
"Sayang pikirkan tentang bayi kita, mas serius ingin menikahimu.Mas sudah membeli rumah buat kita tinggali nanti"bisik Arul saat mereka sedang mereguk dosa.
Tanti mengerjap mendengar bisikan sugar daddynya, begitu sempurna perhatian dari Arul, apa lagi yang mau ia dustakan.Tanti menjadi bimbang, apa yang Arul tawarkan sangat menarik minatnya.
"Boleh aku melihat rumah itu dulu sayangku"bisik Tanti lembut di telinga Arul.Lelaki yang sedang menikmati surga dunia dari Tanti itu mengangguk sembari menyelesaikan misinya.
"Tttteennntttuuu sayaangku!".Arul ambruk di misinya tergapai.
Tanti mendekap erat tubuh lelaki yang nyaris berusia paruh baya itu.Sekalipun usia Arul 46 tahun namun untuk kebutuhan batin Tanti, lelaki itu lebih memuaskan dari pada Arsa.Itulah yang membuat Tanti tak bisa melepaskan Arul begitu saja,selain banyak materi yang ia dapat dari sugar daddy nya itu.
"Kita akan langsung melihatnya begitu kembali dari sini"ucap Arul seraya mengecup lembut kening Tanti.
Wanita yang tak lebih cantik dari Arin itu tersenyum smirk.Ia begitu ingin segera melihat rumah yang dikatakan Arul.
Di tempat berbeda Arsa sudah sampai di rumah ibu mertuanya, ia duduk di kursi tamu begitu Dewita menyambut kedatangannya.Arsa menyerahkan kue kesukaan Dewita sembari menanyakan kabar ibu mertuanya.
"Bagaimana kabar ibu?"
"Ibu baik saja nak, walau perasaan dan pikiran ibu sedang tak baik-baik saja".lirih Dewita seraya memasang wajah sedih.
"Maafkan saya bu, saya tak bisa mendidik Arin dengan baik"
""DEG"
Jantung Dewita berdentum keras, hatinya sakit mendengar ucapan lelaki yang masih berstatus mantunya.Sebisa mungkin Dewita menyembunyikan rasa amarah yang nyaris menyeruak dalam pikirannya.
"Laki-laki breng sek, aku akan membalas semua perbuatanmu pada putriku nanti!" batin Dewita dipenuhi rasa benci.
"Oh ya bu, aku sudah menikahi Tanti secara sirih, untuk resminya aku ingin menunggu bertemu Arin dulu"
"Ya Tuhan harusnya aku merekam pernyataannya ini, ini sudah termasuk bukti kan?"Dewita merutuki kebodohannya.
"Buuu!"Arsa membuyarkan lamunan Dewita.
__ADS_1
"Eh ya nak, tak apa jika kau menikahi Tanti, itu lebih baik dari pada kalian berzina, karna kalian akan mendapatkan bala sepajang hidup kalian jika berzina!"ucapan Dewita membuat Arsa tersedak salivanya.
"Ba bala bu?"guman Arsa lirih.
"Ya bala..bagi siapa yang berzina akan mendapatkan bala dari Allah.Ya tapi ibu percaya kalian tak akan melakukan hal sehina itu kan?"
"Iii iya. tentu tidak bu"ucap Arsa gugup.
"Iya, ibu tahu sikap Tanti sangat baik, tak mungkin ia melakukan hal sehina itu" guman Dewita lirih, namun Arsa masih bisa mendengarnya.Arsa tersenyum samar mendengar pujian Dewita pada istri sirihnya.Yang sesungguhnya hanyalah sindiran bagi lelaki tak punya malu di hadapannya.
"Oh iya bu, Tanti ingin ibu bisa tinggal dengan kami, ia tak tega jika ibu harus tinggal sendiri"Arsa melakukan apa yang menjadi keinginan Tanti, lelaki itu hanya berniat membantu Tanti saja walau sebenarnya ia merasa tak suka.Tapi melihat sikap Dewita yang respek pada Tanti membuat Arsa bangga.
"Sungguh Tanti ingin ibu tinggal dengannya?"Arsa tersenyum seraya mengangguk.
