RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Tawaran Arul


__ADS_3

Weny merupakan asisten kepercayaan Pak Daniel Ahmad.Ia putri dari sahabat ayah Johan.Bukan semata karena persahabatan orangtuanya, Weny direkrut menjadi asisten Pak Daniel hingga sekarang menjadi asisten Johan. tapi memang Weny lulusan terbaik dari luar negeri.Dan Pak Daniel menyukai cara kerjanya yang cekatan dan teliti.


"Silahkan keluar Wen, jika sudah tak ada urusanmu disini!"titah Johan kalem.Lelaki itu memang tak mau terlihat kejam seperti CEO lain, bawaan Johan selalu kalem dan tenang.


"Baik pak, permisi"Weny keluar dari ruangan sembari tersenyum manis.Wanita cantik itu tidak langsung menuju ruangan kerjanya, namun Weny menuju pentry membuatkan kopi kesukaan Johan seperti biasanya.


"Permisi pak!"Weny masuk kembali ke ruangan Johan dengan nampan berisi secangkir kopi hitam kesukaan Johan, wanita yang menjabat sebagai


asisten itu sudah hapal takaran gula dan kopi kesukaan sang bos.


Johan hanya melirik sekilas dan melanjutkan memeriksa berkas yang sebelumnya sudah diperiksa Weny.


"Kopinya pak"Weny meletakan kopi beraroma menenangkan itu di meja kerja Johan, lelaki itu menghirup aroma yang ia sukai dan terlihat memejamkan matanya. Weny tersenyum samar melihat wajah ganteng Johan yang selalu membuatnya berdebar.


Tangan besar Johan meraih pegangan cangkir berisi kopi panas, dihirupnya kembali wangi kopi itu lalu disruputnya pelan.


"Nikmat sekali Wen"Weny hanya mengangguk pelan dan gegas pamit ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Saya permisi pak"


"Wen sebentar...bagaimana dengan proyek yang kau tangani di Malaysia?"


"Sejauh ini berjalan lancar pak, dan kita dapat untung besar dari proyek itu"Weny kembali mengembangkan senyum manis di bibirnya.Wanita cantik itu seakan ingin memamerkan lesung di pipi kirinya.


"Alhamdulillah..terimakasih Wen, kau pantas jadi kebanggaan papa!"Johan mengacungkan jempolnya untuk memuji kinerja Weny.


"Jadi bapak nggak bangga sama saya?"

__ADS_1


"Maaf bukan begitu, tentu saja saya bangga punya anak buah berbakat sepertimu!"aku Johan.Ya tak dipungkiri jika Johan sangat berterimakasih atas kenerja Weny yang sangat baik untuk kemajuan perusahaan.


"Aku akan memberimu bonus Wen, tenang saja"Weny mengerjap dengan wajah berseri mendengar kata bonus dari Johan.


"Saya tunggu realisasi bonusnya pak, dan boleh saya meminta sesuatu sama bapak?"


"Boleh silahkan, kau mau apa naik jabatan?"seloroh Johan tersenyum.Lelaki itu terkejut melihat Weny menganggukan kepala.


"Baiklah kau mau naik jabatan jadi apa?"


"Tidak sekarang pak, masih proses ini.Yang penting bapak setuju dulu"


"Aku setuju saja Wen"aku Johan jujur, walau ia pasti akan kelabakan jika Weny tak lagi menjadi asistennya.


"Janji!"Weny menyorongkan jari kelingkingnya kehadapan Johan sembari tersenyum manis, Johan meraih jari kelingking nan lentik milik Weny, hingga bertaut dengan jari kelingkingnya yang lebih besar dan panjang.


Johan segera membuang pandangannya begitu mata mereka bersirobok cukup lama, lelaki itu tak mau melihat sinar mata bening milik Weny yang seperti berusaha menjeratnya.


Kita tinggalkan Johan dan asistennya, kita kembali pada pria tampan yang ditinggal istri sirihnya berlibur di Bali dengan selingkuhannya.


Saat ini Arsa terlihat menikmati kesepiannya saat pulang bekerja.Suasana rumah yang berantakan membuat lelaki itu pusing kepala.Jika dulu bersama Arin, ketika ia pulang ke rumah sudah terlihat rapi dan makanan terhidang di meja makan.Kali ini ia harus membersihkan rumah sendiri.Dan setelahnya ia memesan makanan via online.


