RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Ke Pasar


__ADS_3

Mereka mencari tempat yang masih kosong, untungnya meja dekat kasir belum berpenghuni.


"Di sana kak!"tunjuk Tanti seraya mengamit lengan Arsa.


"Kita pesan dulu, kakak mau makan apa biar aku pesankan"Arsa sudah duduk di kursi ketika Tanti menuju pelayan untuk memesan 2 porsi nasi bakar dan bebek rica serta es campur komplit.


"Bukankah itu Arsa?"


"Dia dengan siapa?"


Mata elang itu terus mengamati Arsa yang terlihat sibuk dengan ponselnya.Ia cukup terkejut melihat seorang wanita yang datang lalu duduk di samping Arsa.


"Apa ini yang kau sembunyikan Sa, jahat sekali kau pada Marini"sorot mata tajam itu terlihat memerah, tanpa sadar tangannya mengepal erat.


"Kau akan menyesal jika menyakiti Marini!"Lelaki jangkung itu meraih ponselnya, dan mengambil beberapa gambar Arsa bersama wanitanya.


Nyaris satu jam akhirnya Arsa dan Tanti keluar dari resto, mereka berjalan beriringan dan beberapa kali Tanti mengecup pipi Arsa tiba-tiba.


Arsa melajukan mobilnya menuju apartemen Tanti, mereka terus bermesraan hingga tak sadar ada mobil yang mengikuti mereka dari arah belakang.


"Jadi begini kelakuanmu, aku yakin Marini tak tahu kebejatanmu!"guman lelaki dibalik kemudi yang terus mengamati Arsa dan Tanti.


"Gila mereka bahkan tak punya malu bermesraan seperti itu di tempat umum!" maki Johan si lelaki Jangkung yang ikut turun untuk mengetahui di mana apartemen Tanti.


"Aku bukan ikut campur Sa, tapi aku tak akan membiarkan Marini menderita karena kebejatanmu!"


*****


Mentari mencoba mencari cela untuk menyapa wajah cantik yang masih setia memejamkan mata.Sehabis sholat subuh wanita cantik itu kembali menikmati empuknya bantal dan guling kesayangan.


"Arin... Astagfirullahaladzim, sudah terang begini masih juga membuat iler"suara Dewita terdengar seperti alarm.


"Bu aku masih lelah, 5 menit saja"pinta Arin tanpa membuka matanya.Terlihat raut wajahnya yang memang sangat lelah.Akhirnya Dewita mengalah, ia keluar dari kamar putrinya menuju dapur di lantai satu.


Di luar rumah Dewita, seorang pria nampak ragu-ragu untuk masuk ke halaman rumah yang cukup luas dan asri.Aneka tanaman hias dan buah menghiasi sekitar halaman dan teras rumah.


"Sepi, tak ada satu orangpun yang terlihat?"Johan menatap rumah lantai dua yang nampak bersih dengan cat berwarna putih.Lelaki jangkung itu tak sadar jika ia menarik perhatian seorang wanita paruh baya.


"Bukankah itu anak Pak Daniel Ahmad, ada perlu apa dia kemari?"


Johan nampak ragu untuk masuk ke halaman rumah Marini, hingga ia berniat meninggalkan rumah itu namun ia terkejut ketika seseorang memanggilnya.

__ADS_1


"Naaak ..kamu anak pak Daniel kan?"


Johan mengangguk dan berjalan menghampiri Dewita yang memanggilnya.Tangan Johan langsung terulur menjabat tangan Dewita dan menciumnya hormat.


" Assalamualaikum bu...saya Johan.Maaf tadi saya berniat mencari Arsa ke sini"


"Ampuni aku Ya Allah, karna tak mungkin aku katakan mencari Marini kan?"batin Johan.


"Wah Arsa tidak ada nak, yang ada hanya istrinya. Ayo masuk dulu ibu buatkan minuman segar"Johan tersenyum dan mengangguk patuh.


"Kamu teman Arsa sekolah, kuliah atau ..?"


"SMA bu"


"Oh...eh nak benarkah orangtuamu tinggal di luar negeri"Dewita mulai kepo.


"Iya bu sudah hampir setahun ini"


"Aku kenal ibumu, dia sangat baik pada warga sini dan terakhir kami tahu beliau sakit dan katanya ayahmu membawanya berobat ke luar negeri"Johan tersenyum menanggapi ucapan Dewita.


"Alhamdulillah mama sudah baikan , tapi masih harus berobat jalan.Jadi papa memutuskan menetap di sana selama mama menjalani pengobatan"penjelasan Johan membuat Dewita menepuk pelan lengan lelaki jangkung itu.


"Ayo ibu buatkan minuman segar, kamu tadi habis lari pagi kan?"Dewita menelisik pakaian olahraga yang dikenakan Johan.


