
Arin menghela nafas dalam-dalam, semua sikapnya tak lepas dari perhatian Tanti.Saudara angkat Arin itu sekilas terlihat tersenyum mengejek tanpa ada yang memperhatikan.
"Baik bu, semoga mas Arsa tidak sibuk"Arin menjauh dari ibunya dan Tanti. Wanita cantik itu menuju kamar untuk menghubungi sang suami.
"Kasihan rumah tangga adikmu, keduanya sibuk bekerja hingga tak punya waktu berdua"keluh Dewita yang membuat Tanti memilin kasar ujung hemnya.
"Seharusnya mereka sudah memiliki momongan"
"T I D A K !!!"wajah Tanti terlihat kesal.
"Kak Arsa sudah janji tak akan membuat Arin hamil, aku tak rela perempuan itu hamil anak kak Arsa"batin Tanti meradang.
"Kenapa nak?"Dewita menelisik wajah Tanti yang terlihat kesal.Tanti tersentak dari pikirannya dan reflek kepalanya menggeleng pelan.
"Maaf ibu menyakiti hatimu ya, semoga kau segera menemukan jodohmu.Jangan terlalu memilih nak, jika ada yang kau suka dan sayang padamu, segeralah menikah"nasehat Dewita seolah Tanti tak ingin mendengar cerita pernikahan Arin karena ia belum menikah.Tanti hanya mengangguk lemah atas permintaan ibunya.
"Lelaki itu sudah ada bu, dia sangat menyayangiku tapi aku belum tahu apa ia bersedia menikahiku, aku yakin kak Arsa akan menikahiku jika aku hamil"senyum terukir di bibir Tanti.
"Ya aku harus hamil!"
Beberapa jam kemudian, di meja makan telah tersaji aneka masakan yang menggugah selera, Arsa yang sudah datang satu jam yang lalu terlihat duduk tenang di samping sang istri, dan posisinya berhadapan dengan Tanti.
Saat semua lahap menikmati makan siang, kedua kaki itu saling mengait dan mengelus lembut.Sungguh perlakuan Arsa yang berani itu membuat Tanti mabuk kepayang.
"Nak besokkan minggu kalian bermalam disini saja ya"Dewita menatap penuh permohonan pada mantunya.Arsa tersenyum dan mengangguk pasrah.
Di bawah meja kaki Tanti terus mengesek lembut kaki Arsa, mereka saling menatap sekilas.Arsa terlihat mengangguk seakan tahu maksud wanitanya.
__ADS_1
Tak terasa hari menjelang malam, mereka baru selesai menikmati makan malam.Arin merapikan kamarnya sebelum sang suami masuk ke kamar.
"Dek mas mau ke rumah Johan ya, sudah lama tak bertemu"dusta Arsa sembari memeluk tubuh istrinya.Johan adalah teman Arsa kuliah dan tetangga Arin.
"Kenapa mas Arsa tak berpikir jika ia pun jarang bertemu denganku, selalu pagi hari disaat sarapan pagi"batin Arin sendu, namun ia hanya mengangguk pasrah atas keinginan sang suami.Walau sebenarnya ia ingin menikmati malam ini bersama sang suami.
Malam semakin larut, Arin masih terjaga karena Arsa belum juga kembali.Wanita cantik itu menatap jam dinding yang terpajang di dinding kamarnya, pukul 1 dini hari.
"Apa yang dibicarakan mas Arsa hingga sampai jam segini belum kembali"batin Arin galau.
Di kamar berbeda namun masih satu atap tepatnya di lantai 2 rumah Dewita, betebaran aura bi ra hi yang kental, dua makluk berbeda jenis itu tak henti mereguk kenikmatan.Arsa terus menuruti keinginan wanitanya, bahkan ia lupa sedang berada dimana.
Saat waktu menunjukan pukul 3 dini hari Arsa keluar dari kamar Tanti dengan mengendap-endap, ia tersenyum bangga bisa membuat Tanti tertidur pulas.
Perlahan Arsa membuka pintu kamar istrinya, tubuhnya mendadak kaku melihat istrinya yang duduk bersujud di atas sajadah.
