RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Bangun Kesiangan


__ADS_3

Keranjang yang di bawa Johan nampak penuh dengan belanjaan yang Dewita sudah list sebelumnya ketika di rumah.Arin tersenyum mengejek lelaki Jangkung yang terlihat lelah menjinjing belanjaan itu.


"Lagunya yang mau gendong aku, bawa belanjaan begitu saja sudah keringatan!" ejek Arin.Johan menatap wanita cantik yang bergerak menjauh darinya, sepertinya Marini berjaga-jaga jangan sampai mendapat balasan dari Johan atas ejekannya.


"Kalian ini ada saja bahan untuk saling ejek"kekehan Dewita membuat Johan terkekeh.


"Nggak apa bu, gitu memang mentang -mentang ada ibunya beraninya ngeledek"


Dewita tertawa mendengar ucapan Johan yang lucu, tapi lihat Arin semakin senang mengodanya.Wanita cantik itu menjulurkan lidahnya mendengar ucapan Johan.Dewita merasa terhibur melihat dua orang yang terus beradu kata saling menjatuhkan namun aslinya mereka hanya sekedar bergurau.


"Sudah gih kalian lapar nggak, tuh soto mang Kus..mampir yuk!"


Tak perlu waktu lama menanti pesanan, beberapa menit saja mang Kus sudah mengantar 3 porsi soto dan 3 gelas orange jus kehadapan mereka.


"Segernya bu?"Johan menyeruput kuah soto menggunakan sendok.Dewita mengelus kepala Johan haru.


"Ibu tahu kau keturunan siapa nak, tempat ini bahkan tak layak untukmu, tapi hatimu memang baik seperti kedua orangtuamu yang tak pernah membedakan orang dalam bergaul".batin Dewita.


"Kalau masih mau tambah saja mas, jangan malu-malu nanti jadi malu-maluin" lirih Arin mengolok. Ketika melihat mangkok Johan yang isinya sudah tandas,


apa lagi Johan terus menatap intens Arin yang masih menikmati sotonya dengan menelan salivanya.


"Jujur Rin..aku masih mau tapi malu sama ibu"lirih Johan supaya Dewita tak mendengar ucapannya.


"Mang satu porsi lagi ya!"suara teriakan Arin membuat Dewita menatapnya dan menggelengkan kepala.Arin tersenyum dan melirik ke arah Johan.Dewita tersenyum setelah tahu siapa yang ingin tambah.


"Nak Jo kalau masih mau jangan sungkan.Berkah nak jika kau menikmati makanan dengan rasa syukur, jadinya terasa nikmat"


Setengah jam setelah Johan menghabiskan porsi ke dua, mereka mulai beranjak meninggalkan pasar.


"Bu terimakasih ya untuk hari ini, besok-besok bolehkan saya datang lagi" Johan menyerahkan kunci mobil begitu mereka sudah datang dari pasar, dan belanjaan sudah diletakan rapi di kulkas oleh Arin.


"Boleh!"


"Tidak!"


Dewita geleng kepala mendengar ucapan putrinya, Arin hanya nyengir kuda mendapat tatapan sang ibu.


"Iihh sirik saja, aku loh mau datangi ibu koq situ yang nggak boleh!"Johan mengejek Arin dengan lidah menjulur.

__ADS_1


"Kalian ini sudah kayak tom and jerry saja" Dewita meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya.


"Sudah gih pulang, dicari ibumu nanti!" Johan tertawa mendengar ucapan Arin.Terus terang rasanya ia tak ingin pulang ke rumahnya yang sepi, bersama dengan Arin dan Dewita membuatnya bahagia.Aneh saja padahal Johan baru kali ini datang dan mengenal ibu dari Arin.Tapi rasanya seperti sudah sangat dekat.


"Ok aku pulang, malu juga sedari tadi ditolak dan diusir"Johan menatap sendu wajah cantik wanita yang mulai membuatnya nyaman.Johan berbalik dan bergerak menuju pintu.


"Kenapa jadinya aku yang jahat ya, padahal hanya bergurau"batin Arin


Wanita cantik itu menatap punggung Johan yang terlihat melemah, sepertinya lelaki jangkung itu terluka dengan ucapannya.


"Mas maaf aku tak...maaaas Jo nyebelin!"


Arin memukul lengan Johan dengan kesal hanya karna lelaki itu berbalik dan mengedipkan mata usil padanya.


"Lariii....pamitkan pada ibu!!!"Johan berlari keluar halaman ketika Arin meraih sapu di sudut dapur.


Arin menatap geli lelaki Jangkung yang berlari kencang meninggalkan rumahnya, tapi sekarang malah berhenti di luar pagar sembari menjulurkan lidahnya.


