
"Beb...!"suara manja dengan isak tangis menyambut kedatangan Arsa, lelaki itu langsung memberikan pelukan pada kekasihnya.Tangan Arsa mengelus-elus lembut punggung Tanti, seperti memberi kekuatan atau ungkapan rasa sayang?
"Anak kita...anak kita tak bisa bertahan" suara tangis Tanti membuat Arsa membeku.Melihat reaksi Arsa yang hanya diam, wanita itu mencoba menekan perasaan Arsa.
"Setelah kita bertelponan hatiku sangat sakit dan perutku tiba-tiba terasa kram, hingga aku tak sadarkan diri..dan dibawa ke rumah sakit ini beb"
"DEG!"
Tetes airmata tak dapat ditahan, tangan lembut itu membekap mulutnya agar isakannya tak terdengar.
"Maafkan aku beb bukan maksudku membuatmu dan anak kita seperti ini" suara Arsa terdengar bergetar, lelaki tampan itu seperti menahan tangis.Ia mengeratkan pelukannya pada sang kekasih yang tubuhnya tiba-tiba terasa melemah.
"Beb..beb..bangun beb!"Arsa menguncang-guncangkan tubuh Tanti yang tak sadarkan diri.Lelaki itu berlari keluar mencari perawat yang ada, padahal di dalam ruang rawat itu ada bel yang bisa digunakan untuk memanggil perawat.
Jantung wanita cantik itu berdegub kencang, ada airmata yang membasahi sudut matanya walau samar.Ia berusaha menetralkan perasaan amarah dalam hatinya.Sungguh apa yang ia saksikan membuat hatinya retak seribu, hancur berkeping.
"Mas Arsa dan kak Tanti?"
"Sejak kapan?"
"Kak Tanti bahkan hamil anak mas Arsa?"
"Jadi selama ini mereka bermain di belakangku?"
Batin wanita cantik itu terus bertanya, tapi apa yang ia dilihat dan dengarnya cukup membuatnya tahu ada hubungan apa antara keduanya.
#Pov Arin#
Siang itu cukup melelahkan bagiku, aku harus membantu dibagian persalinan mengantikan rekanku yang berhalangan hadir.Padahal jam kerjaku sedang off.Tapi seperti biasa aku tak tega menolak permohonan rekanku yang tak bisa datang melaksanakan tugas, karena anaknya sedang sakit.
Siang itu aku diminta melakukan pemeriksaan pada pasien yang ada di ruangan VIP Anggrek 201, pasien yang baru saja mengalami abortus komplit.
Awalnya aku tak mengira jika Tanti Yossy adalah saudara angkatku, kupikir nama Tanti Yossy pasaran, ternyata aku betul-betul dibuat ternganga, Tanti Yossy di ruang rawat VIP 201 adalah saudara angkatku dan hancurnya hatiku lelaki yang menjadi ayah si janin adalah mas Arsa suamiku.
__ADS_1
Aku bagai kehilangan akal melihat kejadian yang sangat melukai hatiku, setidak pekanya aku selama ini tentang hubungan mereka.Aku memang pernah dan bahkan sering curiga pada mas Arsa.Suamiku yang selalu beralasan lembur kerja hingga tak bisa pulang ke rumah.Tapi kecurigaanku tak pernah ke arah kak Tanti sebagai rivalku.
Airmataku terus mengalir, rasa sakit ini betul-betul menguras air mata dan pikiranku, hingga rasa sakit di kepala menyergapku.Aku hanya mampu duduk sembari membenamkan wajahku di meja kerja ruangan Obgyn.
"Kau kenapa Rin?"Aku tersentak, melihat mbak Risa rekanku di ruang Obgyn saat ini menatapku dengan wajah panik.
"Kepalaku sakit sekali mbak"lirihku yang membuat wanita itu menyentuh keningku dengan punggung tangannya.
"Nggak panas Rin, tapi bukan nggak sakit loh"mbak Risa memberiku segelas air putih.
"Sepertinya migrainku kambuh mbak"
"Kau istirahat saja, biar mbak yang selesaikan sisanya"
#Pov Author#
Sudah dua hari Arsa tak pulang ke rumah, ia memberi alasan yang sama seperti dulu.Arin tak membalas chat yang ia kirimkan.Bahkan wanita cantik itu menolak panggilan dari suaminya.Hatinya masih enggan untuk terhubung dengan lelaki yang menghianatinya.
"Aku bisa memaafkan kesalahan apapun, tapi tidak perselingkuhan.Terlalu sakit dikhianati orang terdekat.Hingga rasanya aku ingin mati".
