
Johan mulai bergerak mendekat ke pintu samping menuju dapur, lelaki jangkung itu berjalan pelan menuju dapur untuk melihat apa yang dilakukan Arsa dan Tanti di rumah Dewita.Lelaki tampan itu terpaku di belakang pintu dapur yang menuju ruang makan.
"Maafkan kelakuan Arin nak, ibu tak pernah menyangka jika putri ibu bisa melakukan itu!"terdengar suara isak tangis Dewita.
"Sudah bu, jangan terlalu dipikirkan!saya tak mau ibu jatuh sakit karena kelakuan Arin!"Terlihat Tanti mengelus pundak Dewita.
"Nak ibu berterima kasih kau sudah membantu Arsa mencari Arin, tapi jika Arin memutuskan untuk lari dengan lelaki lain, ibu restui jika kau mau menjadi penganti Arin.Menikahlah dengan Arsa nak!"
"DEG!!!!"
Johan mengguman tak jelas, sangat lirih seolah hanya untuk dirinya sendiri.
"Benar dugaanku"
Lelaki jangkung itu masih bersembunyi di balik pintu, merekam semua pembicaraan mereka yang terdengar sangat jelas. Karena jarak mereka di ruang makan ke arah pintu hanya berjarak satu atau dua meter saja.
"Menikah dengan Arsa bu?"terdengar suara Tanti yang seperti terkejut mendengar ucapan Dewita.
"Iya nak, apa kau tak menyukai Arsa?Ibu tahu kau menyukainya srjak lama nak, tapi ibu bisa apa jika Arsa memilih adikmu!" suara Dewita terdengar bagai keluhan.
Tanti tersentak mendengar semua ucapan ibu angkatnya, ia tak percaya jika wanita paruh baya itu mengetahui perasaannya pada Arsa.Timbul rasa benci di hati wanita yang tak lebih cantik dari Arin itu.
"Kau tahu aku mencintai Arsa sejak lama, tapi kau merestui Arin menikahi Arsa, Kau sangat pilih kasih karna Arin putri kandungmu!"sorot mata Tanti mendadak terlihat tajam berkabut amarah.Pikiran wanita itu terus mengerutu tak suka pada ibu angkatnya.
"Aku bersedia menikahi Tanti bu!"tegas Arsa sembari mendekat dan duduk bersimpuh di kaki Dewita.
"Maafkan ibu nak, atas prilaku anak ibu padamu"
"Kelakuan Arin sudah seperti sundal!" suara Tanti terdengar meninggi, ucapannya dipengaruhi perasaan tak sukanya atas sikap Dewita yang ia pikir pilih kasih pada mereka berdua.
"DEG!"
__ADS_1
Hati Dewita tersentak mendengar ucapan Tanti, walau sakit mendengar hinaan pada putrinya, namun wanita paruh baya itu mencoba tenang.Ia bahkan menulikan pendengarannya.Tentu saja itu membuat Tanti makin kesal.
"Kapan ibu menikahkan aku dan Arsa?"
Tanti menatap mata teduh Dewita, Dewita hanya tersenyum kecil melihat sikap Tanti.
"Kau ingin kapan nak, ibu siap saja!"
"Beb..kita menikah di rumah ini, secepatnya!"Arsa hanya mengangguk mendengar ucapan sang kekasih.Dewita hanya dapat menguman dalam hati atas panggilan Tanti yang terdengar aneh di telinganya.
"Baiklah bu..kami pamit dulu, dalam minggu ini kami datang untuk melangsungkan pernikahan di rumah ini, saya mohon ibu yang bicara pada orangtua saya!"
Tak lama terlihat Arsa dan Tanti keluar dari rumah Dewita, Dewita hanya terpaku di depan pintu menyaksikan sikap Arsa dan Tanti yang terlihat janggal di matanya.
