RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
ADAB


__ADS_3

Arsa menuju kamar tidurnya untuk berganti pakaian, matanya memicik heran.Tempat tidur terlihat rapi bahkan wangi pengharum ruangan masih segar tercium.


"Kemana dia?, apa dia sudah berangkat kerja, terlalu sekali ia tak membangunkanku.Dasar istri durhaka!" umpat Arsa kesal.


Arsa melajukan mobilnya menuju tempat kerjanya, lelaki itu terus saja mengumpati istrinya.Tanpa ia sadari sebuah gerobak penjajah makan lewat dari tikungan berbeda dan suara cukup keras langsung menyita perhatian orang di sekitarnya.


"BRRRAAAAKKKKK!!!!!!"


Kening Arsa menghantam setir lumayan kencang, tangannya memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Daraaahhh!"guman Arsa menglihat kearah tangannya yang dibasahi cairan merah kental.


"Tok...tok...toookkk ,buka pintunya!!!"suara diluar mobil terdengar riuh, mata Arsa membelalak melihat banyak orang mengelilingi mobilnya.


"Ya Tuhan bagaimana ini, jika aku keluar, bisa mati digebuki massa"batin Arsa menciut.


"Keluar...keluar..!!!"kaca mobil terdengar bergetar oleh gedoran tangan yang bertenaga, yang tak henti menghatam kaca mobil dari arah samping kanan dan kiri.


"Kita bakar saja mobil ini, jika orangnya tidak keluar!!!"


"Mati aku ya Tuhan.Ya Tuhan tolong hambamu ini!"guman Arsa lirih.


Dengan perasaan sangat takut Arsa membuka pintu mobil, kedua tangannya menutupi kepala dan ia langsung bersujud.


"Maaf..maafkan saya..sungguh saya tidak sengaja!!!"suaranya bergetar seiring suara mengadu dari bibir Arsa.


"Enak saja minta maaf...lihat itu kelakuanmu!!!"Pukulan dan tendangan bertubi mendera tubuh suami Arin itu.


"Saya akan bertanggung jawab pak, tolong biar saya bawa bapak itu ke rumah sakit!"


"Pak biar dia bawa bapak itu dulu ke rumah sakit terdekat, kasihan jika bapak itu tidak segera ditangani!"suara beberapa orang terdengar memberi saran.


"Ayo pak masukan ke mobil saya, bantu saya bawa ke rumah sakit terdekat"Arsa gegas menuju pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.


"Kau kawal terus dia jangan sampai ia tak bertanggung jawab!"beberapa orang yang tadi memukuli Arsa terdengar berbicara lantang pada orang yang ikut mengantar ke rumah sakit.


Arsa melajukan mobilnya, untung mobil itu masih bisa berjalan walau bagian luar mobil penyok sana sini terlebih bagian depan.


Arsa menengok ke belakang dimana lelaki paruh baya yang merupakan pedagang keliling dengan gerobak dorong masih tak sadarkan diri.Dari hidung lelaki itu masih keluar darah, begitu juga bagian tubuh kaki dan tangannya.


"Maaf pak saya tadi nyetir terburu-buru karna kesiangan ke kantor.Saya sama sekali tak menginginkan hal ini terjadi"suara Arsa terdengar bergetar.


"Ya pak yang penting bapak bertanggung jawab dengan bapak ini, untung tidak ada petugas.Kalau tadi disana ada petugas mau tak mau bapak akan berhadapan dengan hukum!".tegas lelaki yang duduk di samping Arsa.


"Iya pak saya janji saya akan bertanggung jawab atas semua biaya bapak ini, bukan hanya pengobatan tapi biaya hidup selama beliau belum bisa berjualan"Arsa mencoba menyakinkan dua orang lelaki yang mengawalnya menuju rumah sakit terdekat.


"Memang harus begitu pak, kasihan kalau ia punya tanggungan keluarga!"Arsa mengangguk patuh.Lebih baik dari pada benjol digebuki massa.


Mobil yang Arsa kemudikan memasuki parkiran rumah sakit swasta terbesar yang merupakan tempat Arin bekerja.


Arsa memarkirkan mobilnya ke depan UGD, suami Arin itu gegas turun mencari brankar dan mendorongnya ke dekat mobil.


Saat ini Arsa dan dua orang yang mengawalnya itu masih menunggu di depan pintu UGD.Arsa merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.Gerak- gerik Arsa menjadi perhatian salah satu dari orang yang ikut mengawalnya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Sebaiknya bapak memeriksakan diri juga, mana tahu ada yang patah akibat pukulan massa tadi".


Arsa mengangguk, ia merasa pinggangnya sangat sakit akibat tendangan seseorang, begitu pula punggungnya.Arsa teringat istrinya yang bekerja di rumah sakit ini.


Arsa mengambil benda pipih di saku celananya, untung benda itu tak hancur oleh massa yang mengamuk.


Arsa memperhatikan layar hape yang menampilkan wajah cantik sang istri, tiba-tiba saja Arsa merasa bersalah atas sikapnya pada Arin.


"Assalamualaikum ada apa mas?"suara tenang sang istri membuat pikirannya berkecamuk.


"Dd dek mas ada di UGD"suara Arsa terdengar bergetar.


