RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Bertemu Johan


__ADS_3

"Beb tadi kamu bilang ada yang mau kamu sampaikan.Apa itu?"


"Itu beb kamu nggak usah mikir masalah di rumah ibu, aku janji nggak akan membuat Arin hamil, aku selalu main aman.Kemarin itu saja karna nggak enak sama ibu, janji setelah itu nggak akan lagi"dusta Arsa meredam kecemburuan Tanti.


Di rumahnya Arin terduduk lesu, chat dari sang suami yang mengatakan tak bisa pulang karena lembur cukup membuat gores luka di hatinya.


"Aku kira kau sudah berubah mas"isak tangis mewarnai kamar yang selalu sepi itu.Arin tak paham sebegitu pentingnya pekerjaan suaminya.Haruskan ia mencari tahu seperti apa pekerjaan pegawai bank?.


Hari menjelang subuh Arin sudah duduk bermunajat sedari tahajud tadi di sepertiga malam.Airmata wanita cantik itu berderai saat bermohon pada RobNya.Ia bukan wanita yang sanggup berbagi kesedihan pada sang ibu, apa lagi pada teman.Hanya pada pemilik diri ia mengadukan masalahnya.


Di tempat berbeda Arsa dan Tanti berbagi selimut.Tak selang lama mata Tanti mengerjap, ia terseyum melihat wajah tampan Arsa yang begitu dekat dengan wajahnys.Bahkan ia merasakan hembusan halus nafas Arsa.


"Aku mrncintaimu.."gumanan lirih Tanti, ia menduselkan kepalanya lebih dalam ke pelukan Arsa, gerakan yang Tanti lakukan membuat Arsa terbangun.


"Jam berapa sayang?"


"Masih pukul 5 mungkin lewat"


Kegiatan semalam kembali terulang pagi itu, mungkin mereka tak akan berhenti jika tak harus bekerja.


"Beb nanti malam kau pulang kesini ya, aku mau kamu selalu menemani aku" rengek Tanti manja.


"Iya sayangku" kecupan hangat di kening cukup lama Arsa labuhkan pada kekasihnya.terus terang ia tak bisa menolak kemauan Tanti, ada hal yang membuatnya harus berpikir dua kali jika menolak kemauan sang kekasih.


*****


Sudah sebulan semenjak dari rumah sang ibu, Arin tak pernah lagi berhubungan dengan sang suami, hanya 2 kali sang suami pulang ke rumah itu pun diwaktu subuh.


"Maaf dek aku sangat sibuk, ada lembur"


Alasan yang sudah di luar kepala Arin, tapi wanita itu mulai tak peduli akan sikap suaminya.Biarlah ia menjaga perasaannya dengan perubahan sikap suaminya yang bisa saja alasan sebenarnya menyakitkan untuknya.


Hubungan Arsa dan Tanti makin intens, bahkan Arsa sudah membawa sebagian pakaiannya ke apartemen Tanti.Soal Arul lelaki itu mulai jarang mendatangi Tanti karena sang istri mulai mencari tahu siapa wanita simpanan Arul.


Hubungan terlarang antara Arul dan Tanti hanya terjadi di ruang kerja Arul, karena menurut Arul itu tempat teraman.Dan semua kemelut Arul cukup membuat Tanti senang karena Sugar Daddy nya itu tak akan tahu hubungannya dengan Arsa.


Pagi ini seperti biasa Arin bertugas di rumah sakit, saat sepi pasien ia makan siang di kantin rumah sakit.


"Marini.."Senyum mengembang di bibir lelaki jangkung yang nyaris 190 cm itu.


"Iya..siapa ya?"

__ADS_1


"Marini terlalu sibuk sih, hingga tak mengenali tetangga sendiri"


"Maaf bukan begitu, aku jarang keluar rumah jika sudah pulang bekerja.Jadi maaf jarang bertetangga"Arin menunduk malu.


"Rin aku tetangga di rumah ibumu"Arin menutup mulutnya wajahnya terlihat merona.Sungguh ia malu untuk ke dua kalinya salah mengenali lelaki di hadapannya.


"Maaf.."Arin menundukan kepala dan gegas pergi.Sungguh ia tak punya muka berhadapan dengan lelaki jangkung barusan.


"Duuuh semoga tak bertemu lagi dengannya"batin Arin malu.


"Kenapa Rin"suara Siska mengejutkan wanita cantik itu, ia meringis menatap Siska.


"Aku salah mengenali orang, malunya sis"Arin menepuk jidatnya dengan ekpresi lucu yang membuat Siska tertawa.


