
"Adek tanya, apa abang keberatan dengan keinginan orangtua abang untuk hubungan kita berdua"wajah Weny semakin mendekat ke arah Jo.Desah nafas yang hangat menerpa lembut kulit wajah lelaki jangkung itu, yang posisinya sedang duduk di lengan kursi kebesarannya.
"Ww... wen abang tak leberatan, tapi... emmm."Johan membeku ketika Weny secara kilat menyentuh lembut di bibirnya.Detik berikutnya kecupan lembut Weny berikan pada bibir hangat Jo yang menganga bengong.
Wajah mereka sama merona setelah sekian menit, ibu jari lentik Weny mengelus perlahan bibir tebal Johan, lelaki itu hanya diam melihat aksi Weny.
"Ini yang pertama bagiku bang, dan aku jujur mengharapkannya"bisik Weny lembut.
"Biarkan aku membuat abang membuka hati, tolong jangan halangi.Aku akan berhenti bila abang tak bisa mencintaiku nantinya"
"Jadi adek minta, beri adek kesempatan dulu untuk memperjuangkan hubungan kita yang bertabur restu kedua orangtua, demi tante Milda yang selalu berharap banyak padaku, untuk menjadi pendamping abang"tekan Weny yang membuat Johan makin gamang.
Johan tercenung mendengar penuturan Weny, yang sepenuhnya benar.Hubungan ini bertabur restu orangtua.Apakah Weny berhak diberi kesempatan karena ini semua kemauan orangtuanya?.Ia hanya mendesah pasrah ketika Weny kembali mengecup bibirnya dengan lembut, secara tiba-tiba.
Di sebuah rumah yang selalu terasa hangat bagi wanita cantik, yang tak lain Marini Zumarnis.Saat ini sedang asik berjibaku dengan aneka bahan dapur.Ia begitu senang bisa kembali ke rumah orangtuanya.
"Bagaimana nak, ada yang bisa ibu bantu?"Dewita mengamati kegiatan sang putri, sedari awal wanita cantik itu tak mau sang ibu masuk ke dapur.
"Sudah selesai bu, tinggal menempatkan masakan ini di wadahnya saja, dan setelahnya membereskan dapur".Arin tersenyum senang menatap sang ibu.
"Ok kalau begitu ibu bantu mencuci perlengkapan dapur lebih dahulu, sebentar lagi magrib".Dewita gegas beranjak menuju wastafel, dimana peralatan dapur terongok minta dibersihkan.
"Biar Arin saja bu!"Ibu bantu menuangkan masakan di wadahnya saja".Arin gegas mencuci semua perlengkapan dapur.
Tak butuh waktu lama, dapur sudah kembali bersih dan rapi, seperti semula.Wanita cantik itu gegas membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat magrib bersama sang ibu.
Di dalam mobil yang meluncur tenang, seorang wanita cantik bersandar manja di lengan lelaki yang baru saja resmi menjadi calon tunangannya.
Sesekali Weny mengecup lengan Johan, yang sibuk dengan setirnya.Membuat lelaki itu risih sendiri, tapi hatinya tak mampu untuk mengatakan keberatan. Perkataan Weny yang meminta diberi kesempatan, membuat hati Jo tak enak untuk menolak semua perlakuan wanita cantik itu pada tubuhnya.Walau sebenarnya ia merasa risih dan geli.
Johan menghela pelan nafasnya.Tiba-tiba ia ingat wanita cantik yang sudah dua hari ini tak ia lihat.Ada perasaan bersalah dan ingin cepat tiba di rumah, agar bisa melihat wajah teduh Arin.
__ADS_1
"Bang mampir ke rumah dulu ya"ajak Weny begitu mobil Johan memasuki halaman rumahnya.
"Maaf Wen..."
"Turun sebentar saja bang!, sekedar menyapa mama dan papa.Mereka pasti ingin bicara pada abang setelah pembicaraan mama abang pagi tadi"
Johan akhirnya menuruti keinginan Weny, walau berat hati.Tapi wanita cantik itu seakan membutakan matanya, tak peduli sikap keberatan Johan.
