
"Maaf beb maksud aku bukan begitu, aku hanya kesal.Baru juga pulang bukan disambut penuh rindu, eh malah dimarahi.Padahal aku kan sudah izin padamu.Tolong jangan marah padaku sayangku"rayu Tanti dengan suara manjanya.
Arsa meneguk salivanya, sentuhan jari lentik Tanti yang begitu lembut di dadanya, membuat naluri liarnya terusik.
Tanpa kata, Arsa mendorong tubuh Tanti ke kasur.Lelaki itu gegas melakukan keinginannya yang sudah lebih seminggu tidak tersalurkan.Entah karena masih kesal atau sudah seminggu tak menikmati, Arsa melakukan dengan kasar dan sedikit bruntal.
Keluhan Tanti tak mampu meredam sikapnya, sampai lelaki tampan itu menuntaskan hajatnya.Dan setelahnya Arsa yang merasa kelelahan akhirnya tertidur pulas.
Beberapa jam kemudian, Tanti meringis dan meremas perutnya yang terasa kram, ia menatap ke sebelah tidurnya, dilihatnya sang suami yang lelap dengan dengkuran halusnya.
"Malam ini kau kasar sekali kak, kau bahkan tak peduli dengan keluhanku!"guman Tanti kesal.
"Aku akan meninggalkanmu secepatnya!"batin Tanti mantap.
Waktu merangkak sangat lambat untuk menjemput pagi.Seraut wajah yang terlihat pucat karena merasa sangat lelah, atas sikap sang suami yang menuntut haknya secara paksa dan liar. Semalam Tanti tidak bisa tertidur karena di kepalanya dipenuhi bermacam pikiran, salah satunya rencana untuk meninggalkan suami sirihnya, Arsa.
Perlahan Tanti beranjak ke kamar mandi, ia terkejut ketika melihat bercak darah di cd nya yang lumayan banyak.Tanti gegas membersihkan diri dan setelahnya mengunakan pakaian rumah.Hari ini ia akan izin dulu dengan alasan sakit.
Beberapa puluh menit kemudian Arsa terjaga, lelaki itu mengerutu ketika tak melihat istri sirihnya, namun sesaat ia tersenyum begitu mendengar suara gemericik air di kamar mandi.
"Kak apa yang kau lakukan?"Tanti terkejut ketika suaminya sudah berada di dalam kamar mandi dalam keadaan polos.
"Mau mandi bersama"Arsa mendekatkan dirinya pada tubuh polos istrinya.
"Kak aku mohon, jangan lakukan lagi"permohonan Tanti bagai angin lalu di telinga Arsa.Lelaki yang sudah dipenuhi gairah karena melihat tubuh polos sang istri dalam keadaan basah di bawah guyuran shower itu bergerak cepat dan kasar membuat Tanti memekik kaget.Arsa tak peduli kembali menuntut haknya.
"Aku seminggu sendiri menahan keinginanku, dan kamu tidak bisa dihubungi!"
__ADS_1
Tanti meneguk salivanya, mendengar keluhan Arsa yang terkesan emosi.Wanita itu tak mampu menolak ketika Arsa kembali melakukan dengan kasar.Tanti hanya bisa meringis menahan sakit di bagian perutnya.
Di tempat yang berbeda, nampak Dewita yang sudah siap untuk melakukan rencana yang sudah ia susun bersama Johan, pagi ini sebelum berangkat ke kantor, lelaki jangkung itu datang ke rumahnya.Bukan sekedar berkunjung, lelaki tampan itu merasa rindu pada wanita cantik yang selalu tampil sederhana, dan sudah pergi dari rumahnya tanpa sepengetahuan dirinya.
Arin sendiri seakan enggan atas rencana Johan, yang menggunakan sang ibu untuk terlibat dalam masalah rumah tangganya. Namun wanita cantik itu tak mampu berdebat dengan sang ibu yang kekeh ingin segera menyelesaikan urusan rumah tangga sang putri, tentu saja dengan mengikuti rencana Johan.
"Berhati-hatilah dengan mereka bu, mereka itu berhati jahat, jangan lupa hubungi kami jika ada sesuatu"
ucapan kekhawatiran Arin, pada wanita yang telah tulus mendedikasikan hidupnya untuk dirinya.Terus terang ada rasa cemas pada diri wanita cantik itu, ia takut dua manusia laknat itu bertindak zolim pada sang ibu.
