
Sebuah kebenaran yang berat.
Berada di kamar Pranata selama seminggu, mata Hetty tergambar kesedihan yang begitu besar. Ia mendekap kemeja hitam yang kerap laki-laki itu gunakan untuk berkencan dengannya.
Hidungnya menghirup wangi-wangian yang terserap lama di serat baju itu di tempat yang pernah dia singgahi kala mampir di rumah itu untuk bersilaturahmi. Kamar Pranata, sekarang, tak ubahnya seperti penjara yang melindunginya sekaligus memenjarakan dirinya pada kenangan yang sedang hebat-hebatnya melanda benak Hetty, menumbuhkan banyak perasaan yang membuatnya kembali dan kembali lagi mengenang kenangan bersama pria itu.
“Aku di rumahmu, Nata. Takut.”
Lima belas menit sibuk berkabung dalam pedih kesendirian dan hanyut akan keresahan. Hetty dikagetkan dengan pintu yang diketuk Bramasta dari luar.
“Ma...ma... Mama.” Bramasta yang bersama suster Rani menggapai gagang pintu. Menggerakkan asal-asalan sampai Hetty yang buru-buru mencuci wajahnya dan mengusapnya dengan handuk tersandung kaki dipan.
Hetty memekik sakit, Rani yang cemas dan takut wanita itu berbuat nekad setelah melihat betapa rapuhnya wanita itu selama seminggu seketika mendorong pintu.
Hetty dan Rani sama-sama terperanjat melihat betapa kacaunya kamar dan keberadaan Rani yang tiba-tiba muncul seraya memegang bahunya.
“Ada apa, Mbak? Ada apa?” tanyanya panik.
Hetty yang berdiri satu kaki dengan satu tangan yang memegang jari kelingking kaki yang tertekuk ke belakang menurunkan tatapannya.
”Kesandung kaki dipan, Mbak.” Hetty meringis sakit disela tatapan Rani yang mencoba menelisik kejadian yang sesungguhnya.
”Ya Allah... Aku pikir kenapa.” Rani mengulum senyum. “Coba saya lihat.”
Membungkukkan badan, Rani akhirnya memeriksa jari kelingking kaki Hetty yang wanita itu beri kutek berwarna coklat susu.
“Tulangnya aman toh, Mbak? Gak kerasa keseleo atau mlengse gitu?”
__ADS_1
“Aku cuma kaget, Mbak. Tapi ya sakit juga.” Hetty menurunkan kakinya, malu di lihat Bramasta dan Lambang yang tiba-tiba mampir ke kamarnya.
”Ini Hetty kesandung kaki dipan, pak.” Rani menjelaskan. “Tapi tidak apa-apa itu, Pak. Cuma kaget sakit.”
Lambang memeriksa kaki Hetty yang mulus dan sedang bagus-bagusnya, lurus tidak gemuk tidak, berisi dan terlihat empuk. Tetapi Lambang yang melihat bagaimana kasur Hetty berantakan menggeleng-gelengkan kepala.
“Sudah bukan jamannya lagi menjadi selingkuhan tapi tidak bisa mencari tambatan hati lagi.” Lambang menunjuk kasur. ”Pakaian Pranata tidak perlu di abul-abul. Itu diberesi secepatnya lalu kamu ngobrol dengan bapak di ruangan!”
Rani membawa Bramasta keluar mengikuti eyang Kakung yang sedang memberi makan ikan koi di kolam belakang rumah.
”Mbok Tumi masih jaga ibu, Rani?” tanya Lambang. Sementara di kamar, Hetty mulai membersihkan kasurnya dengan muka kecut.
“Masih, Pak. Sedang jalan-jalan sore di sekitar rumah.” jawab Rani sambil memberi pelet ikan ke tangan Bramasta.
Lambang menggulung selang air seraya menumpuknya di pojokan.
“Jaga Bramasta. Bapak harus bicara dengan Hetty. Pak RT sudah wanti-wanti mengurus tamu yang sudah menginap lama di sini. Belum itu Kendranata tidak pulang-pulang. Marah dia pasti.”
