
Kendranata dan Sanya sedang berada di taman, berjemur sinar matahari bersama anak kembar mereka yang lahir dengan cara di caesar, Zayra dan Zalina. Putri kecil mereka yang kini sedang belajar jalan.
Kedua tangan di genggam tangan-tangan mungil yang sangat dicintainya, Kendranata senang menjadi seorang ayah. Benar-benar seorang ayah hingga membuatnya paham bagaimana sibuknya Hetty kala seorang diri membesarkan kakak Bramasta yang senang memiliki teman kecil.
Kebahagiaan Kendranata tumpah-ruah tak terhingga, meski lelahnya tiada tara merekahnya hati sang ibu dan bapak mengubah semuanya, sebuah kehangatan yang telah lama mati terasa di rumah Herlambang. Sedangkan Sanya sedang memisahkan irisan cabai dari nasi dan tumis kikil buncisnya sambil duduk di kursi taman di temani Bramasta yang asyik mengendalikan mobil remote control.
Mobil itu bergerak acak di depan si kembar untuk memancing daya tarik mereka agar semakin lincah berjalan.
“Sya... Capek, gantian.” seru Kendranata.
Sanya menunjukkan piringnya yang masih banyak isinya, demi ASI, saban pagi, menjelang siang, siang, menjelang sore, malam sampai tengah malam dia diminta untuk menelan apapun yang di masak Mbok Tumi. Sebab kata Bu Indri memberi ASI untuk anak kembar butuh asupan nutrisi dan vitamin yang banyak.
Belajar dari pengalaman, Sanya akhirnya setuju-setuju saja. Dia diratukan sekarang di rumah itu, apa-apa di turuti sampai badan yang melar, susah menyusut.
”Semangat mas sekalian olahraga.” Sanya mengepalkan tangannya ke udara.
Tatapan Kendranata dengan pasrah mengarah ke Rani, yang sedang memijat tungkai kaki ibunya dengan minyak kutus-kutus.
“Aku lebih seneng jadi pengasuh orang tua bos daripada bayi. Kata-katanya susah dimengerti.” gurau Rani. Formasi pembantu rumah tangga Indri tetap sama, tidak ada yang resign tiba-tiba karena tak betah, sementara Herlambang yang mendua di bawah pengawasan Kendranata tidak lagi tinggal di sana. Kegiatannya hanya pulang pergi sesuka hati dan Indri seakan legowo atau tepatnya leh-leh-luweh karena semakin tua yang dibutuhkan bukan suami tak tahu diri, tetapi anak dan cucu-cucunya.
“Cari baby sitter, Le. Jangan sampai kalian bertengkar karena capek ngurus anak kembar. Ibu ndak mau.”
Kendranata berjongkok, kedua lengannya melebar seraya meraih tubuh mungil anaknya sebelum menggendongnya. “Sya... Boleh juga ide ibu, gimana?”
“Aku setuju-setuju aja mas, cari enaknya saja yang penting hepi.”
Seperti rapat holding company di kantor dan memenangkan kesepakatan bersama rekan-rekan kerjanya, Kendranata tersenyum gembira. Reputasinya sebagai bapak keren harus terjaga meski dalam hati ia berjingkrak-jingkrak.
Beban menjaga dua anak yang bucin padanya itu sedikit terlepas dari raganya, setidaknya ketika tidur ia bisa tidur nyenyak dan efisien dalam bekerja itu yang terpenting. Demi keberlangsungan usaha dan jiwanya yang kadangkala ingin menyerah saat sedang lelah-lelahnya.
Kendranata membawa masuk si kembar, meninggalkan semua orang yang ada di dalam rumah.
“Bapak lupa, bapak ada acara penting jam sembilan. Zalina dan Zayra main dulu di sini, bapak telepon om Sugandi.” Kendranata menurunkan mereka di ruang bermain yang memiliki alas lantai empuk.
Setelah mengambil ponsel yang di cas di meja kamar, Kendranata baru bergabung kembali dengan mereka di sana.
“Mas Sugandi.” gurau Kendranata manja saat sambungan teleponnya di terima Sugandi di rumahnya, sepuluh kilometer dari rumah Herlambang.
Sugandi mencebikkan bibir, selain jadi bos dan teman baik, sepertinya Kendranata ini lama-lama akan menjadi musuhnya.
__ADS_1
“Jadi datang ke rumah?” tanya Sugandi dengan sikap tenang setelah menghela napas. “Saya harus menyelesaikan tugas terakhir dengan anda.”
Masih terbawa-bawa sikap formal di kantor rupanya. Suga... Suga.
Meringis, Kendranata mengangguk. “Saya harus mandi dulu sebentar, anda yang sabar saya pasti datang.”
Sugandi menyudahi sambungan teleponnya lalu menyimpan ponselnya di saku celana.
