
Sudah tiga kali panggilan telpon ia lakukan, berdering.saja tapi tak diangkat.Hingga Arin meletakan hapenya di nakas kamarnya.
"Mungkin ia lembur atau sedang mandi"pikirannya mencoba rilex.
Arin merebahkan tubuhnya di ranjang yang menjadi miliknya semenjak SMP, mata Arin terpejam menikmati keheningan kamar tidurnya.
Wanita cantik itu tersentak dan gegas beranjak dari pembaringan, dering hapenya menandakan ada telepon masuk.
"T A N T I SISTER "layar sumsang berkedip memanggil.
"Rin maaf aku tadi sedang di jalan tak mendengar panggilanmu"suara wanita di seberang sana terdengar memburu.
"Kakakku ini terlalu sibuk berkarier rupanya"kekeh Arin mendengar alasan saudara angkatnya.
"Ada apa Rin?"
"Koq ada apa sih kak!, ibu tuh kepikiran kakak terus, kapan kakak ke sini!"keluh Arin panjang lebar.
Tanti terdengar mengerang, dan itu membuat Arin mencercanya dengan tanya.
"Kak..kakak kenapa?"wajah Arin terlihat tegang, pikirannya membayangkan hal negatif tentang keadaan saudara angkatnya.
"Aaahh..perutku Rin terasa nyeri, biasa lagi dapet"dusta Tanti, dan itu cukup membuat Arin percaya, karena ia tahu saudara angkatnya itu kerap kram dan nyeri perut saat menstruasi.
"Ya sudah kak istirahat saja, tolong kak tengok ibu ia sudah rindu sekali padamu!"Arin mengakhiri panggilannya dengan kembali mengingatkan sang kakak untuk datang ke rumah Dewita.
"Kak kau tahu yang menelpon itu Arin, tangan kakak malah tak bisa diam.Untung Arin tak curiga"Tanti mencubit gemas perut Arsa yang terus mengoda dirinya, hingga membuat tubuhnya geli.
"Kenapa ia menelponmu?"Arsa mendudukan bokongnya wajahnya mendadak cemas, posisinya menghadapi wanita yang hanya mengenakan lingerie sexy berwarna maroon.Terlihat jelas tubuh **** yang tak lepas dari tangan Arsa.
"Kakak takut Arin tahu tentang kita?"
Arsa menahan nafasnya, jelas ia takut tapi bukan hanya pada Arin.Ia takut imbasnya sang papa akan tahu dan berakibat fatal pada kesehatannya.
"Bukan takut pada Arin beb, tapi jika Arin tahu bukan tak mungkin papa juga akan tahu kan?, kau tahukan papa punya riwayat sakit jantung"Arsa mencoba menjelaskan pikirannya pada sang kekasih, ia tak mau Tanti berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
Tanti menghela nafas panjang, dan itu membuat Arsa merasa tak enak, ditariknya wanita yang telah menjadi kekasihnya di usia 2 bulan pernikahannya.
"Jangan marah, kau tahu aku lebih menyukai dirimu dari pada Arin"bisik Arsa lembut.
Tanti tersenyum samar mendengar ucapan Arsa, ia tahu suami saudara angkatnya ini selalu mengiyakan keinginannya.Jika ia tak sibuk dengan Arul, Arsa selalu ia minta menemani.Dan untungnya Arul tak selalu datang ke apartemennya.Apartemen yang Arul belikan atas nama dirinya sebagai ungkapan terimakasih karena merelakan Arul sebagai yang pertama memiliki dirinya.
__ADS_1
"Aku tahu kak, tapi aku tak yakin jika kakak akan memilih diriku dibanding Arin"
"Kenapa harus membicarakan Arin beb, jangan merusak kesenangan kita hemm"
Arsa mengeratkan pelukannya, hatinya mantap tak akan meninggalkan Tanti walau seperti apa status hubungan mereka.
"Kak besok aku akan ke rumah ibu"
"Jam berapa apa perlu aku antar"
"Tidak usah kak,aku datang sendiri saja.Bisa heboh jika aku datang bersama menantunya"kekeh Tanti membayangkan keterkejutan sang ibu angkat jika ia datang bersama mantu kesayangan nya.
Pagi menjelang Arin sudah bangun dan terlihat rapi, hari ini ia berencana ke pasar bersama ibunya, untuk belanja bulanan seperti biasanya.
Dengan motor meticnya wanita cantik itu membonceng sang ibu dengan kehati-hatian.Walau di garasi bertengger mobil CRV milik mediang ayahnya.Hanya perlu waktu setengah jam mereka telah tiba di pasar tradisional.Arin menjinjing tas belanjaan sang ibu dan mengekori ibunya.
"Kita makan soto mang Kus yuk! ibu lapar mencium baunya"Dewita menatap sang putri ketika mereka berada dekat warung soto yang kerap mereka singgahi jika ke pasar ini.