"Minum air putih Rin biar focus"kekeh Siska yang dibalas cengiran oleh Arin.


"Masih ada pasienkah sis?"


"Masih ada 4 rekam medis yang baru diantar bagian pendaftaran".


"Oke ..biar aku yang panggil"Arin mengecek satu persatu berkas pasien, dan setelahnya melakukan panggilan pada pasien untuk pengecekan awal.


"Bapak Johansyah Ahmad!"Arin melakukan panggilan ke tiga setelah dua pasien sebelumnya ke luar dari ruang pemeriksaan.


"Silahkan masuk pak"Arin salah tingkah melihat lelaki jangkung itu tersenyum.Pemikiran Arin senyum itu mengejek kebodohannya.


"Tensi dulu pak" Arin meminta Johan mengulurkan tangannya untuk ditensi.


"J O H A N???"Arin menatap lelaki jangkung yang saat ini sedang memandangi wajah cantiknya yang alami dengan make up natural.


Lelaki jangkung itu tersenyum dan mengangguk.Wajah Arin bersemu merah membuat Johan gemas melihatnya.


"Mas Johan yang tetangga ibu?"


"Hee ehh"senyum kembali mengembang di bibir lelaki jangkung yang wajahnya terlihat sangat manis.


"Maaf mas ..saya hanya pernah denger nama mas, tapi nggak tahu orangnya" wajah Arin terlihat lucu karna tak mengenali sang tetangga.


"Eh Rin ini yang loh bilang salah orang"kekeh Siska mengejek, Arin buru-buru mendelik ke arah Siska yang masih terkekeh melihat kepanikan rekan kerjanya.Johan hanya mengulum senyum melihat sikap Arin yang lucu menurutnya.


"Silahkan mas tunggu di luar nanti dipanggil lagi untuk konsul dengan dokternya"Johan mengangguk dan segera keluar dari ruangan yang menurutnya menyenangkan itu.

__ADS_1


"Duh Sis lu malah buat aku tambah malu saja"


Arin sudah bersiap untuk pulang, ia berjalan menuju parkiran dimana motor metic kesayangannya bertengger.


"Rin sudah mau pulang?"


"Mas Jo belum pulang?"


"Nunggu hasil tes labnya"terang Johan sembari tersenyum.Arin mengangguk- angguk mengerti, memang begitu jika tes lab harus menunggu hasil minimal 1 jam.


"Rin kantin di rumah sakit ini di mana, lapar banget eh"Cengir Johan malu.


"Oh..sebelah kanan rumah sakit mas, lurus saja setelah..."


"Antar yuk ribet banget denahnya"kekeh Johan memotong penjelasan Arin.Wanita cantik itu tercenung sampai akhirnya ia mengangguk.


"Ayo mas ikuti motor aku ya!"


"Koq diikuti Rin, nggak dibonceng sekalian?"Arin terlihat bingung.


""Motor mas mana?"


"Tadi diantar sopir kantor, sekarang sudah balik"Arin mengangguk pelan dengan bibir membulat menginsyaratkan ooOO, membuat Johan tersenyum gemas.


"Mas yang bawa!"Arin menyerahkan kunci motornya pada lelaki jangkung dihadapannya.


Beberapa menit berlalu mereka duduk menunggu pesanan di kantin yang menyediakan nasi campur.


"Makan juga ya Rin, biar semangat kalau ada teman"Johan menatap intens wajah cantik wanita dihadapannya.


"Baiknya begitu ..di rumah paling sendiri dan tak bakal mikir makan"batin Arin, Arin akhirnya mengangguk yang membuat Johan tersenyum.


"Mau makan apa?mas pesani"tawar Johan dengan suara lembut, perhatian yang dulu pernah ia rasakan dari Arsa, sewaktu mereka baru menikah.


"Samain saja mas"


"Ok...mbak satu lagi ya pesanan yang sama!"Johan mengacungkan jari telunjuknya sebagai simbol satu pada pelayan yang tersenyum dan mengangguk.


Beberapa menit kemudian mereka asik menikmati nila bakar dengan lalapan dan semangkuk sayur bening.Jangan lupa segelas orange jus makanan kas kantin rumah sakit bagi kelas menengah ke bawah.


Saat selesai makan, mereka masih bersantai menurunkan nasi ke lambung.Arin mendadak teringat suaminya pernah semalaman main ke Johan.

__ADS_1


"Mas Jo malam itu waktu mas Arsa ke rumah, main apaan sih sampai subuh baru pulang?"


BERSAMBUNG


__ADS_2