Rindu Tapi Benci

Rindu Tapi Benci
Bab I Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Terduduk di lantai kamar dan menangis tersedu-sedu. Itulah yang dilakukan oleh Alea saat ini. Bulir-bulir bening terus berjatuhan dari kedua matanya. Sambil memegang secarik kertas dengan gemetar ia terus berulang-ulang membaca tulisan tangan sang kekasih. Terkejut, sakit dan terluka itulah yang ia rasakan saat ini. Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang terjadi? Apa salahnya? Kenapa Gie begitu tega menuliskan kata-kata kasar dan kejam itu padanya? Bukankah semalam mereka baik-baik saja? Mereka bahkan berbagi kehangatan di atas ranjang dan Gie masih memperlakukannya dengan sangat lembut serta terus mengatakan kata-kata cinta yang sangat indah untuknya seperti hari-hari sebelumnya? Lalu ada apa dengan pagi ini? Mengapa Gie berubah dalam sekejap dan pergi meninggalkannya? Tak ada jawaban apapun, itulah yang diperoleh dalam hatinya.


"Gie...hiks..hiks..hiks..kenapa?"Alea terus menangis sambil menyebut nama kekasihnya.


Setelah sedikit tenang, perlahan-lahan ia bangkit dari lantai menyeka air matanya lalu mengambil handphone di atas nakas kemudian mendial nomor telepon sang kekasih. Namun nomor yang ditujunya tidak aktif. Ia terus mencoba beberapa kali tetapi hasilnya tetap sama. Lantas ia pun mendial nomor salah satu sahabatnya Lindsay Chloe.


Tut...


Tut...


Tut..


" Halo? Lea kau dimana?" tanya Lindsay.


Mendengar suara sang sahabat, Alea kembali terisak.


"Hiks..hiks..hiks.."


'' Lea ada apa denganmu? Kau baik-baik saja? kenapa kau menangis? Dimana Gie?" Lindsay memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Alea karena mendengar suara tangisan sang sahabat. Ia merasa sangat khawatir.


Dengan suara seraknya Alea berkata," Tidak Say, aku sedang tidak baik-baik saja. Bisakah kau datang ke apartemenku? Aku akan menceritakan semuanya padamu." Jawab Alea.


" Baiklah. Tenangkan dirimu. Aku segera kesana."


" Iya , Say. Aku akan menunggumu."


Alea lalu menutup teleponnya sembari duduk di atas tempat tidur dan kembali terisak.


Tiga puluh menit kemudian..


Lindsay telah sampai di depan pintu apartemen Alea. Ia lalu menekan bel.


Ting..


Ting..


Ting..


ceklek..


Alea membuka pintu apartemennya. Lindsay pun sangat terkejut melihat penampilan Alea yang sangat berantakan dengan mata bengkak dan terus mengeluarkan air mata.


" Astaga Lea, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau berantakan seperti ini?" Tanya Lindsay


Tanpa menjawab pertanyaan Lindsay, Alea segera berhamburan memeluk sahabatnya itu yang langsung menyambut pelukannya. Alea berkata dalam pelukan Lindsay," Dia pergi Say... Dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas!"


Hiks..hiks hiks..


"Tunggu dulu Lea, apa maksudmu? Siapa yang pergi?" Lindsay melepas pelukan Alea dan menatapnya bingung.


Alea menatap balik sahabatnya itu, mengatur nafasnya lalu menjawab pertanyaan Lindsay.


" Gie, Say.. Gie pergi meninggalkanku. Dia__


Belum selesai Alea berkata, Lindsay langsung menyela," Gie pergi meninggalkanmu?"


Alea mengangguk.


" Kenapa? Kalian punya masalah?" Lindsay kembali bertanya.


Alea menggelengkan kepala lalu menjawab," Tidak Say, aku rasa kami baik-baik saja semalam dia masih terlihat manis memperlakukanku. Tapi pagi ini..." Alea tak sanggup melanjutkan perkataannya karena teringat dengan tulisan tangan sang kekasih. Ia lalu mengajak Lindsay ke kamarnya dan menunjukkan kertas yang ditinggalkan kekasihnya.