Di dalam mobil Johan, Arin terdiam melihat Arsa dan Tanti yang keluar dari rumah ibunya.Nafas wanita cantik itu terasa tercekat.Oksigen di dalam mobil terasa berkurang sangat banyak.Rasa takut menjalar disetiap sendinya...semua itu karna sikap pasangan sirih yang zolim padanya, yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Mobil yang masih berplat putih itu meninggalkan rumah Dewita.Arin masih patuh pada titah Johan untuk berada di dalam mobil.Sebenarnya ia penasaran dengan kejadian di rumah ibunya.Tapi ia takut jika salah mengambil sikap.Dengan pasrah ia hanya bisa menunggu hasil dari Johan.
Dewita terduduk di kursi tamu, hatinya hancur menerima kenyataan ini.Di depan Arsa dan Tanti wanita paruh baya itu berusaha bersikap tenang.Sesungguhnya ia sangat kecewa dan sakit hati.
Dewita menyentuh dadanya yang terasa sesak.Ia tak peduli dengan sikap mantu dan anak angkatnya.Wanita paruh baya itu memikirkan nasib putrinya saat ini.
"Dimana pun kau berada nak, Allah akan selalu menjagamu!"gumannya pilu.
Johan menahan nafas begitu berada di dalam mobil.lelaki itu tak menghiraukan pandangan Arin yang tak lepas menatapnya.Ia tahu wanita cantik di sampingnya ingin tahu apa yang ia lihat di dalam rumah ibunya.Tapi Johan ingin berbicara di rumahnya saja.
"Kau tak ingin bicara apa pun padaku"
Johan hanya tersenyum tipis dan tetap fokus pada jalan di hadapannya.
"Menyebalkan!"suara bagai gumanan itu masih bisa tertangkap di indera pendengaran Johan.Lelaki jangkung itu tertawa renyah.Ia reflek mengacak rambut Arin dengan gemas.
__ADS_1
Mobil Johan memasuki halaman rumahnya yang luas dan asri.Lelaki tampan itu gegas masuk ke dalam rumah.
Tak lama ia menghubungi seseorang dengan ponselnya, Arin hanya memperhatikan gerak-gerik lelaki jangkung di hadapanya.
"Aku belum bisa ke kantor pagi ini, tolong kau handel semuanya!"
"......"
"Ok..terimakasih!"
Johan menatap wanita cantik yang sedari tadi memperhatikan dirinya, lelaki tampan itu tersenyum tipis.Johan mendekat pada Arin, dan wanita cantik itu terlihat gugup.
"Mau apa?"
"Mau kamu!"
"Jangan macam-macam!"
"Aku mau satu macam saja, kita ke ruangan kerja..kita bicara di sana!"
Arin menatap lelaki tampan di hadapannya dengan ekspresi terkejut, apa yang ia dengar dari bibir lelaki jangkung itu sangat diluar pemikirannya.
"Sebegitu niatnya mereka menghancurkan aku mas, apa mereka tak sadar perbuatan mereka sebelumnya sudah membuat hatiku hancur berkeping-keping, saking remuknya semua itu tak bisa aku rangkai kembali'.lirih Arin pilu, namun wanita cantik itu sudah enggan untuk menangis. Perasaannya sudah mati untuk hubungan sakral antara dirinya dan Arsa, juga untuk hubungan persaudaraan dengan Tanti.
"Aku ingin bertemu ibu mas, aku tak mau ibu kepikiran denganku mas, apalagi sampai ibu kehilangan kepercayaannya padaku!"isak tangis kali ini untuk ibunya, Arin tak sampai hati jika ibunya menderita karena dua luknut yang tak tahu malu itu.
"Iya sayang, tapi biar mas pastikan dulu ya..tentang ibu"Arin menatap Johan dengan tatapan kesal.Apa coba yang dipikirkan lelaki di hadapannya ini.Ia ingin memastikan apa tentang ibu?.
"Aku hanya ingin memastikan ibu pro padamu atau pada mereka"ucap Johan kalem.
"Dia sudah seperti dukun saja!"batin Arin.Wanita cantik itu menatap Johan dengan tatapan aneh dan bahu yang bergidik.
__ADS_1
"Aku perlu memastikan sikap ibu pada dua orang itu, apakah ibu percaya pada mereka, karna kebohongan mereka atas dirimu membuat wajah ibu seperti tak yakin, itu menurut penglihatanku!"
BERSAMBUNG