"Ibu bangunkan Arin ya, kamu minum saja dulu"tanpa menunggu jawaban dari Johan, Dewita gegas menuju lantai dua untuk membangunkan putrinya.


"Masih tidur???"Johan terkekeh mendengar Arin masih tidur.


Beberapa menit kemudian Johan menatap penampakan wanita di depannya yang memiliki kecantikan alami, sungguh cantik melihat Arin yang tampil apa adanya, benar-benar apa adanya.


Wanita cantik itu hanya mengenakan daster rumahan, dan lihat rambutnya yang dicepol tinggi terlihat berantakan. Tampilan Arin membuat Johan mengulum senyum.


"Mas Jo..koq ada disini???"Arin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, wanita cantik itu sangat malu. tingkahnya membuat Johan malah terkekeh.


"Nak Jo pikir ada Arsa disini"Arin menatap Johan dengan tatapan bingung, atas ucapan ibunya.


"Bukankah mas Jo semalam sudah tahu jika tak ada mas Arsa"Arin menatap Johan intens.Johan malah pura-pura tak paham.


"Temani nak Jo dulu ya!ibu tadi buat sarapan.Nak Jo ngobrol sama Arin dulu, eh Rin...Jo ini anaknya pak Daniel Ahmad yang rumahnya di block sebelah".


Arin hanya tersenyum simpul mendengar penjelasan ibunya yang terlihat antusias.

__ADS_1


Wanita cantik itu menatap Johan yang tersenyum melihat Dewita yang bergerak menuju dapur.


"Mas Jo ngapai kemari, tahu saja di sini nggak ada mas Arsa loh"lirih Arin begitu ia duduk di hadapan Johan.


Johan tersenyum melihat tingkah Arin yang mengemaskan, wanita cantik itu bahkan lupa tadi ia menyembunyikan wajahnya dengan menutupinya menggunakan kedua tangannya.


"Emang nggak boleh gitu silaturahmi sama tetangga, takut akunya nggak kenal sama tetangga pas bertemu di jalan"Johan tersenyum smirk melihat wajah Marini yang tersipu.


Marini menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.Mata lentik gadis itu bergerak malas menatap lelaki jangkung yang terasa akrab dihatinya.


"Kan sudah nih silaturahminya, mas balik gih!aku mau ke pasar"Marini menatap Jo dengan tatapan memohon.


"Ke pasar?boleh aku ikut?"


"Nggak ..kalau mau ke pasar sendiri saja mas nya!"elak Arin ogah diikuti.


"Kenapa jadi ribut ini, kayak suami istri saja pagi-pagi ribut"Dewita sudah berdiri dekat mereka.


"Ibuuuu!"Arin menatap sang ibu dengan wajah kesal, Dewita dan Johan malah terkekeh.


"Saya mau ikut Marini ke pasar bu, tapi dilarang!"Johan seperti meminta dukungan pada Dewita.


"Kenapa nak, ya nggak apalah kalau Jo mau ikut.Lagian kan nggak minta gendong kamu..Iyakan Jo?"Dewita terkekeh membuat Arin makin menekuk wajahnya.


"Tapi kalau Arin yang butuh digendong saya siap bu!"ucapan Johan membuat Dewita terbahak.Jadinya mereka tertawa bersama dan Marini hanya bisa geleng kepala melihat kekompakan dua orang yang senang melihatnya menderita.


Johan memanaskan mesin mobil CRV berwarna hitam milik ayah Arin, mobil yang cukup lama tidak digunakan, hanya sesekali Arin atau Dewita menggunakannya jika perlu.Karena mereka lebih nyaman menggunakan motor untuk keperluan sehari-hari.


Setengah jam kemudian mereka bertiga menuju pasar terdekat.Seperti biasa mereka belanja bulanan yang lebih murah dan tentunya membantu pedagang kecil, dibanding harus belanja di swalayan besar.


"Nak Jo nggak jijik masuk pasar tradisional begini?"


"Kenapa jijik bu, namanya pasar ya pastinya begini"Johan tersenyum tipis.


"Bahkan mas Arsa tak pernah mau menemaniku atau ibu ke pasar"batin Arin.


"Mas Arsa?bahkan sudah seminggu ini ia tak memberi kabar"wajah Arin mendadak mendung.Johan yang tak sengaja menatapnya merasa tercekat.Sesak di dadanya melihat wanita cantik itu menghapus sudut matanya dengan punggung ibu jarinya.


"Kau pasti memikirkan lelaki bejat itu"Ada luka yang tergores begitu melihat kesedihan di wajah cantik Marini.


"Ayo focus..itu ibu sudah jauh di depan!"lirih Johan mendorong pelan pundak Marini untuk berjalan mendekat kearah Dewita.

__ADS_1


"Aku akan membuatmu menyesal Sa!"


BERSAMBUNG


__ADS_2