Rekah Hati

Rekah Hati
Secuil Memori


__ADS_3

Bulan menghilang seiring melintasnya rombongan awan di langit malam. Sinarnya yang memantulkan cahaya matahari memudarkan bayangan Kendranata yang berjalan ke rumah Sanya.


Kendranata mengedarkan pandang sambil bertanya dalam hati dan akal sehatnya benarkah Sanya serius menemaninya ke Jogja?


Seumur hidup ia tak pernah mengharap lebih dari ini, ditemani mantan untuk bertemu dengan mantan adiknya yang genitnya minta ampun.


Mendekat ke jendela kamar Sanya, Kendranata tersenyum. Ia melukis bentuk cinta pada debu yang menempel di kaca.


“Syaa...” panggil Kendranata sembari mengetuk kaca dengan ujung jemari.


Sanya beranjak dari kasur dengan malas-malasan sehabis lembur di hari Jumat.


Membuka tirai, matanya membeliak melihat bentuk cinta yang tampak nyentrik di antara debu yang malas ia bersihkan.


Dengan senyum anehnya, Sanya mendorong jendela dengan telapak tangan.


”Aku bilangnya nanti jam sebelas datangnya.” keluhnya sembari membuang napas. “Aku baru leyeh-leyeh mas Kendranata Pamungkas...”


Komplitnya nama yang disebutkan Sanya membuat pemilik nama menggebukan rindu yang rancu.


Kendranata meringis. Tak merasa bersalah sudah datang lebih awal, Kendranata justru menyusup ke sela-sela jendela dan tembok. Tangannya menggenggam kusen jendela seraya mengangkat tubuhnya dengan kaki yang memijak kuat tembok.


Melompat ia ke dalam kamar setelah nangkring di kusen jendela. Alih-alih menyesal dan rikuh berada di kamar wanita , untuk yang satu ini Kendranata justru senang. Ia tersenyum seraya merebahkan diri di kasur Sanya sehabis menilai kamarnya.


Di bawah gelimang boneka pemberiannya, Kendranata mendekap satu boneka yang ia kirim dari Jakarta demi menggenapi kerinduan Sanya akan dirinya.


Lain hanyalah Kendranata, Sanya mendesis jengkel seraya menggenggam pergelangan kaki mantannya dan menariknya turun dari kasurnya yang tidak memakai dipan.


“Mas cari mati?”


“Enggak.” Kendranata tersenyum lebar sambil menatap Sanya yang berkacak pinggang dan menjulang di atasnya. “Sini leyeh-leyeh bareng. Aku juga habis lembur.” guraunya yang sudah tahu akan di tolak mentah-mentah.


“Lebih baik aku siap-siap.” Sanya melengos, membuka lemari kayu, mengeluarkan dua pasang baju ganti dan kerudung yang langsung ia masukkan ke tas jinjingnya.

__ADS_1


“Aku sebenarnya gak setuju dengan ide mas bawa-bawa aku di masalah keluarga mas yang pelik itu, aku rasanya terjebak, aku sulit cari pacar lagi karena mas pingin tahu kenapa, aku menempatkan kriteria baru untuk calon pacarku yang baru, dia harus lebih keren dari mas Kendra biar mas menyesal mutusin aku! Tapi ternyata, nggak ada.”


Kendranata menahan tawanya sembari mengelus pergelangan kaki Sanya yang sibuk memilih make up di meja rias dengan memasang wajah sedih.


Sanya menggaruk pergelangan kakinya kemudian dengan punggung kaki satunya setelah laki-laki yang masih rebahan di karpet bludru itu puas mengelusnya.


“Itu sudah jelas kecuali kamu berani masuk di kalangan ningrat. Aku pasti kalah, Sanya.”


Berjongkok dengan sungkan, Sanya menatap Kendranata sembari mencubit hidungnya.


“Mentang-mentang masih ada darah priyayi gayamu mas, selangit.”


Kendranata balas mencubit hidung satu-satunya cinta yang tak pernah tergantikan. Sudah putus tapi masih cinta, masih sering diam-diam dia cari kabarnya, juga mendatangi tempat kerja dan mengintipnya dari kejauhan.


“Kamu memang hanya ditakdirkan untukku, Sya. Menetaplah.”


”Lebih jauh dari itu aku siap, tapi mas mau ambil risikonya kan? Bu Indri pasti nggak akan memberi kesempatan kedua buat kita.”


