RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Lelaki Pilihan


__ADS_3

Selesai menikmati makan malamnya, Johan masuk ke kamarnya.Tak lama ponselnya bergetar, ia mengangkat panggilan dari Weny.


"Assalamualaikum abangku sayang!"suara Weny terdengar manja.Johan tersenyum tipis mendengar suara genit calon istrinya.


"Waalaikumsalam, dimana ?"singkat Jo, yang membuat Weny di seberang sana menghela nafas kesal.Sebegitunya ia membuat suaranya semanja mungkin, ini calon suaminya tak merespon, hanya menjawab seperlunya.


"Saya di rumah duka"balas Weny singkat.


"Ok, nanti langsung pulang begitu selesai dari sana!"Johan menutup panggilan telpon itu sepihak.


Di seberang sana Weny mengerutu, sikap Jo sangat menyebalkan menurutnya. Walau ia sempat senang karena Jo menyuruhnya langsung pulang, setelah ini.Seperti ada maksud tersirat.


"Lihat saja jika sudah menikah, aku akan membuatmu bucin"ketus Weny dengan senyum smirk.


***


Hari pernikahan bagi Weny dan Johan tiba, di kediaman Weny hari ini digelar acara pernikahannya dan Johansyah Ahmad.Lelaki yang sudah ia bidik semenjak ia menjadi asisten Daniel Ahmad.Beruntung kedua orangtua mereka mendukung, hingga mereka berakhir di pelaminan.


Suasana rumah Weny terlihat sangat meriah, keluarga besar mereka yang berada di luar daerah juga berhadir, untuk memberikan doa restu bagi kedua mempelai.


Saat ini Weny sedang dirias di dalam kamarnya, wajah wanita itu terlihat semakin cantik ditambah penampilannya yang bak seorang ratu.


Berbeda dengan Arin, pagi ini setelah melakukan rutinitasnya, ia berniat ke rumah Johan.Ia akan memberi jawaban atas lamaran lelaki itu tempo hari.Setelah semalam ia bermunajat untuk menetapkan pilihan.


Dengan berjalan kaki kebetulan harinya masih pagi, sekalian olahraga pikirnya.Ia akan ke rumah Johan.


Wanita cantik itu melihat mobil yang keluar dari rumah mewah itu.Dari kaca mobil bagian belakang, Arin melihat Johan yang duduk bersebelahan dengan wanita paruh baya.Mata mereka sempat bersirobok, namun sesaat kemudian kaca mobil tertutup perlahan.


Detik berikut mobil meluncur diikuti 3 buah mobil setelahnya.Arin terpaku di pinggir pagar rumah mewah keluarga Daniel.


"Maaf mbak, cari siapa?"seorang satpam menanyai Arin yang terlihat bingung di depan pagar rumah majikannya.


"Maaf pak, mas Johannya...."


"Mas Johan hari ini menikah mbak, pestanya di rumah mertuanya di Jalan Bangka"


"DEEEG!!!"


Jantung Arin berdetak kencang begitu mendengar penjelasan satpam di rumah Johan.Kakinya mendadak lemah untuk melangkah.Beberapa menit setelahnya gadis itu sudah bisa menguasai dirinya kembali.Dengan langkah gontai Arin meninggalkan kediaman Johan.

__ADS_1


"Apa arti lamaranmu mas, ternyata seperti ini dirimu"batin Arin miris.


Kenapa hidup begitu kejam padanya, kejadian demi kejadian menghantamnya bertubi-tubi.Jika hidupnya ibarat cermin. Cermin itu RETAK SERIBU, tak ada yang bisa ia harap lagi.Tapi wanita cantik yang selalu sederhana itu, selalu membawa Tuhannya dalam setiap langkah kakinya.


"Benar ucapan ibu dulu, jangan terlalu besar berharap pada manusia. Sebaiknya-baiknya tempat hanya padaMU YA ROOB"batin Arin kembali tenang.


Di dalam mobil, hati Johan kembali galau.Kedatangan Arin ke rumahnya, ia yakin untuk mencarinya.Tapi situasinya saat ini tak mungkin bisa menemui Arin.Acara pernikahannya tinggal satu jam lagi.Mereka sekeluarga harus segera berhadir di kediaman mempelai wanita.


"Maafkan aku Rin, aku ingkar atas ucapanku sendiri.Tapi aku tak bisa menerima dirimu yang masih belum bisa melepas jerat masa lalumu"batin Jo nyeri.


2 TAHUN KEMUDIAN


Tangis dari bocah cantik itu, membuat pengunjung resto menatap ke meja di mana lelaki jangkung itu duduk.


"Tidak boleh sayang, Jen mamam ini saja ya"Jo mencoba menganti stik daging dari tangan putrinya dengan biskuit.Ia membersihkan tangan kecil putrinya dengan tissu.


"Jo..Johan kan?"Johan mendongak menatap lelaki di hadapannya.


Beberapa jam berlalu, Johan menghela nafasnya panjang.Cerita dari Arsa tentang Arin membuatnya semakin merasa bersalah.