“Stress ngurus anak rupanya bos Kendra. Kelakuan tambah ra kalap.”
Hetty yang memakai kebaya pengantin mencebikkan bibir. ”Apa jangan-jangan keluarga mereka belum siap-siap datang ke lamaran kita mas? Wah parah... Sini hp kamu!”
Sugandi yang mengerti janda badung satu ini anti jaim-jaim club memberikan ponselnya. Hetty menghubungi Kendranata yang baru saja rebahan.
“Apa lagi mas Sugandi?”
“Heh!” sentak Hetty, “Gak usah niru-niru suaraku ya, ngawur kamu.”
Kendranata menjauhkan ponselnya setelah terkaget-kaget.
“Apalagi?” tanyanya malas.
“Mau nikah kok nggak sabar.” ejek Kendranata. “Gimana itu nanti pernikahan kalian.”
“Jelas nggak sabar, udah, buruan siap-siap. Jangan bikin kesenangan seseorang rusak gara-gara keterlambatan kamu serumah.”
Kendranata kembali rebahan sambil memanggil Mbok Tumi.
“Nggih mas, pripun?”
“Mandiin anak-anak Mbok, sekalian itu yang di depan suruh mandi dan siap-siap. Sugandi mau lamaran.”
“Sugandi anaknya juragan warung bakso dan sembako itu mas? Yang dulu kalau main ke sini sukanya kalian mintai jajan dan traktiran di warung bakso mereka?”
Kendranata terkekeh-kekeh sembari menganggukkan kepala.
“Nikah sama Hetty dia Mbok.”
“Yungalah, Gandi, Gandi... Nikah juga dia.” Mbok Tumi meringis penuh arti seraya menggandeng kedua bocah yang ia anggap sebagai cucunya ke kamar mandi yang serba serbinya berwarna baby pink.
__ADS_1
“Seandainya kamu di sini, Pra. Mantanmu di nikahi Sugandi, apa yang mau kamu katakan?”
“Gak ada kata-kata selain jodoh adalah rahasia besar Tuhan.” sahut Sanya sembari mengulurkan kedua tangannya, membantu Kendranata berdiri.
“Buruan siap-siap, niat baik Sugandi meminang Hetty adalah kelegaan bagiku mas. Ayo mandiwww.”
“Ayo... Mandi berdua mempersingkat waktu.” sahut Kendranata dengan senyum yang mudah Sanya pahami.
Selang satu jam penuh kesibukan berdandan-dandan seperti menyambut hari raya, Kendranata menyopiri keluarga mereka ke rumah juragan sembako dan warung bakso sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sugandi pasti kewalahan ngurus buaya betina itu. Terlebih lagi berahi akut.
Tiba di rumah itu tak kurang dari setengah jam, rumah juragan sembako sudah di hiasi tenda biru dan bunga-bunga segar yang bermekaran.
“Datang juga bos kita.” Hetty ditemani keluarganya berdiri bersama keluarga Sugandi. Rupanya memang betul keluarga Kendranata adalah keluarga yang di tunggu-tunggu mereka sebab hubungan persahabatan yang terpintal bersama sudah terjalin sejak orang tua mereka bertemu.
“Sudah siap.” Kendranata membetulkan jasnya ketika sampai di depan mereka semua.
Hetty meraih tangan Bramasta yang terulur kepadanya. “Siap.” katanya antusias.
“Semangat banget, sis.” timpal Sanya yang mendorong stroller baby-nya.
Hetty nyengir seraya menggelitik telapak kaki bayi-bayi yang ayu seperti Sanya sampai kedua bayi itu kegelian.
“Aku nggak sabar punya yang seperti ini juga.” Hetty mengedip-edipkan matanya, Sugandi memutar matanya jengah sebelum mempersilahkan tamu undangan duduk di kursi tamu.
Kendranata duduk seraya mengeluarkan surat kontrak kerjasama yang tersimpan di saku jasnya. Sementara Sugandi mengeluarkan pulpen dari kantong celananya.
Kedua pria itu saling bertatapan dan mengulurkan tangan.
“Saya Kendranata Pamungkas dengan ini menyarankan bahwa tugas menjaga Hetty di perpanjang menjadi selama-lamanya. Apakah kamu, Sugandi Atmaja bersedia menerimanya sepenuhnya hati dan ragawi?”
Sugandi Atmaja, anak dari pasangan Bu Yatminah dan Bapak Atmaja Pawiro itu mengangguk dan menyalami Kendranata.
“Saya bersedia.”
“Tanda tangan dulu dong, habis itu jangan lupa mampir ke makam Pranata buat izin nikahin ibu dari anaknya.”
”Sudah tahu!” Sugandi menggenggam erat tangan Kendranata dengan jengkel sebelum menandantangani surat pernyataan itu dengan hati yang ikhlas tanpa paksaan.
__ADS_1
...----------------...