
Tanti tersenyum senang melihat notifikasi di hapenya, jumlah dua digit yang ditranfer Arul akan semakin membukit tabungannya.
"Trims sayangku, besok aku akan buat kamu puas yank"Tanti mengecup sekilas bibir Arul.
"Haruslah sayang, kalau perlu seminggu juga kamu aku kurung di apartemen kita sebagai ganti seminggu yang hilang"Arul mengeratkan pelukannya pada tubuh molek yang saat ini sudah berpakaian rapi.
"Aku ke ruanganku"Tanti berniat mengecup sekilas pipi Arul, namun suara hape di tangannya tiba-tiba berdering.
"Siapa yank?"Arul menyipitkan ekor matanya ketika wajah Tanti terlihat terkejut.
"Eh yank ini Mely, gawat kalau ia tahu tentang kita.Semoga Bara tadi tak bicara apa-apa padanya!"
"Bara?"
"Dia tadi ada disini melihatku kan"Arul tersenyum.
"Bara nggak akan berani sayangku" perkataan Arul tak membuat rasa waswas Tanti berkurang, ia tak mau hubungannya dengan Arul sampai diketahui orang di kantar, apalagi sampai orang terdekatnya.
Tanti gegas meninggalkan Arul, dengan sedikit mengintip keluar pintu untuk memastikan tak ada yang mencurigakan, Tanti bergerak cepat meninggalkan ruangan itu menuju lift.
Lantai 3 memang khusus untuk para kepala Bagian dan Kasi, sedang lantai 2 tempat dimana ruangan Tanti berada.Gadis yang tak lagi perawan itu merasa beruntung ketika kedekatannya dengan Arul membuatnya bisa diterima sebagai pegawai tetap, padahal ia baru setengah tahun bekerja pada saat itu.Tentu saja Arul membantunya tidak gratis.Ada perjanjian yang mereka lakukan semacam simbiosis mutualisme.
"Lu kemana saja sih, gue sudah 1 jam bolak-balik ke ruangan ini lu belum balik juga!"ketus Mely begitu Tanti masuk ke ruangannya.
"Gue sakit perut, nggak tahu makan apa sampai mules gini"Tanti meremas perutnya dengan tampang meringis menahan sakit.
"Makanya jangan makan di pinggir jalan!"Mely meledek sembari terkekeh, membuat Tanti mengeraskan rahangnya.
"Lagu lu, kira gue nggak tahu lu simpanan om-om"gerutu Tanti dalam hati.
"Nih lu periksa lagi ada yang perlu dibaiki, kerja nggak becus bisa saja lu jadi pegawai disini!"Mely melempar berkas dalam map plastik berwarna kuning, dan tanpa pamit ia melenggang pergi dari ruangan itu.
"Brengsek sok kayak yang paling diperluin saja!"Tanti mengeram kesal atas sikap Mely, namun ia tak berani membantah, karena Mely senior dan termasuk atasannya.
Tak terasa waktu terus bergulir, saat ini menunjukan pukul 4 sore, Arin sudah bersiap pulang ke rumahnya, wanita cantik itu mengendarai motor meticnya dengan kecepatan sedang.
Tak beberapa lama ia sampai di rumah.Seperti biasa ia langsung mandi dan berniat memasak untuk makan malam.Walau masakannya kerap mubajir karena sang suami tak pernah menikmati masakannya itu.Jam pulang suaminya yang terlalu larut menjadi alasan bagi sang suami jika tak selera makan atau bahkan sudah makan.
Arin membuka lemari pendingin dan bermaksud mengeluarkan beberapa sayur dan lauk untuk ia masak guna makan malamnya, namun ia urungkan ketika suara hapenya berdering.
"Mas Arsa?"gumannya lirih sembari melihat siapa yang menghubunginya.
"Dek maaf ya, mas tak pulang malam ini aku dan beberapa teman lembur nih karena akan ada audit"suara Arsa terdengar serak dan berat.
"Koq mendadak mas?...maaas?"tak ada sahutan dari suaminya, seperti biasa Arsa hanya mengabari bukan meminta pendapatnya.
