
Sudah seminggu Dewita di rumah Arsa, dan selama itu pula, ia diperlakukan layaknya babu.Ponsel yang ia miliki dicuri oleh Tanti.Hingga ia kesulitan menghubungi Arin ataupun Johan.
Apa lagi kesepakatan yang mereka buat, jika Dewita tak menghubungi mereka, artinya situasi terkendali.Tentu saja hal ini berbahaya bagi Dewita.Ia tak bisa pulang ke rumahnya untuk sekedar berbagi kabar, karena Tanti mengunci pintu depan dan dapur yang menjadi aksesnya untuk keluar rumah.
Malam ini tubuh Dewita terasa sangat lemah, setelah makan malam ia mendapat tugas wajib memijati anak angkatnya.Jika awal ia datang ke rumah ini, Tanti merengek jika memintanya melakukan sesuatu, tapi beberapa hari ini sikapnya kasar dan perintahnya sangat tidak sopan.
"Telapak kaki!ini mijit atau ngelus tidak terasa sama sekali!"cerca Tanti sembari menjejakan kakinya ke tangan Dewita.
" Astagfirullah nak, jangan seperti ini.."
"Apa?kau mau menyumpaiku!!"
"Ada apa sih beb, koq teriak-tetiak begitu"Arsa yang baru pulang dari kantor karena lembur, merasa risih dengan suara istrinya yang terdengar sampai teras rumah.
"Ini ibu, dia menyumpaiku hanya karena aku meminta tolong memijati kakiku yang pegal"dusta Tanti yang membuat Arsa menatap Dewita.
"Sudah ibu istirahat saja, biar aku yang memijatimu"
Dewita gegas beranjak keluar kamar. Namun langkah kakinya dipaksa berhenti ketika suara tinggi Tanti kembali mengudara.
"Siapkan makan malam untuk suamiku!"
"Tidak usah bu, saya sudah makan malam, silahkan ibu tidur"ucapan Arsa membuat Dewita lega.Wanita paruh baya itu gegas menuju kamar tidur yang dulunya digunakan untuk tempat kerja Arsa.
Hati Dewita remuk seperti tubuhnya, ia tak menyangka anak angkatnya berani bersikap seperti ini padanya, anak yang ia pelihara dan ia sekolahkan di bangku SMP hingga kuliah, dengan rasa sayang dan tanggung jawab.Ternyata memiliki sifat jahat dan pendendam.Padahal sebagai seorang ibu, ia tak pernah membedakan antara Arin dan Tanti.Tak terasa airmata menitik dari mata lelahnya, ia teringat putrinya yang pernah mrngalami nasib lebih sakit dari dirinya.Tiba-tiba rasa tindu akan putrinya menyeruak, namun apa daya ia tak memiliki kesanggupan untuk pergi, terlebih niatnya di rumah ini untuk putrinya.Ia harus bertahan agar mendapatkan bukti yang bisa digunakan untuk perceraian putrinya di persidangan nanti.
"Beb kenapa sih bersikap seperti itu pada ibu, pamali sayang.Ingat kamu sedang hamil!"tegur Arsa setelah Dewita keluar dari kamar.
"Bela saja terus, wanita itu tak sebaik yang kakak pikir!"cibir Tanti yang membuat Arsa memilih diam.
__ADS_1
Di tempat berbeda, di kediaman orangtua Weny.Baru saja digelar acara tunangan antara Jo dan Wany.Keluarga besar Jo hadir dalam acara tersebut tak terkecuali mama dan papanya yang baru tiba sehari lalu.
Johan tak bisa menolak keinginan orangtuanya, walau saat ini hatinya bercabang pada wanita lain.Ia berpikir tidak masalah hanya sekedar tunangan, belum tentu sampai ke pelaminan.Namun ia salah karena setelah acara tunangan itu selesai kedua keluarga besar itu berkumpul untuk membicarakan hari pernikahan mereka.
"Jadi deal ya, pernikahan mereka sebulan lagi"Wisnu menjabat tangan Daniel erat, suara tepuk tangan dan kata deal meramaikan ruangan keluarga di rumah Weny.
