
Ucapan Milda membuat Johan tersentak, masih saja ada ucapan yang membuat hatinya galau.Berbeda dengan wanita cantik bertubuh semampai, ia tersenyum malu-malu mendengar ucapan Milda, tapi sungguh ia suka mendengarnya
"Tante.. .!"lirih Weny dengan wajah merona.
"Iya nak, Jo sudah bersedia menikah denganmu, dalam bulan ini kalian harus bertunangan..doakan tante sembuh ya nak!"Dewita merengkuh kedua tangan Weny lembut, detik berikutnya Weny memberi kecupan di pipi wanita yang duduk di kursi roda itu.
"Cepat sembuh tante, Weny sayang tante"Milda terisak sembari mengelus punggung gadis yang ia harap menjadi jodoh putra semata wayangnya.
"Jo nanti kau dan Weny langsung ke kantor dengan mobilmu ya nak, papa dan mama harus segera masuk!"
"Jaga kesehatan ya nak, Wen tante titip Jo..dampingi dia selalu ya nak!"
Weny dan Johan mengangguk bersama, tentu saja dengan arti berbeda.
Di rumah mewah Daniel Ahmad, seorang wanita cantik menolak kemauan bik Isa, yang menyuruhnya berhenti membantu membereskan rumah.
"Saya jenuh bik, biarkan saya melakukan sesuatu"rengek Arin yang membuat bik Isa akhirnya tak tega.
"Sore ini aku harus kembali ke rumah ibu, sungguh aku seprti orang bodoh di rumah ini, seperti mati gaya!"guman Arin dalam hati.
Berbeda dengan Arin, saat ini seorang wanita yang perutnya mulai nampak menonjol, terlihat menikmati suasana pagi di rumah barunya.Rumah yang ditawarkan Arul jika ia mau dinikahi lelaki tua berusia 46 tahun itu.
"Rumah ini begitu mewah, rasanya bodoh jika aku tak mengambil tawaran ini"
Tanti berjalan melenggang, mendekat ke arah Arul yang asik berenang, kolam renang di dalam rumah mewah yang membuat hati Tanti goyah.
"Yang aku mau berenang bersama!"rengek Tanti manja.
Arul gegas menuju tepi kolam renang, meraih tubuh berisi Tanti yang terlihat makin seksi karena hanya mengenakan bikini.
Mereka menikmati suasana pagi penuh cinta, dan bukan hanya berenang biasa, tapi sambil menyelam minum air.
Berbeda dengan Arul dan Tanti yang saling berbagi dalam segala hal.Di dalam mobil yang meluncur dari arah bandara, nampak dua orang yang sama canggung, karena baru saja di daulat menjadi calon pasangan tunangan.
__ADS_1
"Wen..maafkan ucapan mama, jika kau menjadi tak nyaman"suara Johan memecah sunyi diantara mereka.
Weny sekilas menatap Johan dari posisi samping, terlihat rahang tegas dengan hidung mancung yang membuat dada Weny berdebar lembut.
"Aku nyaman bang, sebagai anak kita bukannya harus menuruti ucapan orangtua, selagi itu baik dan doa restu itu penting menurut aku untuk melangkah kejenjang pernikahan"penjelasan Weny mengalun lembut.
"Apa abang sudah memiliki kekasih?"
Johan tersentak mendengar tanya wanita cantik di sampingnya, lelaki jangkung itu menggeleng lemah.Ia tak mungkin mengatakan punya, jika wanita yang ia taksir masih berstatus istri orang.Kedua orangtuanya akan shock nanti.
"Syukurlah..jadi aku tak merebut abang dari wanita mana pun"senyum Weny mengembang di bibir ranumnya.
"Wen...maaf, kalau aku inginkan menikah dengan wanita yang aku cintai, aku sebenarnya menolak kata perjodohan"
"Aku tahu bang, tapi cinta akan datang seiring kebersamaan kita"ucapan Weny seakan menolak pernyataan Johan.
Jo menghela nafasnya kasar.Ia tak tahu bagaimana memberi tahukan pada gadis di sampingnya, bahwa ia tak bisa mencintai Weny yang sudah ia anggap sebagai adik.Berbeda dengan pikiran Weny, wanita cantik itu bertekad akan membuat Jo jatuh cinta padanya.
Tak lama mobil sudah memasuki halaman perusahaan dan Johan meminta Weny untuk turun, selagi ia memarkirkan mobil.
