
Arsa bernafas lega mendengar penjelasan sang istri, lelaki itu menoleh ke arah tangan sang istri yang mendorong kursi rodanya dan mengecupnya lembut.
"Mas..ini tempat umum"lirih Arin.
"Tapi kita suami istri dek"elak Arsa
"Suami istri juga punya adab mas, nggak sembarang bermesraan, kita bukan orang barat loh"Arsa tercenung mendengar ucapan sang istri.
"ADAB???"
Arsa menarik pelan tangannya, perkataan istrinya seakan menamparnya, karena ia memang jauh dari kata itu.
Arin mendorong kursi roda sang suami masuk ke dalam ruangan yang bertulis RUANG RADIOLOGI di depan pintu kaca.
" Assalamualaikum!"
Dua orang anak muda di ruangan itu membalas salam Arin, dan mengalihkan focus mereka pada kedua orang yang baru masuk ke dalam ruangan.
"Waalaikumsalam, Rin ini siapa?"
"Maaf mas Adi ini suami saya, bisa tolong lakukan rontgen, suami saya baru saja mengalami kecelakaan"lelaki yang dipanggil Adi mengangguk.dan meminta temannya untuk membantunya.Adi menyerahkan jam tangan Arsa pada Arin dan setelahnya membantu Arsa mengenakan pakaian khusus sebelum dirontgen.
Arin duduk di kursi yang ada di ruangan itu, ia menyaksikan kedua rekannya melakukan tugasnya pada sang suami.
"Rin tunggu 20 menit, hasilnya akan aku berikan sama kamu"Arin tersenyum dan berpamitan menunggu di luar ruangan.
"Di aku nunggu di luar!"
"Siip ... entar Ali panggil kalau sudah!"
Arin mendorong kursi roda menuju arah pintu.Tapi ia teringat sesuatu.
"Mas sudah sarapan, kalau lapar kita ke kantin dulu ya"
"Nanti saja dek, mas belum lapar"
Mereka akhirnya menunggu bersama para antrian, melihat pasien yang antri untuk segera ditangani, Arsa merasa bersyukur bisa langsung ditangani tanpa ikut antri.Semua karena sang istri yang merupakan pegawai di rumah sakit ini, atau bisa saja karena rasa khawatir Arin akan keadaannya yang memprihatinkan.
__ADS_1
"Mas kau sudah menghubungi pihak kantor?"Arin menepuk lembut lengan Arsa.Saat ini ia duduk berhadapan dengan sang suami, dimana Arin duduk di kursi antrian pasien dan arsa di kursi todanya.
"Ya Tuhan aku lupa dek!"Arsa segera menghubungi pihak kantor.Setelah panggilan terhubung lelaki itu tak henti mengucap kata maaf karena lupa mengabari tempat ia bekerja.Dan setelah panggilan selesai ia menghela nafas lega karena pihak kantor menerima alasannya dan mengizinkan ia untuk istirahat 2 hari di rumah.
Hasil rontgen sudah di tangan Arin, wanita cantik itu bersyukur tak ada luka serius pada tubuh sang suami.Begitu pula Arsa ia sangat beruntung bisa keluar dari amukan massa yang bisa saja menghilangkan nyawanya.
"Mas saya antar ke ruang rawat inap ya, saya dapat chat dari mbak Ning, bapak pedagang itu sudah di bawa ke ruang perawatan"
"Iya dek, terima kasih sayang..mas jadi merepotkanmu!"
"Mas ini bicara apa?ini sudah tugas saya sebagi istri merawat suami yang sakit!"
"Mas nanti saya tinggal dulu di ruang perawatan ya, saya harus menyelesaikan pekerjaan.Tadi saya panik jadi titip saja sama teman!"Arsa mengiyakan ucapan sang istri.
Arsa tercenung di ruang perawatan kelas 1, hanya ada ia dan pasien bernama Pak Narmo.Lelaki yang usianya berkisaran 40 tahun.Korban dari kelalaiannya mengendara, yang saat ini bahkan belum siuman.
"Apa yang akan dilakukan Arin jika tahu hubungan kami?"
"Ucapan Arin tentang tugas istri, membuat aku merasa tertampar, Arin selalu melakukan tugasnya sebagai istri tapi aku?Aku bahkan lupa akan tugasku sebagai suami"
"Eeeehhhhh..."suara kesakitan membuyarkan pikiran Arsa, lelaki itu menengok ranjang pasien yang ditempati pak Narmo.Nampak lelaki itu menggerakan tangannya seperti mengapai.
