
"Eh..apa maksudmu mas?kenapa kau mengikatku lagi!"Arin berusaha berontak ketika Arsa kembali mengikat tangannya, tapi kali ini di kursi rias.dan gilanya kali ini kakinya pun ikut di ikat.Tak lama Arsa mencari kain yang ia gunakan untuk mengikat mulutnya.
"Diamlah dan lihat saja apa yang harusnya kau lihat!"suara Arsa terdengar dingin.
"Lihat apa?, apa maksud mas Arsa?..Ya Allah jangan sampai mereka melakukan hal itu padaku"Arin mengeleng lemah, semoga saja bukan apa yang ada dipikiran.
Namun detik berikutnya wanita cantik itu terkejut ketika pintu kembali dibuka, dan sang suami masuk dengan istri barunya.
Mereka duduk di tepi ranjang dengan menikmati segelas minuman yang entah apa, tak ada yang menyapa Arin.Mereka seperti lupa jika ada orang lain di kamar itu.
Entah apa yang membuat Arsa bersikap rendah seperti itu, mempertontonkan percintaannya dengan istri sirihnya di depan istri sahnya.Apakah Arsa melakukannya untuk menuruti kemauan Tanti, jika benar sungguh Arsa telah dibutakan oleh perasaan cintanya pada saudara angkat Arin itu.
Suara luknut itu masih terus mengema di kamar yang tak terlalu luas itu, Sesekali terdengar ucapan saling puji atas diri pasangan sirih itu.membuat Arin makin muak dan jijik.Arin tak pernah sedikitpun berpikir jika saudari angkatnya itu menaruh kebencian yang begitu besar padanya, dan semua itu karena Arsa suaminya.Dan yang anehnya Arsa begitu mudah jatuh dalam permainan Tanti.
Beberapa jam berlalu suara luknut itu sudah tak terdengar lagi, saat ini yang terdengar hanya suara dengkuran yang saling bersahutan.Arin berpikir pasti mereka sudah lelap tertidur.
Wanita cantik itu mengerjap perlahan, tak lama ia mengamati situasi di kamar itu.Benar adanya dua manusia tak bermoral itu tidur tanpa menggunakan pakaian.Arin cepat mengalihkan pandangannya.Wanita cantik itu terus berusaha melepas ikatan pada tangannya, dengan perlahan ikatan itu mulai terasa longgar.
Malam yang kelam itu tak membuat sosok cantik itu takut, ia bahkan lebih takut berada dalam kamarnya sendiri.Arin bersyukur dapat keluar dari neraka yang diciptakan suami dan saudari angkatnya.
Ia tadi berhasil melepas tali yang mengikat tangannya, hingga ia berhasil kabur dan Arin malah sempat membawa beberapa keperluannya.Karena dua manusia luknut itu tertidur bagai mati.Sepertinya mereka mabuk, karena Arin sempat melihat botol minuman di meja tamu.
Jam menunjukan pukul 23 malam, Arin mencoba mencari taxi.namun sialnya ia tak menemukan taxi setelah beberapa puluh menit menunggu di halte pinggir jalan.Wanita cantik itu tak menemukan ponselnya yang disembunyikan Arsa, hingga saat ini ia kesulitan mencari taxi online.
Jalan raya masih ramai oleh kendaraan pribadi yang lalu lalang, dan masih ada beberapa orang yang terlihat berjalan kaki.Arin tak lepas berzikir mengingat dirinya saat ini.
Sebuah mobil menepi dengan cahaya lampunya yang membuat silau,jantung Arin berdetak tak karuan, semoga saja bukan Arsa atau Tanti, karena Arin sulit mengenali mobil tersebut.
"Mau kemana malam-malam begini?"suara yang Arin kenal itu, membuat wajah yang semula terhalang lengan tangan karena menghindari silau itu mendongak.
__ADS_1
"Kak Jo?"Arin bernafas lega melihat lelaki jangkung itu dihadapannya.
"Ayo kita ngobrol di mobil saja!"Arin tersentak ketika tas di tangannya berpindah di tangan Johan.
"Kak Jo...!"Arin hendak protes namun tasnya sudah teronggok di dalam jok mobil bagian belakang.
"Ayo naik!"Johan mendorong lemah tubuh wanita cantik itu ke dalam mobil.
