
Mobil Arin memasuki halaman rumah yang terlihat ramai oleh para warga, mata wanita cantik itu menatap nanar bendera putih yang melambai di depan pagar. Jantungnya mendadak berhenti berdetak, sukmanya seperti terbang meyaksikan raga wanita kesayangannya yang terbaring dengan menutup matanya rapat.
"Ibuuuu!!!"
Tetangga yang melihatnya menjadi terkejut.Mereka yang mengenal Arin langsung mendekap tubuh wanita itu, begitu raga Arin melangkah lunglai memasuki rumah.Mereka tak sampai berpikir jika wanita yang meninggal itu ibu dari Arin, tetangga mereka yang terkenal ramah dan baik hati.
"Ibu?..ibunya mbak Arin?"tanya beberapa tetangga dengan sangat lirih, mereka saling bersitatap.
Mata Arin bersirobok dengan mata lelaki yang masih berstatus suaminya.Binar kebencian terpancar dari mata indah Arin.
Arin gegas membuang pandangannya dari tatapan Arsa yang terlihat sendu.Wanita itu terkulai lemas begitu pandangannya menatap tubuh yang terbujur kaku dan ditutupi jarik.
"Ibu?guman Arin sangat lirih, detik berikutnya wanita cantik itu tak sadarkan diri.
"Astagfirullah..kasihannya mbak Arin, jadi wanita itu ibunya mbak Arin?".
Arsa hanya mengangguk atas tanya beberapa tetangga, lelaki itu gegas membopong tubuh istrinya ke kamar, dan membaringkannya di ranjang.Tetangga wanita yang ikut masuk ke dalam kamar akhirnya mengurusi Arin yang pingsan.
"Mas Arsa di ruang tamu saja, biar kami yang mengurusi mbak Arin, nanti kalau ada yang tanya urusan jenasah biar mudah"Arsa mengangguk lemah, dan segera keluar dari kamar.
Arsa sadar atas semua kesalahannya, walau ia tak bermaksud membunuh ibu mertuanya.Semua yang ia lakukan hanya berniat membuat jera saja, dan itu pun sudah membuatnya menyesal.Tapi apa yang tak ia sengaja berakibat fatal, mau bagaimana lagi jika ternyata kejadiannya jadi begini
Di depan teras rumah, dimana para tetangga sudah memasang tenda untuk bernaung dari gerimis yang tiba-tiba datang, nampak Johan dan beberapa para warga yang ramai membaca yasin.
Lelaki itu tak berani masuk mengikuti Arin, ia tak mau membuat wanita itu makin histris karena melihatnya nanti.
Beberapa jam berlalu, para tetangga telah selesai mengafani jenasah, Arin yang telah kembali sadar mencium kening sang ibu untuk terakhir kali, namun detik berikutnya wanita cantik itu kembali pingsan, batin wanita cantik itu sangat terguncang atas kematian ibunya.
Hingga saat jenasah di sholatkan Arin belum juga siuman.Karena hari beranjak petang para warga dan juga Arsa berinisiatif untuk menguburkan Dewita tanpa persetujuan Arin.
Arin terjaga ketika hari sudah sangat larut, wanita itu berjalan sempoyongan mencari jenasah ibunya, namun beberapa wanita yang menemani Arin, menyampaikan jika sang ibu sudah dimakamkan.Arin menangis terisak, wanita cantik itu merasa hidupnya hancur.Sangat Hancur.
__ADS_1
"Nak Arin, jangan memberatkan jalan ibumu menuju surgaNYA nak, hentikan airmatamu dengan berdoa, mintalah kelapangan kubur dan tempat yang layak bagi ibumu"saran wanita yang terlihat berusia senja, wanita itu terlihat bersahaja dengan tatapan teduhnya.
Mendengar ucapan wanita tua itu, tangis Arin berangsur berhenti.Ia mengangguk sembari menghapus sisa airmata yang ada di wajah tirusnya.
Hari berganti pagi, di rumah yang baru kemarin ramai dengan para pelayat, terlihat Arsa tidur dengan duduk di sofa kamar.Lelaki itu tak berani tidur di samping istrinya, yang terbaring lemah di ranjang.
Semalaman ia tak tidur karena memikirkan Tanti, aneh saja kenapa wanita itu tak pulang ke rumah.hingga pikirannya dipenuhi tanya.
"Apakah Tanti tahu kematian ibunya?"
"Kenapa kursi pijakan Ibu bisa berpindah jauh?"
"Apakah Tanti mengeser kursi itu?"
Arsa merasa aneh dengan sikap Tanti yang janggal.
Arin mengerjap... matanya menatap sekeliling kamar yang tak asing baginya.Ia melihat suaminya yang tertidur sambil duduk di sofa yang terletak di sudut kamar.
Wanita itu mengepalkan tangannya, ia gegas beranjak dari tidurnya,dan berjalan mendekat ke arah sang suami.
"Aku tahu, kau pasti yang melakukan itu pada ibuku!"geram Arin seraya memukuli kepala Arsa dengan kuat.
