
Johan masuk ke dalam ruang kantor.Ada dua orang guru di dalam ruang kantor itu, guru lelaki dan perempuan di tempat duduk yang berbeda.Mereka terlihat sibuk dengan sesuatu di hadapannya, namun guru lelaki itu beranjak mendatangi Johan dan menyaliminya.
"Silahkan duduk pak, hendak bertemu dengan siapa?"
"Ustadzah Arin"
"Ustadzah Arin?"lelaki tampan itu menggulang ucapan Johan, seperti menyakinkan.Wajah lelaki tampan itu mendadak berubah, seperti terbersit tak suka di sinar matanya.
"Assalamualaikum, mas Jo?"Wajah Arin terlihat heran dengan kedatangan Johan di tempat kerjanya.Wanita cantik itu terlihat masih terpaku melihat penampakan pria jangkung, yang berdiri menjulang di dekat sofa tamu.
"Iya Rin, saya datang mencarimu, bagaimana kabarmu Rin"Johan menatap intens wajah cantik yang semakin memancarkan auranya.Balutan gamis dan hijab syar'i membuat wanita itu terlihat sangat berbeda.
"Alhamdulillah, oh iya kenalkan ini kepala Madrasah, namanya Ustad Fadlan"
"Dan juga..."ucapan Ustad Fadlan terhenti karna ujung lengannya tiba-tiba ditarik Arin.
"Dek..!"Arin menarik lengan baju Ustad Fadlan yang hendak protes, masuk ke dalam ruang kepala.
"Mas Jo, sebentar ya..saya bicara sama kepala Madrasah dulu"
Johan mengangguk patuh, tapi pikirannya menangkap ada yang aneh, melihat Arin begitu beraninya menarik lengan baju kepala Madrasahnya.
"Saya mohon mas, biar ia menyampaikan tujuannya dulu, kita hormati kedatangan mas Jo dari jauh, percayalah tak ada perasaan apapun selain rasa menghargai tamu"
"Aku percaya padamu, tapi tidak dengan lelaki itu.Lihat saja pandangannya padamu, seperti orang yang sedang jatuh cinta"keluh Ustad Fadlan.
"Sudah jangan cemburu, boleh ya saya temui dia, mas disini saja!Boleh koq nguping"senyum Arin mengembang.Ia tahu calon suaminya sedang cemburu. Entah senang saja melihat calon suami protektif begitu.
"Kalian bicara di ruangan ini saja, takutnya nanti ada pengajar lain yang datang, malah terganggu nanti reuniannya"ejek Ustad Fadlan yang membuat Arin, memukul lengan lelaki tampan itu dengan gemas.
Ustad Fadlan tergelak mendapat pukulan sayang dari calon istrinya, lelaki itu gegas keluar dan mempersilahkan Johan untuk berbicara dengan calon istrinya di dalam ruang kerjanya.
Saat ini Arin duduk berhadapan dengan Johan, dibatasi oleh sebuah meja kerja.
Johan terlihat bingung untuk memulai pembicaraan, sedang Arin gelisah karena, ponselnya terus berkedip.Kelakuan Ustad Fadlan yang tidak sabar, menunggu calon istri segera keluar dari ruangan kerjanya.
"Maaf mas Jo, silahkan mau membicarakan apa!"Arin membuka pembicaraan, karena jika terus menunggu, ia yakin lelaki jangkung di hadapannya itu, tak akan segera memulai.
"Kau baik saja Rin?"
Arin mengerutu dalam hati, sepertinya pertanyaan itu sudah diucapkan Jo, saat awal bertemu tadi.
"Saya baik mas, seperti yang mas lihat.Apa yang mau mas sampaikan?"
"Rin, mas minta maaf atas janji yang mas ingkari dulu, semua karena kesalah pahaman"ucap Jo pelan, ia berusaha tenang agar kalimat yang sudah ia susun, tidak berhambur karena dirinya yang tidak bisa menguasai perasaannya.
