Rekah Hati

Rekah Hati
Please


__ADS_3

“Mama dengar pembicaraan kalian.” ucap Ratih sembari menggeser kursi. Tatapannya yang ramah menuju Sugandi yang gelisah.


“Nak Gandi naksir Hetty?”


Alamak, di jawab bingung, tidak di jawab salah.


Sugandi hanya bisa tersenyum memamerkan giginya sampai pipinya terasa kaku. Benaknya kini hanya berisi kalimat ‘Gimana ini, gimana ini’ tanpa pernah mendapatkan kalimat yang lebih kongkrit lagi.


“Kalau di hitung-hitung sejak Pranata meninggal, sudah tiga tahun Hetty sendiri. Jadi maaf lho nak Gandi kalau tiba-tiba peluang yang ada Hetty gunakan sebaik mungkin.” Ratih tersenyum geli.


Jakun Sugandi bergerak, bohong jika ia tidak naksir Hetty atau tak acuh kepadanya. Selain cantik dan enak di pandang, perangainya yang cerewet dan asyik-asyik saja seakan mengisi hari-harinya yang introvert.


“Bukan maksud saya lancang, Tante. Saya cuma mengantisipasi saja kalau-kalau tidak akan ada rasa dalam tempo dua tahun ini alangkah baiknya Hetty jangan suka nempel-nempel saya, saya ini bukannya takut patah hati, saya cuma tidak bisa melupakan saja.”


Hetty kembali menjadi-jadi, tawanya yang lepas dan jarang terdengar oleh Ratih membuatnya menyimpulkan kejujuran Sugandi dalam menjaga hatinya dari pesona anaknya membangkitkan semangat dan gairah dalam menjalin cinta yang bahagia dan senang.


Sudah lama Ratih ingin mendengar Hetty kembali ceria setelah kematian Pranata dan seolah apa yang di cari dari luasan bumi ini sudah ada di depan matanya sekarang, Ratih mengelus bahu Sugandi dengan penuh kasih seorang ibu.


“Rasa itu tidak bisa di paksakan, Nak Gandi. Tetapi waktu dan kebersamaan bisa mengubah segalanya. Kalau jadi sayang dan cinta itu bonus, selebihnya dibikin nyaman dulu.”


“Tuh mas, dengar pesan ibuku.” timpal Hetty seraya menghapus matanya yang berair dengan ujung jilbab. “Gak semuanya harus transparan dulu, masa iya di awal-awal sudah di todong kepastian padahal nyaman saja belum tentu.” Perut Hetty bergetar-getar.


“Bagaimana saya bisa nyaman kalau anda setiap hari terlihat ingin menelan saya bulat-bulat.” balas Sugandi lugas dengan sorot mata yang terang-terangan menyatakan pertanyaan satir.

__ADS_1


Hetty menunduk sambil menautkan kedua jari telunjuknya.


“Aku butuh perhatian.” katanya lemah, “Kamu laki-laki pertama yang dekat sama aku setelah Pranata pergi. Maklum ya.”


”Tapi caranya bukan ganas seperti itu, saya khawatir kamu justru mengulangi perbuatan hina jika saya tidak kuat menahannya!”


Ratih mendorong bahu Hetty dengan lembut, mendukung dengan terang-terangan ucapan Sugandi. “Kamu juga sih, Hett. Nggak belajar dari pengalaman.”


“Kan mas Sugandi jomblo, Ma. Biasanya cowok kalau di kasih celah, tandanya bisa di masukin.”


“Hetty!!!” sergah Ratih sambil mencubit lengannya. ”Kamu ini jangan malu-maluin mama, ya. Udah cukup yang kemarin semua berantakan, sekarang buat semuanya adem ayem. Yang bagus, nak Sugandi ini pinter lho, dia tidak mau sama kamu yang genit karena itu bisa membuat semua tambah kacau!”


Hetty mengerucutkan bibirnya sambil mengulurkan tangan, ia mengelus lengan Sugandi dengan lembut dan penuh kasih sayang sampai membuat pria itu bimbang bersikap.


Hetty menarik tangannya lalu menyimpannya di balik kerudung.


“Itu yang terakhir, besok-besok enggak kok aku ganggu kamu sampai kamu rileks jalan sama aku. Eh... Ralat, sampai kamu yakin aku nggak cuma berharap perhatian kamu, tapi juga keseluruhan cintamu, ea... setuju mas?”


Sugandi bungkam seribu bahasa meski isi kepalanya semrawut dibuatnya. Dan seolah ingin merasakan sentuhan Hetty di lengannya, Sugandi mengelus sensasi yang masih tinggal di sana.


“Saya ini hanya mau kepastian daripada semuanya jadi sia-sia. Waktuku, perhatianku, gajiku, dan hal-hal yang sudah terjadi lainnya.” kata Sugandi tanpa berani menatap Hetty. “Kamu mau nikah sama saya di Surakarta?”


Hetty mengulum senyum seraya melirik ibunya. “Gimana, Ma?”

__ADS_1


“Mama serahkan semuanya ke kamu, Hett. Jangan paksakan kalau belum siap.” Ratih mengelus pundaknya. “Mama cuma pingin kamu ketemu dengan kebahagiaan dan membangun rumah tangga yang baik.”


Hetty menangkup kedua pipinya yang bersemu kemerahan. Ajakan nikah itu seperti hendak membawanya ke level baru yang pernah dia bayangkan dengan Pranata, dan segalanya yang terlewatinya seorang diri menjadikannya lebih realistis sekarang.


“Kita pdkt dulu ya karena aku nggak kemana-mana kok. Aku masih di depan rumah kamu, di kantor yang sama sepertimu. Mudah kamu cari.” Hetty tersenyum simpul, sedih melihat rona wajah Sugandi berkurang.


“Dan kalau kita sama-sama merasa cocok, kita nikah.”


Terdengar bunyi kursi bergeser, Sugandi berdiri seraya mengulurkan tangannya. Hetty yang melihat ajakan kesepakatan bersama itu pun ikut mengulurkan tangannya. Keduanya bersalaman dan mengangguk bersamaan.


Ratih ikut nimbrung dengan mengulurkan tangannya, menggenggam kedua tangan muda mudi itu sambil tersenyum hangat.


“Mama doakan kalian bersama.”


Sugandi mengucapkan amin paling serius di dalam hatinya lalu mengeratkan genggamannya. Memancing tatapan Hetty yang tertunduk dalam.


“Saya usahakan lebih baik dari Pranata.”


“Please hold me warmly.”


Sugandi mengangguk lalu mati-matian melepas tangannya ketika genggaman Hetty semakin erat dan tak sungkan menggelitik telapak tangannya dengan jari telunjuk.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2