Selesai membereskan pakaian Pranata, Hetty menyempatkan diri menyisir rambutnya di tepi kasur.
“Mau ngomongin apa, ya. Takut banget aku berhadapan dengan bapak itu.” Hetty mengerucutkan bibirnya. ”Lagian kenapa Kendranata nggak datang-datang sih, kemana dia? Tega banget ninggalin aku di sini.”
Selesai menyisir rambut, ia pergi ke ruangan yang masih terbuka pintunya.
“Bapak.” Hetty tersenyum santun seraya menutup pintu ketika pria itu menyuruhnya. ”Mau membicarakan soal apa?” katanya tanpa basa-basi.
Lambang melihat rambut Hetty yang bergelombang halus tertata rapi di punggungnya terpantul di cermin.
__ADS_1
“Duduk saja dulu.”
Menurut, Hetty duduk seraya menegakkan tubuh lalu menatap Lambang yang sama-sama menegakkan tubuh.
“Soal saya dan Bramasta, Pak?” tanya Hetty lagi.
“Siapa lagi kalau bukan kalian?” timpal Lambang, memajukan kesejahteraan Hetty dan Bramasta tidak cukup satu dua meeting keluarga, butuh beberapa lagi pertemuan untuk memutuskan satu kesepakatan menyeluruh. Tetapi Kendranata yang sudah menyerah dan sedang asyik-asyiknya menganggu Sanya dan Indri yang tidak mungkin diajak berdiskusi membuatnya harus bertindak seorang diri.
Lambang menyadari kegugupan Hetty selama seminggu di rumahnya, apalagi sikap istrinya yang diam seribu bahasa menyulitkan wanita itu menemukan kesimpulan.
“Saya tidak bisa mengizinkan Hetty tinggal lebih lama di sini.” ucap Lambang serius. “Tetangga akan curiga!”
“Saya tahu, Pak. Saya bisa pulang ke Jogja, tetapi bagaimana dengan Bramasta? Bapak dan Bu Indri bisa menerimanya? Papa saya tidak pernah menerimanya sebagai cucu dan saya alangkah senang jika bapak bisa mengakuinya dan menjadi kakeknya.” Hetty memasang wajah berharap.
“Jadi pengganti Pranata pun saya sanggup asal kamu mau menjadi istri kedua saya dan menjalani kisah rahasia.”
Hetty yang mendengarnya seperti terkena martil. Dia terbelalak, mulutnya terbuka, dan kesulitan mengambil napas. Keputusan apa-apa itu, pikirnya. Enak di bapak nggak enak di saya, tapi Lambang yang mewariskan ketampanan kepada Pranata dan Kendranata memang masih terlihat bugar di usianya yang enam puluh dua tahun.
Lambang tersenyum samar. “Indri sudah lama tidak menafkahi batin saya, sementara kamu juga membutuhkan banyak finansial dan ayah untuk Bramasta.”
Hetty menggeleng kecil. ”Maaf saya tidak bisa!” Buru-buru ia berdiri dan keluar dari ruangan Lambang seperti neraka.
“Orang-orang di rumah ini gila semua.” Hetty melangkah cepat ke belakang rumah. Mengambil Bramasta yang sedang mengobok-obok air kolam.
”Kamu sebaiknya keluar dari rumah ini, Ran. Isinya biadab semua.” kata Hetty marah seraya masuk ke dalam rumah, ia menuju kamar melewati Lambang menunggunya di sana.
“Mas Kendranata tidak biadab, tapi apa yang terjadi tadi.” Buru-buru pula Rani masuk ke dalam rumah dengan wajah cemas. Hanya ada suara Bramasta di kamar, setelah Lambang meminta Hetty diam.
__ADS_1
“Apa jangan-jangan pak Lambang mengusir Hetty dan cucunya? Waduh, mas Kendra perlu tahu.”
Menjauh dari depan kamar Hetty, Rani menelepon Kendranata yang sedang menjemput Sanya bekerja.