"Apakah aku sudah salah menikahi Tanti, wanita itu terlihat selalu tampil ellegan dan rapi.Tapi rumahnya seperti kandang sapi, jorok dan berbau".omel Arsa sembari membereskan rumah.


"Sangat berbeda dengan Arin, wanita itu terlihat biasa tapi rumah selalu terlihat rapi bersih dan harum"Arsa mengingat kembali kebiasaan sang istri yang sudah ia sakiti.


"Kemana dia pergi, jika ia tak datang ke rumah ibu?"guman Arsa saat ia kembali mengingat tentang Arin.

__ADS_1


"Bagaimana jika Arin melaporkan perlakuan kami pada polisi.Ya Tuhan aku tak berpikir sampai ke sana, sekalipun Arin tak punya bukti tentang hubunganku dan Tanti, tetap saja aku akan jadi sorotan di kantor.Dan itu akan membuatku kehilangan muka di hadapan para nasabahku"wajah Arsa mulai kelihatan panik.


"Aku harus ke rumah ibu sekarang memastikan dimana Arin sebenarnya"lirih Arsa seraya bersiap ke rumah Dewita.


Di tempat berbeda kembali Dewita menemani sang putri yang masih berada di rumah Johan, sebenarnya Dewita ingin segera membawa Arin ke rumahnya.Tapi kembali ia teringat pesan Johan, membuat wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya.


"Aku bosan disini bu, aku tak bisa melakukan sesuatu seperti ketika di rumah"keluh Arin menatap Dewita yang sudah hendak pulang ke rumahnya.


"Nanti kita bicarakan kembali dengan Johan, agar kau bisa segera pulang ke rumah.Sebenarnya ibu pun tak enak jika kau harus tinggal di rumah ini, apa kata orang nanti jika mengetahuinya"guman Dewita lirih.


Arin mengangguk pasrah, walau sebenarnya ia tak mau mengikuti kemauan Johan.Ia sudah tak takut lagi pada dua manusia luknut itu, bahkan Arin berani jika harus melaporkan perlakuan Arsa dan Tanti pada polisi.


"Bersabar barang sehari dua hari ini ya nak"Dewita memeluk tubuh putrinya yang terasa lebih kurus.Hati wanita paruh baya itu selalu merasa sakit jika mengingat apa yang dialami putrinya.


Arin mengangguk lirih, dadanya terasa sesak mendengar ucapan sang ibu, apa lagi perlakuan lembutnya.Arin mengantarkan sang ibu sampai depan teras rumah Johan yang mewah.Ia dilarang untuk keluar dari pagar rumah oleh Johan,


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tak betah berada lama di rumah ini"


Disisi lain Arsa yang sudah melajukan mobilnya ke rumah Dewita, segaja mampir ke toko kue kesukaan ibu mertuanya itu.Setelah membeli apa yang menjadi makanan favorit sang mertua. Arsa kembali melajukan mobilnya.Sekilas Arsa mengingat kebiasaan dirinya dan Arin jika berkunjung ke rumah sang mertua, serta bagaimana sikap manja Arin padanya selama diperjalanan menuju rumah ibunya.


Sikap mereka saat itu sangat mesra.Dan Arsa menyukai semua itu, hingga akhirnya Tanti datang dan semua kebiasaan itu menghilang dan berganti rupa.Ya karna Tanti berusaha menghapusnya dengan cara yang menjijikan untuk mendapatkan perhatian Arsa.


Arsa menghela kasar nafasnya, ia merasakan setitik rasa bersalah pada sang istri.Wanita cantik yang selalu tampil sederhana.Yang saat ini entah di mana berada.


Arsa pun mengingat Tanti yang sudah dua hari ke luar kota, namun tak memberi kabar padanya.Arsa berpikir mungkin Tanti sedang sibuk dengan tugas dari kantornya, padahal Tanti sedang sibuk dengan Arul yang setiap kesempatan saling bercinta tanpa mengingat orang yang menanti mereka.


"Sayang pikirkan tentang bayi kita, mas serius ingin menikahimu.Mas sudah membeli rumah buat kita tinggali nanti"bisik Arul sembari terus menikmati tubuh berisi Tanti.

__ADS_1


Tanti mengerjap mendengar bisikan sugar daddynya, begitu sempurna perhatian dari Arul, apa lagi yang mau ia dustakan.Tanti menjadi bimbang, apa yang Arul berikan sangat menarik minatnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2