Rekah Hati

Rekah Hati
Perkenalkan


__ADS_3

Di kamar, Sanya merasakan bulu kuduknya meremang mendengar ucapan Kendranata yang bergeming di depan lemari sambil melepas jas pengantinnya.


“Jadi... Apa aku sudah boleh peluk kamu, Sya?”


Sanya menutup wajahnya dengan selendang putih penutup kepala. Wajahnya sangat merona, senyumnya mengembang sempurna, dadanya nyaris sesak napas di buatnya.


Malam pengantin ada di depan mata dengan pria yang selama ini ia harap lewat doa sampai fokusnya pada hal-hal biasa yang lumrah terjadi buyar karena cinta yang terasa semakin nyata.


Kendranata tersenyum simpul sambil memandanginya. Pemandangan yang menakjubkan sebab semenjak mengenal wanita itu ketertarikan pada wanita yang memenuhi kepuasan visual mendadak mati.


“Gimana?” iseng Kendranata bertanya, “Belum boleh peluk kamu?”


Pakaian pengantin mereka masih melekat di tubuh, riuh suasana setelah pesta pernikahan berakhir masih terjadi di sekujur bangunan rumah itu. Tetapi pengantin baru yang lelah dan gerah memilih menepi di kamar Kendranata yang maskulin.


Sanya menurunkan selendang putih dari wajahnya seraya memberanikan diri menatapnya.


“Boleh mandi dulu? Aku bau, mandi terakhir tadi subuh. Sekarang magrib.” Sanya mengangkat ketiaknya. “Coba di endus, aku nggak nyaman di peluk.”


Kendranata hampir terbahak saking tergelitik dengan ucapannya, namun dia yang mendapat celah untuk mendekat walau hanya di minta mengendus ketiak Sanya, Kendranata akan melakukannya. Dia melangkah ke hadapan orang yang ia sayang.


Sanya yang melihatnya tersenyum lembut sambil mengendikkan bahu menunjukkan lengannya.


“Angkat.”


“Eh, nggak usah mas. Beneran bau kok.” Sanya menutup kedua ketiaknya dengan kedua tangan yang ia silangkan di depan dada.


“Bener, jangan. Nanti kamu nggak jadi minat peluk aku setelah tahu betapa bau ketiakku.”


Binar di mata Kendranata semakin menyala-nyala, ia menatap kedua mata Sanya. “Aku tidak akan membatalkan keinginanku, Sya. Turunkan tanganmu.” pintanya sambil memiringkan kepala.


Aduh, gawat. Kasih, nggak, kasih, nggak.

__ADS_1


Sanya menurunkan tangannya setelah Kendranata tidak menyerah atas penolakannya.


Kendranata tersenyum seraya mendekatkan wajah ke tubuhnya yang bergeming kaku dengan mata yang terpejam, ia mengendus ketiak Sanya yang wangi parfumnya tercampur dengan bau khas ketiak keringatan seraya mengangkat tatapannya. Kendranata menatap riasan yang tampak sederhana di wajah istrinya, tetapi ronanya yang terpancar merah malu membuatnya mendekatkan bibirnya ke bibir yang memakai gincu warna dusty pink.


Kendranata mengecupnya sejenak sebelum menyembunyikan senyumnya ketika Sanya melebarkan mata seolah tidak terjadi apa-apa.


Kendranata meringis. “Kenalan dulu sebentar.” akunya sembari melepas mahkota yang terpasang di kepala Sanya. “Sebelum giliran yang lain kenalannya.”


“Mas Kendra!” Sanya langsung menutup wajahnya dengan cepat. “Malu aku.”


“Ini juga, aku ingin melihat rambutmu, Sya.” Kendranata menyentuh selendang putih penutup kepala yang menyembunyikan rambut halus Sanya yang terawat.


“Mau aku bantu melepasnya, pakaianmu banyak sekali lapisan dan perhiasannya.”


Tawa kecil Sanya mengembang ke udara. Sanya tahu mungkin itu salah satu akal-akalan Kendranata untuk merayunya dan ia masih keberatan untuk bermesraan dengan suaminya.