Arin terduduk lemah di kursi meja makan.Niatnya memasak tiba-tiba menguar, Hatinya mendadak melow, dan kebodohannya seperti biasa airmata mulai menetes membasahi pipi mulusnya.
"Sesibuk itukah mas?besok bahkan weekend"guman Arin lirih.Tangan gadis itu meraih gelas dan menuangkan air putih dari teko ke dalamnya.
Rasa sesak di dadanya masih terasa walau air dalam gelas sudah tandas ia reguk."Kenapa harus menangisinya?belum tentu ia memikirkan aku kan?"Arin beranjak dari duduknya menuju wastafel.Wanita 23 tahun itu membasuh wajahnya dan bergegas menuju kamar.
Satu jam berlalu Arin sudah berada di depan rumah ibunya, wanita setengah baya yang tinggal sendiri di rumah itu, semenjak dirinya menikah.Bu Dewita tak mau meninggalkan rumah peninggalan almarhum suami tercinta.Terlalu banyak kenangan yang tak bisa ia lupakan di rumah itu, ketika Arin dan Arsa memaksanya tinggal dengan mereka diawal pernikahan atau menyuruh menjual saja rumah itu.
__ADS_1
"Sore ibu!"Arin mendekap tubuh Dewi dengan erat, wanita paruh baya itu sontak terkejut mendapat pelukan dari belakang seperti itu.
"Kau ini nak mengejutkan ibu saja"wajah Dewita terlihat cemberut, namun sang putri justru tertawa lebar.
"Ibu juga suka melamun, masak tak mendengar sapaanku"kekeh Arin mengoda ibunya.
"Kau sendiri, mana suamimu?"Dewita terlihat celingukan mencari sosok Arsa yang tak terlihat membersamai putrinya.
"Mas Arsa lembur dengan timnya, karna akan ada audit"Arin mengulangi ucapan suaminya.
"Begitu memang pegawai bank nak, kau kenal bu Yani?ia juga mengeluh tentang pekerjaan anaknya"
Arin menggeleng dan berlalu meninggalkan ibunya menuju dapur.Bukan ia tak sopan tapi ia malas membahas pekerjaan suaminya yang seperti pemilik bank saja.
"Ibu masak apa?aku lapar"
"Kebetulan ibu buat pepes tapi ibu simpan di kulkas, biar ibu panaskan"Dewita gegas menuju dapur dan bersiap menghangatkan ikan pepes buatannya.
"Biar saya saja bu"Arin mengambil ikan pepes dalam piring yang berada di tangan ibunya.
"Ini sayur asam Jakarta kesukaanmu" Dewita meletakan sayur asam dalam mangkuk yang baru ia pindahkan dari pancinya.
"Mantap..makan enak ini"
Arin langsung menautkan nasi dan mulai bersiap makan.
"Ibu tidak ikut makan?"
Arin tersenyum menyadari kebodohannya, saat ini memang masih pukul setengah 6.
Belum saatnya makan malam, tapi bagi Arin ini sekaligus makan malam.
"Nak kau tak pernah bertemu dengan Tanti, sudah sebulan ini ia tak pernah mengunjungi ibu"
Arin menatap ibunya yang terlihat berpikir, ia tahu seperti apa perasaan ibunya buat saudara angkatnya itu.
"Nanti aku hubungi dia bu, ibu kan tahu pekerjaan karyawan perusahaan besar seperti apa, dia pasti sibuk"Arin mencoba menjelaskan pada sang ibu agar wanita paruh baya itu tak terlalu kepikiran.
"Ibu kepikiran terus pada saudaramu itu nak"
"Bu Tanti sudah dewasa, jangan terlalu dibatasi nanti ia menjauh"
"Kenapa menjauh nak?aku ibunya.Ibu mengingatkannya karena ibu sayang padanya!"
"Aku makan dulu yang bu, ini lapar sekali"
Arin menatap sendu pada sang ibu.Dewita merasa bersalah akan sikapnya pada sang putri.
"Maaf nak, makanlah ibu lanjutkan pekerjaan ibu ya?hampir magrib ini" Dewita gegas menuju ke luar rumah, seperti biasa ia menyirami tanaman kesayangannya.
"Maafkan aku bu, aku tahu perasaan ibu"Arin membatin.