Weny menurut dan gegas turun dari mobil, wajah cantik wanita itu nampak berseri. Satpam kantor yang melihat dirinya turun dari mobil sang bos nampak menundukan kepala.
"Pagi bu!"
"Pagi pak, maaf pak biasanya pak bos parkir sendiri ya, tidak diparkirkan gitu mobilnya sama Satpam yang bertugas?"
"Pernah sih bu diparkirkan, tapi bos kita lebih suka parkir sendiri"
Weny menggelengkan kepala mendengar penjelasan satpam yang bernama Agus itu, wanita itu gegas menuju ruangannya dan mulai menempatkan diri sebagai asisten Johan.
Di rumah mewah milik Daniel Ahmad, Arin yang menunggu Jo semalaman baru bisa tertidur setelah subuh, dengan tubuh yang masih lelah wanita cantik itu berusaha untuk bangun.Ia tak mau sikapnya seperti pemilik rumah, yang menuruti hati. Maksudnya jika ini rumahnya ia pasti akan lanjut tidur hingga lelah dan sakit kepalanya hilang, terlebih ia tak bekerja.Tapi saat ini ia berada di rumah orang, tentu saja tak enak hati.
Beberapa menit kemudian wanita cantik itu sudah segar dengan rambut sedikit lembab, karena ia keramas untuk meredakan sakit kepalanya.
__ADS_1
Arin keluar kamar dengan menenteng tasnya, bik Isa yang melihatnya nampak heran.
"Neng mau kemana?"
"Bik saya harus pulang, tidak enak terlalu lama di rumah orang, terlebih orangnya sibuk"Arin menyalimi tangan bik Isa dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Eh jangan neng!"bik Isa menarik tangannya, agar tak tersentuh bibir Arin.
Arin tersenyum seraya pamit keluar rumah.Tapi sebelum sampai pintu, wanita cantik yang selalu tampil sederhana itu berbalik dan berucap.
"Sampaikan terimakasihku pada mas Jo bik, maaf aku pulang tak pamit dia, karena aku tahu ia sibuk"
Bik Isa mengangguk dan tersenyum lebar.Ia suka dengan sikap Arin yang tak menganggapnya ART di rumah ini, Arin seperti menganggap ia ibunya sendiri.
Waktu terus berputar, hari sudah kembali menjemput senja. Di Perusahaan Ahmad Grup, nampak dua pasang mata mengamati kesibukan di bawah sana, dari arah jendela gedung teratas.
"Bang mau saya pesankan sesuatu, untuk mengisi perut?"
Johan menatap sekilas, wajah wanita yang dikatakan sang ibu sebagai calon tunangannya.Malam ini mereka terpaksa harus lembur dengan para staf lain, terkait kerjasama dengan perusahaan besar yang kembali bisa digait Weny untuk menanamkan modalnya di perusahaan.
"Pesankan juga untuk semua staf yang lembur"Weny mengangguk pelan, dan gegas melalukan pemesanan online pada ponselnya.
"Untuk abangku sayang, aku pesan menu favorit abang"senyum mengembang di bibir ranum Weny.
Johan mengangguk dan kembali menatap ke arah bawa, lelaki itu seperti tak bisa meninggalkan kebiasaannya. Memantau para karyawan disaat jam pulang.
"Abang...!apakah keberatan dengan keinginan orangtua abang pada hubungan kita?"Weny menatap lembut wajah Johan dari posisi di samping sang pria, tangan lembut Weny mengelus lengan Jo.Johan merasakan kulit tubuhnya meremang, karena perlakuan Weny.
"Wen..kamu bilang apa?"Johan mengatur detak jantungnya yang tak biasa, sentuhan Weny sungguh menimbulkan rasa yang sulit ia ungkapkan.Terlebih baru kali ini ia disentuh secara lembut dan sensual oleh jemari lentik seorang wanita.
Weny tersenyum samar, ia melihat sorot mata yang ragu di netra yang biasa terlihat tajam.
"Adek tanya, apa abang keberatan dengan keinginan orangtua abang untuk hubungan kita berdua"wajah Weny semakin mendekat ke arah Jo.Desah nafas yang hangat menerpa lembut kulit wajah lelaki jangkung itu, yang posisinya sedang duduk di lengan kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Ww... wen abang tak leberatan, tapi... emmm."Johan membeku ketika dengan berani Weny sudah menyentuh secara kilat di bibirnya.Detik berikutnya kecupan lembut Weny berikan pada bibir hangat Jo yang mengangga bengong.
BERSAMBUNG😊