
...Dua setengah tahun yang lalu....
Meninggalnya Pranata di bulan Mei ikut meninggalkan satu nyawa di rahim Hetty Asmarani Azkia setelah detik dan menit penuh gairah pada malam pergantian tahun bersama Pranata Pamungkas usai bersama dengan matinya kembang api yang meriah di luar tempat mereka singgah.
Ada hangat yang getir dalam peluh yang membasahi tubuh, ada napas yang tersendat dalam setiap tarikan napas, ada pula niat yang mematahkan keinginan untuk pergi dan berhenti atas situasi hati yang tak pernah digenapi setulus hati.
”Habis ini kamu harus benar-benar tepati janjimu, Nat. Aku nggak mau tau, putusin Rastanty!” Muncul air di pelupuk matanya. Bukan sakit hati yang Hetty derita, tapi kejelasan akan hubungan mereka yang ambigu. Saling menguntungkan yang tak benar-benar untung.
Hetty tertawan sepenuhnya pada jerat Pranata yang mengikatnya dengan setumpuk janji dan rayuan cinta yang tiada habisnya ia terima. Janji untuk berpisah dengan Rastanty setelah keduanya resmi saling memenuhi dahaga ragawi menjadi inti kepercayaan Hetty pada Pranata untuk menyerahkan segala-galanya yang ia miliki.
Awal jumpa di parkiran mobil yang sederhana merembet menjadi jumpa yang terus menerus dalam niat yang slalu tanggap dan terbuka. Hetty yang memesona bagai mawar yang pintar mempropagandakan wanginya memperlancar niat hati Pranata mengincarnya sebagai alat termudah untuk menjadi aktivis yang mendapat dukungan dari ayah gadis itu. Pun Pranata sering menjumpainya dengan perhatian dan sesuatu yang gadis itu butuhkan dengan gigih serupa hujan deras yang tak kunjung reda. Menghindar pun tak mampu menghalau cemerlangnya sikap Pranata yang pintar mengadu prinsip dasar percintaan.
Keduanya seolah madu dan lebah, menyatu dalam mekarnya wangi harapan dan keinginan ragawi yang tak benar-benar bisa di tahan saking dekat dan akrabnya mereka menjalin hubungan kerjasama. Melupakan Rastanty yang luluh akan penjelasan perhatian Pranata.
“Aku janji bakal putusin Rastanty, tapi tunggu, jangan maksa, jangan membuka hubungan kita di kampus. Rastanty tidak boleh tahu kita begini.” Saat itu Pranata menggeleng kepala, tidak ingin Rastanty tahu perbuatan biadabnya hingga menyakiti pujaan hatinya paling istimewa dan murni, Pranata yakin cinta Rastanty setulus jiwa, seyakin ia mengambil jurusan kuliah, dan serajin ia menyapu rumah.
Tetapi Hetty mulai terisak, menyematkan sedikit penyesalan di hati Pranata sebab setali tiga uang semua sudah terjadi, mereka terlarut dalam suasana romantis dan euforia malam yang sanggup menepikan rasa bersalah.
__ADS_1
“Sulit mencari kesalahan yang membuat kami bertengkar, Hett...” Pranata memakai pakaiannya dan mendekap Hetty yang memunggunginya dengan isakan yang semakin menusuk dada.
“Aku bakal tanggung jawab, ya. Tapi sabar.” bujuk Pranata lembut.
Kendati telah menjadi pacar simpanan berbulan-bulan sebelumnya lengkap dengan rahasia yang tersimpan rapi bagai uang di dalam brankas, Hetty menolak percaya. Ia menggelengkan kepalanya.
“Kamu harus pilih aku dan secepatnya putuskan Rastanty. Dia gak lebih dari pajangan yang cuma bisa beri kamu kata-kata manis, sementara aku? Aku yang membantumu mewujudkan impianmu dari nol, aku Nat!” racau Hetty, air mata semakin meleleh di pipi meski sorot matanya marah.
“Nunggu apa kamu? Nunggu Rastanty minta di lamar kamu waktu semua impianmu terwujud! Brengsek kamu, Nat. Aku nggak akan terima dan tinggal diam.”
