
Sehari sebelum hari H pernikahan Tanti dan Arsa, Arin masih dikurung di dalam kamar tapi bersyukurnya tangan dan mulutnya tak lagi terikat.
Sore ini Arsa pulang kantor langsung ke rumahnya, ia harus membicarakan perihal pernikahannyan pada sang istri, ia tak mau Arin membuat masalah dihari pernikahannya.Walau Arin sebenarnya tak peduli lagi semua hal yang menyangkut sang suami dan selingkuhannya.
"Aku ingin bicara padamu!"ucap Arsa begitu ia masuk ke dalam kamar.
Dimana Arin sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.Wanita cantik itu menatap sekilas pada sang suami, walau sebenarnya ia enggan, tapi ia harus mulai membuat Arsa percaya jika ia sudah menerima sikap suaminya.
"Besok aku akan menikah dengan saudarimu, aku akan menikahinya secara sirih di rumah ini, berlakulah baik padanya karena ia akan menjadi madumu!"titah Arsa hanya diangguki kepala oleh Arin.
Tak ada rasa terkejut, apa lagi sakit hati pada diri wanita cantik itu.Sungguh perasaan cinta bahkan sayang pun sudah lenyap dalam hatinya, untuk lelaki yang berdiri di hadapannya dan masih berstatus sebagai suami sahnya.
Arin berharap ia bisa meninggalkan rumah ini saat mereka sibuk dengan acara pernikahan mereka.
"Kamar ini akan menjadi kamar pengantin kami, itu permintaan saudarimu!"
"DEG!"Arin mengepalkan jari tangannya, sungguh kelakuan mereka berdua sangat zalim.Entah balasan seperti apa yang akan mereka terima nanti dari Yang Maha Kuasa.
Arin tak menyahut, wanita itu hanya diam menatap suaminya yang berjalan menuju pintu kamar, namun belum sampai ambang pintu Arsa kembali berucap, dan itu sangat melukai hati Arin.
"Besok pagi saudarimu akan datang membawa keperluan untuk merias kamar pengantin ini, dan ia memintamu membantunya"
"Kalian manusia celaka, Allah akan memberi balasan setimpa atas perlakuan kalian!"batin Arin kesal.Jika ia memiliki ponselnya ia pasti sudah menghubungi rekan kerjanya atau siapa yang ia kenal, kecuali ibunya.Ia akan meminta pertolongan untuk bisa keluar dari neraka ini.
"Cklekk!"suara pintu dikunci dari luar terdengar samar dipendengaran Arin, yang memang sudah terbiasa ia dengar.
Ia bingung saja kenapa Arsa tak menceraikannya, dan mengusirnya dari rumah ini, semua akan jadi lebih mudah baginya dan Arsa, bukankah seharusnya begitu?.
__ADS_1
Arin tak akan mengemis cinta pada lelaki yang sudah merendahkannya.Tapi aneh suaminya itu seperti enggan melepaskan dirinya. Hingga harus sibuk datang ke rumah ini hanya untuk membuka dan mengunci kamar serta memberi ia makan dua kali sehari.
Arin menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, ia bersyukur sudah dua hari ia tidak lagi diikat seperti biasanya, hingga ia bisa melaksanakan kewajibannya pada Sang Pencipta.Sebelumnya ia hanya bisa menangis karena ia tak bisa melaksanakan kewajibannya, hanya dzikir yang ia mampu lafazkan untuk mengurangi rasa takutnya pada Allah karena tak mampu menunaikan kewajibannya.
Malam itu Arin kembali sendiri ia bersyukur jika Arsa tak ada di rumah.Ia bisa bebas bergerak, walau sungguh sulit untuk bisa keluar kamar.Untuk berteriak ia masih memikirkan malu pada tetangga, ia hanya ingin keluar dari rumah ini tanpa masalah, biarlah Allah yang memberi perhitungan pada mereka yang zalim.
Arin menyusun rencana dalam pikirannya, agar ia bisa keluar dari rumah ini disaat orang sibuk pada acara pernikahan besok, semoga saja Arsa tak mengunci kamarnya, karena kamar ini akan jadi kamar pengantin, jadi mustahil jika Arin besok berada di kamar ini.
Dalam keadaan lelah berpikir wanita cantik itu tertidur lelap, hingga tak sadar waktu sudah menghantar kesepertiga malam.
