RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Hamil


__ADS_3

Dari atas gedung tepatnya di lantai 4, nampak seorang pria menyaksikan para karyawan yang keluar dari gerbang perusahaan yang terlihat lebih kecil.Lelaki itu menarik nafas lega melihat pemandangan di bawah sana.


"Aku tak bisa pulang seperti mereka hari ini, laporan akhir tahun harus segera diselesaikan sebelum papa datang di awal tahun untuk mengecek semua hasil kerja perusahaan" gumanan yang terdengar seperti keluhan.


"Bagaimana kabarnya, cukup lama aku tak melihatnya?"lelaki itu terlihat tercenung memikirkan sesuatu.


Lelaki itu menatap ponsel berwarna hitam yang berdering di atas meja kerjanya, kakinya bergerak mendekati meja dan dalam hitungan detik benda pipi itu sudah beralih di genggamannya.


"Waalaikumsalam.."


"Baik...masih di kantor"lelaki muda itu menghempaskan bokongnya di singgasananya, matanya terpejam sembari mulutnya menjawab pertanyaan orang di seberang sana.


-


-


-.....


"Iya....waalaikumsalam"pembicaraan itu terputus dan kembali ia memeriksa berkas-berkas di atas meja kerjanya.


Di tempat berbeda Arin baru saja tiba di rumahnya, suasana rumah nampak sepi membuat wanita cantik itu berjalan masuk ke dalam kamarnya.Ia tak melihat sang suami di ruang tamu ataupun ruang kerjanya.Pikirannya hanya satu suaminya sedang beristirahat.Arin tersenyum melihat sang suami terlihat pulas tertidur.


Arin mendekati sisi ranjang, ia melihat wajah lelap sang suami.wanita cantik itu tersenyum seraya mengelus lembut kening Arsa.


"Kalau kau begini terlihat manis mas" guman Arin dalam hati.


Arin menarik tangannya ketika mata Arsa mengerjap lelaki tampan itu tersenyum tipis.


"Dek...kau sudah datang?"Arin hanya tersenyum membalas ucapan suaminya.


"Aku mandi dulu ya mas"Arsa mengiyakan seraya turun dari ranjang.


Waktu terus berjalan cepat, Arin dan Arsa sudah selesai dengan makan malamnya. Arin terlihat sibuk membereskan dapur, sedang Arsa sudah masuk ke dalam kamar kerjanya.


Selesai membereskan dapur Arin masuk ke kamar, ia melakukan perawatan rutin pada wajahnya, mencuci wajah dan menggunakan cream malam, hanya sebatas itu yang ia lakukan ia tak seperti perempuan lain yang bisa berjam-jam di salon untuk melakukan perawatan. Kalaupun keluar rumah ia hanya menggunakan sunblock dan lip balm saja.


Arin tersenyum usil ia menuju lemari pakaian melihat beberapa gaun malamnya.Tangannya meraih lingerie berwarna maroon yang merupakan hadiah dari ibu mertuanya saat pernikahan.

__ADS_1


"Nggak apa kan jika malam ini aku merayu suamiku?"Arin berguman dalam hati.


Beberapa menit kemudian ia mematut diri di hadapan cermin, tubuh sintalnya terlihat mengoda.ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa yang ada pikirannya akan terjadi.


Satu....dua...tiga jam, sampai mata wanita cantik itu meredup sang suami belum juga masuk ke dalam kamar tidur mereka, terpaksa Arin beranjak untuk mendatangi sang suami di kamar sebelah, kamar yang lebih sering digunakan untuk suaminya bekerja.


Mata Arin yang semula meredup terbuka lebar, hatinya mencelos melihat sang suami yang pulas tertidur di sofa pajang dengan suara dengkurannya.


Arin bergerak meninggalkan kamar itu menuju kamarnya, ia segera menganti pakaian haramnya yang sepertinya memang tak harus ia kenakan.


Waktu menunjukan pukul 1 malam, wanita cantik itu akhirnya terlelap karna lelah berpikir.Sikap suaminya yang seperti menghindari dirinya terasa sekali di saat malam datang ke peraduan.


Tak terasa sudah seminggu sejak peristiwa tabrakan itu, sikap Arsa masih saja seperti itu pulang larut bahkan terkadang tidur di kantor karna ada lembur yang tak bisa ditunda.Bagi Arin itu sudah biasa dan ia diharuskan memaklumi kesibukan sang suami.