Dewita tersenyum samar, ia punya cela untuk melakukan rencana yang sudah diatur Johan.Tanpa ia mendekati mereka untuk tinggal di rumah Arsa, tapi malah saat ini ia mendapat tawaran epik.
"Ibu mau?"Arsa menyakinkan kembali pernyataan Dewita.
"Tentu nak, ibu sebenarnya kesepian tinggal di rumah ini, syukurlah jika Tanti ingat pada ibu, tidak seperti putri ibu yang malah lupa pada ibunya sendiri"keluh Dewita.
Dewita mengangguk lemah, namun saat Arsa tak melihatnya wanita paruh baya itu menyeringai seperti hendak merobek mulut Arsa yang lancang.
Di tempat berbeda Lelaki jangkung dengan wajah tampan itu terlihat berdiri di dekat jendela.Sudah menjadi kebiasaannya jika jam pulang ia akan memandangi para karyawannya dari jendela gedung ruangan kerjanya.
Jendela yang besar dan luas mampu membuat pandangannya melebar meyaksikan pergerakan setiap karyawannya setiap waktu datang dan pulang kerja.
"Permisi bos"suara Weny membubarkan konsentrasi Johan yang sedang melihat ke arah bawah jauh disana.
"Kenapa kau belum pulang?"Johan menatap sekilas Weny dan kembali melihat ke arah awal.
"Hoby sekali bang, memandangi mereka pulang, kalau pengen pulang yok, sekalian aku numpang"Seperti itulah gaya mereka bicara jika diluar jam kerja, tak ada bahasa formal lagi.Karna Johan tak mau mereka khususnya anak buahnya, memiliki rasa canggung padanya diluar jam kerja.
"Mobilmu ke mana?"
__ADS_1
"Mobil di pakai mama karena ada acara di rumah, Bang Jo ikut ke rumah ya, karena papa pesan begitu pagi tadi"
"Acara apa?"
"Entar abang tahu sendiri, tanya sama yang punya acara"elak Weny tersenyum.
Weny dan Johan selisih setahun, lebih tua Johan.Sehingga Weny membiasakan memanggil Johan dengan panggilan abang.Karena ayah Johan dan Weny berasal dari daerah yang sama.Dan mereka sudah akrab sejak SD.
Akhirnya Johan mengiyakan undangan orangtua Weny, dan meminta Weny menunggunya karena ia akan bersiap di kantor saja.Johan pergi mandi di kamar yang ada di dalam ruang kerjanya.Lelaki itu keluar setelah setengah jam dan sudah terlihat rapi dan tampan.
"Maaf menunggu lama ya?"
"Nggak apa bang, aku paham namanya juga anak bujang, ditunggu anak perawan pasti mandinya lamaaaa"kekeh Weny yang membuat Johan ikut terkekeh.
"Dasar lu, anak perawan koq menunggu anak bujang mandi"tawa Johan cukup keras karena ia merasa geli sendiri dengan ucapan Weny.
Johan berniat mengirim pesan pada Arin, tapi diingatnya ponsel Arin yang ditahan Arsa, hingga Johan akhirnya menghubungi bik Isa via chat WA.
Mobil Johan melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya yang terlihat lenggang, di jam menjelang magrib begini jalan memang tak terlalu ramai, hingga mobil bisa melaju tanpa terjebak macet.
Tiga puluh menit berlalu, mobil Johan memasuki halaman rumah Weny yang terlihat ramai oleh berbagai jenis kendaraan.
"Wen ini acara apa?koq ramai sekali.Eh aku tak membawa apa-apa lagi"panik Jo yang membuat Weny tergelak.
"Santai bos..ini anniversary pernikahan mama sama papa aku, untuk kado menyusul ya"kekeh Weny yang diangguki Johan.
Weny mengamit lengan Johan dengan manja, Johan sebenarnya merasa risih namun tak enak untuk menepis tangan Weny.
"Ayo ada yang istimewa buat abang"Weny mengerling genit ke arah Johan yang terlihat bingung.
"Apa maksudmu Wen?"
"Sudah ikut saja, nanti juga tahu"elak Weny sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
BERSAMBUNG😊