"Apa...!!!"sambungan telepon terputus. Arsa menarik nafas dan menghelanya kasar.


"Kalau sakit silahkan bapak periksa juga"suara lelaki yang ikut mengawalnya kembali terdengar.


"Saya tunggu istri saya pak"


Kedua lelaki itu saling berpandangan, dan mereka berdua tak bersuara ketika seorang wanita berseragam perawat menghampiri lelaki di hadapan mereka.


"Ya Allah mas..kamu kenapa?"Arin duduk di samping suaminya, tangan lembut wanita itu memeriksa wajah suaminya.


Tak lama ia menelisik pakaian suaminya yang nyaris tak berupa karena banyak cap penuh tanah.


"Aku menabrak pedagang di jalan"lirih Arsa.


" Innalillahi..bagaimana dengan pedagang itu?"


"Ayo mas juga harus diobati!"Arin memapah sang suami menuju ruang UGD.


"Pak saya permisi!"


"Iya pak"dua lelaki itu mengangguk dan setelah Arsa dan Arin masuk ke ruang UGD mereka terlibat percakapan.


"Kasihan juga Dang bapak itu, namanya musibah tak ada yang mau, kita tak usah memperpanjang masalah ini yang penting itu bapak mau bertanggung jawab, terlebih istrinya perawat di sini"


"Iya sebaiknya kita balik saja setelah pedagang itu siuman, biar menjadi urusan mereka.Nanti kita bicara sama Asep bahwa masalah selesai.Gitu saja ya"


"Iya begitu lebih baik, yang penting tanggung jawabnya!"


Arin membaringkan sang suami di ranjang pasien, wanita itu terlihat tenang membuka pakaian sang suami, tapi matanya terlihat berkaca begitu melihat banyak lebam di tubuh sang suami.


"Mereka mengeroyok mas dek, mas tak sengaja karna kesiangan ke kantor"lirih Arsa.


"Maafkan aku mas, ini salahku mengabaikan mas"airmata itu akhirnya jatuh juga menjadi isakkan.


"Mas juga salah dek"Arsa menghapus airmata istrinya dengan tangan bergetar.


Arin memberikan salep pada beberapa lebam yang membiru, setelahnya ia menjahit luka di kening sang suami.


"Mas pakai ini ya, saya akan mengantar mas untuk rontgen, semoga tidak ada patah tulang atau hal berbahaya karena pengeroyokan itu"Arin mengenakan pakaian biru pada tubuh sang suami.


"Dek bisakah kau cari tahu keadaan bapak pedagang itu?"Arin mengangguk dan gegas menuju ruangan yang tertutup tirai pembatas.

__ADS_1


"Rin kau disini"


"Iya dok, bagaimana keadaan bapak itu?, dia orang yang mengalami kecelakaan itukan?"


"Iya kau kenal?"


"Iya pak dia tetangga saya"dusta Arin tak ingin mereka tahu jika suaminya telah menabrak pedagang makanan tersebut.


"Alhamdulillah..lukanya tidak parah, hanya kakinya patah perlu penanganan intesif"


Arin mengangguk mendengar penjelasan dokter.


"Mbak Ning nanti hubungi saya jika beliau sudah dipindahkan ke ruang perawatan ya"Arin mengamit lengan rekan kerjanya dan wanita yang dipanggil mbak Ning itu tersenyum dan mengiyakan.


"Ayo mas saya antar ke ruang radiologi!".


Arin memapah Arsa untuk duduk di kursi roda, dan gegas menuju keluar dari ruang UGD.


"Paaak.!!"dua lelaki yang masih menunggu di depan pintu, serempak memanggil Arsa yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Maaf bapak-bapak saya akan membawa suami saya untuk rontgen"


"Iya bu, begini kami mau berpamitan.Jadi minta bapak untuk bertanggung jawab pada beliau yang ditabrak!"


"Iya pak silahkan, saya akan bertanggung jawab sampai beliau sembuh"ucap Arin dan Arsa bersamaan.


"Pak sebentar!"Arin mengeluarkan dompet dari saku roknya, dan memberikan lima lembar uang merah kepada mereka.


"Ini sekedarnya buat naik taxi ya pak"


"Tidak usah bu kami iklas nolongnya"


"Iya saya tahu, tapi mohon diterima saya iklas memberinya"Arin meraih tangan salah satu lelaki itu dan mengenggamkan uang itu di tangannya.


Dua lelaki itu akhirnya berlalu dari hadapan mereka, Arsa terharu atas sikap istrinya yang peka pada orang lain.Sedang dirinya sangat tidak peka pada perasaan istrinya.


"Dek bagaimana keadaan pedagang itu?"


Arsa bertanya saat Arin mendorong kursi rodanya menuju ruang radiologi.


"Alhamdulillah tidak ada yang berbahaya, namun kakinya patah dan perlu penanganan intesif".


Arsa bernafas lega mendengar penjelasan sang istri, lelaki itu menoleh ke arah tangan sang istri yang mendorong kursi rodanya dan mengecupnya lembut.


"Mas..ini tempat umum"lirih Arin.


"Tapi kita suami istri dek"elak Arsa


"Suami istri juga punya adab mas, nggak sembarang bermesraan, kita bukan orang barat loh"Arsa tercenung mendengar ucapan sang istri.


"ADAB???"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2