Rekah Hati

Rekah Hati
Harus Tahu


__ADS_3

Terperangkap dalam tekanan naluri yang menyuruhnya berlari, namun hatinya mendengar suara-suara malaikat yang menuntunnya untuk menjadi baik hati.


...(✧⁠ω⁠✧⁠)...


Menjelang pukul tujuh pagi, sedan merah yang dikemudikan Kendranata dari Yogyakarta tiba di halaman rumah orang tuanya.


Surakarta, di pagi hari.


Kendranata mengusahakan senyum wajar sekembalinya di rumah setelah merajut komunikasi dengan masa lalu keluarganya yang suram.


Indri, sang ibu yang sedang berjemur matahari menatap kembalinya sang anak dari perjalanan bisnis ‘aku Kendranata saat berpamitan dengannya’ dengan senyum sekenanya.


Indri menjulurkan tangan ketika Kendranata hendak bersalaman dan mencium punggung tangannya.


“Ibu sudah mendingan?” tanya Kendranata sembari berjongkok, senyumnya tetap tenang walau jantungnya bergemuruh.


“Sudah.” Senyum tua ibunya menambah pahit keadaan, menambah tebal garis jarak yang memisahkan kejujurannya dengan apa yang ia sembunyikan.


Belum saatnya cerita. Mungkin dengan bapak lebih baik. Tapi sebaiknya aku coba.


Dengan kembalinya Kendranata, bernapas lega lah suster yang berjaga di kursi taman. Hanya ia pawang satu-satunya yang bisa menentramkan hati ibunya kala gundah dan depresinya melejit lewat suara dan gerakan tangan yang brutal sebagai refleksi emosional.


Indri menyentuh pipi Kendranata seraya mengelusnya pelan dengan ibu jari. Sejenak ekspresinya menerawang ingatannya sendiri sembari mengheningkan cipta.


Sabar, Kendranata menunggu ibunya berbicara sambil memikirkan Bramasta nangis atau tidak, Hetty masak enak atau tidak, dan hal-hal yang sudah ia pahami lainnya.


“Darimana kamu?” tanya Indri tergesa seakan enggan kata-kata itu lenyap begitu saja. ”Rohadi beri kabar ke ibu kamu tidak ke kantornya.”


Kendranata terdiam sejenak sambil bersila. Tangannya menjulur mengambil pemotong kuku dari kotak stainless berwarna biru muda.


Penuh sayang ia memotong kuku rapuh ibunya yang menguning sambil bercerita. Separuh jujur, separuh dusta.


“Aku mampir ke Jogja, Bu. Jenguk Pranata sekalian bertemu teman-temannya. Ibu ingat Paijo? Dominic?” Kendranata mendongak, tersenyum formal, yakin ibunya ingat dengan dua nama sahabat Pranata yang kadung bikin beliau susah lupa. ”Makam Pranata bersih, setelah aku tanya-tanya ada yang rutin merawat makam Pranata selama ini, Bu.”


Bongkahan rindu dalam hati Indri merekah seketika bak bunga-bunga yang tahu kapan waktunya bermekaran. Sejurus kemudian, mekarnya rindu itu redup tergantikan wajah sedih Indri yang bertalu-talu. Sapu tangan di tangannya ia genggam erat.


Dan seolah tak ingin peduli dengan sikap ibunya yang terus antipati atas duka yang masih menggelayuti benaknya, Kendranata selesai memotong kuku ibunya seraya tersenyum penuh arti.

__ADS_1


”Sesekali ibu harus jenguk Pranata di Jogja, kasian dia Bu, jauh dari keluarga.”


Jantung Indri seakan di tinju mendengar penuturan itu.


“Salah dia sendiri kenapa pingin dimakamkan di Jogja dekat Rastanty.” Indri berusaha menegakkan tubuh rentanya di atas kursi roda. ”Ibu tidak berarti baginya setelah Pranata memilih Rastanty! Anak kurang ajar.” Indri menegaskan.


Kendranata tersenyum, dengan sabar ia mengelus lutut ibunya.


“Bukan Rastanty Bu yang jadi alasan utama Pranata memilih Jogja sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Tapi anaknya, cucu ibu.”


Indri menajamkan telinga sambil menatap Kendranata serius. Cukup lama ia terdiam sambil menerawang ingatannya yang mulai kabur-kaburan sebab obat-obatan yang ia konsumsi untuk menunjang kesehatannya.


”Ibu ingat? Ibu punya cucu dari anaknya pak Haris Subandi? Hetty? Pacar Pranata yang ibu banggakan waktu pertama kali bertemu? Terus minta aku putus dengan Sanya hanya karena dia SPG kosmetik?” Kendranata menandaskan. ”Namanya Bramasta, Bu. Mirip Pranata waktu cilik.”