"Iya sayang, kamu jangan terlalu khawatir, berdoa saja agar semua lancar dan kamu bisa segera terlepas dari lelaki itu"Dewita mengelus lembut pipi sang putri dengan sayang.
Johan menatap lembut pada wanita yang telah membuatnya kepikiran semenjak kemarin.Namun saat ini hatinya kembali adem, tentu saja setelah bertemu wanita di hadapannya.
"Aku akan mengantar ibu, jaga diri dan hubungi aku jika ada yang tak beres!"titah Johan yang membuat Arin mengangguk lemah.
Setelah sang ibu dan Johan berangkat ke rumah Arsa, wanita cantik itu menuju dapur. Matanya tertuju pada ponsel yang teronggok di atas meja makan, ponsel berwarna krem dengan logo apel yang tak utuh.Ponsel itu pemberian Johan, yang sebenarnya sudah ditolak oleh Arin, namun alasan Johan membuat wanita cantik itu akhirnya menerima ponsel tersebut walau hatinya menolak.
" Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam...ibu su.."
"Maaf pagi-pagi ibu sudah datang, tidak menunggumu.Ibu bosan di rumah sendiri!"tungkas Dewita memotong ucapan Arsa.
"Tidak apa bu, ibu masuk saja di dalam ada Tanti.Semalam ia datang dari tugas dinasnya"
Arsa berteriak dari balik pintu memanggil istri sirihnya, namun tak ada sahutan.
__ADS_1
"Saya berangkat kerja ya bu, ini sudah kesiangan"Arsa pamit dan gegas memasuki mobilnya.
Dewita tersenyum smirk begitu mobil Arsa melaju meninggalkan rumah.
Wanita paruh baya itu melangkah masuk ke dalam rumah, yang dulu pernah ditinggali oleh putri kandungnya.Ada rasa sesak dan amarah begitu kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.
Mata wanita paruh baya itu menelisik ruang tamu yang berantakan, di mana masih teronggok tas koper milik Tanti yang belum dipindahkan ke kamar.
"Rumah ini kehilangan ratunya"guman Dewita dalam hati.
"Assalamualaikum..!"Dewita kembali memberi salam, karena Tanti belum juga terlihat.
"Ibu?"Dewita tersenyum samar melihat wanita yang terlihat pucat di hadapannya.
"Kau sakit nak?"pertanyaan basa-basi untuk melengkapi rencana di rumah ini.
"Hanya kelelahan saja bu, oh ya bu tolong bantu bereskan rumah ya, saya sedah kurang sehat"rengek Tanti manja, untuk menarik rasa iba dari Dewita.
Dewita hanya tersenyum tipis dan mengangguk.Inilah oerbedaan sikap antara putri kandungnya dengan putri angkatnya.Arin begitu rajin jika menyangkut urusan pekerjaan rumah, ia bahkan tak ingin ibunya membantu, jika Dewita memaksa, Arin akan membagi peran yang paling ringan untuknya. Berbeda dengan Tanti yang malas dan selalu berusaha melimpahkan pekerjaannya pada orang lain, bahkan pada dirinya.
Dewita telah selesai membersihan rumah mantunya, wanita paruh baya itu duduk di kursi makan sembari meneguk air mineral dalam botol kemasan.
Rasa lelahnya belum hilang, ketika suara Tanti kembali memerintah dengan cara merengek padanya, untuk memasak.
Dewita tersenyum kecut dalam hati, jika tak ingat rencananya ia tak sudi melakukan semua ini.Ia berharap segera mendapatkan bukti penghianat mereka, agar urusan perceraian Arin mudah dan tak mengalami masalah.
Tanti tersenyum dalam hati, melihat Dewita menuruti kemauannya.Wanita licik itu kembali masuk ke dalam kamar dan sibuk chatingan dengan sugar daddy-nya.
__ADS_1
"Kau akan membayar ketidak adilanmu padaku mulai sekarang.Aku akan membuatmu BAGAI BABU di rumah ini!"senyum licik di bibir Tanti, mengingat perlakuannya pada Dewita.
BERSAMBUNG😊