RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Dusta


__ADS_3

Arin tersenyum mendengar ucapan Johan yang terdengar seperti petua.Eh tunggu..apa maksud petua itu?


"Rasanya tak mungkin jika kak Jo tahu apa yang saat ini menimpahku?"


"Aku seperti bertemu mbah dukun",Arin terkekeh pelan dan itu membuat Johan menatapnya aneh.


"Semua orang bisa melihat apa yang kau rasakan, matamu mengungkapkan perasaanmu sayang!"Johan menatap Arin dengan pandangan teduh.


Arin tersedak salivanya, mendengar ucapan Johan.Apakah betul begitu?


rasanya tidak!karena tak semua orang punya kepekaan pada perasaan orang lain.Apa lagi jika hanya bertemu sekali seperti ini, Arin yakin Johan punya kemampuan lebih membaca pikirannya atau perasaan yang saat ini ia rasakan.


"Ayo kak antar aku pulang, aku betul-brtul lelah!"Johan mengangguk.


Singkat cerita mereka sudah berada di rumah Johan, seperti permintaan lelaki itu untuk tidak pulang ke rumah sang ibu.karna wanita paruh baya itu akan kepikiran pada Arin.


Johan membawa tas Arin menuju kamar tamu di lantai dasar, sedang lelaki itu menempati kamar di lantai dua.


"Tidurlah ini sudah malam, dan kau terlihat sangat lelah"Johan mengacak rambut Arin seraýa berlalu dari hadapan wanita cantik yang masih tetmangu di depan pintu kamar tamu.


"Lelaki itu bersikap seolah-olah kami sangat dekat"guman Arin dalam hati.


Wanita cantik itu gegas masuk ke kamar yang disediakan untuknya, ia segera menuju kamar mandi, setelah mengunci pintu kamar terlebih dahulu.


Arin meringis setiap pergelangan tangannya tersentuh air hangat dengan sabun cair aroma rempah, yang ia gunakan untuk berendam di bathtub.Wanita cantik itu merasa gerah dengan tubuhnya, yang dua hari tak merasakan segarnya air mandi.


Arin sudah selesai membersihkan diri dan merilexkan pikirannya, walau terus terang ia masih takut jika bertemu Arsa dan Tanti yang bersikap zolim padanya.


Entah bagaimana sikap dua manusia luknut itu jika tahu dirinya berhasil kabur dari rumah yang sudah bagai neraka baginya.


Arin membaringkan tubuhnya di ranjang empuk di ruang tamu rumah Johan, wanita cantik itu mulai berpikir jika esok ia bertemu keluarga Johan.Apa yang harus ia katakan?tak mungkin ia menceritakan perihal suaminya dan saudara angkatnya yang gila itu.Lelah mencari jawaban untuk esok hari jika bertemu keluarga Johan, wanita cantik itu akhirnya tertidur pulas.


Matahari mulai menyapa setiap kehidupan di bumi, tak luput sebuah rumah kecil yang baru saja kemarin dijadikan tempat pernikahan sirih.Yang saat ini pasangan luknut itu masih terlelap di kamarnya.


Beberapa saat sepasang mata mengerjap, menatap lelaki tampan di sampingnya yang masih pulas tertidur.Wanita yang tak lebih cantik dari Arin itu tersenyum smirk, wajahnya mendekat ke arah sang lelaki.

__ADS_1


"CUP"


Sebuah kecupan selamat pagi ia hantarkan di pipi suami sirihnya, ia sengaja melakukan itu untuk memanasi hati wanita yang saat ini ia pikir masih terikat di kursi rias.


"hhhaaahh..."Arsa menguap karena ia masih sangat mengantuk.Namun kecupan basah di pipinya mengusik tidurnya.


"Aku masih mengantuk beb"suara serak khas bangun tidur itu terdengar sexy di telinga Tanti.


Arsa mengerjap ketika tangan Tanti kembali mengusiknya.Arsa reflek menatap ke arah kursi rias yang berada di belakang tubuh istri sirihnya.Kosong...


"Kemana Arin?"Arsa terduduk dan matanya menelisik penjuru kamar.