"Sudah nggak usah dipikir yang lalu mas, yang terpenting masa depan"Arin tersenyum samar.
"Kau betul Rin, mas kesini untuk membicarakan masa depan kita"
"Masa depan kita?maksudnya mas?"
__ADS_1
"Menikahlah denganku Rin, aku ingin menempati janjiku dulu"
"Eeeh apa dia bilang menikah, mana bisa Arin calon istriku"batin Ustad Fadlan saat telinganya mendengar pembicaraan Johan.
Arin menatap sekilas lelaki di depannya, wajah Johan terlihat mengharap.Arin menghela nafasnya dalam, dan menghelanya perlahan.
"Mas biarlah masa lalu itu jadi pembelajaran untuk kita, dan soal masa depan, aku tak bisa sejalan denganmu"
Johan menatap sendu ke arah wanita cantik, yang tutur katanya semakin agamis dan dewasa.
"Apa yang terjadi padaku, aku terima sebagai ujian.Jalan menuju kehidupan yang Insya Allah sudah digariskan untuk saya.Apa yang mas lakukan dulu, saya anggap itu cara yang Allah atur untuk saya bertemu jodoh yang sesungguhnya"
"Jodoh?maksudmu kau sudah memiliki jodoh di sini?"Arin mengangguk mendengar tanya Johan.
"Aku akan menikah 3 hari lagi mas, jika mas berkenan datanglah ke acara pernikahan kami nanti"
"3 hari lagi, secepat itu Rin?"protes Jo dengan wajah kesalnya.
"Dia melamarku 6 bulan lalu, dengan sabarnya ia menunggu jawabanku.Baru seminggu lalu aku memberi jawaban atas lamarannya.Kau tahu mas dia lelaki tersabar yang aku kenal"
Ucapan Arin membuat Johan tersedak salivanya, perkataan lembut Arin bagai balasan dari sikapnya dulu, tidak sabar menunggu jawaban dari lamarannya pada Arin dan justru berbuat zina dengan Weny sebagai pelampiasan kesalah pahamannya.Lelaki jangkung itu merasakan sesak di dadanya, kiranya debaran jantungnya pertanda tak baik.Ia terhempas karena buah dari perbuatannya sendiri.
"Maafkan aku Rin, aku salah sangka pada kalian berdua sore itu, hingga aku melakukan kesalahan terbesar yang harus aku pertanggung jawabkan"keluh Johan dengan suara yang mulai terdengar parau.
"Jadikan Allah sebagai tempat mengadu mas, agar langkah yang kita ambil disaat mengalami cobaan, senangtiasa dalam tuntunannya"
Ada senyum simpul dari bibir yang senangtiasa bertutur lembut, Dua lesung di pipinya turut menghiasi keindahan ciptaan NYA.
"Aku tak pernah salah menilaimu dek, kau akan menjadi bidadariku hingga jannah".
Belum saja Johan ke luar dari pintu kantor, ia berpapasan dengan Arsa yang menenteng beberapa paperbag.Arsa terlihat sedikit kepayahan.Rupanya lelaki tampan yang satu ini baru tiba di bandara, dan langsung menuju ke Madrasah.
"Pulanglah denganku, Arin sudah menemukan jodohnya disini".
"Kau tak usah mengelabuhiku, jika kau sudah ditolak olehnya"Johan mendengus sebal.Ditonjoknya bahu Arsa, hingga lelaki itu mengaduh.
"Kau ini apa-apaan sih!"ketus Arsa kesal.
"Mas Jo benar, aku sudah menemukan jodohku disini, kami akan menikah 3 hari lagi"
"Tidak bisa dek, aku datang untuk merujukmu!"Johan mencibir pernyataan Arsa yang terlalu percaya diri.
"Maaf mas, tidak ada kata rujuk!" tegas Arin.Wanita cantik itu tak bisa menahan lagi kelakuan Arsa yang suka seenaknya.
