
Di rumah Daniel, keluarga kecil itu sedang menikmati makan pagi bersama, suasana terasa akrab dan santai.
"Sayang, jam berapa tunanganmu pulang semalam?"
"Huuuk...huuk..huuk.."pertanyaan Milda yang tiba-tiba membuat Jo tersedak.Milda menyorongkan gelas berisi air putih ke hadapan Johan.
Daniel dan Milda saling berpandangan, lalu tersenyum.Mereka mengetahui kegugupan sang putra.
"Seharusnya kalau sudah larut, suruh tunanganmu bermalam di rumah nak, kasihan jika harus pulang malam"suara Milda sangat lembut, jemari wanita paruh baya itu menepuk lembut punggung tangan putranya.
"Aku mengantarnya pulang ma"
"Oohh. "Dewita tersenyum melihat kegugupan sang putra.
"Bagus lah peduli dan sayang pada tunangan, ya kan pa?"
"Ya..papa dulu juga begitu Jo, sekalipun dulu belum ada rasa diantara kami, tapi pringsif papa, wanita yang sudah diikat pertunangan dengan kita, sudah menjadi milik papa dan tentu saja menjadi tanggung jawab papa, iya kan ma.Seiring berjalan kami akhirnya saling jatuh cinta?"
Johan melihat wajah mamanya yang merona, ia tersenyum tipis.
"Pa, ma, aku berangkat"Johan beranjak dari ruang makan, terlalu lama bersama kedua orangtuanya akan membuatnya makin telat ke kantor.Lelaki itu mencium kedua pipi sang mama dan juga papanya.
Waktu terus bergulir, seperti niatan sejak pagi tadi, Arsa saat ini sudah berada di rumah sang istri.Arin menatapnya kesal, namun ia tak mau ribut dengan sang suami, jadi ia membiarkan saja lelaki itu di rumahnya.
"Yank, ada kopi?"
Tanpa menjawab, Arin beranjak ke dapur ia membuatkan kopi permintaan Arsa. Setelahnya ia meninggalkan suaminya itu masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Arin tersentak ketika merasakan tangan hangat dan kekar suaminya sudah melingkar di pinggangnya.
"Apa yang kau lakukan mas?"
"Aku menginginkanmu"Arin mendengus mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
"Jauhkan tanganmu mas, aku belum menyisir rambutku!"ketus Arin sebal.
Arsa tersenyum smirk melihat tengkuk mulus istrinya, hidung dan bibirnya mulai mengendus bagian sensitif dari sang istri.
Bulu kuduk Arin meremang, jantungnya berdebar kencang.Apa lagi tangan Arsa sudah bergerak liar tak tahu malu.
Di ambang pintu yang tak tertutup rapat, rahang seorang lelaki terlihat mengeras tegas, hatinya terluka melihat pemandangan yang tak disadari oleh dua pelakon di dalam kamar itu, jika ada sepasang mata yang melihat tapi tak paham mengapa semua terjadi.
"Apa yang aku tunggu lagi, wanita yang aku harapkan tak bisa melepas jerat masa lalunya"
Mobil lelaki yang ada sejak puluhan menit di depan pagar rumah Arin, meluncur meninggalkan rumah almarhumah Dewita, yang hanya beda blok.Perasaan pengemudinya sangat terluka, menyaksikan wanita yang ia sukai bercumbu dengan lelaki yang masih suaminya.
"Aku tak perlu merasa takut lagi akan sikap Weny, selama ini aku masih berpikir bahwa ia tak mungkin kembali pada suaminya, lelaki yang telah menjahatinya, tapi aku salah".
Di dalam kamar sepeninggalan Johan, Arin terus meronta seraya menjerit.Ia jijik akan perlakuan suaminya.Sudah cukup ia dilecehkan lelaki itu kemarin malam.
Dengan sedikit bertenaga, Arin menendang bagian sensitif sang suami, hingga Arsa menjerit kesakitan.
"Aaawwwwwhh!!kau bisa membunuhku!" pekik Arsa dengan mata berair, rasa ngilu dan sakit yang teramat sangat, membuatnya tak mampu berdiri tegak.
