RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Tanti#Tragis


__ADS_3

Pagi menjelang, setelah sarapan pagi di ruang makan, tiga pasang mata yang menatap ke arah Johan, yang terlihat gelisah, tangan lembut wanita di sampingnya, tak henti mengelus punggungnya.


Weny seperti memberi waktu pada sang tunangan untuk bicara, seperti ucapan Jo pagi tadi saat ia terbangun, Jo akan menikahinya secepatnya.


"Ada apa nak?"Milda tersenyum melihat reaksi sang putra, matanya pun menangkap pergerakan tangan Weny di punggung putranya itu.


Johan menghela nafasnya pelan, ia menatap sang papa yang terlihat menunggu apa yang akan ia sampaikan.


"Pa, ma...percepat pernikahanku dan Weny, aku siap jika harus menikah besok!"suara Johan terdengar lirih, dadanya seketika nyeri, ia teringat atas lamarannya pada Arin.


Ucapan Johan membuat suasana hening seketika, namun tidak dengan jantung Weny yang berdetak riuh.Kebahagian yang luar biasa untuknya.


Dewita menatap tak percaya pada sang putra, ucapan Jo barusan membuat mulutnya sampai menganga karena tak percaya pada pendengarannya sendiri.Berbeda dengan Daniel, lelaki itu hanya tersenyum tipis mendengarkan ucapan sang putra.


"Aku bahkan belum mendengar jawabannya"hati Jo kembali galau teringat Arin..Namun kembali ia mengingat cumbuan Arsa pada Arin yang terlihat menikmati.Hatinya mendadak benci.


Milda menutup mulutnya yang nyaris menganga, ia tak percaya jika putranya meminta ŕpercepat pernikahannya.


"Iya sayang, mama akan segera menghubungi mertuamu"Milda gegas melakukan panggilan telpon pada Venna.


Tentu saja orangtua Weny senang mendapat kabar itu.Tapi tidak juga pernikahan dilaksanakan besok, karena undangan pernikahan belum di sebar.


Di tempat berbeda, Arin merasa lega karena suaminya sudah pergi dari rumahnya.Lelaki itu meninggalkan rumah, dengan berjalan seperti penganten sunat.


"Aku harus segera mengurus percerai ini, ada atau tidak ada bukti, aku tetap akan mengajukan gugatan pada mas Arsa" batin Arin.


Malamnya Arin merasa ragu setelah bermunajat pada khaliknya.Meminta bantuan atas semua pilihan hidupnya. Bukan hanya masalah Arsa, tapi juga lelaki yang datang menyatakan lamaran untuk menikahinya, setelah statusnya sah menjanda.


"Benarkah dia bersedia menikahi diriku, jika nanti aku sudah menyandang status janda, bagaimana dengan orngtuanya?mereka itu orang terhormat, apa tak malu bermenantu seorang janda?"


Arin meragu jika orangtua Jo bersedia menerima statusnya, terlebih Jo anak semata wayang dan masih bujang pula.


Ditempat berbeda nampak seorang lelaki baru selesai mandi, ia mengenakan pakaian kerja karena ia datang ke rumah mewahnya sepulang kantor tadi, rumah yang baru beberapa bulan ia beli untuk ia tinggali dengan istri sirihnya.


"Yank, bener nggak mau bermalam di sini?"

__ADS_1


"Bukan tak mau sayang, tapi kau tau wanita itu sudah mengendus hubungan kita"


"Kenapa kau mau hidup dibawah tekanan wanita gila itu, katanya wanita terhormat tapi kelakuan barbar!"ketus wanita yang sudah seminggu lebih meninggalkan Arsa itu.


"Aku sudah menyusun rencana untuk menceraikannya, aku pun malu atas kelakuannya"keluh Arul pada kelakuan istrinya.


"Segeralah kau urus sayang, aku ingin selalu bersamamu, terlebih akan lahir anak kita"


"Iya, aku akan segera mengurusnya. Sayang papa pergi dulu ya, jangan nakal sama mama!"Arul menciumi perut Tanti yang sudah terlihat menonjol.Hatinya merasa berat meninggalkan rumah kali ini.Entah apa karna ia mulai tak suka tinggal di rumah istrinya, Devi.


Sepulangnya Arul, Tanti gegas menutup pintu, tapi beberapa menit kemudian, wanita hamil itu mengerutu.