Pranata tercekat lidahnya sendiri, alih-alih merespon permintaan Hetty dengan serius, ia melonggarkan pelukan dan keluar kamar. Ia memandangi sisa riuhnya jalanan di seputar Malioboro sambil merokok di balkon hotel lalu melamun.
“Andai hari ini yang bersamaku adalah ia yang manis dan ceria. Yang sering mengintip kamarku dari jendela sambil tersenyum dan menawariku obrolan santai kala ujian semester di depan mata dan ia yang slalu membuatkan secangkir kopi di pagi hari seolah sudah siap menjadi istri.” Pranata membuang asap rokoknya seraya melihat langit. Berharap angkasa kelam berubah menjadi paras ayu Rastanty yang tersenyum kepadanya.
Tersenyum tanpa memberi sedikit benci atas tingkah lakunya yang tamak dan menjadi budak nafsunya sendiri.
“Banyak yang ingin aku sampaikan padamu, Ras. Walau maafmu pasti tak bisa aku miliki.”
__ADS_1
Pranata berbalik, memandang Hetty di bawah remangnya lampu tidur sambil meringkuk pilu di bawah selimut.
“Sudah, hentikan tangismu.” Pranata mengusap rambut Hetty yang slalu wangi. Tak seperti rambut Rastanty yang kadang hanya diikat seperlunya atau di kepang dua, Hetty biasa merawat diri. Bersolek adalah hal wajib yang dilakukan kaum elite sepertinya.
“Aku janji akan menjauh dari Rastanty pelan-pelan, kamu sabar, ya. Di luar kampus dan kost aku milikmu sepenuhnya, Hett. Aku bersimpuh sekaligus bersumpah padamu, kamu yang aku pilih!”
Sekiranya Hetty dapat mengira apa yang terjadi di beberapa bulan setelahnya, simbiosis mutualisme itu hanya akan menjadi simbiosis parasitisme yang menguntungkan Pranata dan sangat merugikan dirinya. Sangat-sangat sekali.
Hidupnya menjadi berkeping-keping laksana mercon kertas setelah meledakkan kejutan. Hatinya hancur tercerai-berai hingga sukar mengumpulkan keberanian untuk percaya dan yakin bahwa masih ada hoki yang ia memiliki di kemudian hari setelah Pranata pergi meninggalkan banyak masalah baru di kehidupannya yang suram.
Haris Subandi mengusirnya dari rumah, aib Hetty mencoreng namanya selaku rektor universitas yang dibanggakan. Ibunya menuntut pertanggungjawaban keluarga Pranata dan kasus di kepolisian yang seluruhnya menyita semua akal sehatnya.
Jatuh ia di jurang paling dalam titik nadir seorang diri bersama Bramasta yang ia kandung tanpa seorang bapak. Luntang-lantung nasibnya di rumah yang ia beli dari menjual sedikit dari warisan Pranata untuk Bramasta di Surakarta.
Di rumah itu. Jutaan mimpi ia rajut kembali setelah jutaan mimpi pula hancur oleh takdir yang tak pernah di sangka-sangka. Hetty sadar, caranya mendapatkan Pranata salah, dan ia tak pernah benar-benar menang dari Rastanty. Sampai kapan pun, bahkan saat ia tahu Dominic adalah pria yang menjaganya setulus jiwa. Sahabat satu-satunya Pranata yang ia harapkan sanggup menemani masa terpuruknya justru menemani masa-masa terburuk saingannya.
Sekarang setelah berjuang sampai hatinya berdarah-darah bahkan tak punya kesempatan memberi hati untuk orang lain, kepahitan itu semakin sirna digantikan dengan persoalan klasik seorang janda satu anak. Finansial dan perhatian. Dukungan wajib yang membuat akalnya tetap waras tetapi gara-gara bertemu Kendranata yang tak pernah ia ketahui batang hidungnya barang secuil saja. Sebuah kisah klasik untuk masa depan jadi buyar.
__ADS_1
Kendranata bagaikan penyelamatan sekaligus momok paling satir dalam hidupnya yang hancur-hancuran. ”Canda banget, hidup!”
^^^(╯︵╰,)^^^