"Ustad Fadlan ini adalah calon suamiku, kami akan menikah 3 hari lagi!"Arin akhirnya memperkenalkan calonnya, karena sikap Arsa yang ngeyelan.
Wajah Johan berubah pias, namun tidak dengan Arsa yang malah tergelak.Lelaki itu tak percaya pada ucapan mantan istrinya.
"Sayangku, jangan berkata begitu.Mas datang dari jauh loh, serius ingin merujukmu.Ayo ikut mas balek ya!, kita perbaiki lagi pernikahan kita.Mas janji akan selalu setia sama adek"Arsa mendekat ke arah Arin, namun sebelum ia menyentuh mantan istrinya.Ustad Fadlan sudah berada di depan Arin.
"Perkenalkan, saya calon suami Marini Zumarnis"uluran tangan Ustad Fadlan ditepis oleh Arsa.
__ADS_1
"Jangan berharap, aku yang akan menikahinya, bukan kamu!"Ustad Fadlan tersenyum tipis, ia menarik kembali tangannya.
"Mas Jo, tolong bawa pulang temanmu ini, aku minta maaf jika tak bisa menerima perasaan kalian.Aku doakan semoga kalian menemukan jodoh yang terbaik melebihi diriku".
Beberapa saat kemudian, Arsa mengikuti langkah Johan, karena suasana kantor mulai ramai oleh para pengajar yang ingin ngaso di ruang guru.
"Kau percaya jika Arin akan menikah dengan laki-laki itu?"
Johan hanya diam mendengar pertanyaan Arsa, karena di hatinya saat ini dipenuhi oleh penyesalan.
"Aku ikut kau Jo"Arsa gegas membuka pintu mobil yang sama dengan Johan, lelaki itu menghempaskan bokongnya di kursi depan, di samping Johan.
Tiga hari kemudian
"SAH!!"
"SAAAAHHH!!!"
"Alhamdulillah"
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”
Hari itu membuka mata Arsa, ia yang bersikeras tak percaya ucapan Arin, dan menolak ajakan Johan untuk pulang, karena menunggu hari pernikahan yang ia yakini tak akan ada.
Lelaki itu akhirnya pergi meninggalkan sepenggal hatinya yang tertinggal, padahal acara resepsi baru akan digelar sore harinya.
Hari itu juga Arsa mencari penerbangan ke kotanya, hatinya sama hancurnya dengan Johan.Harapannya ketika berangkat ke kota ini begitu besar, ia yakin Arin akan menerima rujukan darinya.Tapi rasa percaya dirinya yang terlalu besar itu menuai luka.
Tiga bulan setelah hari pernikahan
"Mas, ini!"Arin tersenyum menyerahkan benda kecil pipih semacam polpen pada suaminya, Ustad Fadlan menerimanya dengan bingung.
"Apa ini dek?"
"Kau amati saja, masak mas tak pernah melihat benda ini?"
"Sepertinya tidak pernah?"
"Di internet, di majalah, atau koran.."Arin menuntun suaminya untuk mengenali benda bernama tespeck itu.Tapi tetap saja Ustad Fadlan tak mengenal benda bernama tespeck itu.
Arin mengerutu karena kepolosan sang suami, membuat Ustad Fadlan tersenyum.
"Maaf, mas cari dulu ya di internet"Ustad Fadlan meraih ponselnya,namun belum sempat browsing Arin lebih dulu mengatakan perihal dirinya.
"Itu tespeck mas, aku hamil"
Ustad Fadlan menatap istrinya dengan terkejut, tapi detik berikut mata lelaki itu terlihat berkaca-kaca.
"Alhamdulillah"
Ustad Fadlan meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.Dikecupnya dengan sayang kening sang istri.Arin tersenyum bahagia, hatinya mendadak adem karena sikap suaminya.
__ADS_1
"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan kesenangan kepadaku di dunia, maka berilah aku kesenangan di akhirat"
TAMAT