Rekah Hati

Rekah Hati
Prapaganda Hati


__ADS_3

Tepat pukul sebelas siang. Dengan muka sangat kecewa, Hetty meninggalkan tumis kangkung dan sotong cabai hijau yang sudah dingin di meja makan seraya menjatuhkan diri di kasur setelah memberi Bramasta susu formula dalam botol dummy-nya.


”Kendranata dan Pranata sama, janji-janji saja tidak ada buktinya.” Mengomel ia kesetanan sambil mengruwes bantal sampai sarungnya yang berwarna biru resik terlihat kucel.


“Ngasih yang manis-manis terus ngasih yang kecut-kecut. Dasar, nggak ada bedanya.” Hetty tidak mengerti kenapa begitu mudah ia percaya. Oh ekspetasinya mungkin yang sedang melambung tinggi lalu lupa keriuhan badai yang diciptakan Pranata juga banyak hal-hal yang pelik.


Dan untuk kemalangannya yang sudah bisa di bayangkan betapa mengusik kalbu, Kendranata dan Sanya terkikik-kikik di dalam mobil. Mobil Kendranata sendiri. Sedan putih.


“Kalau nanti cemburu jangan terang-terangan, ya?” Kendranata mengingatkan ketika mobilnya sudah masuk ke jalan wilayah perumahan. “Terus jaga lisan walau pun aku tahu kamu sebal ketemu dia.”


“Sangat.” timpal Sanya menggebu-gebu, ”Aku sangat sebal sama Hetty, mentang-mentang cantik dan kaya terus dibangga-banggakan ibumu tapi karma ia real. Yeah. Lukaku di balas tuntas.” ucapnya lega.


Kendranata menggeleng lembut. “Pasti kamu berdoa sambil nangis-nangis waktu kita putus? Iya? Kamu ngadu sama Tuhan kamu terluka?”


Sanya mengangguk jujur. ”Sampai mataku bengkak, sampai aku hampir di pecat karena malas-malasan kerja terus aku sadar, aku sudah kehilanganmu masak iya kehilangan pekerjaan juga. Aku bangkit, berjuang cari uang terus menerus sampai capek tapi uangku banyak dan itu yang membuatku bahagia.”


Mobil melambat dan seketika berhenti di depan rumah Hetty. Sanya melihatnya, menelisik terus-menerus bersama tirai yang terbuka. Hetty melihat dari dalam kedatangan sedan putih itu dengan muka sebal.


“Terus nanti kalau Hetty tanya hubungan kita apa? Kita jawab apa mas?” tanya Sanya.


Kendranata menyisir rambutnya sambil bersiul-siul, membuat Sanya mendengus. “Caper kan?”


“Biar rapi, Sanya. Belum sisiran tadi.” Kendranata menaruh sisirnya seraya meraih tas selempang mini yang berada di pangkuan Sanya. Ia mengeluarkan parfum dan menyemprotkan di tubuhnya.


”Biar apa mas? Parfum biasa itu dapat dari perusahaan.” Sanya bertanya sambil menjureng.


“Biar Hetty mengendus parfummu di bajuku.”


“Oh biar dikira kita habis pelukan, gitu?” Sanya mengerucut bibirnya. ”Kenapa peluk langsung aja?”


Kendranata mengangguk-angguk sambil mengembalikan parfum Sanya ke dalam tas.


“Nanti kamu tolak, bilangnya ngapain peluk-peluk mas. Ih nggak suka, jauh-jauh. Nanti aku pusing.” ucap Kendranata meniru intonasi suara Sanya jika mengomelinya.


Gadis yang memakai setelan Korean style muslimah itu mendesis gemas.


“Nggak gitu aku marahnya, lebih centil... ayo coba lagi.”


Kendranata mendengus. “Nggak bisa, setelan pabrik sudah macho, nggak bisa lebih centil. Gile.” protesnya sambil melepas sabuk pengaman. Kendranata sempat melihat ke rumah Hetty yang tertutup rapat.


Di rumah nggak dia?


Sanya yang mengerti tatapan itu menggeleng.

__ADS_1


”Jawab aja yang tadi, status kita di mata Hetty nanti apa?” desak Sanya, wajahnya agak cemas.


Kendranata tersenyum simpul. ”Aku malah nunggu jawabanmu, kita mau gimana? Kayak gini terus atau ke jenjang berikutnya?”


”Aku cuma takut Bu Indri marah lagi.” ucap Sanya kecut. “Aku sudah tambah dewasa, tambah pintar mencintaimu, tapi aku masih susah untuk jadi teristimewa di keluargamu.”


Menatap Kendranata sambil memajukan bibir, Sanya mengutarakan kejujurannya yang langsung di balas senyuman pengertian oleh lelaki yang hanya menggunakan kaus panjang.


“Aku yang urus ibu asal kamu setuju hidup bareng aku, Sya.”


”Boleh-boleh aja, asal kita boboknya di rumahku. Mas Kendra mau?” Sanya berharap ia mau karena rumahnya adalah kekuasaannya sementara jika hidup di rumah Kendranata dengan orang tuanya, haduh, belajar dari pengalaman hatinya sedih, walau begitu Sanya tahu ia harus mencoba berusaha meluluhkan hati Bu Indri.


