
Duduk di samping bangku kemudi, Hetty menatap sekali dua kali Rudy yang tetap santai mengemudikan mobilnya di penghujung sore yang mendung.
“Ini beneran menuju rumahnya Gandi, Pak?” tanya Hetty akhirnya saat mobil hampir sampai ke indekosnya. Tergambar jelas
kegelisahan meliputi wajahnya sebab ia belum ingin dipulangkan ke kost, dia ingin menjumpai Sugandi sekali lagi untuk menambah terornya yang berapi-api.
“Benar ini, Bu.” Rudy menarik persneling mobil tepat di depan indekos dan rumah kontrakan Sugandi.
Celingukan Hetty mencari jawaban, menatap kost tidak mungkin, dia menggeleng, kostnya hanya menerima kaum wanita baik janda mau pun single. Menatap rumah di samping kanannya, Hetty menjureng menatap rumah itu.
“Beneran itu rumah Sugandi, Pak?” tanya Hetty heran. Tidak ada bekas-bekas tanda rumah itu habis di datangi seseorang, tidak ada motor Sugandi sana. Rumah itu sepi dan cenderung tidak terawat. Tanamannya layu, dan yang merambat terlihat menjalar di sepanjang pagar.
“Betul, Bu. Itu rumah kontrakan Sugandi.” jawab Rudy dengan tulus.
“Kok sepi.” Hetty mengerucutkan bibirnya. “Apa Sugandi lupa sama tanggung jawabnya atau jangan-jangan dia sembunyi.” tukasnya seraya membuka pintu mobil.
“Aku pamit, Pak. Terima kasih.”
Rudy mengiyakan dan pergi dari tempat itu setelah Hetty menutup pintu.
Hetty mengintai rumah Sugandi yang seperti tak berpenghuni karena memang betul Sugandi tidak pulang, Sugandi mampir ke toko dulu untuk menghindarinya.
“Dia pasti menghindar, baiklah Hetty kalem. Kita main halus saja.” Mengambil ponselnya di tas, ia mengetik pesan untuknya.
Aku nanti malam di ajak jalan sama pak bos, Plis Gandi, pulang.
Di toko sembako langganannya setelah berbulan-bulan tinggal di Banjarmasin, Sugandi mengeluarkan ponselnya yang bergetar di dalam jas.
“Janda badung bikin acara apa lagi ini, rusuh.” Sugandi memasukkan ponselnya di saku jas seraya duduk-duduk di kursi sembari mengeluarkan rokoknya. “Dia sudah di kost, setidaknya aman. Ada satpam sangar yang melindungi wanita-wanita di kost itu dengan
__ADS_1
Masuk ke dalam kamar kost, Hetty memfoto dirinya sembari tersenyum.
Suga, aku sudah mempermudah pekerjaanmu, kamu di luar sana yang tenang ya. Jangan khawatir, aku sudah di kamar.
Mendapati ponselnya bergetar lagi, Sugandi hanya bisa menghela napas dan membiarkannya karena sepak terjang Hetty sudah dia pelajari sebelum mendatangi surat kesepakatan dengan Kendranata.
Hetty yang genit, Hetty yang berani, Hetty yang manja dan Hetty yang butuh kasih sayang sudah ia pelajari dengan baik. Tameng-tameng pelindung untuk melindungi dirinya dari pesona Hetty yang memukau sudah dia siapkan contohnya saja sikapnya yang dingin.
“Kendranata memang sengaja melemparku ke janda badung itu, lihat saja sampai sekarang dia tidak meminta laporan atau menghubungiku. Sudah tidak butuh saya dia, dasar... habis manis sepah di buang.”
Duduk di atas motornya, Sugandi mengambil coklat pemberian Hetty seraya menggigitnya. Lama-lama enak, lebih manis dari rokok.
Sugandi membiarkan jeda waktu berlalu tanpa melakukan apa-apa selain mengira-ngira betulkah pak bos mengajak Hetty jalan-jalan.
“Sepertinya tidak mungkin, tenang... Ga, dia hanya menstimulus ketenanganmu.”
Santai ia menggeber motornya menuju rumah kontrakan, melalui jalan yang dilaluinya tanpa renjana dan prasangka, Hetty yang mengintai di lapak pak satpam meringis lebar sambil menyuruh satpamnya membuka gerbang.
Sementara Hetty melancarkan aksinya, Sugandi yang baru membuka gembok rumah menoleh dan terbelalak melihat wanita itu sudah menyebrang jalan.
“Buruan, buruan.” Mengotak-atik gemboknya yang mendadak susah di buka Sugandi terlihat panik saat sapaan Hetty dan aromanya semakin mendekat dan yakkkk...
Tangan lembut dan multitalentanya menyentuh bahu Sugandi sekilas.
“Baru pulang? Aku bilangin Kendranata kamu hari ini mengurangi jam kerja!”
Sugandi menubrukkan kepalanya di pagar besi sambil meracau frustasi.
Sudah pasti kedatangannya tidak hanya satu kali atau dua kali, kedatangannya bakal setiap hari.
__ADS_1
Hetty menepuk-nepuk lagi bahu Sugandi yang malah bersandar di gerbang daripada bersandar padanya, cieee...
“Ngapain sih.” tanyanya heran. “Kamu ketemu aku malah loyo, nggak happy?”
“Tidak sama sekali.” Sugandi mengoprek gembok dengan susah payah dan hati kecut, lagi-lagi dia dihadapkan pada suatu pilihan sulit. Menjamu Hetty atau mengembalikannya ke kost.
“Saya harus mandi, anda silahkan pulang dan istirahat.” kata Sugandi setelah mendorong pintu gerbang dan memasukkan motornya ke garasi.
Hetty menggeleng sambil menunjuk kursi di teras yang ia duga sebagai tempat Sugandi mengintainya.
“Aku tunggu di sini sambil nunggu pak bos. Aku serius Gandi, aku butuh kamu sebagai pelindungku.”
Sugandi melengos ke dalam rumah, ia tetap melaksanakan ucapannya dengan baik, Hetty pun juga melaksanakannya dengan baik. Duduk manis di kursi sambil melihat foto-foto Bramasta yang di kirim Sanya.
Di dalam rumah, Sugandi mengintip sekejap wanita itu dari celah gorden yang ia singkirkan sedikit.
“Keras kepala, sangat...sangat keras. Pantas Pranata terjerat pesonanya.”
Sugandi pergi ke dapur, menuangkan air putih ke gelas seraya membawanya keluar. Setidaknya tamu kurang kerjaan itu dia suguhi minuman.
Hetty menoleh kala suara pintu terdengar terbuka. “Buat aku?” tanyanya waktu Sugandi mengulurkan gelasnya.
Sugandi mengiyakan lalu menghela napas. “Saya ini kerja jangan di ganggu.” katanya langsung.
“Aku bukannya ganggu kok, aku cuma mau silaturahmi. Bagus lho itu Gandi, apalagi kita ini senasib. Di perantauan.” sahut Hetty tenang.
Sugandi pun perlahan membisu, memang tidak salah dari ucapan Hetty, tidak ada yang salah. Yang salah hanya kecantikan wanita itu. Cuakkks....
...----------------...
__ADS_1
🤣