"Jagoan kandang beraninya di rumah sendiri!"


"Jagoan kandang beraninya di rumah sendiri!"


"Jagoan kandang beraninya di rumah sendiri!"


"Mas Jo pasti salah satu dari anak-anak SMP itu"Arin menatap tajam lelaki jangkung yang masih cengengesan di luar pagar rumahnya.


*****


"Beb malam ini aku tidak bisa ke apartemenmu, sudah nyaris sebulan aku tak pulang ke rumah, Arin pasti curiga nanti"


"Iya beb aku ngerti, tapi jangan lupakan janjimu ya"


"Iya sayangku ..aku tak akan pernah lupa"


Arsa menghela nafasnya lega, ia segera merampungkan laporannya sebelum pulang ke rumah.


Arin baru saja tiba di rumahnya, hari ini lumayan banyak pasien, kaki wanita cantik itu terasa pegal karna kebanyakan berdiri.


Arin berniat beredam air hangat untuk mengurangi rasa pegal di kakinya.Satu jam kemudian wanita cantik itu malah berbaring di ranjangnya, ia malas masak semenjak sang suami mulai jarang pulang ke rumah.

__ADS_1


Tak terasa mata cantik itu memejam, Arin tertidur lumayan lama, sampai ia tak menyadari kedatangan suaminya.


"Dek...dek.."Arin mengerjap merasakan lengannya yang digoyang-goyang lumayan terasa.


"Mas..aku ngantuk"Arin memejamkan matanya kembali.Sungguh ia malas melihat wajah suaminya yang sok sibuk dan merasa paling benar.


"Bangunlah ini mau magrib!"


Arin tersentak mendengar ucapan sang suami, ia bergegas bersuci dan bersiap melaksanakan kewajibannya.Arin tak mengajak suaminya, karena ia malas mendengar jawaban sang suami yang malah menyakiti perasaannya.


Arsa duduk di ruang makan, lelaki itu terlihat focus dengan laptop di hadapannya.Ia tak juga ikut sholat sebagai kewajibannya sebagai muslim, mungkin ia lupa jika ia imam dalam rumah tangga kecilnya.


Arin tak keluar kamar setelah selesai dengan kewajibannya, wanita cantik itu duduk di sofa tunggal di dalam kamarnya.Dengan hapenya ia membaca ayat Quran.


Sampai waktu isya Arsa tak juga masuk ke kamar, Arin lanjut menyelesaikan kewajibannya menunaikan sholat isya.


Beberapa menit berlalu Arin membereskan mukenanya dan menengok ke arah ruang makan yang jadi satu dengan dapur, yang memang langsung terlihat dari kamar jika ia berdiri di ambang pintu.


Arsa masih di depan laptop namun sesekali suaminya itu seperti membalas chat.Arin hanya menghela nafas panjang merasakan perubahan pada sikap sang suami.


"Sebenarnya ada apa dengan pernikahanku Ya Allah?"batin Arin pilu, wanita itu menjauh dari ambang pintu dan berjalan menuju ranjang.


Arsa menutup laptopnya dan memasukannya dalam tas kerjanya. Ia menuju kamar untuk melihat istrinya.


"Syukurlah ia telah tidur, jadi aku tak perlu mendengar ocehannya"guman Arsa yang masih terdengar oleh istrinya.


"Baiklah mas jika itu kemauanmu, aku tak akan menganggumu dengan ocehanku lagi"


Pagi menjelang Arsa menatap sekelilingnya.Semalam ia tidur di sofa ruang tamu, tivi pun masih menyala.Arsa merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal.Matanya membelalak melihat jam dinding di ruang tamu pukul 7.15 .


Arsa bergegas menuju kamar mandi, biasanya ia perlu setengah jam lebih berada di kamar mandi tapi kali ini ia mandi secepat kilat.Arsa mengumpat kasar pada istrinya yang tak membangunkan dirinya seperti biasanya.


Arsa menuju kamar tidurnya untuk berganti pakaian, matanya memicik heran.Tempat tidur terlihat rapi bahkan wangi pengharum ruangan masih segar tercium.


"Kemana dia?, apa dia sudah berangkat kerja, terlalu sekali ia tak membangunkanku.Dasar istri durhaka!"umpat Arsa kesal.


Arsa melajukan mobilnya menuju tempat kerjanya, lelaki itu terus saja mengumpati istrinya.Tanpa ia sadari sebuah gerobak penjajah makan lewat dari tikungan berbeda dan suara cukup keras langsung menyita perhatian orang di sekitarnya.


"BRRRAAAAKKKKK!!!!!!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2