Langkah Arsa terasa berat, hatinya dipenuhi rasa bersalah.Disaat sang istri berbalik menghadapnya dan mengulurkan tangan mengapai telapak tangannya, lelaki itu mendudukan bokongnya berhadapan dengan sang istri.
Arsa melepas mukenah sang istri.Rambut hitam panjang itu terurai membuat sang empunya terlihat makin cantik dengan wajah alami tanpa polesan.
Menjelang subuh itu Arin mendapatkan haknya setelah sekian purnama sang suami absen akan kewajibannya.
Arsa tertidur pulas setelah melewati dua putaran yang memabukan bersama Arin.Sungguh terasa berbeda ketika melakukan bersama sang istri.Terasa begitu sahdu dan meresap ke dasar hatinya.Ia seperti musafir yang kehausan lalu menemukan oase.Padahal nyaris setiap hari ia mengeluti tubuh molek Tanti, bahkan semalaman ia baru mereguk nikmat itu di kamar saudara angkat istrinya.Namun kenapa hubungan itu menjadi begitu mengetarkan hati ketika melakukan bersama Arin.
Arin tersenyum samar melihat sang suami yang masih pulas tertidur, wanita cantik itu sudah selesai mandi dengan rambut nampak masih basah dan seperti pagi-pagi biasa ia melakukan rutinitasnya.
Dewita tersenyum melihat putrinya, penampilan putrinya pagi ini menyiratkan seperti apa malam yang dilalui Arin bersama Arsa.
__ADS_1
"Pagi sayang, bagaimana tidurmu?"Dewita memeluk hangat tubuh putrinya, wanita paruh baya itu mengedipkan matanya menatap sang putri yang terlihat tersipu.
"Semoga segera hadir Arsa kecil disini"Dewita mengelus perut rata Arin.
"Aamiin "senyum mengembang di bibir Arin membuat pagi Dewita terasa lebih indah.
"Kau berbohong kak, aku tak rela jika wanita itu kau hamili!"tangan Tanti mengepal erat, sedari tadi ia menyaksikan pembicaraan ibu dan adik angkatnya.
Hari beranjak siang, Arsa baru selesai mandi, wajah lelaki tampan itu terlihat cerah.ia masuk ke dapur menyapa tiga wanita yang sedang menyiapkan masakan untuk makan siang.
"Wah mantu kesayangan ibu baru bangun, pasti lapar ya karena sudah bekerja keras semalaman..ayo makan dulu"ucapan Dewita terdengar menyindir sang mantu, membuat Arsa salah tingkah.
Dua wanita muda yang usia tak beda jauh itu menatap Arsa dengan tatapan berbeda.Arin tersenyum malu-malu, sedang Tanti terlihat kesal dan wajahnya menampilkan roman masam.
Beberapa menit kemudian Arsa makan ditemani Arin, wanita cantik itu melayani semua keinginan sang suami di meja makan.
Tanti barusan izin untuk pulang karena chat dari Arul.Permintaan sang ibu tidak bisa ia penuhi untuk makan siang bersama.Wajah wanita itu masih terlihat kesal jika bersirobok dengan sang kekasih.
"Kalian jangan pulang cepat seperti Tanti, kalian berdua pasangan yang harus memiliki waktu bersama disela kesibukan kalian!".
"Cepat kasih ibu cucu ya!"Arsa tersedak mendengar ucapan ibu mertuanya, untung sang istri sigap menyodorkan segelas air putih ke tangan sang suami.
"Ibu...berhenti mengoda mas Arsa!"keluh Arin menatap tak tega pada sang suami, dimana wajah Arsa terlihat memerah karena tersedak makanan.
Arsa meremas tangan sang istri untuk tak membelanya dihadapan Dewita, ia sadar ia lah yang salah.Namun tentu saja ia tak akan mengatakan tentang keinginan sang kekasih pada dua wanita di hadapannya.
"Aku tak mau Arin hamil anakmu beb, itu keadilan yang aku mau karena statusku jauh lebih menyedihkan dibanding Arin yang tak hamil!"syarat tegas yang diminta Tanti saat itu.
__ADS_1
"JANGAN BUAT DIA HAMIL BEB!"tangis Tanti pecah dalam pelukan Arsa.Tangis menyayat sang kekasih membuat Arsa menyanggupi keinginan untuk tak membuat Arin hamil.
BERSAMBUNG