RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Kepulangan Tanti


__ADS_3

Di rumah mewah dua lantai, nampak seorang lelaki yang terlihat kesal, karena harapannya tak sesuai dengan kenyataan.Rasa rindunya pada wanita yang beberapa hari berada di rumahnya, mendadak membuat hatinya ambyar.


"Kenapa ia tak sabaran untuk menungguku pulang?"


"Apa ia tak tahu jika suaminya itu psikopat, apa ia lupa perbuatan lelaki itu padanya?"


Pikiran lelaki jangkung itu tak bisa lepas, dari wanita yang telah mengetuk hatinya.


Tubuh dan pikirannya yang lelah karena tugas perusahaan yang semakin bertambah, tak mampu membuat netra lelaki itu langsung terpejam, begitu raga gagah itu berbaring di ranjang hangatnya.


Selintas ia mengeluh, ketika wajah Weny sang asisten yang telah didaulat oleh sang mama, sebagai calon tunangannya.


Seperti menari-nari genit di pelupuk matanya.


"Ah wanita itu benar-benar berani, kenapa juga aku meragu untuk menolaknya?"


"Tak ada perasaan lebih untuknya, semua aku lakukan karena mama!"nafas Johan mendesah kasar.


Di tempat berbeda, Dewita tersentak mendengar suara salam dari arah depan rumah, begitu juga dengan Arin.Wanita cantik itu mematung sesaat dan gegas bersembunyi ke dalam kamar sang ibu, karena ia hafal suara siapa yang bertamu ke rumah sang ibu di waktu malam begini.


Dewita gegas merapikan sesuatu yang berhubungan dengan Arin, agar Arsa tak berpikir jika Arin bersama sang ibu.


Beberapa menit kemudian, Dewita tersenyum, ia memasang wajah ramah pada lelaki yang masih berstatus menantunya itu.Walau bibir wanita paruh baya itu ingin sekali memaki lelaki yang saat ini berada dihadapannya.


"Malam bu, maaf saya datang tak mengabari lebih dulu"


"Tidak apa nak, mari masuk!"


Arsa gegas masuk dan duduk di sofa tamu.mata lelaki itu menelisik setiap sudut dengan seksama.Gerak-gerik Arsa tertangkap mata Dewita, wanita itu tersenyum samar.


"Ada keperluan apa nak?"


Arsa terlihat diam sesaat, seperti mencari akal untuk menjawab Dewita.


"Maaf bu, saya memastikan kapan ibu mau saya jemput, untuk tinggal di rumah.Sekalian saya nengoki ibu, takut ada apa-apa!"

__ADS_1


Dewita tersentak, wanita itu lupa dengan rencananya, kedatangan Arin membuat wanita itu melupakan rencana yang telah disusunnya bersama Johan.


"Eh iya nak, kamu baik sekali.Ibu siap saja kapan kamu jemput!"Arsa tersenyum mendengar ucapan wanita yang masih berstatus mertuanya itu.


"Ibu tinggal ke dapur dulu ya nak, kamu mau minum apa?"


"Kopi saja bu, kalau ada"


Arsa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.Namun saat Dewita meninggalkan ruang tamu, Arsa gegas berdiri dan mulai mengendap-endap mengamati keadaan di dalam rumah itu.


"Sepertinya Arin tak ada di rumah ini, karena ibu seperti tak ada beban tinggal denganku"batin Arsa gamang.


Beberapa menit kemudian, Dewita keluar dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan kudapan.


"Silahkan nak!"Arsa mengangguk pelan.


"Apa ada kabar tentang Arin bu?"


Dewita menghela nafasnya kasar.Wajah wanita paruh baya itu, mendadak melow.


"Maaf bu saya pun tak terlalu mengetahui pergaulan Arin, karena saya sibuk bekerja mencari nafkah!"suara Arsa terdengar lirih.Wajah lelaki itu terlihat sedih.Entah apakah itu hanya topeng semata, untuk mengelabuhi Dewita.Tapi wanita paruh baya itu nampak tak peduli tentang Arsa.Ia hanya peduli pada putri kesayangannya.


"Kita doakan saja bu, semoga dek Arin baik-baik saja, dimanapun ia berada".