#Flashback pembicaraan Jo dan Arsa#


"Iya, dia putriku dan Weny"Johan menghela nafasnya panjang.


"Ada apa Jo?"Johan mengelus pipi putrinya dengan lembut, dikecupnya pipi gembul itu dengan sayang.Arsa bisa melihat mata Jo yang mengembun.


"Ibunya pergi saat ia dilahirkan"jelas Jo dengan wajah sendu.Arsa menatap Jo lalu berganti ke arah Jeny.Bocah cantik yang piatu sejak lahir.


" Innalillahi...sakit Jo?"


"Ya.."lirih Jo sembari mengecup kepala sang putri yang asik dengan biskuit dan dotnya.


"Bagaimana kabar istrimu?"


Arsa mengeluh tak jelas, lalu menatap bocah kecil di hadapannya dengan mata berkabut.


"Arin pergi setelah aku melecehkannya" Arsa menundukan kepala.


"Melecehkan, maksudmu?"perasaan Jo tiba-tiba tak enak.

__ADS_1


"Sore itu aku datang ke rumahnya, karena sebelumnya ia pergi dari rumah tanpa kutahu, ia pergi saat aku tertidur pulas, mungkin sekitar jam 2 malam.Aku memaksanya untuk melakukan hubungan sampai ia menedang miliku, sungguh aku hampir mati kesakitan(Johan tersenyum smirk)beberapa hari setelah kejadian itu Arin menghilang, aku tak tahu kenapa?tapi menurutku bukan karena hal itu, kalau ia merasa terancam denganku, harusnya ia sudah pergi sejak sore itu kan?"Arsa menghela nafasnya kasar.


"DEEGG!"Johan merasakan nyeri dihatinya.Ia yakin Arin pergi setelah bertemu dengannya saat itu, saat ia akan ke rumah Weny untuk mengucap ijab qobul.


"Ia kecewa padaku, janjiku padanya bagai menabur angin"batin Jo merasa bersalah.


"Kau sudah mencarinya Ar?"


"Sudah, tapi ia bagai hilang ditelan bumi, tapi aku belum menanyakan pada tetangganya itu"


"Siapa?ayo kita coba kembali mencarinya!" Arsa mengangguk, menerima ajakan Johan.


Sehari setelah pertemuan Johan dan Arsa, Johan menugaskan seseorang untuk melacak keberadaan Arin.Namun sampai seminggu ini, orang yang diberi tugas itu seperti kesulitan. Mencari jejak wanita cantik yang selalu berpenampilan sederhana.


Di suatu tempat yang nyaman bagi wanita yang wajahnya terlihat sangat teduh, yang mahkotanya tertutup hijab syair, terlihat begitu semangat menjalani aktivitas yang sudah setahun ini ia jalani, mengajar di madrasah.


Arin tinggal dengan pasangan paruh baya yang terkenal sebagi Ustad Fikri dan Hj.Halimah, yang masih kerabat dari ayahnya.Kakek Ustad Fikri dan kakek dari ayah Arin adalah kakak adik.Terhitung Arin adalah kemenakan sepupu dari Ustad Fikri.


Sore itu setelah mengajar di Madrasah, Arin membantu Hj.Halimah memasak untuk makan malam.


"Bagaimana nak, dengan lamaran yang diajukan oleh Ustad Fadlan?"


Arin tersenyum menatap budenya, Hj.Halimah.Wanita paruh baya itu terlihat tenang, dengan sorot mata teduh.


"Apakah harus secepatnya memberi jawaban pada mas Fadlan?"


"Nak niat baik itu disegerakan, kau sudah shalat istikharah kan?"Arin mengangguk.


"Jadi apa lagi, beri jawabanmu jika hatimu sudah mantap, jangan mengantung perasaan orang yang berharap padamu"


Benar, jangan mengantung perasaan orang yang berharap padamu, apalagi sampai ingkar dengan janji.


Jika saat itu , pikiran Arin seolah tertuju pada pakdenya yang seorang Ustad di luar daerah.Arin percaya jika itu sudah menjadi ketentuan Allah, Menjalani hidupnya yang pahit dengan banyak cobaan, akan diberi balasan yang setimpal atas semua kesabaran.


Setelah urusan perceraian selesai, ia mulai menjalani kehidupan baru, sebagai guru di Madrasah milik pakdenya.Hingga ia bertemu Ustad Fadlan yang jatuh hati padanya saat pertama bertemu.


Ustad Fadlan bukan orang biasa di mata Arin, ia lelaki istimewa yang berakhlak mulia, ia lulusan S2 dari Kairo.Kebaikan apa yang hendak Arin tolak dari kasih sayang Allah padanya.


Ustad Fadlan dan keluarganya, bahkan menerima status Arin yang janda tanpa anak.Kebahagia apa lagi yang hendak kau dustakan Marini Zumarnis.Jika menolak lelaki pilihan seperti Ustad Fadlan.Allah memberimu cobaan dengan caranya, sebagai jalan menemukan jodoh abadimu.Lelaki yang akan membawamu ke JannahNYA.

__ADS_1


BERSAMBUNG😊


__ADS_2