"Aaahhhh..maafkan aku Ya Allah, tak seharusnya aku bersandar pada cinta manusia, karena seperti inilah jadinya..hatiku retak..hancur berkeping-keping.Padahal aku tahu KAU memilihku untuk melewati garis ini karena KAU sayang padaku, KAU beri aku ujian agar derajatku naik disaat lulus ujianMU nanti.Ampuni aku Ya Allah..atas khilafku"isak tangis yang sudah kupatri sebagai yang terakhir di dalam rumah tanggaku dengan mas Arsa, kupuaskan berderai kali ini, ya hanya kali ini.
Arin mengajukan cuti dalam minggu ini, tujuannya tentu untuk menenangkan pikirannya, memikirkan langkah yang harus ia ambil.Perpisahan memang jalan akhir dari kerumitan yang tak bermuara pada solusi.Tapi untuk kembali pada suaminya, wanita cantik itu merasa risih mengingat Arsa dan Tanti menjalin hubungan tanpa pernikahan.
"Tapi apa yang harus kukatakan pada ibu?jika perpisahan dengan mas Arsa mungkin tak begitu berat aku katakan pada ibu, tapi jika ibu tahu penyebabnya". Arin menggelengkan kepala, membayang sesuatu terjadi pada ibu.
Arin menuju kamarnya, wanita cantik itu mencari koper berukuran sedang, dengan tenang ia mulai memasukan kebutuhan selama di rumah sang ibu nanti, ah jika ada tempat lain ia tak mungkin langsung ke rumah ibunya, wanita peka itu pasti akan banyak tanya jika ia datang nanti.Apa lagi suasana hatinya belum bisa menerima apa yang terjadi, itu akan memudahkan sang ibu membuatnya membuka mulut.
Arin tersentak ketika tangannya tiba-tiba ditekan cukup kuat oleh seseorang, siapa lagi jika bukan sang suami.Arsa terlihat marah, mata lelaki itu terlihat berkabut amarah.Aneh..
"Kenapa kau tak membalas chatku, bahkan kau berani menolak telponku!"suara Arsa terdengar meninggi.
"Ada apa denganmu mas?kenapa kau datang-datang langsung marah?"Arsa terdiam mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
"Kau membuatku kesal, aku sudah bersikap baik mengirim pesan bahkan menelponmu, tapi kau malah bersikap begini!"Arsa menatap tajam pada istrinya, sebenarnya hatinya bingung kenapa ia harus marah pada istrinya yang tak mempunyai kesalahan apa pun padanya.
"Aku membuatmu kesal?"
"Sikap baik apa maksudmu?"Arin pura-pura bodoh menatap suaminya yang terlihat mulai bisa mengendalikan amarahnya.
"Mas sibuk dek, aku menghubungimu karena aku khawatir padamu"tungkas Arsa.
"Kau tak perlu mengkhawatirkan diriku, aku baik-baik saja, tidak seperti wanita simpananmu itu!"ketus Arin.
"Duuuaaarrrr!!!"
Arsa menatap lemah wajah sang istri yang terlihat acuh, wanita cantik itu gegas menarik kopernya menuju arah keluar pintu kamar.
"Kau mau kemana!"suara Arsa terdengar bergetar.
"Aku tak bisa lagi tinggal bersamamu, aku menyerah!"Arsa menarik koper itu dari tangan Arin.
"Aku tak mengizinkan kau meninggalkan rumah ini!"suara Arsa terdengar mengelegar.
"Apa maksudmu?kau mau aku menerima wanita yang mengakui aku sebagai adiknya, tapi ia tidur dengan suamiku!" sinis Arin seraya berusaha menarik kopernya dari tangan sang suami.Namun lelaki itu cepat berkelit.
"Kau hanya akan membuat ibu terkena serangan jantung, lalu..!"
"Tutup mulut jahatmu!kalian yang akan mendapat bala dari sikap zolim kalian pada kami!"
"Zolim?..kau bilang aku zolim!"Arsa terbahak tangannya reflek mencengkeram dagu Arin, hingga wanita itu merasa dagunya terasa perih.Dengan kasar Arsa menarik tubuh Arin menuju ranjang.
Hati wanita cantik itu menjerit sakit, ia tak pernah menyangka,sikap suaminya akan seperti ini, tak lebih bagai binatang.
Arin terisak di sudut ranjang, dengan tubuh yang terasa remuk.Tangan wanita cantik itu terikat kencang.Arsa melakukan pelecehan pada dirinya,bahkan menyakiti fisiknya.
BERSAMBUNG
__ADS_1