"Ya bu aku pun lapar mencium baunya"Arin terkekeh dan mengikuti langkah sang ibu memasuki warung.
Tak berapa lama pesanan mereka diantar, terlihat Dewita bersemangat meracik soto itu dengan tambahan kecap, sambal dan perasan jeruk limau.
"Enak Rin segar"kilah Dewita terus melanjutkan suapannya.
Setengah jam berlalu mereka bersiap meninggalkan pasar, belanjaan yang cukup banyak itu tergantung di bagian depan, cukup membuat Arin kewalahan mejulurkan kakinya.
Arin memarkirkan motornya ke teras samping, ia mengangkat belanjaan masuk ke dapur secara mengangsur dan menyuruh sang ibu duduk diam melihatnya saja sembari menikmati sebotol air mineral.
"Istirahat dulu nak nanti saja kita masaknya"suara Dewita terdengar lembut.
Arin mengangguk, ia duduk berhadapan dengan sang ibu sembari meneguk segelas air putih.
"Nak apa kalian pernah memeriksakan diri ke dokter kandungan?"tanya Dewita beberapa menit kemudian setelah Arin selesai membereskan belanjaan masuk rapi dalam kulkas .
Arin menatap ibunya bingung, ia tak paham maksud pertanyaan ibunya.Dewita yang mengerti ketidak pahaman putrinya kembali bersuara.
"Kesehatan kalian perlu diperiksa kan nak, sebelum program kehamilan"Dewita menatap putrinya dengan wajah risau, ia takut jika perkataannya menyakiti hati sang putri.
"Kami berdua sehat bu, tapi mungkin kesibukan yang membuat kami lelah dan mempengaruhi kesehatan reproduksi kami". Arin menahan sesak hatinya, semoga ibunya tak pernah tahu keadaan rumah tangganya.
"Nah itu maksud ibu, kurangi kesibukanmu nak, bagaimana mau hamil jika kalian selalu tak punya waktu untuk berdua!"sungut Dewita kesal.
__ADS_1
"Nanti aku bicara pada Arsa bu"Arin berusaha meredam pembicaraan ibunya yang semakin mendalam perihal kehamilan.Ia tak mau sampai kelepasan bicara.
"Ambil cuti bersama, pergilah honeymoon!"Arin tersenyum mendengar ucapan ibunya , yang melafal h o n e i mun.
"Iya bu nanti Arin bicarakan sama mas Arsa"kilah Arin.
"Ibuuuu!!"Dewita mematung melihat seorang gadis yang berdiri di ambang pintu dengan senyum mengembang.
Pelukan yang ia rindukan sebulan ini terbayar sudah, ujung mata wanita paruh baya itu menitik cairan bening.
"Kangeeen"Tanti gadis yang sudah sebulan ini ia rindukan mendekapnya erat sembari memberi ciuman di pipi Dewita.
"Kangen?tapi kau tak peduli perasaan ibu"keluh Dewita kesal.
Arin dan Tanti saling mengedipkan mata, begini memang sikap sang ibu jika kesal.Walau bukan kesal sesungguhnya hanya merajuk manja saja.
"Kalau ibu marah, Tanti nggak berani datang loh bu!"cengir wanita dengan tampilan modis itu.
"Bisanya kau bicara begitu, dasar anak nakal!kau tak peduli kalau ibumu mati menahan rindu!"tangan Dewita menepuk pelan pundak Tanti, membuat gadis itu mengeratkan pelukannya.
Dewita memang tak pernah membedakan perlakuannya pada kedua putrinya, ia menyayangi Tanti seperti anak kandungnya sendiri.
"Bu... lihat apa yang Tanti bawa!"plastik berlogo toko kue kesukaan Dewita tersaji di meja.
"Wah ini kesukaan ibu semua kak, culas deh"Arin mengeluarkan beberapa box kue di atas meja.
Dewita tersenyum samar melihat kebiasaan anaknya.Hatinya terasa tenang melihat kebersamaan yang hangat seperti biasa.
"Rin coba kamu hubungi suamimu suruh kemari! kita makan siang bersama!"
Arin menghela nafas dalam-dalam, semua sikapnya tak lepas dari perhatian Tanti.Saudara angkat Arin itu tersenyum mengejek sekilas tanpa ada yang memperhatikan.
"Baik bu, semoga mas Arsa tidak sibuk"Arin menjauh dari ibunya dan Tanti. Wanita cantik itu menuju kamar untuk menghubungi sang suami.
"Kasihan rumah tangga adikmu, keduanya sibuk bekerja hingga tak punya waktu berdua"keluh Dewita yang membuat Tanti memilin kasar ujung hemnya.
"Seharusnya mereka sudah memiliki momongan"
"T I D A K !!!"wajah Tanti terlihat kesal.
BERSAMBUNG
__ADS_1