"Aa aariin?"Tanti reflek memutar tubuhnya ke belakang, matanya melotot melihat kursi rias yang sudah tak berpenghuni, tali yang digunakan untuk mengikat tangan dan kaki Arin sudah teronggok di lantai.


"Brengsek..wanita sundal itu melarikan diri beb!"Tanti gegas turun dari ranjang


Arsa mengekor istri sirihnya mencari Arin di setiap sudut rumah.Namun nasib buruk bagi mereka karena Arin tak dapat mereka temukan.


"Arin pasti pulang ke rumah ibu beb!"


"Kita harus segera ke rumah ibumu, kita lihat apakah Arin ada di sana!"


Ditempat berbeda seorang wanita cantik terlihat pasrah karena titah lelaki yang semalam membawanya bermalam di rumahnya.


"Tetaplah di sini dulu, jangan pulang ke rumah ibu saat ini!"


"Tapi kenapa, itu rumahku!"


"Aku tak bilang itu bukan rumahmu, aku hanya ingin kau tak pulang dulu saat ini!"


"Aku minta kau turuti ucapanku kali ini!"


"Kau tak bilang jika kau hanya sendiri di rumah ini, maksudku hanya dengan bibi"


"Jika aku bilang, kau tak akan mau menginap di sini, sudahlah kau turuti ucapanku, nanti kau akan mengerti dengan sendirinya"Johan bersiap untuk sarapan pagi, berdebat dengan Arin membuatnya lapar, lelaki tampan itu menatap wanita cantik yang masih menatapnya dengan wajah cemberut.Johan tersenyum simpul melihat wajah Arin yang terlihat mengemaskan.

__ADS_1


"Kau tak lapar?ayo makan kita akan main detektif-detiktifan dan itu perlu tenaga dan pikiran"


Arin terpaku mendengar ucapan Johan, wanita cantik itu akhirnya ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan pemilik rumah.


"Apa maksudmu?"Johan tak menjawab rasa penasaran wanita cantik di hadapanya.Ia hanya tersenyum simpul menatap wanita cantik yang terlihat mengemaskan di matanya.


Beberapa menit kemudian, Arin dan Johan sudah berada di depan pagar rumah Dewita, ibu kandung dari Arin.


"Itu mobil siapa mas?"


"Tugasmu tetap di mobil ini sembari mengawasi rumah ibu, aku akan masuk ke rumah ibu, untuk memastikan apa yang aku pikirkan semoga tidak terjadi!".


"Untuk mobil itu, itu milik saudari angkatmu!"Johan berlalu setelah menjelaskan kepemilikan mobil berplat putih di halaman rumah ibunya.


Arin tersentak mendengar prnjelasan lelaki jangkung yang sudah mrmasuki halaman rumahnya, dan mulai tetlihat masuk ke dalam teras belakang.


"Apa yang dilakukan mas Arsa dan kak Tanti di rumah ibu?"


"Apa mereka akan menceritakan pernikahan sirih mereka?"


"Apa mereka berniat minta restu, atau sekedar mencariku ke rumah ibu?"


Berbagai tanya memenuhi benak wanita cantik yang duduk di kursi belakang mobil, setelah Johan keluar dari mobil itu.


Johan mulai bergerak mendekat ke pintu samping menuju dapur, lelaki jangkung itu berjalan pelan menuju dapur untuk melihat apa yang dilakukan Arsa dan Tanti di rumah Dewita.Lelaki tampan itu terpaku di belakang pintu dapur yang menuju ruang makan.


"Maafkan kelakuan Arin nak, ibu tak pernah menyangka jika putri ibu bisa melakukan itu!"terdengar suara isak tangis Dewita.


"Sudah bu, jangan terlalu dipikirkan!saya tak mau ibu jatuh sakit karena kelakuan Arin!"Terlihat Tanti mengelus pundak Dewita.


"Nak ibu berterima kasih kau sudah membantu nak Arsa mencari Arin, tapi jika Arin memutuskan untuk lari dengan lelaki lain, ibu restui jika kau mau menjadi penganti Arin.Menikahlah dengan Arsa nak!"


"DEG!!!!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2