RETAK SERIBU

RETAK SERIBU
Di rumah Johan


__ADS_3

"Aku ingin bertemu ibu mas, aku tak mau ibu kepikiran denganku mas, apalagi sampai ibu kehilangan kepercayaannya padaku!"isak tangis kali ini untuk ibunya, Arin tak sampai hati jika ibunya menderita karena dua luknut yang tak tahu malu itu.


"Iya sayang, tapi biar mas pastikan dulu ya..tentang ibu"Arin menatap Johan dengan tatapan kesal.Apa coba yang dipikirkan lelaki di hadapannya ini.Ia ingin memastikan apa tentang ibu?.


"Aku hanya ingin memastikan ibu pro padamu atau pada mereka"ucap Johan kalem.


"Dia sudah seperti dukun saja!"batin Arin.Wanita cantik itu menatap Johan dengan tatapan aneh dan bahu yang bergidik.


"Aku perlu memastikan sikap ibu pada dua orang itu, apakah ibu percaya pada mereka, karna kebohongan mereka atas dirimu membuat wajah ibu seperti tak yakin, itu menurut penglihatanku!"


"Tak yakin pada mereka maksudmu mas?Aku tahu kepercayaan ibuku padaku mas, karena aku tak pernah mengecewakan ibuku!"elak Arin dengan tatapan tajam pada Johan.


"Koq jadi kayak aku yang salah dek, mas ini hanya mencoba mencari solusi terbaik"


"Mas tolong bawa ibu kemari, jangan sampai ada yang tahu, aku perlu bertemu dengan ibu agar ia tak cemas tentang keberadaanku!"


Johan terdiam mendengar ucapan Arin, ia tak tahu harus menolak apa tidak, karena skenario yang ada dipikirannya berbeda dengan Arin. Harapannya semoga saja Dewita lebih percaya pada putri kandungnya.


"Baiklah..nanti setelah dzuhur ya, saat ini aku harus mengecek email dari kantor, ada beberpaa email penting yang harus aku cek"


Di tempat berbeda di kantor tempat Tanti bekerja, selepas mengantar Arsa ke kantornya.Wanita itu gegas menuju ruangannya.


Suasana pagi itu terlihat sepi, seolah para karyawan sedang berada disuatu tempat atau mungkin sedang libur.


"Ini bukan weekend, kenapa sepi kemana mereka?"Tanti duduk di ruang kerjanya yang biasanya ramai oleh suara beberapa rekan divisinya.


"Kau baru datang?"suara Deden mengejutkan Tanti yang terlihat mulai mengarap pekerjaannya lewat dua jam dari jam masuk kerja.


"Iya, kemana yang lain?"


"Yang lain pada di lantai atas!"Tanti reflek menengok ke langit-langit kamar.


"Lantai dua non, lu pikir cecak nemplok di plafon!".Tanti tertawa mendengar ucapan Deden yang sedikit menghiburnya.


"Ada apa di lantai dua?"


"Ada banteng ngamuk, kau tahu istri pak Arul? ia menghajar gadis magang yang ketahuan dipakai pak Arul di ruangannya!"

__ADS_1


Tanti tersedak salivanya begitu mendengar penjelasan Deden.Jantung wanita itu berdetak kencang.Mungkin dia takut nasibnya akan seperti gadis magang itu.


"Apa banteng itu masih ada?"


"Kau mau melihatnya?Tak usah dia akan mengamuk jika melihat wanita sexy yang dekat dengan suaminya"sindir Deden membuat gadis tak perawan itu makin deg-degkan.


"Berarti banteng itu gila dong, bisa ngamuk pada semua orang yang tak jelas bermasalah dengannya!"Deden hanya memayunkan bibirkan seolah tak tahu.


"Apa aku perlu naik ke lantai dua, tapi jika aku naik mas Arul pasti malu jika melihatku, kasihan kenapa tidak pisah saja dengan wanita tua tak tahu diri itu!"


"Lu ngelamuni pak Arul?"Deden menatap wanita yang sedari tadi terlihat diam dan mencuekinya.


"Den apa bos besar tahu keributan di ruangan pak Arul?"


