RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Bertemu Ibu


__ADS_3

Johan dan Arin mengiyakan dan mereka segera duduk di kursi makan dan mulai menyantap makan siang, tentu saja sebelumnya Johan dan Arin berdoa bersama.


"Nanti selesai makan mas akan ke rumah ibu, mudah-mudahan beliau mau datang kemari"Johan berkata tanpa melihat wajah Arin, lelaki itu terlihat tenang menyuapkan makanan dalam mulutnya.


"Terimakasih mas sudah mau bantu urusan saya"balas Arin sembari menatap Johan sekilas, lelaki yang diajak bicara hanya mengangguk saja.


Tak selang lama setelah mereka selesai makan, Johan bersiap ke rumah ibu Dewita, ia mengacak pelan rambut Arin ketika berpamitan ke rumah sang ibu.


"Do'akan agar ibu bersedia kubujuk"


"Iya mas, Insya Allah ibu akan ikut dengan mas kemari, aku percaya dengan hatiku"


Johan tersenyum smirk mendengar ucapan Arin, lelaki jangkung itu salut dengan wanita di hadapannya, yang begitu kuat walau hatinya hancur atas kelakuan suami dan saudari angkatnya.


Arin menatap punggung lelaki jangkung yang terlihat semakin menjauh, ya Johan memilih jalan kaki menuju rumah Arin yang masih dalam satu blok.


Lelaki sederhana yang nyatanya adalah seorang pemilik perusahaan besar, lelaki yang selalu tampil seadanya, hingga tak ada yang tahu jabatannya di perusahaan besar itu.


Johan tiba di depan rumah ibu Dewita, tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah itu, langkah kakinya yang panjang ditambah stamina pemuda itu yang rajin jogging, membuat jarak antara rumahnya ke rumah Arin bagai rentang tali permainan lompat karet.Kkwwwkk


Suasana rumah Dewita terlihat sunyi dibagian depan, hingga Johan memberanikan diri melangkah menuju teras samping.


"Assalamualaikum..!"suara lantang itu terdengar nyaring di dalam rumah Dewita, karena Johan memberi salam di depan pintu yang terbuka.


"Waalaikumsalam...!"terdengar sahutan dari arah dalam setelah beberapa menit, suara yang terdengar sayup namun jelas di pendengaran Johan.


Dewita terpaku melihat sosok jangkung di ambang pintu, wajah pucat dan matanya yang terlihat sembab membuat Johan yakin jika wanita paruh baya ini habis menangis.


"Nak Jo?"Dewita menerima uluran tangan pemuda jangkung di hadapannya, ia terpaku ketika Johan mengecup punggung tangannya.

__ADS_1


"Maaf ibu, saya menganggu kesibukan ibu"ucap Johan terlihat sungkan.


"Tidak nak, mari masuk..ada kabar apa ini?"


Johan mengekor Dewita hingga duduk di kursi meja makan di hadapan Dewita, yang lebih dahulu mendudukan bokongnya.


"Sendiri bu?"


"Iya nak, biasa anak ibu sudah pada berkeluarga"terdengar suara Dewita bergetar menjawab ucapan Johan.Johan merasa menyesal menanyakan keadaan di rumah Dewita yang membuat wanita paruh baya itu pasti mengingat sang putri.


"Maaf bu, apa ibu sakit?"


Dewita menggelengkan kepalanya, seraya menunduk.Wanita paruh baya itu tak mau pemuda di hadapannya melihat matanya yang dipenuhi kabut, yang siap menghujan kapan pun.Namun Dewita tak tahu jika pemuda di hadapannya itu sangat peka, Johan bahkan tahu jika Dewita habis menangisi nasib putrinya yang saat ini dikatakan pergi dengan lelaki selain suaminya.


"Tidak nak, ibu hanya sedikit lelah saja"guman Dewita lirih.


"Ibu maukah ikut denganku, saya jamin ibu akan kembali sehat jika ikut denganku!"Johan tersenyum tipis.


"Ini lebih dari tempat hiburan, saya yakin ibu akan melupakan semua kesedihan ibu"Dewita menatap Johan dengan mata berkaca-kaca.


"Siapa bilang ibu sedang sedih?"


