RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Misi Johan


__ADS_3

Keesokan harinya di kamar pasangan sirih, siapa lagi jika bukan Arsa dan Tanti, terlihat mereka berdua sedang bersitegang.Raut wajah Arsa terlihat kesal sekali, sedang Tanti malah terlihat tak acuh.


"Pikirkan kehamilanmu!"ketus Arsa sembari menyugar kasar rambutnya.


"Tenang saja beb, baby sehat dan lagi aku hanya beberapa hari disana, aku harus ambil tugas ini demi perkembangan karier aku!"dusta Tanti.


Arsa membuang wajahnya ke arah lain, ia malas bersitatap dengan Tanti.Entah akhir-akhir ini ia merasa kesal pada wanita yang sudah ia nikahi secara sirih dihadapan istri sahnya itu.


"Lagian kau tak pernah berinisiatif membawaku berlibur, wanita hamil juga perlu hiburan beb"suara Tanti dibuat selembut mungkin.


"Kau tahu pekerjaanku tak bisa seenaknya ditinggal sepertimu, aku bisa libur jika cuti itu pun hanya tiga hari"elak Arsa, tetapi sebenarnya Arsa memang tak mau mengeluarkan uangnya untuk hal-hal seperti itu.


"Kalau begitu kau harus mengizinkan aku untuk perjalanan ini, bagiku ini bukan tugas kantor semata, tapi kesempatan menikmati hidup.Dan tentu saja itu sangat baik buat bumil dan bayinya"ucap Tanti tegas.Arsa tak menjawab pernyataan Tanti, lelaki itu memilih keluar rumah meninggalkan istri sirihnya, yang menurutnya sangat menjengkelkan tak ingat jika ia pernah kehilangan bayinya.


"Kemana dia?tapi biarlah yang penting ia tak mencegahku pergi"guman Tanti lirih.


Keesokan harinya Tanti benar-benar melakukan niatnya untuk dinas luar, tapi boong.Suami sirihnya yang masih terlena di alam mimpi, tak ia bangunkan.Wanita yang tak cantik dari Arin itu melenggang meninggalkan rumah, setelah semua perlengkapannya siap.Ia bahkan tak membangunkan Arsa untuk berpamitan.Dipikiran Tanti malas berpamitan pada sang suami sirih, nanti malah membuat ia terlambat pergi.


Beberapa menit berlalu, Arsa terjaga dari tidurnya, matanya mengerjap sempurna dan detik berikutnya mata tajam Arsa menelisik seluruh kamar.Arsa mengeluh karna tak mendapati wanita yang sudah ia nikahi secara sirih.Lelaki tampan itu bangun dari tidurnya dan beranjak mencari istri sirihnya disetiap bagian rumah.


"Brengsek ia pergi tanpa pamit!"omel Arsa seraya masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit berlalu dan waktu terus berganti.Saat ini Tanti sedang menikmati kehidupannya bersama lelaki yang sepantasnya menjadi ayahnya, namun justru lelaki itu merupakan pasangan selingkuhnya.Uang ternyata bukan hanya sebagai alat jual beli benda, namun juga bisa membeli harga diri manusia. Begitulah Tanti harga dirinya sudah tergadai oleh kertas berharga yang bernama uang.


"Yank setelah ini kita belanja ya"rengek Tanti manja sembari memeluk erat tubuh Arul.Arul membalas pelukan Tanti sembari berbisik.


Mereka berdua melalui hari dengan penuh hasrat.Keduanya sama sekali tak mau mengingat kehidupan lain selain bercinta.Puas bercinta mereka mulai mengelilingi pusat kota dan Arul tentu saja memanjakan Tanti dengan banyak membelikan keinginan wanita hamil itu.


"Sudah mas, ini banyak sekali"senyum Tanti mengembang sempurna, membuat Arul mendekapnya mesra.

__ADS_1


"Jika sayangku masih ingin sesuatu katakan saja, mas masih sanggup membayarnya"remeh Arul seraya tersenyum pongah.


"Besok saja mas,aku sudah lelah"


"Baiklah, jika lelah jangan dipaksa,mas tak mau terjadi seauatu dengan bayi kita"anjur Arul sembari menuntun Tanti dan membawa belanjaan kekasih gelapnya.Mereka naik taxi yang bersliwiran di Mall besar itu untuk kembali ke hotel.


