RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Menyusun Rencana


__ADS_3

Itulah hubungan mereka, bagi Arin bestie terbaiknya hanya sang ibu, tempat dirinya berbagi cerita dan teman yang membarengi pengalaman hidupnya, serta penasehat yang tak bergelar sarjana hukum namun mampu menuntaskan semua masalahnya dengan bijak.


Johan hanya menyaksikan pertemuan dua ibu dan anak itu dari cela gorden, lelaki itu seakan memberi waktu pada mereka untuk saling melepas rindu, dan mengurai perasaan yang mengajal di hati dan pikiran keduanya.


"Ibu bagaimana jika kita bicara di kamarku"suara Arin terdengar serak.


"Kamarmu?sejak kapan?"Dewita tersenyum mengoda sang putri yang terlihat tersipu malu.


"Maksudku kamar yang aku tempati semalam dan itu titah mas Jo"jelas Arin dengan wajah malu.


"Kau ini, ibu kira Jo mewariskan kamar di rumahnya ini untukmu"Dewita sengaja mengoda putrinya, agar wanita cantik itu melupakan sejenak rasa sakitnya.


"Ibu ini mengoda saja, nanti kalau mas Jo dengar tidak enak"elak Arin.


Mereka beranjak meninggalkan ruang tamu untuk menuju kamar yang ditempati Arin di rumah Johan itu.


Di balik gorden Johan gegas bergerak menjauh, agar Arin dan ibunya tak tahu jika ia sedang menguping pembicaraan mereka.


"Mereka bagai kakak beradik saja, begitu akrab dan terbuka.Pantas jika Arin begitu kekeh dengan pemikirannya, jika ibunya akan bersedia ikut denganku"


Johan segera menuju ruang kerjanya, ia akan memantau pekerjaan asisten dan para stafnya dari rumah saja.


Di dalam kamar yang ditempati Arin, Dewita terkesimak memandang penampakan ruang kamar yang rapi dan mewah.


"Ini kamar siapa nak?"Dewita mulai kepo atas kamar yang membuatnya kagum.


"Saya tidak tahu bu, tapi sepertinya kamar tamu"jelas Arin.


"Kamar tamu saja semewah ini, bagaimana kamar pemilik rumah"batin Dewita penasaran.


"Sepertinya Jo sangat perhatian padamu nak"kembali Dewita mencoba mengalihkan rasa sakit hati putrinya.

__ADS_1


"Karna dia baik bu, dan merasa sebagai tetangga ibu"


"Kalian sudah cukup dekat sepertinya, hingga Jo membawamu ke rumahnya"Dewita menatap putrinya dengan sayang, dan detik berikut ia memeluk tubuh Arin dalam dekapannya.


"Kebetulan saja malam itu saya bertemu mas Jo bu, saya tak tahu jika malam itu saya bertemu orang lain, apakah saya masih hidup atau lebih hancur"


"Astagfirullah..jangan berucap begitu nak, Insya Allah kau akan selalu dalam lindunganNYA".lirih Dewita.


"Jadi apa yang akan kau lakukan setrlah ini?"


"Maaf ibu, bolehkah saya mengugat cerai mas Arsa"wajah Arin kembali sendu, matanya kembali berkabut.


"Jika kesalahan kecil suamimu menutupi kebaikan terbesar yang pernah ia lakukan padamu, silahkan agar hidupmu tidak lagi terbebani dengan ikatan pernikahan yang membawa mudarat"


Dewita mengelus kepala Arin dengan lembut, putri semata wayangnya itu masih dalam dekapannya, mereka sudah duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Saya tidak sanggup jika harus melihat mas Arsa kembali bu, rasanya terlalu sakit, begitu pula dengan wanita itu..!"suara Arin kembari tercekat, dadanya terasa sesak mengingat perbuatan keji dua manusia lucknut itu.