Wisnu dan sang istri terlihat sumringah, melihat sang putri yang mengamit erat lengan lelaki tampan putra dari sahabatnya.
"Mereka serasi ya pa, mama mau bilang ke Milda agar secepatnya dilakukan pertunangan mereka"bisik Venna pada sang suami.Wisnu hanya mengangguk pelan, tentu ia setuju dengan usul sang istri.
"Malam om, tante!"sapa Jo begitu Wisnu mengulurkan tangannya, dan berjabat tangan ala lelaki.
"Malam nak, ayo masuk!"Wisnu merengkuh pundak Jo dan mengajak lelaki jangkung itu masuk ke dalam rumah.
"Nak Jo kita makan dulu ya, tante masak enak, ini kesukaan calon mantu tante"Venna tersenyum lebar dan diangguki oleh sang suami.
Dengan berat hati Jo akhirnya mengikuti kemauan om Wisnu dan istrinya.Mereka ngobrol akrab.Dua wanita itu saling mengedip seakan merencanakan sesuatu.
"Nak Jo..ini mama Milda"Johan tersedak mendengar ucapan Venna.
"Via VC bang"Weny tersenyum lembut, tangannya mengulurkan ponsel mama Venna pada Jo, yang terlihat wajah Milda di layarnya.
Mereka terkekeh melihat Johan, yang pasti mengira mama Milda datang.
"Apa kabar sayangku, wah akrab sekali ya sama keluarga calon"wajah Milda terlihat bahagia di layar ponsel itu.
"Baik ma, bagaimana dengan kesehatan mama?"Jo tak menanggapi perkataan mama tentang keluarga calon tunangan.
"Mama sehat sayang, rasanya semangat sekali mama ingin segera menyematkan cicin di jari manis Weny"
__ADS_1
"Syukurlah jika mama sehat, mana papa ma?"
"Papamu sedang konsul dengan dokter nak, itu dokter Edward ada di ruang tamu sama papa"terang Milda pada putranya.
"Mama harus cepat sehat ya ma"
"Tentu sayang, hubunganmu dan Weny menjadi obat mujarab bagi kesembuhan mama, rasanya sangaaaat bahagia" senyum mengembang di bibir Milda.
Johan yang mendengar perkataan mamanya, hanya tersenyum dan mengangguk saja, ia tak enak hati merusak kebahagia di wajah wanita yang sangat ia sayangi itu.
"Ok sayangku, serahkan ponselnya pada mama mertuamu, mama mau bicara tentang pertunangan kalian"
Johan tak mengelak ucapan sang mama, semua itu untuk menjaga perasaan sang mama dan keluarga Weny.Johan mengembalikan ponsel di tangannya pada Weny.
"Mama ingin bicara dengan tante Venna"
Weny mengangguk dan menyerahkan ponsel itu kepada sang mama.
Setengah jam berlalu, Johan pamit dari rumah Wisnu.Keluarga Weny itu terlihat senang pada pemuda jangkung, yang selalu terlihat tenang.
Sepulangnya Johan, Weny menarik tangan sang mama dan menceritakan perihal hubungannya dengan Jo.Sang mama tentu saja akan mendukung semua sikap yang diambil sang putri, bukan semata karena putrinya mencintai Jo, tapi karena background Johan yang sangat menjanjikan
Sekarang kita lihat nasib seorang pria yang selama seminggu ini kelimpungan karena kehilang pasangannya.Benar ia adalah Arsa.Lelaki yang kehilangan kontak istri sirihnya, wanita yang pamit untuk dinas keluar kota selama tiga hari, namun sampai seminggu, wanita itu tak pernah pulang.
"Kemana dia pergi?, jika kepulangannya diundur, harusnya ia memberi kabar padaku, bukan me-non aktipkan ponselnya begini"keluh Arsa kesal.
Sungguh apa yang dilakukan Tanti, membuat lelaki itu kesal setengah mati.Terlebih ia tak bisa focus atas tugas kantornya.
"Lebih baik aku ke rumah ibu Dewita saja sepulang kantor nanti, siapa tahu Arin berada disana"guman Arsa lirih.
BERSAMBUNG😊
__ADS_1