
Beberapa belas menit kemudian, Arsa sudah rapi dengan pakaian kerjanya, begitu juga Tanti.Mereka bersiap berangkat kerja dengan kendaraan masing-masing.
"Aku menengok ibu dulu"
"Kau masih memanggil wanita licik itu dengan sebutan ibu, kau tak tahu saja niat jahatnya pada kita"
Arsa terdiam mendengar ucapan Tanti, langkah kakinya menjadi berat menuju kamar mandi, dimana Dewita berada.
"Ayo kita berangkat!beb duluan, biar aku yang mengunci pintu!"
Arsa mengangguk dan gegas menuju garasi mobil, lelaki itu tidak menyadari pergerakan Tanti yang sangat cepat menuju kamar mandi.
"Selamat jalan bu"kaki Tanti mengeser kursi kayu sebagai pijakan kaki Dewita, setelahnya Tanti tertawa terkekeh yang terdengar seram, saat mendengar suara.
"Eekkk..eeeek...!!!"
Arsa melajukan mobilnya meninggalkan rumah, setelah istrinya.Lelaki itu tak tahu apa yang akan ia hadapi saat pulang kerja nanti.
Di tempat berbeda, Arin merasakan jantungnya berdebar sangat kencang, pikirannya tertaut pada sang ibu.Entah kenapa airmatanya seperti tak bisa ia tahan.
Wanita itu menangis sendiri, ia duduk di kursi ruang makan, hatinya terasa sangat sakit.Lisannya tak sadar memohon perlindungan dan penjagaan untuk sang ibu.
Wanita cantik itu sampai tak menyadari kehadiran lelaki jangkung di ambang pintu dapur.
"Ada apa?"Arin tersentak akan kehadiran Jo, namun detik berikut ia menatap ke àrah Jo
"Aku khawatir dengan ibu?"
"Ibu baik-baik saja, ia ada menghubungiku beberapa hari lalu, kau mau melihat buktinya"Jo memperlihatkan chat dari nomor Dewita.
Entah mengapa perasaan Arin mengatakan itu bukan chat dari ibunya, hatinya terasa sakit membaca chat itu.
"Aku mau melihat ibu, aku takut sesuatu terjadi pada ibu"
"Kalau kau ke sana, kau akan membuat ibumu bermasalah!"tegas Johan pada wanita yang saat ini menatapnya dengan kesal.
"Kau seharusnya tak melibatkan ibuku dalam hal ini, kau belum tahu betapa jahatnya mereka!"
"Baiklah..aku yang akan kesana, kau tetaplah di rumah!nanti aku akan datang membawa kabar baik untukmu"senyum Johan mengembang seraya tangannya mengacak lembut rambut Arin.
__ADS_1
Wanita cantik itu menepis tangan Jo pelan, wajahnya masih cemberut.Sampai Jo pamit wajah itu masih juga tak ramah.
"Ibu..jangan tinggalkan aku sendiri!" rintihnya lirih.
Ditempat kerjanya Arsa merasa gelisah, ia merasa menyesal berlaku kasar pada ibu mertuanya, hatinya mendadak nyeri atas sikap tak sopannya pada Dewita.
"Kenapa aku harus mengikuti hasutan Tanti, wanita itu dasar.."
"Pak Arsa...pak!ada nasabah yang cari tuh!"lamunan Arsa mendadak buyar mendengar panggilan rekan kerjanya.
Arsa hanya mengangguk dan gegas menemui orang yang dimaksud, setelahnya ia pamit pada rekannya untuk turun ke lapangan.
"Zan gue jemput cuan di Sudir!"
"Ok bro..hati-hati banyak rampok.. hahaha!"ucap rekan kerja seraya tertawa.
Arsa berniat ke rumah lebih dahulu, sebelum menjemput cuan dari nasabah yang hendak menabung dalam jumlah besar.Ia merasa bersalah telah berlaku kasar dan tak sopan pada sang mertua.
Mobil Arsa memasuki halaman rumahnya, ia sempat melihat sebuah mobil berada di depan pagar rumahnya.Namun ia pikir itu mobil tamu dari tetangganya.
Lelaki itu gegas turun dan menuju pintu depan.Entah mengapa bulu di tubuhnya terasa meremang, ada perasaan tak nyaman dan takut.Namun Arsa berusaha menepis perasaannya.
"Astagfirullahaladzim..ngendat!"suara seorang tetangga Arsa, yang suara memekik karna terkejut melihat penampak di dalam kamar mandi.
"Ya Tuhan...siapa wanita ini, koq kami tidak pernah melihatnya nak Arsa?"tanya seorang tetangga yang tak mengenali Dewita.