Di sisi Lain Johan sedang menunggu antrian pasien, lelaki jangkung dengan tampilan rapi itu sengaja pagi ini mencari tahu tentang status kerja Arin di rumah sakit ini.Ia ingin Arin segera tahu statusnya agar tak ceroboh dalam bertindak.


Ketika namanya di panggil Jo segera beranjak dan masuk ke ruang pemeriksaan.


"Bapak Johansyah Ahmad!"suara perawat terdengar nyaring dari ambang pintu ruang pemeriksaan.


"Maaf bapak teman mbak Arin ya?"


Siska tersenyum senang melihat Johan.Sedang Johan terlihat mengangguk.


"Bapak tahu kabar Arin semenjak resign dari rumah sakit ini?"


Johan tersenyum samar, apa yang ia pikirkan ternyata benar.Arsa mengajukan permohonan risign untuk Arin.Lelaki itu sengaja melakukannya agar tak ada orang yang tahu, jika ia telah menganiayah sang istri.


"Jadi Arin risign..saya malah tidak tahu mbak"wajah Johan terlihat bingung.


"Iya benar, bahkan sudah nyaris sebulan"Siska terlihat menyakinkan.


"Mbak tahu alasan Arin risign?"Johan mencoba memancing pertanyaan lebih jauh.


"Tentu saja!Arin ikut suaminya yang dipindah tugaskan ke luar daerah"jelas Siska pada Johan.Johan tersenyum samar mendengarnya.Dalam pikiran Johan alasan Arsa luar biasa cerdik.Dengan alasan demikian tak ada yang akan mendatangi Arin ke rumahnya.


"Cciiih akalmu licik sekali Ar!"batin Johan.

__ADS_1


"Tapi pak Jo!kenapa nomor ponsel mbak Arin nggak bisa dihubungi ya?"


"Mungkin ganti nomor mbak"


"Pak Jo jika nanti punya nomor mbak Arin, bagi ke saya ya"wajah Siska terlihat memohon, Johan hanya mengangguk pelan seraya menuju ke dokter yang bertugas bersama Siska di ruangan itu. setelahnya Johan pamit keluar dari ruang pemeriksaan.


Johan tersenyum smirk begitu memasuki mobilnya, lelaki itu mulai melajukan mobil yang jarang ia gunakan, karena biasanya ia lebih sering menggunakan motornya.


Sesampainya di kantor lelaki itu segera menuju ruangannya.Johan menyapa asistennya yang tersenyum menyambut kedatangannya.Meja Asistennya kebetulan berada di depan ruangannya.


"Siang pak!"


"Maaf Wen saya kesiangan".aku Johan sembari melangkah ke dalam ruangannya.


Wanita yang bernama Weny itu mengekor di belakang Johan, ia ikut masuk ke ruangan CEOnya sembari tersenyum manis.


"Pak Johan tinggi banget, mana ganteng dan tajir"guman Weny dalam hati.


"Jangan melamun jika bekerja Wen, nanti kesambet"peringatan Johan terdengar bagai godaan di teliga Weny.Wanita dengan wajah cantik dan body tinggi semampai itu hanya tersenyum samar.


Johan terlihat tak acuh ketika Weny membacakan schedulenya hari ini.Ia tahu jika wanita cantik dihadapannya tak berhenti mencuri pandang padanya.


Weny merupakan asisten kepercayaan Pak Daniel Ahmad, ayah Johan.Ia putri dari sahabat ayah Johan.Bukan semata karena persahabatan orangtuanya Weny direkrut menjadi asisten Pak Daniel hingga sekarang menjadi asisten Johan saat ini, tapi memang Weny lulusan terbaik dari luar negeri.Dan Pak Daniel menyukai cara kerjanya yang cekatan dan teliti.


"Silahkan keluar Wen, jika sudah tak ada urusanmu disini!"titah Johan kalem.Lelaki itu memang tak mau terlihat kejam seperti CEO lain, bawaan Johan selalu kalem dan tenang.


"Baik pak, permisi"Weny keluar dari ruangan sembari tersenyum manis.Wanita cantik itu tidak langsung menuju ruangan kerjanya, namun Weny menuju pentry membuatkan kopi kesukaan Johan seperti biasanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2