"Setahuku tidak, karena tadi aku sempat dengar kepala divisi apa aku lupa, dia bilang untung bos tidak ada, bisa dikeluarkan pak Arul jika beliau tahu masalah ini!"


"Ya Tuhan jika mas Arul dikeluarkan, bagaimana nasib keuanganku?"


"Biar saja mereka keluar dari perusahaan ini, buat malu saja!"


"Percuma prestasi kerja, jika akhlaknya buruk!"


"Nggak usah hakimi orang, belum tentu lu lebih baik dari pak Arul!"sinis Tanti sembari melengos dari tatapan Deden.Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya.Ia akan bertanya nanti pada sugar daddy nya perihal keributan itu.


Deden menatap kesal pada wanita sombong yang duduk menyamping darinya.


Di tempat berbeda Arin terlihat jenuh dengan rutinitasnya saat ini, ia hanya duduk membaca majalah di ruang keluarga, sedang Johan sepertinya masih di kamar kerjanya.


Arin belum berani menghubungi pihak rumah sakit di mana ia bekerja, ia masih menunggu pembicaraan lebih lanjut dengan Johan, walau tak seharusnya ia harus tunduk dan mendengarkan lelaki yang telah menolongnya.


"Aku harus menghubungi pihak rumah sakit terkait ketidak hadiranku"


Arin berjalan menuju dapur, rasanya membosankan tak melakukan apapun.


"Sedang apa bik, saya bantu ya?"Arin melihat seorang wanita paruh baya sedang sibuk di dapur.


"Tidak usah non, biar bibik saja"elak wanita itu tak enak hati.

__ADS_1


"Tidak apa bik, saya bosan diam saja,maaf nama bibi siapa?nama saya Arin"


wanita cantik itu mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan bik Isa, membuat wanita paruh baya itu terkejut dan reflek menarik tangannya.


"Jangan non kotor"


"Santai saja bik, bibik inj sudah seperti ibu aku di rumah"


Akhirnya Arin langsung akrab dengan Bik Isa, wanita paruh baya yang bertugas memasak jika Johan ada di rumah.


Merwka mulai terdengar ngobrol diiringi gurauan dan sesekali tertawa.Dan tepat waktu makan siang Arin sudah menyiapkan di meja makan setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu.


"Mas Jo..makan dulu yuk!"Johan melepas kacamatanya dan menatap wanita cantik yang hanya menampakan kepalanya dibalik pintu yang terbuka.


"Iya, tapi mas dzuhur dulu ya"Johan gegas menuju kamar mandi di dalam tuang kerjanya.


Arin berjalan menjauhi ruang kerja Johan, ia kembali menuju dapur dan melihat bik Isa yang terlihat membersihkan dapur.


"Bik kita makan bersama ya, biar lebih nikmat"ajak Arin yang ditolak halus oleh bik Isa.bukan tidak sopan tapi ia bakal sungkan jika makan satu meja dengan majikannya.


"Nanti saja non, maaf saya kurang leluas jika makan dengan majikan"kekehan bik Isa membuat Arin ikut terkekeh.


"Baik dah bik jika tak mau makan bersama, tapi setidaknya makan diwaktu yang sama walau tidak satu meja"saran Arin dan diangguki kepala oleh bik Isa.


Tak lama Johan masuk dengan wajah yang terlihat segar karena selesai sholat.


Ia tersenyum pada bik Isa dan menawarkan makan bersama, ucapan Johan malah membuat bik Isa dan Arin tettawa bersama.


"Samaan ya bik, tapi tetap saja bibik enggak mau makan bareng!"


"Maaf non, saya maka di belakang saja, permisi!"


Johan dan Arin mengiyakan dan mereka segera duduk di kursi makan dan mulai menyantap makan siang, tentu saja sebelumnya Johan dan Arin berdoa bersama.


"Nanti selesai makan mas akan ke rumah ibu, mudah-mudahan beliau mau datang kemari"Johan berkata tanpa melihat wajah Arin, lelaki itu terlihat tenang menyuapkan nasinya dalam mulutnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2