Dewita mengaminkan dalam hati ucapan Arsa, walau jujur ia nyaris tersedak mendengar ucapan lelaki tampan itu, yang masih memanggil putrinya dengan sapaan dek, bahkan masih sudi mendoakan putrinya.


"Nak apa kau punya niat menceraikan Arin, ibu iklas jika kau ingin menceraikan putri ibu".lirih Dewita, hatinya sakit ketika mengucapkan kata itu, tapi ia tahu mereka sudah tak layak untuk hidup bersama.


"Entahlah bu, tapi untuk saat ini saya belum kepikiran untuk memceraikan dek Arin"


"DEG"


"Apa maksud lelaki ini?"batin Dewita heran, karena dari yang ia lihat, hubungan Arin dan Arsa sangat tak sehat.Arsa yang nyaris tak memiliki waktu untuk sang istri, bahkan bisa tertidur di kantor dengan alasan lembur.


"Bu, besok saya jemput ibu sepulang kerja ya, untuk beberapa hari ini Tanti tak ada di rumah karena dinas luar kota"

__ADS_1


"Iya nak, terserah kalian saja.Oh ya berapa hari Tanti dinas luarnya?"


Arsa terlihat bingung menanggapi tanya Dewita, tapi lelaki itu cepat mengalihkan pikirannya.


"Izinnya seminggu bu, tapi saya hafal namanya tugas luar, biasanya waktunya diperpanjang untuk jalan-jalan menikmati wisata yang ada di sana"Dewita tersenyum tipis, wanita itu seperti menangkap sesuatu dari sorot mata Arsa.


Setelah satu jam berada di rumah mertuanya, Arsa pamit undur diri.Lelaki itu sebenarnya enggan untuk balik, namun ia merasa tak enak melihat sikap mertuanya yang terlihat tak nyaman atas kehadirannya.


Tidak seperti dulu saat hubungannya dengan Arin baik, ia akan meminta sang istri untuk menginap dan serasa leluas bagai di rumah sendiri.Karena Dewita tak pernah membedakan perlakuannya antara dirinya dan Arin.


Saat ini Arsa merasakan kesepian, dulu saat hubungannya dengan Tanti hanya menjadi rahasia berdua, ia memiliki tempat lain saat Tanti tak bisa ditemui, namun saat ini, tempat singgah cadangan itu menghilang.Anehnya walau hanya cadangan saat ini ia begitu mengharapkannya.


Lelaki tampan itu mendesah kasar, mobil yang ia setiri dengan sendirinya menuju rumah kontrakan lelaki itu.seakan mobil itu tahu jika sang empunya tak memiliki tujuan lain.


Sesampai di rumah, Arsa menatap heran rumahnya yang terlihat aneh menurutnya.Lelaki itu gegas turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju rumah.


"Tadi lampu kamar belum aku hidupkan, kenapa ini malah sudah hidup?"gumannya lirih.


Arsa tersentak begitu pintu depan tidak terkunci, dan ia melihat di ruang tamu, teronggok koper yang ia hafal pemiliknya.


"Beb kamu baru pulang?"


"Bukannya aku yang seharusnya berkata begitu!, kamu dari mana saja?"


"Maaf kak, aku dan beberapa teman yang bertugas mengalami sedikit masalah, tapi syukurlah semua sudah dapat diatasi"


Arsa seakan malas membahas penjelasan istri sirihnya, lelaki itu segera masuk ke kamar.


"Kau marah beb?kalau kau marah biar aku pergi saja dari rumah ini"


Arsa tersentak dan tubuhnya sontak berbalik menghadap Tanti.Lelaki itu menatap tajam wanita hamil yang jika dilihat dengan seksama, terlihat perutnya seperti membucit.


"Apa yang kau ucapkan tadi?"


Tenggorokan Tanti terasa tercekat, nyalinya mendadak ciut.Wajah Arsa terlihat garang.Ia berpikir lebih baik mengalah dengan lelaki yang pernah membuatnya tergila-gila itu.Karena saat ini tubuhnya terasa lelah, ia tak punya tenaga untuk melawan kemarahan sang suami.

__ADS_1


BERSAMBUNG😊


__ADS_2