"Sabar dan iklaslah dengan ketentuan yang sudah digariskan untukmu, Insya Allah akan ada hikmah dari semua kejadian ini"


Dari percakapan mereka Arin tak sama sekali menceritakan secara gamblang sikap Arsa dan Tanti yang keji padanya, ia tak mau sang ibu shock dan menjadi sakit akibat mendengar semua sikap tak layak pasangan selingkuh itu padanya.


"Maaf bu, bolehkan saya yang menbantu dek Arin untuk urusan perceraiannya" Johan tiba-tiba masuk ke dalam kamar Arin dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.


Dewita dan Arin serempak menoleh ke arah suara yang mengejutkan mereka, dua ibu dan anak itu mulai mengurai pelukannya, namun tangan Arin masih dalam genggaman sang ibu.


"Mas tak usah, mereka akan semakin meyakinkan orang jika aku lari dari rumah dengan lelaki lain, maaf mas aku tak mau melibatkanmu dalam kehancuran rumah tanggaku!"protes Arin yang diangguki kepala oleh Dewita.


"Benar nak, jangan sampai mereka menggunakanmu sebagai penyebab kehancuran rumah tangga Arin dan Arsa"elak Dewita.


"Maaf sebelumnya bu, Arin!disini saya hanya membantu mencarikan pengacara handal saja, saya tidak akan terlibat secara langsung.Insya Allah aman!"

__ADS_1


"Pengacara?"lirih Arin yang diangguki Johan.


"Ya itu perlu, dan disini saya mau katakan, kita harus punya bukti perselingkuhan Arsa dan Tanti sebelum sidang perceraian dibuka, agar permohonan cerai itu segera dikabulkan hakim tanpa Arsa bisa mengelak jika ia sudah menghianati pernikahannya!"


"Begitu ya?koq tahu mas..mas Jo punya pengalaman ya?"ejek Arin yang membuat Dewita terkekeh melihat ekspresi Johan yang melotot tak percaya atas ucapan Arin.


"Amit-amit Rin, nikah saja belum pernah ..saya ini masih bujang asli ya!"sungut Johan sembari mengacak rambut kepala Arin.


Dewita tersenyum melihat tingkah keduanya, entah mengapa ia sangat senang jika melihat sikap saling usil diantara Arin dan Johan.Terasa begitu menyenangkan dan membuatnya adem saja.


"Tapi kita butuh orang yang bisa mendapatkan bukti perselingkuhan Arsa dan Tanti"Johan menatap Dewita sendu.


Dewita terdiam ketika menerima tatapan dari Johan, ia tahu arti tatapan itu.


"Bai..k.."." Tidak!"Arin memotong ucapan yang hendak dilontarkan oleh sang ibu.


"Saya tidak mau ibu harus mencari bukti perselingkuhan mereka!".tolak Arin dengan mata berkaca.Sungguh ia takut jika sang ibu mengetahui kebiadaban Arsa dan Tanti padanya.


"Kenapa nak?kau tak percaya ibu mampu melakukan tugas ini?"


"Bukan itu bu, ta tapi!"lidah Arin mendadak keluh ketika hendak mengatakan perihal sikap dua penghianat itu.


"Nak semua ini demi selesainya urusanmu dan Arsa, kau ingin secepatnya berpisah dari Arsa kan?maka kau harus rela ibu mencari bukti untuk memudahkan jalannya sidang nanti"jelas Dewita lembut.


"Jangan khawatir dek, mereka tidak tahu jika ibu pro padamu, jadi untuk saat ini biarkan mereka tetap percaya jika kau yang bersalah, agar ibu bisa leluas mencari bukti perselingkuhan mereka" Johan menatap wanita cantik yang masih terlihat ragu itu, sungguh hatinya takut jika dua penghianat itu akan bersikap keji pada ibunya.


"Percaya pada ibu ya nak, semua akan baik-baik saja"


"Lebih cepat lebih baik ya bu, apa lagi niat baik"ucap Johan membagongkan.


Dewita tersenyum dalam hati, ia yakin jika pemuda tampan dengan tinggi nyaris 190 cm itu mempunyai rasa istimewa pada putrinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2