
Di kediaman mewah keluarga Daniel Ahmad, Johan nampak tercenung.Lelaki jangkung itu memikirkan cara untuk bisa berbicara dengan Arin.Dua hari lalu ia datang ke rumah almarhumah Dewita, rumah itu masih sepi, menandakan penghuni sedang tidak ada di rumah.
"Dia masih di rumah suaminya, apakah mereka akan rujuk, mengingat Arin sepertinya betah di rumah itu"
Johan tersentak ketika, sepasang tangan lembut, dikalungkan di lehernya.
"Wen, kamu...!".
"Mama yang menyuruhnya menemui ke kamarmu!"tungkas Milda memotong perkataan putranya yang terdengar kesal.
"Mama..."wajah Johan nampak terkejut.
Milda mengangguk menatap sang putra, yang terkejut melihatnya berdiri di atas tumpuan telapak kakinya, tanpa bantuan kursi roda.
"Semua ini karena calon istrimu, mama sangat berterimakasih pada tunanganmu ini, ia yang rajin membantu mama melakukan pengobatan"
"Mulai saat ini, jangan panggil tante, panggil mama!, karena sebentar lagi kau akan jadi menantu kesayangan mama"
Weny tersenyum lebar mendengar ucapan Milda.Wanita cantik itu makin merapatkan pelukannya di leher Johan, hingga kelembutan pucuk yang menjulang itu terasa lunak mengenai punggung Johan.
"Mama minta kau bisa membuat Weny bahagia, mama tidak mau kau menyakiti mantu kesayangan mama!"
"Mantu ya?sebegitunya mama menginginkan Weny menjadi istriku"batin Johan resah.
Weny mendudukan bokong bulatnya di pangkuan Johan, begitu Milda keluar dari kamar tunangannya.Lelaki jangkung itu hanya diam melihat kelakuan tunangannya, yang sepertinya kelakuannya selalu mendapat dukungan dari mamanya.Bukan ia menyukai Weny namun semua karena ia tak mau Milda memarahinya, yang bisa memicu penyakit mamanya kambuh kembali.
Perlahan wanita cantik dengan tubuh semampai itu menempelkan bibirnya pada bibir sang tunangan, merasa Jo tak menolak, Weny lanjut memberikan lumata^ lembut.Cukup lama Weny melakukan hal itu, sekalipun bibir Jo tak bergerak tapi ia tahu, tunangannya menikmatinya.
"Aku mencintaimu bang"bisik Weny lembut di telinga Johan.Wanita itu mulai menampilkan sisi liarnya, ditiupnya lembut telinga sang tunangan, lalu digigitnya lembut.
Tubuh Johan meremang karena aksi Weny, Tanpa sadar tangan lelaki itu mengeratkan pelukannya pada bokong Weny, membuat sang wanita tersenyum samar.
"Wen..emmff"Johan pasrah ketika lidah Weny meluncur bebas di dalam mulutnya, ia yang tak sadar membuka mulutnya, karena geli dan nikmat atas aksi Weny.
Johan terpedaya ketika tangan lembut sang tunangan bergerak makin liar.
__ADS_1
Di kamar yang berbeda Milda sedang bercengkramah dengan sang suami, mereka membicarakan pernikahan Jo yang akan mereka percepat minggu depan, tentu saja tanpa sepengetahuan putra mereka, karena mereka lihat sikap Jo pada Weny tidak menunjukan ketertarikan.
"Akad dan pesta akan dilakukan di rumah Wisnu ma, itu permintaan mereka"
"Aku setuju pa, asal semua biaya kita pihak lelaki yang tanggung"
"Itu pasti ma, karena Jo anak kita satu-satunya, harga diri putra kita akan dibicarakan jika kita tak melakukan hal itu"
"Uang bukan masalah demi kebahagian anak, mama harap ini pernikahan seumur hidup untuk mereka"
"Apa Weny sudah pulang ma?"
"Belum, mama minta Weny meluluhkan hati Jo, dia masih di kamar putramu yang dingin itu"
Daniel tertawa, ia tahu siapa putranya tapi namanya lelaki jarang ada yang kuat dengan godaan, apa lagi jika hatinya sedang galau.
"Weeeennn..."wajah Johan memerah menahan perasaan yang membuatnya semakin melayang.
Hingga sesuatu di dalam meledak.Tubuh Johan melemas, matanya menatap pakaian atas tunangannya yang sudah berantakan.