Arin hanya pasrah karena ia yakin kehadiran Johan adalah perantara dari Allah untuk membantunya.
Johan melajukan mobilnya di jalan raya yang masih ramai oleh kendaraan.Lelaki itu terlihat kusut, hanya mengenakan kemeja berwarna biru yang lengannya digulung sampai siku, dua kancing kemejanya sudah terbuka.Arin yang mengamati penampilan Johan secara diam-diam hanya bisa berpikir.
"Dari mana kak Jo malam-malam begini, penampilannya seperti karyawan kantoran, apa ia lembur?"
"Aku kebetulan pulang lembur malam ini, dan seperti mengenalimu yang sendirian di halte tadi"Arin tercekat mendengar ucapan lelaki di sampingnya.
"Dia seperti membaca pikirannku,Ya Allah!"guman Arin dalam hati.
Arin mengalihkan posisi duduknya menghadap Johan di sampingnya yang focus dengan setirnya.
"Kak kau seperti cenayang!aku ikut sampai rumah ibu ya"Johan tertawa renyah, tanpa sadar tangannya mengacak rambut Arin.
"Kau kira aku dukun apa?"Arin tersipu dan sedikit mundur karena sikap Johan.
"Ikut ke rumah aku saja malam ini besok baru ke rumah ibu, ibu pasti berpikir kau diusir suamimu karena kedatanganmu larut malam begini!".Arin terdiam mendengar ucapan Johan.
"Iya ya.. ucapan kak Johan benar, tapi bermalam di rumahnya? apa kata orang nanti?"
"Tak usah berpikir aneh-aneh, aku akan menggurung dirimu dalam kamarku nanti setelah sah!"ucapan Johan membuat wanita di sampingnya bergidik.
__ADS_1
"Otak mesum!"cibir Arin dengan bibir mayun, Johan terkekeh melihat wajah mengemaskan wanita cantik di sampingnya.Wanita yang beberapa bulan ini tengah mengganggu pikirannya.
"Ayo turun!"Johan menepikan mobilnya di pinggiran jalan yang terlihat temaram.
"Kak kita mau apa, ini sudah larut malam"elak Arin mengamati situasi di luar mobil yang terlihat sepi.Pikirannya sudah traveling ke mana-mana.
"Jangan terlalu jauh berkhayal sayang, aku lapar..kau tak ingin makan sate itu!"Johan menunjuk ke arah belakang mobil dengan dagunya, yang membuat Arin terpaksa mengikuti dengan ekor matanya.
Di belakang mobil terlihat rombong sate yang masih di minati pembeli.Mungkin karena banyak yang dipikir membuat wanita cantik itu melewatkan pandangannya dari penjual sate di pinggir jalan, atau karena asik berbicang dengan lelaki jangkung yang sesekali membuatnya tersenyum.
"Ayo turun, aku tahu kau pasti belum makan!"kerling mata Johan mengoda wanita cantik yang sudah merona malu.
Lima belas menit kemudian mereka sudah menyantap lezatnya sate kambing dengan saus kecap dan irisan bawang dan cabe.
Johan tersenyum melihat wanita cantik di hadapannya, yang konsentrasi penuh pada makanan di hadapannya.
"Kau masih lapar? mas pesan lagi ya?"tawar Johan yang digelengi kepala oleh Arin.
"Sudah mas..10 tusuk plus satu bungkus lontong membuat lambungku sesak!" wajah Arin dibuat memelas, Johan terkekeh geli melihat tampang wanita di hadapannya yang terlihat sangat mengemaskan.
Arin menyeruputi teh hangatnya, wanita cantik itu terlihat lega.Entah kenapa hati Johan merasa tercubit, tiba tiba melow melihat wanita cantik di hadapannya.
"Kau harus kuat, manusia pilihan akan diberi ujian hidup untuk mrnaikan derajatnya dimata Allah"
Arin tersenyum mendengar ucapan Johan yang terdengar seperti petua.Eh tunggu..apa maksud petua itu?
"Rasanya tak mungkin jika kak Jo tahu apa yang saat ini menimpahku?"
"Aku seperti bertemu mbah dukun",Arin terkekeh pelan dan itu membuat Johan menatapnya aneh.
__ADS_1
BERSAMBUNG