Karena memang Dewita tak pernah keluar rumah semenjak masuk ke rumah Arsa.Dan semenjak Arsa dan Arin pindah ke rumah kontrakan itu, Dewita tak pernah berkunjung ke rumah anak mantunya, karna Arin dan Arsa sibuk dengan pekerjaan mereka.Hingga anak dan mantunya lah yang sering mengunjunginya.Sampai tak ada tetangga Arsa yang mengenali ibu dari Arin itu.
Arsa tak mampu menjawab tanya dari para tetangganya, ia hanya menangis terguguh meratapi kepergian mertuanya, yang disebabkan dirinya.
Dari semua orang yang menyaksikan kejadian tragis itu, nampak seorang lelaki yang terlihat sangat shock atas kejadian itu, tubuhnya seakan lunglai tak bertulang, lidahnya keluh tak mampu berucap sepatah kata pun.Ia merasa bersalah atas peristiwa yang menimpang Dewita, lelaki itu adalah Johan.Ia lah yang membuat rencana hingga Dewita berada di rumah Arsa.
Dan saat ini ia takut atas reaksi Arin, jika melihat sang ibu dalam keadaan tak bernyawa, serta cara pintas yang dilakukan wanita itu tak masuk dalam akal Johan.Karena Dewita bukan orang yang mudah putus asa.
Sekali lagi kepekaan Johan tak bisa mengalahkan ikatan batin antara ibu dan anak.
Disisi lain Arsa terus meratap dengan suara isak tangisnya."Ibu ..bangun bu, maafkan Arsa bu"isak tangis Arsa terdengar pilu di telinga para tetangga. Saat ini Dewita sudah di baringkan di ruang tamu di atas kasur kecil.
Para tetangga mulai sibuk mengurusi jenasah Dewita.Mereka sama sekali tak berpikir negatif pada Arsa, mereka berpikir Dewita mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara ngendat.
__ADS_1
"Siapa wanita ini nak Arsa, apa dia keluargamu?"
Arsa akhirnya mengangguk, setelah banyak tanya dari para tetangganya yang tak ia respon.
kenapa aku tak pernah melihat wanita ini keluar rumah?"batin tetangga Arsa yang rumahnya terbilang lebih dekat dengan Arsa.
"Apakah ia punya masalah yang berat sampai mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini?"
Arsa hanya menggeleng pelan tanpa bersuara, ia masih menangis terisak karena hal itu sungguh membuat penyesalan di hatinya.
Beberapa jam kemudian, Johan menuju mobilnya, ia menghela nafas panjang sebelum melajukan mobilnya.Hati lelaki itu kembali merasa nyeri, ia tak tahu bagaimana bicara pada Arin nanti.
Suara ponsel Johan berdering cukup nyaring, lelaki jangkung itu seakan enggan mengangkat panggilan dari asistennya.Ia tahu Weny pasti akan banyak tanya kenapa ia belum juga sampai di kantornya.Johan mengetikan sesuatu di ponselnya, dan gegas mematikan ponselnya.
Arin gegas berlari keluar rumah, ketika telinganya menangkap suara deru mobil memasuki halaman rumahnya.
Namun jantungnya kembali bergemuruh kencang, ketika netranya menangkap pergerakan tubuh Johan yang lemas.
Nafas wanita cantik itu tercekat begitu melihat genangan bening di pelupuk mata Johan.
"Ibu...aku mau bertemu ibuku sekarang!" tangis Arin pecah seketika, hatinya mendadak hampa.Ia merasa ada yang hilang dalam hidupnya.
"Maafkan aku"lirih Johan dengan mata berkaca.
Arin gegas menaiki mobil peninggalan ayahnya, namun raga wanita itu seketika melayang karena Jo langsung membopongnya dan medudukannya di kursi depan mobilnya.Wanita cantik yang wajahnya berlinangan airmata itu menatap tajam ke arah Johan.
"Dari awal aku tak pernah setuju dengan rencanamu!"
Ucapan Arin bagai sembilu menusuk jantung Johan, lelaki itu membeku seketika, entah ia seperti kehilangan kepekaan karena kejadian ini.Ia menjadi berpikir lamban hingga tak sadar Arin telah keluar dari mobilnya.
lelaki itu tersadar ketika mobil CRV berwarna gelap itu melaju kencang, meninggalkan kandangnya.
Johan segera menyusul mobil yang melaju diatas rata-rata, yang di kemudikan Arin, ia tahu wanita itu jarang menggunakan mobil almarhum ayahnya. Ia takut terjadi sesuatu pada wanita yang mulai menghantui pikirannya itu.
Mobil Arin memasuki halaman rumah yang terlihat ramai oleh para warga, mata wanita cantik itu menatap nanar bendera putih yang melambai di depan pagar. Jantungnya mendadak berhenti berdetak, sukmanya seperti terbang meyaksikan raga wanita kesayangannya yang terbaring dengan menutup matanya rapat.
"Ibuuuu!!!"
BERSAMBUNG😊
__ADS_1