Johan yang kebetulan izin ke toilet tidak sempat mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.Tapi lihat Weny!wanita cantik bertubuh tinggi semampai itu tersenyum lebar mendengar hari pernikahannya telah didealkan.
"Selamat ya sayang, tante bahagia sekali"
"Eh Jo kamu dari mana?"suara sang mama membuat lelaki itu bergabung dengan para wanita dari keluarga Weny, kecuali sang mama.
"Kalian harus segera memberi mama cucu, setelah menikah nanti, dengar ya Jo!"
Johan yang tak mengerti jika tanggal pernikahannya tinggal sebulan lagi, menyanggupi.
"Iya apa?"
"Memberikan mama cucu"ucap Jo datar.
"Terimakasih sayang, mama tak sabar untuk segera menikahkan kalian, kalau perlu dipercepat jeng"usul Milda pada Venna.
"Kami siap saja jeng, bukannya hal baik harus disegerakan!"timpal Venna.
"Bener itu, sana gih minta para lelaki untuk memajukan acara pernikahan mereka!"
"Ma..kalau sudah diputuskan tak perlu dirubah lagi, kan semua itu butuh persiapan"elak Jo yang masih belum tahu apa-apa.
"Iya juga sih, kalian pasti mau pesta yang meriah ya, karena pernikahan itu mama harapkan sekali seumur hidup untukmu, jadi kita harus membuat pesta yang spektakuler, iya kan jeng?"
__ADS_1
Venna mengangguk mantap, sedang Weny tersenyum malu-malu tapi mau sekali, dan lihatlah tangan wanita cantik itu sudah mengamit tangan tunangannya di depan keluarga besarnya.
"Sepertinya mereka sudah tidak sabar jeng"Milda tersenyum lebar melihat kemanjaan Weny pada putranya.Selintas Milda menatap Venna yang sama tersenyum dan memicikan mata, sepertinya mereka memiliki ide agar niat mereka cepat terlaksana.
Malam telah semakin larut, keluarga Johan akhirnya berpamitan dari rumah mewah keluarga Weny.
Johan yang duduk di depan bersama sopirnya, sesekali menengok ke kursibelakang, dimana kedua orangtuanya tak henti memberi wejangan untuknya.
"Ingat ya nak, sekarang kau tunangan Weny dan tak lama kalian menikah.Jaga perasaan tunanganmu"
"Jangan buat Weny menangis, karena tangis Weny berarti tangis mama.Mama sangat menyayangi gadis cantik itu!"
Johan hanya menjawab"iya" saja setiap ucapan dari kedua orangtuanya.Hingga tak terasa mobil mereka memasuki gerbang rumah dan masuk ke halaman rumah mereka yang luas.
Daniel mengendong istrinya ala bridal style, begitu sang istri keluar dari mobil.Tentu saja Milda terkejut atas perlakuan suami yang tiba-tiba.
"Paaa..pakai kursi roda saja!"
"Jangan khawatir, suamimu ini masih sangat kuat"senyum mengembang di bibir Daniel. Johan hanya tersenyum melihat sikap romantis papanya pada sang mama.Ia tahu seperti apa sayangnya sang papa pada mamanya, yang bahkan rela menemani mamanya berobat bertahun-tahun ke luar negeri meninggalkan perusahaan yang telah membesarkan namanya.
Johan duduk di tepi ranjang, pikirannya teringat akan Arin dan Dewita, sudah dua hari ia tak kontek dengan Arin, lantaran pesta pertunangan yang telah disiapkan oleh kedua orangtuanya.
Namun ia lega, karena Dewita baik-baik saja terakhir ia menghubungi wanita itu via chat, dua hari lalu.Johan tak tahu jika selama ini chatnya bukan dibalas oleh Dewita.
Lelaki jangkung itu beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi, sedari tafi ia merasa gerah dan ingin berendam air hangat.Sungguh ia merasa resah atas apa yang telah ia lalui, yang tak sesuai dengan keinginannya.
Di rumah yang berbeda, Arin merasa resah.Beberapa hari ini ia nampak gelisah karena kepikiran ibunya.Ingin ia menghubungi sang ibu, namun ia sudah diwanti-wanti untuk tak melakukan hal itu, demi keselamatan ibunya.
BERSAMBUNG😊
__ADS_1