"Tingtong...tingtong..tingtong..."


"Siapa yang tak tahu diri, menekan bel berkali-kali!"gerutu Tanti seraya menuju pintu depan.Sebenarnya ada art yang bekerja di rumah itu, namun saat sore art itu akan pulang dan baru akan datang pagi harinya.


Ketika pintu terbuka, dua orang lelaki berbadan tegap mendorong tubuh Tanti ke dalam kamar.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara-suara jeritan Tanti, memohon ampun.Namun setelahnya malah terdengar suara tawa atas permohonan Tanti.


Satu jam berikutnya dua lelaki berbadan tegap itu gegas meninggalkan rumah mewah itu, dan sebelum pergi mereka sempat mengacak-acak bagian dalam kamar tidur utama dan juga kamar kerja Arul.


Keesokan harinya suasana rumah mewah itu heboh, dengan ditemukannya mayat Tanti di dalam kamar dan mirisnya tanpa sehelai benang pun.


Ketika polisi datang, Arul sebagai suami sirih dari Tanti, di hubungi polisi.Lelaki itu kebetulan sudah berada di kantornya.


Beberapa tetangga juga menyaksikan kejadian di rumah Arul, karena melihat mobil polisi, dan ambulan, serta art yang saling berhubungan di komplek itu, karena mereka memiliki grup Wa.


Tubuh Arul merosot ke lantai, saat melihat keadaan istri sirihnya.Sangat miris


"Kau bukan hanya barbar, tapi juga keji"guman Arul lirih.


"Apa ada yang bapak curigai?"


Arul menatap polisi yang menanyai dirinya, lelaki itu mengangguk mantap.

__ADS_1


"Saya sangat kenal namanya Devi, ia tinggal di Jl.Tendean No.27 ,tangkap wanita jahat itu!"


"Bapak yakin?"polisi itu menatap Arul dengan intens.


"Saya sangat yakin ini perbuatannya, perempuan itu sangat gila pak, sungguh keji sekali ia membunuh wanita hamil dengan cara seperti ini!"keluh Arul dengan perasaan terluka.


Polisi segera bergerak setelah mendengar penjelasan Arul.Sedang lelaki berusia 47 tahun itu menangisi wanita yang sudah mengisi hidupnya dengan kebahagian yang tak mampu istri sahnya berikan.


Berita kematian Tanti sebagai karyawan dari perusahaan Johan itu, menjadi berita viral di sosmed.Dan itu terdengar sampai ke telinga Arsa.


"Ya Tuhan wanita seperti apa yang aku nikahi, kenapa dalam seminggu ia sudah menjadi istri lelaki lain, dan anak itu?dia anak dari lelaki bernama Arul itu?Jadi selama ini aku ia anggap apa?"Kesal Arsa atas perbuatan Tanti yang tak ia sangka sangat menjijikan.


"Tapi aku bersyukur, lepas dari jerat wanita gila itu"batin Arsa bersyukur.


Gila?bukannya Arsa sama gilanya dengan Tanti, jika ia takut akan kejadian ini semoga saja ia sadar atas semua dosanya dan berubah jadi baik.


"Apakah ini karma, atas perbuatannya pada ibu?Ya Tuhan semoga kau mengampuni kekhilafanku"


Malam hari di rumah keluarga Jo, anggota keluarga itu, nampak menikmati makan malam bersama.Daniel memulai percakapan yang sedari pagi membuatnya kepo.


"Benarkah berita karyawan itu Jo?"


Johan menatap papanya seraya mengangguk, lelaki jangkung itu menghentikan makannya.


"Dia karyawan di bagian keuangan pa, anak buah Pak Arul"


"Anak buah yang dijadikan istri kedua, begitu ya?"


"Sepertinya begitu pa, dan sedang hamil pula"jelas Jo seraya meneguk air di dalam gelas kaca, yang ada di hadapannya hingga habis.Jo sepertinya tak mengenal Tanti, karena mereka tak pernah bertemu.


"Kita perlu mendatangi keluarganya Jo, sebagai ucapan belasungkawa".


"Papa tenang saja, Weny sepulang kantor hari ini langsung ke rumah keluarga korban".


Milda tersenyum seraya melirik sang suami, yang mengangguk lirih.

__ADS_1


BERSAMBUNG😊


__ADS_2