RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Calon Tunangan


__ADS_3

Johan terpaku menatap sepasang paruh baya yang menatapnya dengan mata berkaca.


Dua orang yang sudah lama ia rindukan, menatapnya dengan penuh rindu.Weny menepuk lembut lengan Johan dan berbisik.


"Mereka yang istimewa untuk abang!"


Johan menatap haru pada Weny dan mengangguk lemah.Sungguh ia merindukan kedua orang yang istimewa baginya.


Johan mempercepat langkahnya, hingga tubuhnya menubruk tubuh lelaki yang nampak masih gagah dengan wajah teduhnya.


"Pa kenapa tak bilang....."Dua lelaki beda generasi itu saling berpelukan erat.


"Kalau bilang tak jadi kejutan buat abangku sayang, iya kan om?"ucapan Weny membuat mama Johan tersenyum.


Wanita yang duduk di kursi roda itu mengulurkan tangannya pada wanita cantik yang berada di samping putranya.


"Kau semakin cantik saja nak"mama Johan memeluk tubuh Weny, yang menunduk menyelaraskan tingginya dengan mama Johan.


"Terimakasih tante, gimana kabar tante, Weny harap sudah sehat dan kita bisa kumpul-kumpul seperti dulu"gadis cantik itu memberi kecupan di kedua pipi Milda, mama dari Johan.


"Alhamdulillah baik sayang"


Weny mengurai pelukannya pada Milda, karena Johan sudah menunggu untuk berganti memeluk sang mama, Daniel mengedipkan mata pada Wisnu, papa dari Weny, yang tersenyum melihat keakrab putrinya dengan keluarga sahabat karibnya.Ada harapan dari hati kedua keluarga itu untuk anak-anak mereka yang terlihat dekat.


Setelah acara pesta selesai, Johan tak langsung pulang, karena kedua orangtuanya meminta sang putra ikut bermalam di rumah sahabat karibnya.


"Jadi mama dan papa bermalam di sini?"


"Kita Jo, papa mau kau pun bermalam disini bersama kami"


"Papa tak merindukan rumah?"


"Bukan begitu, kami datang karena mamamu ingin hadir diacara sahabatnya, dan kami harus kembali besok pagi, karena pengobatan mamamu masih berjalan"


"Itulah Jo..om sudah bilang pada mamamu, tak usah datang.Tapi menurut dokter mamamu juga perlu untuk refreshing, berada dibawah pengawasan dokter itu membuat jenuh loh Jo"papa Weny ikut menimpali ucapan sahabatnya.


"Iya nak, mama rindu sekali padamu, dan juga rindu pada gadis cantik ini!"Milda tersenyum lembut pada Weny yang mengelus punggung tangannya.


Mereka bercengkrama seperti biasa jika berkumpul, seru-seruan.Johan terlihat menikmati keadaan yang membuat kedua orangtuanya saling menatap dengan senyum berbeda.

__ADS_1


Tak terasa waktu semakin larut, Weny mengantar mama Johan ke kamar tamu, kamar yang sangat luas dengan perlengkapan yang terlihat mewah.


"Sayang terimakasih sudah mendampingi Jo, tante harap kau bisa nantinya menganti panggilan tante menjadi mama, kau wanita yang pantas mendampingi Johan"


"Terimakasih, tapi bagaimana dengan abang?"


"Kau tak perlu bicara padanya sayang, biar tante dan om yang bicara pada Jo nanti"


Weny tersipu, wajahnya terlihat merona.Milda tersenyum lebar melihat sikap Weny yang malu-malu.Ia semakin yakin jika gadis polos ini yang terbaik untuk putranya.


Di ruang tamu para lelaki masih duduk ngobrol, Venna mama dari Weny membuatkan kopi, untuk teman ngobrol suami dan sahabatnya.


"Mama tinggal ke kamar tamu ya pak, mau kumpul sama Milda dan Weny"


Wisnu dan Daniel mengangguk, dan setelahnya lanjut kembali membahas bisnis yang merupakan topik paling utama jika sudah berkumpul.


"Pak, Jo mau kasih reward atas keberhasilan Weny yang menjalin kerjasama dengan Perusahaan dari Malaysia itu"Jo menatap sang papa yang tersenyum padanya.


"Silahkan saja nak, gadis itu memang luar biasa, dan pantas mendapatkan yang terbaik"Johan mengangguk setuju atas ucapan sang papa.Wisnu dan Daniel saling tatap dan tersenyum simpul.


"Apa Weny meminta hadiah padamu nak?"


"Ada om, dia minta jabatan lain, tapi belum bicara jabatan apa.Dan saya sudah kabulkan asal Weny tetap membantu saya sebagai asisten"jelas Jo kembali mengingat permintaan Weny.


