Rekah Hati

Rekah Hati
Menggenapi Resah


__ADS_3

Tenggelamnya matahari yang beristirahat di kaki langit. Mengantarkan pula Sanya ke stasiun kereta api Lempuyangan.


Sanya memonyongkan bibirnya setelah mengeluarkan kantong bakpia dan sekantong oleh-oleh yang mereka beli di jalan Malioboro.


Berjalan beriringan ke bawah gedung peninggalan zaman Belanda, di tengah manusia yang berlalu lalang silih berganti dan kesibukan yang terlihat di sana sini, Kendranata yang membawa serta Bramasta tersenyum.


“Aku pulang besok sore dan langsung ke tempatmu.” janjinya dengan suara lembut.


Untuk kesekian kalinya Sanya memonyongkan bibir. “Aku sebenarnya nggak butuh janjimu mas, lebih dari itu aku maunya.” Sanya menatap Hetty sekilas, lalu menatap lamat-lamat Kendranata yang wajahnya sekali dua kali tersentuh tangan Bramasta. ”Sorry, ya. Janji doang nggak mempan buat aku sekarang.”


Hetty yang mendengarnya kontan menghela napas tak tenang. Sanya seolah tahu niat hatinya sedang menyusun apa.


Kendranata setuju, perjalanan ini seolah menjanjikan banyak hal. Semua kerumitan. Yang ia takutkan akan menjadi konflik-konflik yang menuntut jalan keluar.


“Terus mempan pakai apa biar kamu bahagia dan tenang?” tanya Kendranata membuat wajah Sanya semasam duku muda yang bergetah tapi setelah berpikir alot selama lima menit diiringi Sanya yang berdehem-dehem sembari menunjukkan jemarinya di depan mukanya, Kendranata


menyerahnya Bramasta tiba-tiba ke Hetty yang melamun.


”Aku ingat, momen ini yang kami tunggu-tunggu selama ini.” Kendranata berkata mantap. Mengeluarkan ponsel dan mencari fitur kamera, Kendranata menyerahkan ponselnya ke satpam stasiun yang kebetulan lewat.


“Saya mau melamar Sanya, mas. Tolong videokan.” Kendranata berkata santun.


Cengiran bapak berkumis yang memakai sepatu boot hitam yang mendekap betisnya erat itu membuat Sanya malu sendiri. Terlebih setelah melakukan persiapan batin dan mengatur napas, Kendranata langsung berlutut di depannya seraya membuka kotak cincin.

__ADS_1


“Sanya, bidadariku bermata indah dan bermulut comel, berhati sabar dan berwajah cantik. Menikahlah denganku dan jangan sedikit pun memiliki pikiran untuk menolaknya.” Kendranata bersungguh-sungguh, tak peduli dengan tatapan banyak orang yang melihatnya dan bergosip sambil lalu.


Sanya yang ingin membungkam harapan Hetty secara terang-terangan bahwa Kendranata adalah miliknya dan sampai kapan pun akan menjadi miliknya meski ia harus menjadi bapak pura-pura Bramasta menyerahkan jemarinya tepat di depan wajah Kendranata.


“Aku menerimamu mas Kendra, daridulu sampai nanti kita jadi simbah buyut.” Sanya tersenyum, bahagia dia bisa melihat Hetty yang tidak begitu semangat melihat percakapan dan pertunangan mereka.


Kenapa harus sekarang? Kenapa tunangan nggak di rumah saja, di depan orang tua. Pamer terus, nggak punya malu.


Sambil menatap dan memperhatikan satu sama lain untuk meyakinkan diri bahwa inilah awal dari perjalanan cinta mereka yang pernah berada di semenanjung asa dan terkatung berhari-hari di tengah samudra lepas, cincin pertunangan tersemat. Keduanya resmi bertunangan meski sedikit niat dari bersatunya hati mereka adalah mengusir harapan Hetty yang tak benar-benar diinginkan kehadirannya.


“Makasih mas, cantik banget ini.” puji Sanya sembari memperhatikan cincin dengan permata kecil yang mengelilingi palladium hitam yang di pilih Kendranata.


“Aku memang sangat mengerti seleramu, Sya.” Kendranata menyentuh kepala Sanya yang tertutup kerudung putih sambil tersenyum. “Percaya sama aku, seluruh kesedihan yang menyergap kita pasti lenyap pada waktunya dan akan mekar pada waktunya juga.”


Masih sayang-sayangan, belum tahu bayar listrik, beli popok, beli kebutuhan dapur setiap hari, nyumbang sana-sini, uang rokok, arisan, belum bayar pajak. Beh... mumet sampean mas, mbak.


Sanya menyentuh lengan Kendranata karena tak berani memeluknya. “Aku pulang, ya. Aku tunggu di rumah. Jangan bohong.”


Hetty mencebikkan bibir meski ia hanya diam memperhatikan kemesraan pasangan itu.


Kelihatannya kalem ternyata, mainnya di rumah. Privasi terjaga, mirip Pranata.


Sanya menoleh, ia tersenyum pada anak yang mungkin akan berada di kehidupan rumah tangganya nanti..

__ADS_1


”Tante Anya mau naik kereta api, Bama mau ikut?” guraunya sambil menjulurkan kedua tangannya seakan-akan hendak menggendongnya.


Bramasta yang mudah berbaur seperti ibunya sontak menginginkan di gendong Sanya, tetapi wanita yang hanya berniat menggoda itu berbalik dan berlari cepat ke pintu registrasi setelah menyahut oleh-olehnya di lantai.


Sanya terkekeh berbarengan Kendranata dan Hetty meneriaki namanya saat Bramasta menangis.


“Pengacau.” gumam Hetty.


”Saya mendengarnya.” balas Kendranata seraya mengambil alih Bramasta untuk ditenangkan. Langkahnya bergerak menuju tempat tanpa atap dan pagar pembatas yang tidak menghalangi pemandangan Bramasta pada jalur kereta.


“Bunda Sanya atau mama Hetty?” Iseng Kendranata bertanya.


“Apa-apaan kamu, Ken?” sergah Hetty sembari mengulurkan ponselnya yang di kembalikan satpam. “Aku ibu satu-satunya Bramasta sekalipun kamu nikah sama Sanya!” katanya galak dengan sorot mata tajam.


“Begitu ya?” Tak menanggapi serius, Kendranata tersenyum. “Kalau begitu jangan anggap saya ayah pengganti anak ini, anggap saya omnya saja biar Sanya menjadi tantenya!”


Kereta api Gajayana lewat, menghentikan sejenak tangis Bramasta dan menulikan kuping Kendranata dari racauan mulut Hetty yang tidak terima dengan permintaannya.


Tak lama berselang, krl yang ditumpangi Sanya dan mengangkut penumpang dari stasiun Tugu dan Lempuyangan pun melaju. Meninggalkan perdebatan sengit yang terjadi antara Kendranata dan Hetty.


“Satu hal yang perlu kamu dengar, Hett. Kamu adalah pengacau, nggak cuma mengacaukan hati Rastanty dan membohonginya selama berbulan-bulan, tapi kamu dan Pranata ikut mengacaukan hubunganku dan Sanya!” Kendranata menyerahkan Bramasta.


“Kemasi barang-barangmu dan ikut aku ke Surakarta, lihat langsung perbuatanmu dan Pranata yang tidak hanya merugikanku tapi juga membuatku mati rasa kepadamu!” Kesal Kendranata mendahului Hetty yang tercengang seorang diri di teduhnya langit Lempuyangan yang awan hitam.

__ADS_1



__ADS_2