Lindsay mengambil kertas tersebut dan membacanya. Betapa terkejutnya Lindsay membaca tulisan tangan Gie. Ia juga ikut merasa sakit hati dan menangis saat membaca tulisan yang ditujukan kepada sahabatnya itu. Ia lalu bertanya pada Alea," Lea, apa benar Gie menulis kata-kata kejam seperti ini untukmu?" Lindsay masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.

__ADS_1


Alea mengangguk dan kembali menangis. Tak tega melihat sahabatnya menangis karena terluka hatinya, Lindsay lalu menarik Alea ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.


" Sudahlah Lea, jangan menangis lagi. Aku akan mencari Gie dan bertanya padanya, kenapa dia menulis kata-kata kejam seperti itu padamu." Lindsay terus memeluk Alea dan membelai lembut punggungnya.


" Aku ingin bertemu dengannya, Say. Aku ingin bertanya, apa salahku? Kenapa tak jelaskan langsung padaku tapi harus melakukan hal kejam ini padaku? Kenapa dia kekanak-kanakan seperti ini? Padahal kita telah bersama sejak kecil. Dia tahu seperti apa diriku dan aku tahu seperti apa dirinya. Kita telah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain, tapi apa ini, Say? Dia jahat, Say, Gie... jahat sekali padaku..."


Hiks..hiks..hiks..


Alea masih menangis dalam pelukan Lindsay.


" Tenanglah Lea. berhentilah menangis. Aku tahu kau terluka dan aku juga ikut merasakannya, tapi menangis seperti ini juga bukan solusi yang baik untuk masalahmu. Istirahatlah sekarang, saat bangun nanti kau akan merasa lebih baik." Lindsay melepas pelukannya menatap wajah Alea dan menghapus sisa air mata di wajahnya. Lalu mengajak Alea untuk berbaring di tempat tidur.


Alea pun menurut karena merasa lelah juga terlalu lama berdiri. Lindsay duduk di samping Alea yang sedang bersandar di dashboard tempat tidurnya dan berkata," Lihat wajahmu terlihat sangat jelek tak seperti Alea yang selalu cantik mempesona." Lindsay tertawa setelah sengaja mengatakan kata-kata ejekan itu pada sahabatnya untuk sekedar menghiburnya.


Alea memberengut menatap kesal pada Lindsay dan berkata," Jangan mengejekku, walaupun penampilanku terlihat sangat berantakan tapi aura cantikku tetap terlihat dengan jelas." jawab Alea dengan ekspresi penuh percaya diri.


Hahaha...Lindsay tertawa kecil. Walaupun Alea dalam keadaan sedih, setidaknya Alea tetap mengeluarkan sikap narsisnya seperti biasa.


" Baiklah sekarang berbaring dengan benar, pejamkan matamu. Aku akan menungguimu sampai kau terlelap." Lindsay berkata sambil membelai lembut rambut coklat milik Alea.


Alea pun menurut, memejamkan matanya. Tak lama kemudian Alea pun terlelap, mungkin efek capek menangis dari pagi dan hari sudah menjelang siang.


Lindsay menatap Alea dengan sendu, bertanya dalam hatinya, kenapa Gie begitu tega dengan sahabatnya itu? Bukankah Gie begitu mencintai Alea? Ia adalah salah satu saksi bagaimana perjalanan cinta mereka selama dua tahun ini, Gie begitu posesif pada Alea bahkan kerap kali cemburu pada sahabat-sahabat Alea jika sudah berkumpul. Lalu kenapa jadi seperti ini?


" Tidur yang nyenyak Lea, aku pergi dulu." Sambil berkata Lindsay membetulkan selimut Alea yang benar-benar sudah nyenyak. Ia lantas keluar dari kamar dan mengambil tasnya yang tadi saat datang ia tinggalkan begitu saja di sofa ruang televisi Alea. Ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi salah satu sahabat mereka yang lain dan berlalu keluar dari apartemen Alea.


Tut..


Tut..


Tut..


"Hallo Say, kau dimana?" Jawab teman perempuannya di ujung telepon.


" Ditanya malah balik tanya. Nada suara Silly sedikit kesal tapi tetap menjawab pertanyaan Lindsay.


