini toh apa yang ia mau sudah bapak tepati, warisan Pranata seharusnya sudah cukup untuk membesarkan anak itu.” Lambang mengetuk-ngetuk meja.
“DNA mungkin benar cucu bapak, tapi status hukum tidak ada! Bapak tidak punya pilihan banyak.” ucapnya menggebu nan fokus ke mata anaknya.
__ADS_1
Kendranata berdehem sembari mengangguk. “Aku paham. Yang penting Kendra sudah memberi tahu bapak izin ini. Jangan Hetty atau wanita yang tidak bermartabat!”
“Sudah.” Lambang mengangkat tangan ketika gerbang terbuka dari luar. Indri dan Rani kembali dari jalan-jalan pagi di sekitar rumah, menonton kegiatan di persawahan.
“Kendra pergi dulu, Pak. Ngurus Hetty dan Sanya. Aku akan menikahi Sanya secepatnya, aku harap bapak bisa membujuk ibu merestuinya.”
Sudah kuduga.
Pamit kepada Indri, Kendranata langsung pergi ke rumah Sanya yang nyaman dan sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Sanya yang hafal betul suara mobil Kendranata keluar sambil menggendong Bramasta dari ruang makan.
“Ngacak-ngacak bonekaku dia, mas. Kamarku mirip kapal pecah.” Sanya menguncupkan bibirnya dengan sengaja.
Mengenal gelagat Sanya, Kendranata tersenyum seraya ingin mencium bibir wanita itu. Sanya memundurkan kepalanya ketika pria itu hanya berlagak ingin mengambil Bramasta.
“Gimana tadi malam? Dia menyebalkan?” tanya Kendranata setelah mencium pipi Pranata cilik.
“Biasa saja ” Sanya menunjuk ke dalam rumah. “Hetty minta izin sama aku untuk meminta waktumu berkunjung ke Jogja. Kira-kira aku kasih izin nggak mas?”
“Aku justru pingin ngasih dia pilihan yang berat tapi lumayan bikin dia senang.”
“Apa?” Sanya menjureng penasaran.
Kendranata nyengir seraya mendekat kuping Sanya dengan jarak sepuluh centimeter.
“Kita rawat anak ini berdua sementara dia cari suami, mau?”
Sebelum waktu menuntutnya bekerja, Sanya membawa Kendranata ke dalam rumah. Memberitahu Hetty keinginan Kendranata.
Hetty mengelap tangannya dengan serbet lalu menghela napas.
“Aku sebenarnya mau-mau saja kerja, bosen gini terus, Ken. Tapi bukannya itu tandanya Sanya harus resign dan aku tetap di Solo?” Hetty mengernyit.
“Asal kamu setuju, semua bisa aku atur.”
Hetty mengangguk dan percaya pada Kendranata. Sebab hidup terlalu singkat untuk berlarut-larut hanya pada satu pria.
__ADS_1
Hetty siap berkelana.