Hari masih subuh ketika samar-samar Arsa mendengar suara berisik yang cukup menganggu.Arsa menengok tempat tidur di sebelahnya... kosong?, suara seperti orang muntah itu kembali terdengar hingga lelaki itu akhirnya bangun hanya mengenakan boxer.


"Kamu kenapa sayangku?"Arsa terlihat panik melihat sang kekasih yang terlihat pucat dengan airmata yang luruh di wajahnya.


"Perutku terasa mual beb"


"Tunggu beb, aku ambil air minum dulu ya"Arsa gegas menuju dapur dan tak lama ia datang dengan segelas air putih di tangannya.


Setelah minum air putih itu nyaris setengah gelas, Tanti mengikuti saran Arsa untuk menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Bagaimana masih mual?"Tanti menggeleng.


"Perlu ke dokter, aku akan minta izin hari ini jika kau mau ke dokter"usul Arsa.


"Nggak usah beb..."lirih Tanti.Wanita itu seperti berpikir.Ada ketegangan di wajahnya saat pikiran itu terlintas.


"Ada apa?"Arsa melihat kecemasan pada sorot mata sang kekasih.


"Beb jika.."Tanti menghentikan ucapannya, matanya terlihat berembun.Arsa semakin bingung dengan sikap sang kekasih.


"Jika apa sayang..bicaralah!"


"Jika aku H a m i l..bagaimana?"

__ADS_1


"DEG!!!"


Arsa tersentak mendengar ucapan sang kekasih, ia menatap Tanti dengan pandangan aneh.


"Beb kalau kau tak ingin bayi ini, aku akan menggugurkannya"suara Tanti terdengar bergetar.


"Tidak..kita akan merawatnya, dia anak kita sayang buah dari cinta kita, kau harus menjaganya"Tanti mengerjap mendengar ucapan Arsa, ia pikir Arsa akan menolak jika ia hamil, ternyata malah sebaliknya. Kekasihnya memang sangat bertanggung jawab atas dirinya.


"Terimakasih beb.aku senang mendengar ucapanmu"Tanti memeluk erat tubuh Arsa yang masih belum mengenakan pakaian, karena semalam mereka tak henti mendayung nikmat dunia.


"Bersiaplah kita akan memeriksakan kandunganmu!"titah Arsa tak mau dibantah.


Beberapa jam kemudian mereka telah tiba di rumah sakit, setelah menunggu antrian di bagian Obgyn atas nama Ny.Tanti dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.


Seorang dokter wanita paruh baya tersenyum ramah dan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.


"Silahkan bun, kehamilan pertama ya?"Tanti tersenyum dan mengangguk, ia duduk setelah Arsa menarikkan kursi untuknya.


Dokter itu mulai melakukan serangkaian pemeriksaan begitu Tanti sudah berbaring di ranjang, setelah sebelumnya sang dokter mengajukan beberapa pertanyaan seputar masa haid Tanti.


"Bun lihat ini, titik sebesar biji jagung ini adalah embrio atau calon janinnya"Tanti dan Arsa memperhatikan apa yang ada di monitor yang ditunjukan sang dokter.Tanti meremas tangan Arsa erat.Lelaki yang setia berdiri di samping ranjangnya sedari ia berbaring untuk diperiksa.


"Usianya masih 7 minggu, masih sangat rawan, kurangi aktivitas yang membuat lelah ya!"peringatan dokter diangguki oleh Tanti dan Arsa.


Satu jam kemudian Tanti dan Arsa sudah berada di dalam mobilnya, mobil baru milik Tanti dari Arul.Sepanjang keluar dari rumah sakit sikap Tanti terlihat manja pada sang kekasih.Jari tangan keduanya begitu erat saling bertaut.


"Kita libur saja untuk hari ini, toh tadi pagi kita sudah sama-sama izin"guman Arsa lirih.Tanti mengiyakan ucapan Arsa dan kembali menyandarkan kepalanya di lengan sang kekasih.


"Beb kau bahagia dengan kehamilanku?"


"Tentu saja sayang, kenapa kau bicara begitu?"Tanti mengelus perutnya yang masih rata, dan Arsa melihat hal itu.


"Beb mari kita menikah, aku tak mau anak kita lahir dalam keadaan kita seperti ini!"


"DEG!!"


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2