Suara pagi menjelang, Arin tahu jika saat ini sudah pagi walau tak ada jam atau jendela, karena kisi-kisi yang berfungsi sebagai jendela itu menandakan hari berganti pagi, karena sinar yang masuk lewat celanya ke dalam kamar, juga kicau burung yang terdengar riuh di seputar kamar.
Arin tersentak setelah ia baru keluar dari kamar mandi, melihat saudara angkatnya sudah duduk nyaman bersilang kaki di pinggir ranjang.
"Bagaimana kabarmu Rin?kau terlihat santai menjelang pernikahan kami"ejek Tanti dengan senyum sinis.
"Angkuh sekali kau, kita lihat saja sekuat apa dirimu!"cibir Tanti.
"Ini hiaslah kamar ini seindah mungkin, jika kau menerima pernikahan kami, atau kau sakit hati karena kak Arsa lebih mencintaiku jadi kau akan membuat kamar ini tak layak untuk malam pertama kami!"Tanti menendang ringan plastik besar di lantai yang ia bawa, yang berisi semua keperluan dekor untuk menghiasi kamar pengantinya.
"Aku akan menghadiahkan kamar penganti seperti yang kau mau!"suara Arin terdengar dingin.
"Ckleeek!"pintu kembali dikunci dari luar, setelah wanita ular itu keluar dari kamar.
6 jam kemudian kamar telah terlihat bagai kamar pengantin, walau tak mewah tapi terlihat cantik.Arin mulai mendengar suara-suara ramai di luar kamar.
"Ya Allah mereka tetap mengunciku di kamar ini selagi pernikahan itu terjadi di rumah ini"batin Arin pilu, rencananya untuk kabur buyar sudah.Ia tak menyangka mereka akan sedemikian tega padanya, tapi semua itu sudah bisa terlihat, jika mereka bukan manusia bermoral.
__ADS_1
"Sungguh kalian tak punya hati! sepertinya hati kalian sudah tertutup oleh naf su!" guman Arin lirih.Wanita cantik itu akhirnya duduk di kursi rias sembari menunggu pintu terbuka.
Hari menjelang sore, acara pernikah sudah siap dilaksanakan, Arsa duduk berdampingan dengan Tanti, mereka berdua mengenakan pakaian pengantin, senyum keduanya merekah menandai kebahagian hati masing-masing.
"Sah!"ucapan yang terlontar dari dua saksi yang ada menandakan akad nikah itu sudah terlaksana.Satu jam setelahnya, penghulu dan saksi pamit undur diri.Arsa dan Tanti berpelukan menikmati status baru mereka.
"Babe akan menuruti kemauan aku kan?"Arsa mengangguk.dan mendekap erat tubuh Tanti.
"Bentar beb, aku siapkan air minum dulu buat kita, biar lebih rilek malam pertamanya"Tanti tersenyum genit sembari tangannya mengelus dada Arsa lembut.
"Iya sayangku, aku kebetulan haus nih"Arsa mendudukan bokongnya di sofa ruang tamu.
"Beb lakukan sekarang gih"Arsa mengangguk seraya menghabiskan air dalam gelas yang disodorkan istri sirihnya.
Lelaki tampan itu bergerak menuju kamar.
Tanti tersenyum smirk melihat suami yang baru menikahi sejam yang lalu, bergerak masuk ke dalam kamar penganti mereka.
"Kau akan merasakan sesakit apa perasaanku, ketika melihatmu menikah dengan kak Arsa, dan mendengar suara laknat kalian dimalam itu!"geram Tanti dengan wajah menakutkan.
"Eh..apa maksudmu mas?kenapa kau mengikatku lagi!"Arin berusaha berontak ketika Arsa kembali mengikat tangannya, tapi kali ini di kursi rias.dan gilanya kali ini kakinya pun ikut di ikat.Tak lama Arsa mencari kain yang ia gunakan untuk mengikat mulutnya.
"Diamlah dan lihat saja apa yang harusnya kau lihat!"suara Arsa terdengar dingin.
"Lihat apa?, apa maksud mas Arsa?..Ya Allah jangan sampai mereka melakukan hal itu padaku"Arin mengeleng lemah.
BERSAMBUNG
__ADS_1