Sanya geli bagaimana harus bersikap dengan pria itu sementara tak pernah ia tahu bagaimana caranya bermesraan.


Seusai peniti dan jarum pentul Kendranata lepas semua, Sanya masih berdiam diri karena tak sempat memprotes polah Kendranata dengan kata-kata atau tindakan.


Kendranata tersenyum sembari menyentuh bagian terakhir penutup kepala Sanya sebelum menariknya perlahan hingga terlihat di depan matanya, rambut indahnya yang sekian lama mencuri rasa penasaran.


“Bagus, tidak bercabang apalagi berketombe.” gurau Kendranata sambil mengelus rambut Sanya dari ubun-ubun sampai ujung rambut untuk mengurangi sikap tegang istrinya.


“Lihat aku, Sya. Jangan lihat jubin terus, itu nggak akan ke mana-mana.”


“Bisa nggak kita pacaran dulu biar luwes gitu, jangan buru-buru langsung bikin adiknya Bama. Aku ngeri mas, sumpah. Gandengan aja jarang apalagi sentuh-sentuhan, iuh, gemetar kakiku.”


Kendranata mengangguk, “Mau pacaran yang bagaimana maumu, Sya? Coba jelasin aku bisa nurut, sekarang.” Ia menatap sekeliling.


Masih ramai di luar kamar, ia takut jika memulainya sekarang, Sanya bisa kabur atau menjerit-jerit dan memancing perhatian keluarganya.

__ADS_1


“Begini termasuk berpacaran sekaligus perhatian, kurang yang bagaimana?”


“Nonton film dulu gitu sambil genggaman tangan, terus gimana kek, oh iya...” Mendadak Sanya teringat sesuatu dan tangannya meraih hp di meja. “Aku tanya Hetty dulu saja yang lebih pengalaman.”


Kendranata langsung menjatuhkan diri di kasur. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan seraya menghela napas panjang.


“Berguru sama aku juga bisa, Sya. Nggak usah Hetty! Dia lagi ngurus gabung gas yang belum ke pasang regulator.”


Sanya menaruh ponselnya di meja dengan ekspresi mengernyit. “Kok mas tahu?” tanyanya setelah curiga.


“Lihat saja di hpku, dia slalu laporan setiap masalah yang dia hadapi di sana.”


“Ih sebel.” Sanya meraih ponsel Kendranata di meja seraya mengikuti pria itu merebahkan diri di kasur.


“Enak juga rebahan mas.”


Kendranata berdehem sementara Sanya berguling, tengkurap ia membaca pesan dari Hetty di sampingnya yang sudah memikirkan hal-hal yang ingin segera terjadi.


“Nggak bisa angkat galon, nggak bisa pasang gas, nangis gara-gara di marahi bos, nangis karena kangen Bramasta, nangis di tinggal nikah kamu, laper tapi lembur, di goda bos divisi utama.” ucap Sanya menjelaskan isi chat Hetty yang semuanya hanya di balas Kendranata dengan sepenggal kata Ya, oke, usaha lebih giat.


Kendranata ikut berguling, tengkurap ia menatap layar hp yang di amati Sanya dengan serius.


“Cemburu kamu lihat dia kirim curhatan sepele gitu?” tanya Kendranata.


Sanya menoleh sembari mengerucutkan bibirnya. “Gak cemburu banget, biasa aja.” katanya dengan gaya.


Kendranata menoleh seraya mengecup bibirnya dengan cepat. “Harusnya kamu cemburu, kalau tidak aku akan membalas pesannya lebih serius.”


Sanya mendelik lalu mengerucut bibirnya lebih manyun. “Terus aja cium aku daripada serius bales pesan Hetty, ingat ya, dia itu membayangkanmu seperti mas Nata.”


Kalimat Sanga berhasil membuat Kendranata berkedip. “Serius boleh?”

__ADS_1


Sanya mengangguk. Di beri kesempatan, Kendranata tak menyia-nyiakan peluang untuk memulai perkenalannya dengan kulit Sanya yang slalu tertutup kain.


__ADS_2