“Pesimis.” Kendranata melipat kedua tangannya dengan wajah mangkel. “Sudah sana siap-siap, jangan ganggu aku leyeh-leyeh sebentar!”


Sanya menyambar boneka yang didekap Kendranata lalu mendesakkan ke wajahnya.


“Kenapa nggak leyeh-leyeh di kamarmu sendiri, mas. Ha... ganggu ha...”


Kendranata gelagapan seraya terkekeh. Gemas ia pada wanita merasa tidak besar-besar jika berhadapan dengannya.


Pria slalu ditempatkan pada posisi serba salah. Telat datang cewek ngambek. Cepat datang, belum siap-siap. Capek deh.


Sambil menunggu Sanya bersiap-siap di kamar mandi rumah yang hanya di tempati bersama ibunya. Kendranata mengangkat kenangan putusnya hubungan mereka dengan baik-baik.


Dua setengah tahun lalu.


Di penghujung sore bulan Agustus. Rumahnya sibuk mempersiapkan ini itu untuk menyambut tamu dari Jogja. Tamu cantik yang di bawa Pranata untuk dikenalkan keluarga.

__ADS_1


Kendranata yang terpaksa pulang ke rumah dari Kalimantan demi memenuhi undangan orang tuanya membawa pula Sanya yang tetap bertahan dalam jarak dan intensitas komunikasi yang jarang untuk menunggu mimpi-mimpinya terwujud.


Kendati begitu. Keduanya memilih menghabiskan waktu di paviliun rumah. Membuat acara sendiri untuk melepas rindu sambil menunggu kedatangan tamu istimewa yang membuat ibunya bahagia.


Kendranata tak berani berpikir terlalu jauh setelah melihat Hetty datang. Cantik adalah pujian pertama yang dia ucap dalam hati, yang kedua dari caranya berjalan dan berpakaian, Hetty setara dengan keluarganya.


Kendranata lantas yakin, persaingan yang terjadi dalam mendapatkan jodoh idaman dengan kembarannya semakin meningkat, tapi apapun itu...


Melihat Sanya yang terkesan tidak nyaman setelah melihat bagaimana interaksi ibunya dengan Hetty yang berbeda drastis dengan interaksi bersamanya. Kendranata menekuri wajahnya sambil menggenggam tangannya.


”Aku tetap di sini sama kamu.” ucapnya tegas. ”Sama kamu, jangan khawatir.”


Pilihan Sanya hanya tersenyum dalam resah. Di tolak? Ya... Siapa yang tidak kecewa kecocokannya bersama Kendranata sudah seperti irama lagu harus kandas karena restu masih di ujung langit.


Sanya mengeratkan genggamannya sambil menatap Kendranata. Dan hal-hal buruk yang sudah mereka bayangkan tanpa perlu menyebut keresahan-keresahan yang mengalun dalam benak bagai badai terjadi.


Indri masuk ke paviliun, menggunakan kebaya yang membuat aura priyayi-nya semakin cemerlang, ia duduk anggun di depan Kendranata yang mengindahkan kehadirannya tanpa melonggarkan jarak dengan Sanya.


Indri tersenyum, meski lembut berucap atas kebahagiaan dan kebanggaan yang baru saja ia rasakan. Ucapannya yang satir telah menghunus bagai pedang ke hati sejoli yang baru saja senang akan temu kangen yang terjadi.


“Cantik sekali Hetty, Ken. Pintar sekali Pranata cari pacar.” Menyentuh lutut anaknya, Indri tersenyum sambil menatap Sanya sekilas. “Kamu coba usaha lebih baik untuk cari wanita seperti Hetty.”


Keduanya tercekat. Indri meninggalkan sejoli yang hanya mengangguk dan membisu dalam kesepakatan yang tak perlu terucap. Indri sesaat meremas kedua tangannya sembari menoleh ke arah paviliun.


“Kau harus lebih baik dari Pranata, Ken.”


Selesai menerima bara dari ibunya. Kendranata dan Sanya saling bertatapan.


Sakit keduanya harus berbenturan dengan restu. Sakit sekali Sanya harus mundur dari jabatannya sebagai kekasih hati Kendranata yang begitu mencintainya demi menyenangkan hati Indri.


Dalam rindu yang enggan pergi, dengan hati yang tak benar-benar ingin. Sambil genggaman tangan dan menatap mesra mereka bicara bersama.


“Kamu tahu, aku tahu, jika kita tidak bisa bersama, kita akan menjadi sahabat baik selamanya.”

__ADS_1



__ADS_2