”Mau.” Kendranata mengangguk seperti anak kecil, lantas keduanya tersenyum sambil bersalaman. “Kita calon sepasang suami istri!”


Keluar dari mobil, Hetty yang menunggu sambil mengintip mendengus Kendranata membawa seorang perempuan manis berkulit cerah.


Walau malas dan tubuhnya seperti kerupuk terkena air, ia tetap membuka pintu setelah mengambil Bramasta di ruang keluarga.


“Tuh papa datang.” ucap Hetty sembari melambaikan tangan Bramasta ke arah Kendranata.


Ganteng banget. Puji Sanya dalam hati. Mirip banget sama mas Pranata, mas Kendra juga, pasti maksa dulu mas Pranata buatnya.


Lain dengan Sanya yang terpukau, Kendranata yang melihat bagaimana wajah Hetty yang biasanya berseri-seri turun level yakin wanita itu sudah menunggu lama kedatangannya.


“Sorry lama, kami baru berangkat dari Surakarta tadi pagi.” jelas Kendranata daripada Hetty bertanya dan mikir keras. Sebelah tangannya yang nganggur terjulur menyentuh jilbab Sanya yang serasi dengan warna kausnya.


“Sya, kenalan sama ibunya Bramasta. Mantan Pranata, Hetty.”


Udah tau pakai sandiwara lagi.


Sanya yang sudah menjadi SPG nyaris lima tahun dan belum bosan terlatih menyembunyikan dan mengubah-ubah mimik wajahnya dengan mudah tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.


“Sanya Adiba Khanza, calon istrinya mas Kendranata.”


Smash yang di lemparkan Sanya berhasil mengenai kesadaran Hetty, mengantarkan kecewa yang lebih besar di awal harap yang ia nanti-nanti akan indah pada waktunya. Wanita itu tersenyum canggung dengan sorot mata yang tertuju Kendranata.


Sudah mau nikah dia. Sudah tidak ada harapan lagi, tapi... masih ada cara untuk membuat Kendranata slalu ke sini.


“Salam kenal juga, Sanya. Ayo masuk, di sini panas.” Hetty menatap ke atas, teriknya matahari menyengat kulit.


Kendranata mengangguk, menyemangati Sanya dengan senyumnya yang belum pernah Hetty lihat sebelumnya.


Ketiganya berjalan ke dalam rumah dengan pikiran masing-masing yang berkelana.

__ADS_1


Kelihatan sayang banget Kendra sama Sanya. Bentar... Hidungnya mirip Rastanty. Ya ampun selera mereka, nggak bisa lihat yang lebih bening apa.


Hetty membawa mereka ke ruang keluarga, lagu anak-anak yang masih sangat Kendranata hafal menyusup bagai semut yang menggelikan telinga. Ia menurunkan Bramasta ke lantai seraya menatap Sanya yang menyembunyikan senyumnya.


”Mau ketawa kamu?” Kendranata berdehem sambil menyuruhnya mendekat. “Nyanyi sini bareng-bareng biar rumahnya Hetty ramai.”


“Malu, hahaha... Tapi mau... Boleh?” Sanya berlutut di samping Bramasta. ”Tante ikut nyanyi ya.”


“Makan siang dulu aja, aku sudah masak tadi.” timpal Hetty. “Kasian sotong sama kangkungnya, Ken. Belum kamu bayar itu tadi sama belanjaanku yang kemarin-kemarin di kang sayur Marsudi. Nunggu kamu datang dia.”


Oh... dibelanjakan juga kebutuhan sehari-hari. Seperhatian itu?


Sanya bertanya untuk mengusir rasa sebalnya. “Aku ambilkan mau mas? Aku juga lapar ini.”


“Sepiring berdua.” Kendranata menyuruh, memamerkan satu perhatian yang akan membuat Hetty menyerah berharap lebih padanya ketika ia dan Sanya sudah saling memiliki bahkan makan sendok berdua.


Sanya tersenyum sopan pada Hetty yang mempersilahkan ke dapur.


Mengambil piring dan sendok, ia membuka tudung saji. Tumis kangkungnya terlihat menggugah selera, sotong cabai hijaunya mungkin di buat dengan cinta.


Sanya menunduk sambil menahan tawanya.


Hetty pasti sebel banget hari ini. Yakin aku. Hihi, rasain emang enak. Dulu aku lebih parah.


Kendranata menatap Hetty yang bergeming di kusen pintu.


“Mau jalan-jalan ke mana hari ini, Hett? Kafe ramah anak?”


“Spa? Salon? Potong rambut?” Hetty mendengus.


“Ke mal, refreshing?”


”Aku badmood.” Hetty memanyunkan bibirnya. ”Nunggu kamu dari jam tujuh.”


Kendranata menunjuk Sanya yang kembali bergabung, membawa segelas air juga sepiring nasi porsi kuli.


“Tuan Putri habis kerja rodi dan bangun kesiangan.” Basa-basi Kendranata di balas senyum santai Sanya.


“Maaf ya, kak. Tapi kalau mau ke mal, ayolah. Aku juga mau... Belanjain aku juga ya mas, tapi cukup seperangkat alat sholat dan cincin pertunangan.”


Hetty menghela napas, perjalanan sesungguhnya baru saja di mulai.


꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡

__ADS_1


__ADS_2