" Aku sedang dijalan mau ke kafe bertemu dengan Ben. Aku tadi menghubungi Alea tapi tidak diangkat. Nomor Gie juga tidak aktif, baru ingin meneleponmu tapi kau sudah duluan meneleponku. Ben ingin mentraktir kita minum di kafe biasa. Dia bilang sedang bosan karena ini hari Minggu dan malas melakukan hal lain selain bertemu dengan kita. Kau dimana?" Tanya Silly.


" Aku baru saja keluar dari apartemen Alea, sedang menuju ke tempat parkir mobilku. Ada yang mau aku bicarakan denganmu dan Ben. Ini tentang Alea dan Gie." Jawab Lindsay.


" Ada apa? Kenapa tidak mengajak mereka sekalian? Tanya Silly.


'' Alea sedang sakit. Sudah jangan bertanya terus nanti akan kuceritakan kalau sudah bertemu. Aku sudah sampai di tempat parkir." Jawab Lindsay.


" Eh, tunggu dulu. Alea sakit__


Silly belum menyelesaikan kalimatnya tapi Lindsay sudah mematikan sambungan teleponnya.


" Astaga Say, benar- benar menyebalkan belum selesai bicara sudah dimatikan teleponnya!" Silly menatap kesal pada layar handphonenya telah menghitam. Ia lalu melanjutkan perjalanannya karena tadi sempat menepikan mobilnya saat menerima telepon dari sahabatnya itu.


Lindsay, Silly dan Ben adalah sahabat Alea. Berbeda dengan Gie yang tidak terlalu akrab dengan sahabat kekasihnya itu. Walaupun mereka satu kelas tapi Gie lebih akrab dengan beberapa temannya di luar jurusan mereka. Gie akan bergabung menemani Alea jika sedang berkumpul tapi tidak banyak bicara, Ia hanya akan berbicara pada Alea karena Gie tipikal pria yang cuek tapi hangat dan lembut hanya dengan orang yang dia cintai saja.


Dari ketiga sahabat Alea, Ben dan Lindsay ada lah sosok yang dewasa padahal umur mereka semua sama. Ben tipikal pria yang hangat, tampan dan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terutama pada sahabat-sahabatnya, walaupun dia juga punya beberapa sahabat di luar dari lingkup pertemanan mereka tapi dia akan selalu sigap kalau mereka membutuhkan bantuannya.


Lindsay adalah sosok yang cantik, friendly, pembawaan yang tenang, memiliki bentuk tubuh proporsional dan pintar, berbeda dengan Alea yang manja, sedikit bar-bar, narsis tapi juga tak kalah cantik, seksi dan pintar. Sedangkan Silly, dia juga cantik, seksi tapi sedikit angkuh kalau bersama dengan orang lain, sedikit ambisius dan keras kepala.


Mereka semua tergolong dalam keluarga konglomerat, makanya fasilitas yang mereka gunakan juga sangat mewah.


...****************...


Lima belas menit kemudian, Lindsay telah sampai di kafe. Dilihatnya mobil Ben dan Silly sudah ada di parkiran, tandanya mereka telah sampai dan pasti menunggunya. Ia lalu segera bergegas masuk untuk menemui kedua sahabatnya.


" Maaf, aku telat." kata Lindsay, sambil duduk di sebelah Silly.

__ADS_1


" Tidak apa- apa. Aku dan Silly juga baru saja tiba." jawab Ben.


" Alea sakit apa? Dan Gie? Katamu baru dari apartemen mereka?" Tanya Silly.


" Hmm, aku akan menjawab pertanyaannya tapi bisakah kita pesan minuman dulu? Lagipula ini juga sudah siang jadi sekalian pesan dengan makanan juga, aku lapar. Lindsay berkata sambil tersenyum menatap pada Ben yang akan mentraktir mereka.


" Baiklah Nona Chloe dan Nona Wilson, silahkan memesan sesuka anda karena aku akan mentraktir kalian." Jawab Ben memasang senyum manisnya yang memperlihatkan kedua lesung pipinya sambil menatap Lindsay dan Silly bergantian.


" Terimakasih Tuan Ben Casper atas kemurahan hati anda." jawab Lindsay dengan penuh senyuman.


Silly memanggil waitress dan mulai memesan makanan dan minuman yang merupakan favorit mereka di kafe itu.