Lepas dari interaksi Bu Dewita dan Arin, di tempat berbeda dua pasangan yang tak sah sedang memperbanyak tabungan dosa, berkumbang dalam kegiatan maksiat.
__ADS_1
Mereka lupa ada ikatan suci yang menjadi taruhan dari hubungan terlarang yang membuat mereka mabuk kepayang.
"Terimakasih sayangku"Wanita cantik itu berdebar mendapat perlakuan istimewa dari lelaki yang sangat ia cintai.
"Sama-sama beb, kau tahu aku akan memberikan apapun untuk membuatmu bahagia"
"Iya sayangku aku tahu kebaikan hatimu, semakin kesini aku semakin menyukaimu, kau begitu anggun dan sebagai wanita kau tidak membosankan"Arsa lelaki itu membelai kulit halus Tanti.
"Jangan tinggalkan aku kak, harga diriku sudah aku berikan padamu sebagai wujud cintaku"
"Aku tak akan pernah meninggalkan wanita sepertimu sayangku, kau paket komplit yang banyak dicari lelaki diluar sana, bodohnya aku jika sampai meninggalkanmu"
Satu jam kemudian Tanti menatap wajah tampan lelakinya yang terlelap karena kelelahan setelah bersama dengannya menabur bulir dosa.
"Aku akan memperjuangkan hubungan kita kak, aku ingin kau menikahiku seperti wanita itu, wanita yang tak layak mendapatkan lelaki sempurna sepertimu" Tanti menatap nanar wajah lelap Arsa, pikirannya kembali mengulas peristiwa 1 tahun lalu.
Flasback setahun lalu#Tanti
"Mas Arsa melamarku!"jerit bahagia gadis cantik di hadapannya.
"Deeg!!!"
Wajah gadis 23 tahun itu berubah sendu, tapi ia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dengan tersenyum.
"Kau mencintai kak Arsa Rin?"Arin mengangguk mantap dan senyum mengembang di bibirnya yang menguar aura bahagia.
"Selamat ya"Tanti gegas masuk ke kamarnya, pada saat itu ia baru pulang kerja, ketika saudara angkatnya mengabarkan perihal lamaran dari Arsa lelaki yang ia cintai diam-diam.
Arsa merupakan anak sahabat dari ayah Arin, mereka bukan dijodohkan namun Arsalah yang lebih dulu menyukai Arin, gadis cantik yang selalu apa adanya.
Saat itu Arsa belum bekerja di bank, ia masih pegawai marketing di sebuah Mall.Lelaki tampan itu masih terlihat sederhana dalam tampilannya, hingga ia akhirnya bekerja di bank dan menikahi Arin.
Seiring pergaulannya Arsa berubah, bukan hanya penampilan namun juga cara pandangnya terhadap wanita.Ia mulai menyukai wanita modis yang Anggun.
Dan ia melihat sosok wanita impiannya pada Tanti, saudara angkat istrinya, yang sudah dianggap anak sendiri oleh Dewita, semenjak orangtuanya hilang karena peristiwa tenggelemnya kapal penumpang menuju Sulawesi.
Sikap Arsa yang suka memandangnya diam-diam membuat Tanti makin berani, hingga malam itu ia mengundang Arsa ke kamarnya.Ketika lelaki itu datang saat malam lebih lambat dari sang istri, untuk nginap di rumah mertuanya.
"Maafkan aku sayang, aku akan bertanggung jawab jika kau hamil"
"Hanya jika aku hamil kak, bagaimana dengan harga diriku, tak akan ada yang mau dengan wanita yang sudah tak bersegel kak!"isak Tanti menyudutkan perasaan Arsa.
"Jadilah kekasihku sayang"
"Bagaimana dengan Arin?"
"Dia tak perlu tahu hubungan kita, kau maukan jadi kekasihku?"
Tanti mengangguk malas-malasan, padahal hatinya menyatakan iya dengan berbunga-bunga.
Sejak malam itu mereka kerap mendulang nikmat duniawi, semakin menyesap dosa semakin mereka haus dan ingin mereguknya lebih.Hingga hubungan itu berjalan sepuluh bulan ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1