
Ustad Fadlan bukan orang biasa di mata Arin, ia lelaki istimewa yang berakhlak mulia, ia lulusan S2 dari Kairo.Apakah hal itu tidak menjadi pertimbangan bagi Arini.
Ustad Fadlan dan keluarganya, bahkan menerima status Arin yang janda tanpa anak.Kebahagiaan apa lagi yang hendak kau dustakan Marini Zumarnis.Jika menolak lelaki pilihan seperti Ustad Fadlan.Allah memberimu cobaan dengan caranya, sebagai jalan menemukan jodoh abadimu.Lelaki yang akan membawamu ke JannahNYA.
"Bagaimana nak?"Hj.Halimah mengelus lengan Arin dengan lembut.Ia ingin membantu anak kemenakannya memutuskan pilihan, tentu saja dengan ridho Allah.Setelah ia menyarankan Arin melakukan salat istikharah.
"Saya bersedia bude, menikah dengan mas Fadlan, tapi jangan dulu dikatakan pada keluarga mas Fadlan, nanti saja saat mereka kemari"
"Alhamdulillah, bude senang mendengarnya nak, seperti pembicaraan dengan pakdemu, mereka akan datang jumat nanti"
"Iya bude"ucap Arin lirih.Hatinya seketika merasa adem, setelah menyampaikan apa yang telah ia bulatkan dalam niat setelah bermunajat pada Allah, yang merupakan satu-satunya tempat ia bersandar dan bergantung atas semua cobaan hidup.
"Ustad Fadlan itu pemuda yang santun nak, bude yakin ia akan membawamu ke jannahNYA"
"Aamiin..semoga saja bude, karna tujuan hidup saya hanya itu, semoga bisa berkumpul dengan kedua orangtuaku juga"
"Aamiin..nak bude jadi merinding mendengar ucapanmu, rasanya sampai ke ubun-ubun"
Hj.Halimah memeluk tubuh Arin dengan sayang, baginya Arin sudah seperti putrinya sendiri, apalagi putra semata wayangnya saat ini tinggal jauh di negeri orang, menikah dengan wanita Jiran dan berjihad di sana.Belum tentu setahun sekali bisa pulang ke Indonesia.
"Ayo kita siap-siap untuk magrib, lalu kita nikmati makanan ini"senyum Arin mengembang mendengar ucapan lembut Hj.Halimah.
Hari berganti malam, keluarga Ustad Fadlan datang ke kediaman Ustad Fikri. Setelah menikmati hidangan makan malam yang penuh berkah.Ustad Fadlan menyampaikan kedatangannya.
"Maaf Ustad Fikri, hari ini saya dan keluarga datang, ingin menanyakan jawaban dek Arin, perihal lamaran saya?"
"Alhamdulillah, nak Arin bersedia menerima lamaran Ustad Fadlan"to the point jawaban Ustad Fikri, ia tahu Ustad Fadlan sudah berharap-harap cemas sejak berani melontarkan lamaran pada Arin.Dan kali ini ia ingin memberi kabar gembira itu tanpa bertele-tele.
"Masya Allah..benarkah begitu Ustad?"
Ustad Fikri mengangguk mantap, secara reflek ayah Ustad Fadlan memeluk tubuh Ustad Fikri.
"Alhamdulillah kita besanan Ustad, kalau begitu kita bisa tentukan tanggal pernikahannya segera"semangat ayah Ustad Fadlan, dan disambut suka cita oleh Ustad Fikti dan Hj.Halimah.Sedang Arin tetap berada di dalam kamar, ia masih malu bertemu langsung dengan ustad tampan itu, hatinya selalu berdebar tak tentu jika melihat sosok berkharisma itu.
Dilain tempat dua pria saling bersitatap, senyum mengembang dari bibir Arsa dan juga Johan.Arsa menemukan keberadaan mantan istrinya.Lewat tetangga dekat almarhumah Dewita, mereka tahu jika Arin tinggal di rumah keluarganya di luar kota.
__ADS_1
Kebetulan keluarga Arsa ada yang tinggal di daerah yang sama dengan Arin tinggal saat ini.Arsa lalu menghubungi keluarganya untuk mencari tahu keberadaan mantan istrinya itu.
Foto-foto yang di dapat Arsa dari keluarga jauhnya, dimana anaknya ada yang belajar di tempat Arin bertugas, yang ia mintai tolong untuk mencuri bidik wajah mantan istri yang sedang mengajar di madrasah.
"Masya Allah, dia terlihat sangat cantik dengan balutan pakaian muslim dan jilbab seperti ini"
"Ini benar-benar Arin?"celetuk Johan yang membuat Arsa menatap tajam ke arahnya.