Jo merasa tak enak, karena apa yang sudah Weny lakukan untuknya. tapi....
"Kita akan lakukan setelah kau resmi menjadi istriku"ucap Jo lirih, sebenarnya ia pun sama menahan gejolak yang lebih besar dari ledakan sebelumnya.
Jo berusaha berpikir positif, Weny tunangannya tak salah bercumbu dengan sang tunangankan?, apa lagi wanita yang ia pertahankan dalam hatinya, sedang menikmati kebersamaannya dengan suaminya.Johan tahu wanita itu masih memiliki rasa pada suaminya, karena Arin tak pernah merespon sikap yang kerap ia tunjukan pada wanita cantik itu.
"Ayo bersiap, aku akan mengantarmu pulang!"Johan gegas masuk ke kamar mandi setelah berucap pada tunangannya.
Weny tersenyum bahagia, sekalipun belum ada cinta di hati Jo, tapi ia yakin lelaki itu punya nafsu dan akan terpancing dengan aksinya.
Beberapa jam kemudian, mobil Jo sudah bertengger di halaman rumah Weny, namun keduanya masih berada di dalam mobil.
"Turunlah, dan segera tidur"Jo berkata seraya tersenyum tipis.
Weny mengangguk, tapi sebelum turun dari mobil, wanita itu kembali menyerang bibir tunangannya.Kali ini Jo tidak menolak, ia bahkan merespon kegiatan Weny.
__ADS_1
"Malam abangku sayang"bisik Weny mengoda.Johan hanya tersenyum melihat aksi tunangannya yang sangat agresif itu.Johan tak pernah menyangka jika Weny memiliki sisi liar yang mampu membuatnya tersulut.
Mobil lelaki itu bergerak meninggalkan rumah mewah Weny, entah mengapa lelaki itu ingin mendatangi rumah Dewita sebelum mobilnya masuk ke halaman rumahnya.
Johan menghela nafasnya kasar, melihat rumah Dewita yang masih terlihat tak berpenghuni, karena tak ada penerangan yang dinyalakan.
"Kau betah sekali berada didekatnya, sekalipun ia pernah menyakiti dirimu" keluh Jo seraya melajukan mobilnya ke arah rumah.
Pagi mulai kembali, teriknya mentari membuat Arsa terjaga.Silau cahaya yang mengenai netranya membuatnya segera beranjak dari pembaringan.
Arsa tersenyum mengingat pergulatannya semalam dengan sang istri, yang tentu saja ia lakukan dengan paksaan.Lama tak menyentuh istrinya membuatnya mengila, dan terkesan tak tahu diri.
"Kemana dia?"Arsa mencari Arin sampai ke dapur.Tapi istrinya tidak juga ia temukan.Hingga ia menuju garasi.
"Kau pulang tanpa pamit sayang"guman Arsa lirih.
Lelaki tak tahu diri itu gegas mandi, ia berniat akan menemui istrinya nanti malam sepulang kerja.Sedang urusan Tanti ia sudah lupa.Kepedulian Arin di rumahnya selama seminggu ini, membuat lelaki itu berpikir beda.Walau sesungguhnya sudah menjadi sifat Arin, yang tak bisa melihat sekitarnya berantakan, hingga membuatnya risih.
"Jauh dari Tanti jika urusan rumah, semua selalu terlihat rapi dan bersih setiap aku terbangun"senyum Arsa mengembang. Lelaki itu seperti baru dihantam godam Bima, karena baru sekarang ia menyadari sifat istrinya.
Di rumah Daniel, keluarga kecil itu sedang menikmati makan pagi bersama, suasana terasa akrab dan santai.
"Sayang, jam berapa tunanganmu pulang semalam?"
"Huuuk...huuk..huuk.."pertanyaan Milda yang tiba-tiba membuat Jo tersedak.Milda menyodorkan gelas berisi air putih ke hadapan Johan.
Daniel dan Milda saling berpandangan, lalu tersenyum.Mereka mengetahui kegugupan sang putra.
"Seharusnya kalau sudah larut, suruh tunanganmu bermalam di rumah nak, kasihan jika harus pulang malam"suara Milda sangat lembut, jemari wanita paruh baya itu menepuk lembut punggung tangan putranya.
"Aku mengantarnya pulang ma"
"Oohh. "Dewita tersenyum melihat kegugupan sang putra.
BERSAMBUNG😊
__ADS_1