"Aku sumpah dek,bukan aku yang membuat ibu ngendat!!!.Arsa pasrah atas pukulan bertubi di kepala dan dadanya.Karena jujur ia ikut ide Tanti, memasang tali di balok kamar mandi.
"Bukan aku ..sungguh!!!"Arsa mengacungkan kedua jari telunjuk dan tengahnya bersamaan, dengan wajah takut-takut.
"Aku minta ceraikan aku!"suara Arin meninggi, namun semenit kemudian wanita cantik itu terisak.
"Dek ibu baru pergi, jangan ucapkan kata-kata itu.Sampai kapan pun aku tak akan menceraikanmu!"elak Arsa dengan suara lirih.
"Mari kita mengaji untuk ibu, kita khatamkan Quran"suara isakan Arin makin menjadi mendengar ucapan Arsa.Wanita cantik itu menurut, ketika Arsa menuntunnya ke dalam kamar mandi untuk bersuci.Jika itu untuk kebaikan sang ibu kemarahan Arin yang segede gaban pun akan kalah.
__ADS_1
Tiga hari setelah Dewita dikuburkan, Johan datang ke rumah Arsa.Ia bertemu dengan Arin, namun tidak dengan Arsa, yang kebetulan sedang keluar rumah, untuk satu urusan.
Johan datang untuk menyatakan permohonan maaf, dan dengan keberanian Johan mengatakan akan mengambil tanggung jawab Dewita, dengan menjadikan Arin istrinya setelah perceraiannya nanti dengan Arsa.
Namun wanita cantik itu tak memberi respon atas lamaran Jo, menurutnya Johan melamarnya karena rasa bersalah atas meninggalnya sang ibu.
"Baiklah, aku permisi dulu!aku menunggu jawabanmu!"Johan gegas meninggalkan rumah Arsa, ketika melihat Arin mengangguk, lelaki jangkung itu segera menuju kantornya.
Tak terasa hari berganti, sudah seminggu Arin di rumah Arsa, dan seminggu itu pula Tanti tak pernah kembali.Hal itu makin memperkuat kecurigaan Arsa, jika Tanti melakukan sesuatu pada kursi pijakan ibu mertuanya.
Arsa belum bisa mencari keberadaan Tanti, karna ia masih harus menemani Arin sampai menuju hari, bahkan ia mengajukan cuti, karena masih berduka atas meninggalnya ibu mertuanya.Namun sore ini Arin berniat balik ke rumah ibu.Arsa merasa keberatan, karena sebenarnya ia masih membutuhkan Arin di sisinya.
"Sayang, tetaplah disini, kita perbaiki kembali rumah tangga kita, karena mas tak akan pernah menceraikan dirimu!"
"Aku tetap akan mengajukan perceraian padamu, terserah jika kau menolaknya!" ketus Arin sembari bersiap pergi.
Arsa mengeraskan rahangnya, lelaki itu terlihat kesal atas penolakan Arin.Dengan kasar Arsa mendorong tubuh Arin ke ranjang.Arin yang terkejut tak siap untuk melawan, Arsa mencumbu istrinya dengan kasar, dan Arin berusaha terus menghindar.
"Kau pasti tahu arti kewajiban istri kan, aku masih suamimu.lakukan kewajibanmu dengan iklas agar kau mendapat ridho Allah, begitukan istriku yang alim dan pintar!"
Arin terdiam mendengar perkataan dari suaminya, yang sangat jelas di telinganya.
Melihat respon Arin yang diam, sikap kasar Arsa berubah melembut.Tetapi tiba-tiba Arin mencoba berontak namun Arsa tak membuat wanita cantik itu menang melawan tenaganya. Arsa yang sudah lebih seminggu tak menyalurkan hasratnya, dengan telak membuat Arin tak berdaya.Jeritan Arin yang terus menolak perlakuannya malah menjadi pemacu semangatnya, untuk terus menuntaskan hasratnya.
Malam semakin larut, Namun Arsa tak menghentikan kegiatannya, Arin menahan dongkol pada suami yang tak tahu diri itu.Hatinya sakit atas sikap egois Arsa yang kembali melecehkan dirinya.
Arin merutuki kebodohannya, yang percaya jika sang suami tak akan bertindak jahat padanya, karena mereka sedang dalam masa duka, namun perbuatan Arsa kembali membuatnya sakit hati.
Malam itu tepat pukul 3 dini hari, Arin meninggalkan rumah.Arsa yang terlelap pulas tak terusik dengan pergerakan istrinya.Mobil CRV lawas berwarna gelap itu melaju dalam temaramnya lampu jalan, yang berfungsi sebagai penerang di kegelapan Malam.
Arin tiba di rumahnya tepat menjelang subuh.Wanita cantik itu segera mandi begitu masuk ke dalam kamar, digosokan sabun ke sekujur tubuhnya, ia masih teringat sentuhan Arsa di setiap jengkal tubuhnya, ia bergidik jijik, mengingat sang suami bertukar peluh dengan Tanti.
__ADS_1
"Kau kembali melecehkanku mas, aku harus segera mengajukan gugatan cerai padamu!"guman Arin dalam hati.
BERSAMBUNG😊