"Kau pikir siapa?apa kau pikir aku berdusta!ini memang Arinku"
"Mantan istri!"
Johan mencebikan bibirnya, saat mendengar ucapan Arsa.Aneh memang dua duda itu, mereka sibuk saling meremehkan dan berharap akan mendapatkan perhatian Arin, mereka tak tahu saja jika wanita cantik itu, menjelang diujung masa jandanya.
"Aku akan ke sana, mengajukan rujuk padanya"guman Arsa dengan wajah seperti merenungkan sesuatu.
Johan hanya tersenyum smirk atas ucapan dan sikap Arsa, walau dihatinya sudah membulatkan tekad untuk lebih dulu mendatangi Arin, sebelum Arsa tentunya.
Seminggu setelahnya. . . .
"Kenapa jantungku tak bisa diajak kompromi, buat malu saja detakannya. Belum juga bertemu!"keluh Johan yang mengelus dadanya.
Saat ini lelaki jangkung itu, berada di sebuah hotel terdekat dari kediaman Ustad Fikri.Ia baru tiba dua jam yang lalu, dengan jalur penerbangan.
Johan berniat esok pagi hendak ke tempat Arin mengajar, rasanya lebih pas bertemu di sana dari pada langsung ke rumahnya.Dipikiran Jo terlalu pribadi urusannya jika sudah berkunjung.
"Besok aku akan menemuimu, setelahnya aku akan menghadap walimu untuk memintamu jadi ibu bagi Jeny"guman Jo lirih dan terlihat yakin.
Jika Jo sudah sampai di kota yang sama dengan Arin, berbeda dengan Arsa yang sibuk mempersiapkan oleh-oleh untuk mantan istrinya.Ia membelikan semua yang merupakan kesukaan Arin.
"Sepertinya ini cukup, jika masih kurang aku akan membelinya disana"guman Arsa dalam hati.
"Penerbangan besok pagi pukul 9, pukul 10 aku sudah disana dan akan langsung mendatanginya di tempat ia mengajar"
Hari menjelang pagi, seperti ucapan Johan kemarin, ia akan menemui Arin di Madrasah.
__ADS_1
Pagi ini lelaki jangkung itu sudah rapi, dengan kemeja berwarna hitam yang lengannya dilipat sebatas siku, dipadukan celana bahan berwarna krem.
"Siaaap!!!Bismillah Tawakaltu Alallah"
Guman Johan lirih, ia sengaja menggunakan jasa penyewaan mobil, ia pikir lebih efektif.
Dengan bantuan google map, Johan melajukan mobilnya menuju Madrasah Al Ikhlas, dimana Arin mengajar.
Setengah jam kemudian mobil yang dikemudikan Jo sudah terparkir di depan pagar Madrasah.Johan menenangkan gemuruh di hatinya, jantungnya yang terus berdebar membuatnya bagai melangkah di awang-awang, terasa ringan.
"Mau bertemu siapa pak?"
"Arin, eeh..Marini Zumarnis" singkat Johan menetralisir gugup di hatinya.Satpam yang bertugas seperti merenung.Di tempat ini ia biasa menyapa Ustadzah, hingga tak mengenali nama asli para pengajar.
"Baik, sebentar ya pak"penjaga keaman di Madrasah itu membuka pagar dan mempersilahkan Johan masuk menuju ruang guru.
"Assalamualaikum pak, saya bisa bertemu dengan ibu Marini Zumarnis?"Johan menyalimi seorang Ustad yang kebetulan hendak masuk ke dalam ruang guru.
"Ustadzah Arin?"Johan mengangguk.
"Silahkan masuk, ditunggu ya pak ustadzah Arin masih mengajar, sebentar saya panggilkan"
"Iya pak, terimakasih"
Johan masuk ke dalam ruang kantor.Ada dua orang guru di dalam kantor, lelaki dan wanita di tempat duduk yang berbeda.Mereka terlihat sibuk dengan sesuatu di hadapannya, namun guru lelaki itu beranjak mendatangi Johan dan menyaliminya.
"Silahkan duduk pak,hendak bertemu dengan siapa?"
"Ustadzah Arin"
"Ustadzah Arin?"lelaki tampan itu menggulang ucapan Johan, seperti menyakinkan.Wajah lelaki tampan itu mendadak berubah, seperti terbersit tak suka di sinar matanya.
****
Terimakasih pembaca setia, ini dipenghujung bab akhir.Seperti novel-novel aku sebelumnya, tidak banyak bab, karena aku pun seorang reader yang tidak suka baca novel yang panjang banget ceritanya.Salam dari aku buat kalian, selalu bahagia😘😘😘
__ADS_1
BERSAMBUNG😊