RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Makan di Resto


__ADS_3

Saat selesai makan, mereka masih bersantai sekedar menurunkan nasi ke lambung.Arin mendadak teringat suaminya yang pernah semalaman main ke rumah Johan.


"Mas Jo malam itu waktu mas Arsa ke rumah, main apaan sih sampai subuh baru pulang?"


Johan tercenung mendengar pertanyaan wanita cantik dihadapannya.Lelaki jangkung itu seperti berpikir.


"Arsa sampai subuh di rumah, kapan?.


Saling kontek saja tidak!.


Bertemu dengannya saja tidak!.Apa maksud Arsa membohongi Marini?"berbagai tanya menyapa pemikiran lelaki jangkung itu.


"Mas Jo...!"Arin menatap intens lelaki di hadapannya yang malah terlihat melamun.


"Maaf Rin waktu itu kami ngobrol sampai lupa waktu, bahkan Arsa sampai ketiduran"kekehan Johan menutupi kebohongannya.


"Gitu emang ya mas kalau ketemu teman akrab yang lama tak jumpa"Arin ikut terkekeh.


"Brengsek loh Sa..gue loh jadikan tumbal" batin Johan kesal.


"Mas balik yuk!"Arin beranjak dari duduknya.Johan mengangguk dan segera melakukan pembayaran.


"Rin aku ikut sama kamu ya?"Arin terlihat berpikir.Besok sabtu ia tidak bekerja. Wanita cantik itu tersenyum simpul dan mengangguk.


"Mampir ke rumah dulu ya mas, aku mau ambil pakaian, mau weekend di rumah ibu"Johan tersenyum dan mengangguk pelan.


Perjalanan terasa lambat karna Johan tak henti bertanya, hingga laki-laki itu memelankan motor Arin, agar suaranya dapat di dengar sang wanita.


"Rumah kamu di mana Rin?"


"Di MT.Haryono blok C "Johan terdengar berkata ooo sembari mengangguk - anggukan kepala.


Tak lama motor metic itu memasuki halaman rumah yang tak terlalu luas, Rumah sederhana yang pas buat yang belum memiliki anak, ada dua kamar tidur, ruang tamu dan dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi.Rumah ini sebenarnya rumah yang dikontrak Arsa sebelum ia menikahi Arin.Dan begitu menikah mereka tinggal di rumah ini sampai sekarang.


"Mas tunggu diluar saja ya"Arin merasa tak enak jika tetangga melihat ia membawa lelaki masuk ke dalam rumah.Takut terjadi fitnah karena sang suami sedang tak ada di rumah.Johan tersenyum dengan anggukan kepala sangat samar.


"Kenapa Arin tak izin pada Arsa jika ingin nginap di rumah ibunya?sebenarnya seperti apa hubungan mereka?"batin Johan dipenuhi tanya.


"Ayo mas nanti keburu magrib!"Arin gegas naik diboncengan Johan begitu motor selesai di starter.

__ADS_1


"Nanti kalau magrib di jalan kita singgah di masjid terdekat"sambung Johan yang diiyakan oleh Arin.


Dan hal yang dikhawatirkan Arin terjadi, setengah perjalanan suara adzan magrib sayup terdengar.


"Mas kita mampir sholat dulu"


"Iya"Johan menepikan motor metic berwarna abu itu di halaman masjid yang berdiri megah di pinggir jalan raya.


"Kalau sudah sholat lega mas, kayak nggak ada cicilan"Arin tertawa renyah Johan mengangguk setuju.Benar memang jika masih ada yang belum ditunaikan rasanya seperti dikejar dosa.Bukankan lebih baik menyegerakan sholat.. itu pemikiran Johan.


Setengah jam kemudian mereka sudah mulai kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Arin.Kali ini kecepatan bertambah karena Johan terlihat focus mengendarai motor metic itu.Johan tak mau Arin terlalu malam sampai rumahnya jika perjalanan diselingi obrolan lagi.


"Rin mampir yuk"Johan menyerahkan kunci motor ke tangan Arin.Wanita cantik itu terlihat takjub dengan penampakan rumah Johan.Rumah yang terlihat paling mewah di banding rumah lainnya.


"Ini rumah orangtuaku , aku sendiri tak sanggup membangun rumah seperti ini.Aku mah numpang Rin"kekeh Johan yang menular ke wanita di hadapannya.


"Lain kali saja ya mas, sudah malam"elak Arin dan Johan hanya mengangguk patuh.


"Apa yang disembunyikan Arsa darimu Rin?"guman Johan, pandangan lelaki jangkung itu tak lepas dari wanita yang semakin menjauh dengan motor meticnya.


Arin tiba di rumah ibunya, Dewita sungguh terkejut melihat kedatangan putrinya yang waktunya tak seperti biasanya, yang biasa datang diwaktu sore.