"Saya tak bilang ibu sedang sedih, tapi jika ibu ikut denganku semua kesedihan di hati ibu akan hilang..!"elak Johan sembari nyengir kuda.


Dewita terlihat bingung dengan ucapan pemuda jangkung yang merupakan anak tetangganya.


"Kita tidak kemana-mana bu, hanya ke rumahku"suara Johan terdengar lirih, seperti sedang membisikan rahasia.Dewita mengangguk seakan terhipnotis ucapan Johan yang sepertinya harus ia ikuti.


Tak lama Dewita pamit untuk ke kamar, yang diyakini Jo sedang merapikan diri, karena tampilan wanita paruh baya tadi terlihat awut-awutan, mungkin sedari pulangnya Arsa dan Tanti dari rumahnya pagi tadi, wanita paruh baya itu langsung meraung mengingat nasib putrinya.

__ADS_1


"Ayo nak Jo!"Johan tersentak dari lamunannya, ia tersenyum nyengir sembari beranjak dari duduknya.


"Maaf bu, kita jalan kaki saja ya, saya tak bawa kendaraan"sungkan Johan.


"Nggak apa nak, ibu malah suka..biasa ibu keliling komplek jika jalan pagi"aku Dewita ramah.


Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju kediaman Johan, dalam perjalanan itu mereka berpapasan dengan beberapa tetangga, yang tentu saja menanyakan perihal ada apa dan mau kemana pada mereka berdua.


Johan dengan sopan mempersilahkan Dewita masuk ke dalam tempat tinggalnya, begitu pintu pagar yang mengelilingi rumahnya baru saja ia buka.Dewita tersenyum kikuk menatap penampakan rumah Johan yang terlihat megah.Selama menjadi tetangga ia tak pernah datang ke rumah ini, jika ada acara di komplek ini yang mana orangtua Johan sebagai penyandang dana, biasanya akan dilakukan di gedung serba guna di komplek ini.


"Mari bu silakan duduk!"Dewita tersenyum dan mengangguk patuh, dan ketika Johan pamit ke bagian dalam rumahnya, wanita paruh baya itu terlihat asik mengamati penampakan dalam rumah Johan.


"Rumah pak Daniel sangat megah, namun orangtua itu selalu bersikap ramah pada orang lain, tak pernah memilih dalam bergaul"puji Dewita dalam hati pada orangtua Johan.


Wanita paruh baya itu tak sadar jika seseorang sedang mengamati dirinya dengan mata berkaca-kaca.Tak ada suara yang terucap, karena tenggorokan Arin seperti tercekat dengan dada yang seakan penuh sesak.


Mata Dewita bersirobok dengan mata indah berkabut seorang wanita yang terlihat mulai sendu.Mereka sama melangkah , saling mendekat.


"Ibu..!"suara lirih itu dibalas anggukan oleh wanita yang langsung menarik tubuh langsing putrinya ke dalam pelukannya.


"Ibu percaya padamu nak bukan karena kamu anakku, tapi ibu tahu semua yang selama ini kau coba tutupi dari ibu"suara Dewita terdengar bergetar.


Tangis Arin pecah mendengar ucapan ibunya, ia tahu sifat ibunya, bukan karena ia anaknya.Tapi semenjak ia kecil sang ibu selalu memberinya waktu untuk mengatasi masalahnya sendiri, dan Dewita akan merentangkan kedua tangannya lebar dan membuka hatinya luas untuk mendengar keluhan putrinya. Dan jangan lupa solusi bijak yang menentramkan hati Arin.


"Hatiku sakit bu..hidupku hancur karena kelakuan mereka"ucapan itu akhirnya lolos dari bibir Marini Zumarnis, wanita cantik yang sangat patuh pada sang suami, namun sikap patuhnya justru berbuah penghianatan.


"Menangislah sepuasmu nak, agar beban dihatimu berkurang.Percayalah semua sudah digariskan untukmu, Allah akan memberi balasan yang lebih jika kau bersabar dan iklas"suara lembut Dewita membuat tangis Arin makin menjadi.


Itulah hubungan mereka, bagi Arin bestie terbaiknya hanya sang ibu, tempat dirinya berbagi cerita dan teman yang membarengi pengalaman hidupnya, serta penasehat yang tak bergelar sarjana hukum namun mampu menuntaskan semua masalahnya dengan bijak.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2