"Wah kalau dia minta jadi CEO gimana Jo?"


"Jo harus kasih lah Nu, kan sudah janji bakal dikabuli permintaan Weny"kelakar Daniel.


"Ingat Jo jadi lelaki itu, harus bertanggung jawab dengan ucapannya!"tegas sang papa yang diangguki kepala oleh Johan.


"Saya siap jadi asisten Weny, jika ia mau jadi CEO pa!"tawa ketiganya pecah setelah mendengar ucapan Johan. Tanpa Johan sadari ada tatapan saling menyakinkan diantara lelaki paruh baya di sampingnya.


Ditempat berbeda nampak Arin yang tak bisa memejamkan matanya, wanita cantik itu nampak gelisah.Apa yang menjadi ucapan ibunya sore tadi terus tergiang di telinganya.


"Sebenarnya ibu pun tak enak jika kau harus tinggal di rumah ini, apa kata orang nanti jika mengetahuinya"


Ucapan itu membuat Arin bertekad akan segera pamit pada Johan, untuk kembali ke rumahnys.Tak ada yang harus ia takuti lagi.Jika Arsa hendak menikahi Tanti secara hukum, ia tak masalah.Karena tekadnya sudah bulat untuk berpisah dengan lelaki yang sangat ia cintai itu.Walau saat ini rasa itu kian pudar.


Hari terus beranjak naik, akhirnya wanita cantik itu dapat memejamkan matanya setelah melewati sepertiga malamnya dengan bersujud pada sang Khalik.

__ADS_1


Wajah cantik itu terlihat lelah, namun ia harus tetap kuat demi sang ibu yang terlihat kuat di hadapannya, walau Arin tahu hati itu sangat terluka.


Saat hari menjelang pagi, di kediaman Wisnu nampak terlihat sudah ramai, sehabis sholat subuh berjamaah, para wanita sibuk di dapur, Milda tak mau ketinggalan, wanita itu bersikeras membantu.


Setelah sarapan siap, dua keluarga itu menikmati santap pagi dengan banyak obrolan.


"Mama ingin bisa selalu seperti ini nak, berkumpul dengan keluarga Weny"Milda menatap sendu sang putra yang tersenyum lembut padanya.


"Iya ma, gampang saja..Jo akan antar mama ke rumah tante Venna setiap saat!"


"Tak perlu kau antar Jo, kami akan datang sendiri jika kau jadi bagian keluarga ini!"


"DEG!"


Johan dan Weny saling tatap, detik berikutnya Weny yang lebih dulu menunduk dibanding Johan yang membuang tatapannya ke arah sang papa.


"Apa lagi nak, kalian sudah dewasa, usia kalian sudah seharusnya berumah tangga.Kami sebagai orangtua pingin juga memiliki cucu seperti orangtua lainnya!" keluh Milda dengan mata berkabut.


"Maaa..!"Johan mengelus lembut tangan Milda.


"Kita makan dulu ya mam"


"Berjanjilah pada mama sayang!"


Johan menghentikan makannya, nasi goreng yang ada di tenggorokanya seperti tertahan.Hatinya gamang atas permintaan sang mama.Tapi melihat mata berkabut dari wanita yang paling ia sayangi itu membuatnya tak tega.


"Iya ma"lirih Johan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Milda.


Senyum mengembang dari bibir Milda dan Daniel, lelaki paruh baya itu bisa membaca gerak bibir sang putra.


Akhirnya acara di meja makan selesai, Johan merasa lega karena tak ada lagi pembicaraan dari para orangtua mengenai pernikahan.


Beberapa puluh menit kemudian Daniel dan Milda bersiap ke bandara, Keluarga Wisnu akan mengantar mereka termasuk Weny, Hari ini ia dan Jo akan ke kantor setelah mengantar Daniel dan Milda ke bandara.


Setelah semua siap dua mobil meluncur beriringan, Johan bersama mama dan papanya dalam mobil miliknya, dan Weny bersama orangtuanya.Hanya perlu waktu lima belas menit mereka tiba di bandara, karena hari masih pagi dan jalan masih sepi dari kendaraan yang lalu lalang, terlebih rumah Wisnu hanya perlu waktu setengah jam untuk ke bandara jika jalan mulai ramai.


Saat ini mereka berenam berada di depan pintu masuk ruang keberangkatan penumpang internasional.Mereka masih saling peluk, terutama Johan yang masih merasakan rindu pada kedua orangtuanya.


"Doakan mama segera sehat, agar mama bisa menjadi wanita bahagia yang menyematkan cincin pertunangan kalian di jari manis Weny!"

__ADS_1


BERSAMBUNG😊


__ADS_2