" Katamu Alea sakit? Dia sakit apa? Tanya Ben dengan raut khawatir.


Silly pun tak kalah menunjukkan tatapan khawatirnya pada Lindsay.


Lindsay pun balas menatap keduanya dengan tatapan sedih sambil menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar, dia berkata," Dia sakit karena Gie." Jawab Lindsay.


" Kenapa dengan Gie????" Tanya Ben dan Silly bersamaan.


" Ada apa dengan mereka berdua, mereka bertengkar atau apa?'' Ben bertanya karena masih bingung dengan sakitnya Alea.


" Iya ada apa dengan mereka, apa mereka bertengkar seperti kata Ben?" Tanya Silly yang juga dibuat bingung oleh Lindsay.


Lindsay menggelengkan kepala dan berkata," Tidak. Tapi Gie__


Belum sempat melanjutkan jawabannya, pesanan mereka sudah tiba sehingga Lindsay berhenti bicara.


" Ini pesanannya Tuan dan Nona-nona. Selamat menikmati.'' Kata sang waitress yang sudah sangat mengenal mereka karena sering ke kafe tersebut dengan penuh senyuman.


"Terimakasih kasih, Grace.'' Jawab mereka serempak.


Sang waitress mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka.


Setelah menyedot sedikit minumannya, Lindsay lalu kembali berbicara kepada kedua sahabatnya yang terus menatapnya dengan tatapan bingung dan penasaran.


" Gie pergi meninggalkan Alea." kata Lindsay.


" Apa?????" kaget Silly dan Ben yang sedikit berteriak sehingga mengundang beberapa pengunjung yang menatap ke arah mereka dengan tatapan aneh. Ben dan Silly sedikit meringis melihat tatapan mereka lalu sedikit menundukkan kepala sebagai isyarat meminta maaf. Setelah itu beranjak menatap kembali pada Lindsay.


" Apa yang sebenarnya terjadi? Aku pikir kemarin mereka baik-baik saja malah tetap romantis seperti biasa. Kata Silly.


Ben juga ikut membenarkan perkataan Silly dengan mengangguk.


Lindsay lalu menceritakan tentang keadaan Alea yang menyedihkan dan tulisan tangan Gie yang ditinggalkan untuk Alea.


Mendengar itu kedua sahabatnya sangat terkejut.


'' Kenapa Gie bisa menulis sekejam itu?" Tanya Ben sambil mengepalkan kedua tangannya tanda sedang menahan amarah.


" Pecundang, seharusnya dia menjelaskan pada Alea jika ada masalah bukan malah meninggalkannya tanpa kejelasan seperti itu!" Lanjutnya lagi.


Silly dan Lindsay pun mengangguk tanda setuju dengan perkataan Ben


" Apa Alea membuat kesalahan yang fatal, dilihat dari kata-katanya, Gie sepertinya sangat marah pada Alea. Apa Alea berselingkuh? Tanya Silly yang langsung mendapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya itu.


Melihat tatapan keduanya yang ingin menguliti dirinya, Silly berkata lagi membela dirinya," hei come on, kita tahu mereka berdua saling mencintai, Gie yang posesif pada Alea tiba-tiba menjadi begitu marah pasti ada kesalahan fatal yang Alea buat."


" Itu tidak mungkin. Aku percaya pada Alea. Tiap saat Gie selalu bersamanya. Bagaimana bisa Alea berselingkuh? Sangat mustahil!" Lindsay berkata membela Alea.


Ben juga mengangguk setuju dengan perkataan Lindsay, lalu berkata," Aku pikir kita harus membantu Alea mencari Gie dan meminta penjelasan darinya. Jangan berprasangka buruk terhadap Alea dulu."


Lindsay dan Silly mengangguk setuju. Mereka lalu melanjutkan acara makan dan minumnya. setelah selesai makan dan membayar billnya, mereka sepakat untuk berpencar mencari Gie ke tempat yang biasa Gie datangi dan ke apartemen sahabat- sahabatnya Gie. Usai memberi salam perpisahan, mereka masuk ke dalam mobilnya masing-masing dan melaju untuk melanjutkan misi mereka mencari Gie.

__ADS_1


__ADS_2