"Aku tak akan pernah menceraikanmu, kau akan selalu jadi istriku!"Arsa mencebikan bibirnya, mengejek istrinya.
Di rumahnya setelah memarkirkan mobilnya, Johan memasuki rumah dengan tergesa.
"Ada apa nak?"Milda merasa aneh melihat sikap putranya yang tak biasa.
"Aku ke kamar dulu ma"Johan menatap sekilas mama dan tunangannya, yang sepertinya datang untuk mengambil mobilnya, karena kemarin malam ia pulang diantar Jo.
"Sana gih, buat perasaannya lebih baik!"Milda tersenyum melihat reaksi Weny yang malu-malu.
Gadis itu mengangguk sungkan, Milda merasa lucu dengan kepolosan Weny. Hingga ia akhirnya mengangguk ketika gadis itu mulai merangkak naik ke lantai dua, di mana kamar Jo berada.
Tubuh Johan membeku, merasakan pelukan tangan lembut yang langsung mengenai kulit tubuhnya yang terbuka.Lelaki itu hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian sensitifnya, karena ia berniat untuk mandi.
__ADS_1
"Abang tadi pulang duluan, adek ditinggal.Tega amat sih.."tutur lembut Weny membuat jantung Jo berdebar lembut.
"Maaf"
"Dimaafkan"kekehan Weny seraya mengecup lembut punggung Jo yang terbuka.Johan mendesis menahan gelojak yang tersulut.
"Wen jangan..aahhhmmm!"tubuh gagah itu tak bisa lagi menahan desahannya, ketika tangan lembut bergerak liar dibagian tubuhnya.
Beberapa belas menit kemudian lelaki itu berbalik dan langsung mengendong Weny dan menghempaskannya di ranjang king size nya.
Malam ini Jo akan membalas rasa sakit hatinya pada wanita yang memenuhi pikirannya.Ia terbayang Arin yang dicumbu suaminya, Rasa sakit hati membuatnya melakukan hal yang memang ditunggu oleh Weni, Jo pasrah jika besok harus menikahi Weny karena wanita itu telah ia miliki seutuhnya.
"Aku mencintaimu bang"lirih Weny sebelum akhirnya memejamkan matanya.
Wanita cantik itu sangat bahagia, akhirnya Jo bertekuk lutut pada aksinya.Lelaki itu bahkan tak hanya sekali meledakkan calon kehidupan dalam rahimnya. Sekarang mereka sudah saling memiliki. Tinggal menunggu tanggal pengesahan secara hukum dan agama.
Johan menatap wajah cantik Weny, wanita yang di kantor merupakan asistennya.Tangannya terulur menepiskan anak rambut yang menutupi kening mulus tunangannya.
"Maafkan aku, tapi percayalah aku akan bertanggung jawab, dan berusaha membuatmu bahagia"lirih Jo yang mengundang senyum di bibir wanita yang tidak sepenuhnya tertidur.
Pagi menjelang, setelah sarapan pagi di ruang makan, tiga pasang mata yang menatap ke arah Johan, yang terlihat gelisah, tangan lembut wanita di sampingnya, tak henti mengelus punggungnya.
Weny seperti memberi waktu pada sang tunangan untuk bicara, seperti ucapan Jo pagi tadi saat ia terbangun, Jo akan menikahinya secepatnya.
"Ada apa nak?"Milda tersenyum melihat reaksi sang putra, matanya pun menangkap pergerakan tangan Weny di punggung putranya itu.
Johan menghela nafasnya pelan, ia menatap sang papa yang terlihat menunggu apa yang akan ia sampaikan.
"Pa, ma...percepat pernikahanku dan Weny, aku siap jika harus menikah besok!"suara Johan terdengar lirih, dadanya seketika nyeri, ia teringat atas lamarannya pada Arin.
Ucapan Johan membuat suasana hening seketika, namun tidak dengan jantung Weny yang berdetak riuh.Kebahagian yang luar biasa untuknya.
Dewita menatap tak percaya pada sang putra, ucapan Jo barusan membuat mulutnya sampai menganga karena tak percaya pada pendengarannya sendiri.Berbeda dengan Daniel, lelaki itu hanya tersenyum tipis mendengarkan ucapan sang putra.
__ADS_1
BERSAMBUNG😊