"Kenapa malam begini nak, kamu membuat ibu khawatir"gerutu Dewita namun tangannya merengkuh pundak putrinya.


"Suami kamu tidak ikut?"


"Tidak bu, pekerjaannya tak bisa ia tinggalkan"


"Kita ini makhluk berakal masak sih nggak bisa ngatur waktu!"kali ini sang ibu mulai tak suka dengan alasan putrinya.Arin hanya tersenyum kecut atas jawaban sang ibu.


"Kau sudah makan nak?"


"Tadi makan dulu bu, terus lanjut sholat di masjid Agung makanya kemalaman sampai sini"Dewita tersenyum bangga pada putrinya.


"Seperti apa pun sibuknya pekerjaanmu nak, jangan sampai meninggalkan kewajibanmu pada Allah!"


Arin mengiyakan ucapan sang ibu, mereka akhirnya duduk di ruang tengah tempat mereka dulu biasa berkumpul berempat, Ada ayah dan Tanti yang membuat suasana makin ramai.


"Kakakmu tadi pagi ibu telpon untuk kemari, tapi katanya sedang ada lemburan untuk proyek baru di kantornya"

__ADS_1


"Ya begitu bu kalau bekerja di perusahaan besar, betul gajinya besar tapi resiko kerjanya juga bertambah..contohnya waktu mereka akan semakin banyak untuk pekerjaan"


"Betul itu nak, tapi jika pekerjaan itu membuat kita tak hidup dengan baik sesuai ajaran agama, artinya rezeki itu tidak berkah nak, karna rezeki itu malah membuat kita jauh dari Allah"keluh Dewita lirih.


Wanita itu memikirkan Tanti dan Arsa yang semakin disibukan dengan pekerjaan yang membuat mereka lupa ada tanggung jawab lain yang harus mereka tunaikan.


Jika Dewita mengkhawatirkan hidup anak angkat dan mantunya, kontras dengan kegiatan dua makhluk yang sedang asik memadu kasih.


Pasangan yang tak terikat ikrar suci itu saat ini kembali mengumuli dosa ternikmat yang menghantarkan mereka kelembah dosa yang bukan tak merwka sadari.Yakin mereka sadar akan perbuatan dosa itu, tapi begitulah pengaruh seton ternyata begitu kuat mencengkram pikiran mereka...


Setelah beberapa jam, mereka terdampar nikmat bersama, dengan Tanti yang masih memeluk tubuh Arsa.


"Aku mencintaimu beb"suara Tanti mendayu manja.


"Aku juga mencintamu sayangku"Arsa mengecup kening Tanti lembut dan sangat lama.


Tak berapa lama mereka sudah berpakaian lengkap setelah membersihan diri seperempat menit sebelumnya.Tanti memeluk lengan Arsa manja.


"Kak aku lapar..kita makan di luar yuk!" Arsa mengangguk dan segera bersiap keluar apartemen bersama sang kekasih.


Mereka sepakat menggunakan mobil Arsa.Selama perjalanan menuju resto langganan Tanti, mereka selalu bermesraan.Tanti bergelayut di lengan Arsa dan sesekali mencium pipi lelaki yang tak focus menyetir.


"Sayang jangan mengodaku, aku bisa khilaf"suara Arsa terdengar berat.


Tanti tertawa mendengar suara berat sang kekasih yang sepertinya mulai tergoda akan sentuhannya.Wanita itu bukannya diam ia malah semakin gencar mengoda Arsa.Tangan wanita yang tak lebih cantik dari Arin itu mulai bergrilya memalukan...


"Ooh beb aku bisa memakanmu disini nanti, tolong jangan lanjutkan!"wajah Arsa terlihat memerah.Tanti malah senyum-senyum sendiri seperti OGJ.


Arsa mengeram kecil saat rasa linu dan nikmat mendominasi, matanya terlihat makin sayu.


"Sayangku tolong hentikan"Arsa menepikan mobilnya di pinggir jalan yang nampak mulai sepi.Arsa menarik pelan tangan Tanti dari bagian tubuhnya, nafas lelaki beristri itu terdengar memburu.Tanti menatap kekasihnya dengan cengiran.


"Jangan diulang beb kita bisa celaka!"Arsa menghela nafasnya dalam.Arsa kembali melajukan mobilnya menuju resto langganan Tanti, hanya perlu waktu dua puluh menit mereka sudah memarkirkan mobilnya di halaman resto yang terlihat ramai.


Mereka mencari tempat yang masih kosong, untungnya meja dekat kasir belum berpenghuni.


"Di sana kak!"tunjuk Tanti seraya mengamit lengan Arsa.


"Kita pesan dulu, kakak mau makan apa biar aku pesankan"Arsa sudah duduk di kursi ketika Tanti menuju pelayan untuk memesan 2 porsi nasi bakar dan bebek rica serta es campur komplit.

__ADS_1


"Bukankah itu Arsa?"


BERSAMBUNG


__ADS_2