"Pak..bapak sudah sadar?"Arsa segera menekan tombol yang ada dekat ranjang pasien.Dan beberapa menit kemudian perawat masuk ke ruangan itu.
Perawat itu menjelaskan pada pak Narmo, mengenai operasi yang dilakukan pada kakinya, dan apa yang menjadi aturan agar pak Narmo segera sembuh.
Setelah perawat itu keluar, Arsa mendekat ke arah pak Narmo.Pak Narmo terkejut ketika Arsa mencium tangannya dengan kepala terkulai di ranjang yang ia tiduri.
"Maafkan saya pak, sungguh saya tak sengaja"terdengar suara isakan dari suara yang terdengar bergetar.
Lelaki 40 tahun itu mengelus kepala Arsa, yang membuat lelaki itu menegakan kepalanya dan kembali menciumi punggung tangan pak Narmo.
"Sudah nak bapak iklas , ini musibah tak ada yang menghendaki"lirih pak Narmo membuat Arsa mengangguk.
Setelah itu mereka terlibat pembicaraan yang membuat mereka nampak akrab.Ternyata pak Narmo tinggal bersama istrinya dan seorang anak yang masih duduk di bangku SMP.
*****
__ADS_1
Sudah 2 hari Arsa istirahat di rumah, besok ia harus kembali bekerja.Arsa tak dirawat di rumah sakit seperti pak Narmo, karena memang ia tak mengalami luka serius.
Saat ini masih pukul 9 pagi, Arsa terlihat jenuh dengan rutinitasnya dalam 2 hari ini.Arin sudah berangkat kerja dari pukul setengah 8 pagi. istrinya lah yang mengurus pak Narmo untuk semua urusan di rumah sakit, walau istri dan anak pak Narmo selalu menemani sang suami.
Sebenarnya Arsa sanggup untuk ke kantor pagi ini, karena titah sang istri ia terpaksa menurut untuk istirahat di rumah.Arsa tersentak ketika sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang.Tubuh Arsa menegang, dari aroma parfum yang menguar ia tahu siapa yang sedang mendekap pinggangnya dari belakang.
"Kenapa tak mengabari!"suara itu terdengar bergetar.Arsa membalikkan tubuhnya, dan tangan lentik itu langsung berpindah mengelus wajah Arsa.
"Aku tau dari rekan kerjamu"gumannya lirih seakan tahu pikiran Arsa yang bingung atas kedatangannya di rumah itu.
"Aku tidak apa beb, hanya perlu istirahat saja"lirih Arsa mengelus punggung sang kekasih yang bergetar karena isakan.
"Sungguh?"Arsa mengangguk mantap.
"Aku takut terjadi sesuatu padamu kak, aku tak bisa hidup tanpamu kak"lirih Tanti.
Tanti panik ketika tak ada kabar dari sang kekasih, ia terlalu parno menyangkut Arsa jika tak berada dekat dengannya.Hingga ia datang ke kantor Arsa dan pura-pura melakukan transaksi di bank tempat Arsa bekerja, sekedar untuk bertanya tetang Arsa.Dan sekarang ia nekat ke rumah Arsa untuk memastikan sang kekasih baik-baik saja.
"Sekarang kau sudah tahu aku baik-baik saja kan beb, berhentilah menangis!"Arsa menghapus airmata sang kekasih.
Tanti mendekap erat tubuh Arsa, membuat lelaki itu menegang.Tangan Arsa menangkup wajah Tanti dan mata mereka bersirobok.Tak lama Arsa menjatuhkan bibirnya ke kening Tanti.
"Pulanglah beb besok aku sudah bisa bekerja, kita bisa bertemu besok saat aku pulang kerja, tapi untuk seminggu ini aku belum bisa menemanimu"bisik Arsa lembut.
Tanti menatap mata kelam sang kekasih, setelahnya ia langsung menghempaskan bokongnya di sofa ruangan itu.Ucapan Arsa membuatnya kesal.Arsa tersenyum melihat tingkah sang kekasih, ia mendekat dan duduk di samping Tanti.
Dikecupnya tangan sang kekasih, hingga Arsa mematung ketika tubuh Tanti sudah duduk di pangkuannya.
Satu jam kemudian Tanti sudah rapi seperti semula, ia tersenyum dalam dekapan sang kekasih.Ia senang dalam rumahnya Arsa tak menolak dirinya.
"Aku pulang ya kak, I love you"
"I love you too sayangku"mereka saling memagut cukup lama, sampai akhirnya terhenti.Dan Tanti langsung pergi meninggalkan rumah itu.
"Maafkan aku dek, mas tak bisa melepaskan dirinya"lirih Arsa menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruangan itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1