Ucapan Kendranata mencengangkan Indri, wanita paruh baya yang memakai terusan daster itu terguncang, perasaannya menjadi berubah-ubah dalam satu ekspresi wajah, awan badai berkumpul di sana. Tinggal menunggu waktu terjangannya.


Sementara duduk bersila sambil menatap matahari yang merangkak naik di belakang ibunya, Kendranata sadar lajunya terlalu cepat sebab tak tahan Rastanty melulu yang menjadi sasaran rasa kecewanya. Padahal ada yang jauh lebih penting ketimbang wanita yang tak sedikit pun beruntung Pranata memilih Jogja sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.


Bramasta berhak tahu siapa keluarga besarnya.


Indri menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sulit memperdebatkan fakta baru itu Kendranata yang merobek-robek ketenangannya dengan kata-kata tajam atas rasa kecewanya harus berpisah dengan Sanya. Wanita berjilbab, berwajah teduh dan manis. Khas Rastanty yang polos dan baik hati. Cerdas namun sederhana.


Indri berkata, “Sarapan dan berikan aku obat penenang, sus.”


Teronggok di halaman rumah, di terpa gelimang cahaya matahari. Kendranata merebahkan diri di atas konblok seperti sedang berjemur di pantai, satu kakinya terangkat dan menyilang di kaki satunya.


Kendranata memejamkan mata. Senyum simpulnya terlihat. Hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya nyaman.


”Ibu harus tahu penderitaanku dan usahanya menjadikan kami berdua kompetitor sepenuhnya tidak berguna.” Ia menghela napas, ”Sudah sejauh ini aku masih sendiri sebab Sanya masih jomblo.”


Sanya.


Bukannya masuk ke rumah, Kendranata memutar tubuhnya lalu merangkak dan berdiri seraya gegas masuk lagi ke sedan merah dan pergi dari rumah.


Di samping rumah sederhana tingkat dua, pukul delapan pagi. Kendranata menunggu Sanya keluar rumah sambil membeli bubur kacang hijau yang kebetulan lewat menggunakan gerobak.


Sabar dan tahu kapan gadis pujaannya sejak keluar rumah, Kendranata berjuang melawan kantuk setelah semalam harus menjinakkan Hetty dengan janji-janji.

__ADS_1


Kendranata menarik kepalanya menjauh saat suara garasi terdengar susah dibuka.


Sudah aku bilang dari dulu beri oli, dasar wanita.


Melompat seperti maling dari samping pagar rumah tempatnya bersembunyi, Sanya dikejutkan oleh kedatangan Kendranata yang tiba-tiba berdiri di belakangnya seraya mendorong pintu garasi yang berkarat di sana sini.


“Ngapain mas?” Sanya menjauh seraya bergerak layaknya pesilat.


Kendranata tersenyum lebar. Bagaimana tidak, wanita yang lebih muda sepuluh tahun darinya sudah cantik dengan sepatu formal hak tinggi dan pakaian dinas berwarna biru muda.


“Ngapain kamu begitu, kumat?”


Sanya mendesah lalu menurunkan kedua tangan ke sisi tubuh. “Reflek, tapi...” Seperti gerakan pinguin, Sanya merentangkan tangan seraya memeluk Kendranata.


“Kangen mas Ken-ken...”


Kendranata menepuk-nepuk ubun-ubunnya sambil tersenyum lega. Sanya masih Sanya yang dulu, yang mengerti putusnya hubungan mereka bukan ia yang mau.


Kendranata melonggarkan pelukan Sanya. “Nanti pakaianmu kusut terus ngomel-ngomel. Aku yang salah lagi, salah terus.” cibirnya sambil bersandar di tembok.


“Apa kabar?”


Sanya mengendikkan bahu dengan telapak tangan menengadah.


“Aku masih nunggu mas Ken-ken bikin ini semua utuh lagi.” jawabnya serius.


Kendranata memberikan bunga matahari semak yang tumbuh di pekarangan rumah Sanya yang ia harap dapat mengalihkan pembicaraan.


Sanya menerimanya lalu menyelipkan di telinga Kendranata. “Aku masih hafal kamu.” ucapnya sambil memicingkan mata.


“Lagian baru ketemu lagi yang ditagih itu langsung, nggak pakai basa-basi dulu?” Kendranata mengeluarkan kunci mobil, ”Aku antar kamu kerja. Nanti sore ketemu lagi.”


“Kalo gitu tutup garasinya.” Sanya menjulurkan lidah seraya meninggalkan Kendranata yang menurut.


Di bahu jalan, Kendranata membuka pintu mobil. Meratukan Sanya sebagai cinta pertama.


^^^♡⁠(⁠˃͈⁠ ⁠દ⁠ ⁠˂͈⁠ ⁠༶⁠ ⁠)(⁠・⁠–⁠・⁠)⁠ ⁠\⁠(⁠・⁠◡⁠・⁠)⁠/^^^

__ADS_1


__ADS_2